Metode Khusus Menjaring Buku di Islamic Book Fair 2017

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(4)

Alhamdulillaah ini kali kedua mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke event Islamic Book Fair di Jakarta. Jika tahun sebelumnya diadakan di Istora Senayan, maka tahun ini diadakan di tempat yang lebih besar, yakni di Jakarta Convention Hall (JCC).

JCC memang ideal sebagai tempat untuk pameran, karena luas dan juga full AC. Space antara stand juga tidak terlalu mepet, sehingga leluasa kita berjalan di sana. Dengan memanfaatkan Google Maps, tempatnya juga mudah dijangkau oleh pengunjung dari luar Jakarta. Namun kata pepatah no body’s perfect in the world. Tempat ini mempunyai kekurangan besar terakait urusan perut. Jika di Istora Senayan dahulu ada tempat khusus untuk mencari pengganjal perut, maka di JCC ini tidak ada sama sekali. Di JCC ada cafe khusus pengunjung, namun jujur harganya tak bersahabat dengan dompet. Harga makanan yang tertera sama dengan harga kitab hardcover dengan ketebalan 1000an halaman. Mahal bro! Ada juga penjual jajanan seperti siomay dan gorengan, namun ini adanya di dekat pintu keluar. Tipsnya, bawalah makanan dari luar, ini lebih menenangkan.

Bagaimana dengan tempat shalat? Alhamdulillaah, ada mushalla yang cukup besar, terpisah antara jamaah ikhwan dan akhwat. Untuk toilet jika tidak mau mengantri panjang, Anda bisa memilih toilet yang berada di dekat pintu masuk atau dekat panggung utama. Toiletnya bersih dan wangi, seperti toilet di bandara.

Sewaktu berkunjung kemarin, sungguh di luar dugaan banyak sekali yang datang, terutama anak-anak sekolah yang mungkin program study tour dari sekolahnya. Dari jenjang TK sampai SMA ada semuanya. Saking padatnya, di beberapa stand harus berdesak-desakan beberebut buku dengan anak-anak ataupun orang tua. Jadi yang bawa keluarga mohon dijaga dengan baik, karena saat berkunjung di sana ada banyak sekali pengumuman anak yang terpisah dari orangtuanya. Please bagi yang belum menemukan jodoh jangan jadikan sarana ini untuk mengumumkan status dan kriteria jodoh idamannya.

Diskon yang ditawarkan beragam. Di beberapa stand favorit, buku-buku bagus didiskon besar-besaran. Di stand Pustaka Al-Kautsar ada buku diskon hingga 50-70% khusus buku terbitan lama atau yang sudah tidak ada segel plastiknya. Aqwam, Serambi, Tiga Serangkai, Proumedia, GIP, Almahira, Darus Sunnah, Darul Haq, Imam Syafi’i dan penerbit lainnya juga memberikan diskon yang menarik untuk pengunjungnya. Ada buku-buku lama yang mungkin susah ditemukan, ada juga beberapa buku yang fresh, baru diterbitkan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(2)

Di pameran ini, saya melakukan metode khusus untuk menjaring buku namun dengan modal yang terbatas. Mungkin Anda bisa menirunya. Metode tersebut yakni dengan berkeliling berulang kali untuk mendapatkan buku yang yang bisa berdamai dengan dompet tentunya. Keliling ronde pertama ditujukan untuk survei dan grab fast buku-buku yang langka, atau tersisa tinggal 1-2 saja. Di ronde pertama tsb saya berhasil mendapatkan 2 buku yang sudah saya idamkan sejak lama, yakni Fikih Sirah karya Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid di stand Darus Sunnah dengan harga 50.000 saja dan Fikih Tamkin karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi di stand penerbit Pustaka Al-Kautsar dengan harga jauh dari biasanya, 40.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(1)

Ronde pertama ini juga, mulai mengincar beberapa buku sambil menyesuaikannya dengan uang yang bersesakan di dompet. Setelah selesai ronde pertama, semua stand buku dicek satu per-satu semuanya, maka kembali lagi ke titik awal, keliling lagi. Nah, di ronde kedua ini buku yang saya ambil ada buku The Fall of Khilafah karya Eugene Rogan dan Perang Salib: Sudut Pandang Islam karya Carole Hillenbrand di stand penerbit Serambi. Saya salut dengan penerbit ini karena memberi diskon 40-50an persen kepada pengunjungnya termasuk untuk buku-buku best sellernya. Padahal di penerbit lain, paling hanya 25% diskon yang diberikan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30

Penerbit Serambi setiap harinya selama IBF 2017 berlangsung memberikan diskon 50% untuk beberapa bukunya. Tiap hari berbeda-beda list judulnya. Diskon diberikan kepada pengunjung IBF dan juga yang memesan secara online di websitenya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, buku yang didiskon 50% pada hari saya datang salah satunya adalah buku The Fall of Khilafah. Harga aslinya 140.000 dijual dengan harga 70.000 sahaja. Buku ini mendapatkan anugerah sebagai buku terjemahan Islam terbaik dalam pembukaan Islamic Book Fair 2017. Sedang buku Perang Salib: Sudut Pandang Islam didiskon 40% dari menjadi 120.000. Buku ini juga pernah mendapatkan penghargaan dari The King Faisal Internasional Prize dengan kategori Islamic Studies.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29

Di penerbit Tiga Serangkai, buku Sirah Rasulullah SAW karya Syaikh Mahmud Al-Mishri juga ikut diboyong pulang. Buku ini saya beli karena berdasarkan buku beliau yang sudah saya miliki sebelumnya tentang Sirah Sahabat dan Sahabiyah, gaya menulis beliau sungguh sastrawi, menyentuh dan didasarkan pada sumber yang terpercaya. Maka tak ada salahnya melengkapi koleksi karya beliau dengan membeli Sirah Rasulullah setebal 1026 halaman ini. Apalagi harganya hanya 80.000 saja, dari harga normal 190.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(3)

Dari stand Proumedia, penerbit dari Jogjakarta ada 3 buku yang ingin ikut pulang dengan saya ke Bandung. Pertama, biografi Sayyid Quthb karya Dr. Shalah Al-Khalidiy. Di media sosial beberapa kali saya temukan perdebatan tentang Sayyid Quthb baik itu dari pengagumnya hingga pembencinya. Maka untuk lebih objektif, saya ingin mengetahui bagaimana biografi beliau yang ditulis secara objektif oleh seorang akademisi Palestina, yang merupakan tamatan S1 dari Universitas Al-Azhar, S2 dan S3 dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia.

Buku kedua dari Proumedia, karya penulis Jejak Islam Bangsa (JIB), Rizki Lesus, yang berjudul Perjuangan yang Dilupakan. Di masa saat ini, banyak penduduk Indonesia entah itu pemerintahnya ataupun rakyatnya terkena penyakit sindrom Islamophobia. Mereka juga terkena penyakit hilang ingatan terkait perjuangan umat Islam dalam sejarah terbentuknya republik ini. Nah, buku ini terbit di waktu yang tepat di saat umat Islam dinomorsekiankan dalam berbagai kepentingan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(5)

Buku terakhir dari Proumedia yang saya beli adalah buku murah seharga 10.000 namun dengan judul yang luar biasa, Membangun Kekuatan Islam di Tengah Perselisihan Umat karya Lembaga Study & Penelitian Islam Pakistan. Buku yang kiranya juga pantas dibaca di tengah kondisi umat Islam yang mencoba menggalang persatuan setelah Al-Qur’an dinistakan oleh seorang gubernur non-Islam di Jakarta.

Ramadhan sebentar lagi menyapa kita semua. Salah satu persiapan yang perlu dimatangkan adalah persiapan ilmu. Buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Syaikh Dr. Thariq Muhammad Suwaidan yang menjadi pilihan. Buku terakhir yang dipilih adalah buku komik dakwah berjudul “Gambar itu Haram” karya Zia Ul Haq yang ternyata berteman dengannya di Facebook. Buku ini menjawab keluh kesah para seniman, mahasiswa atau juga dosen terkait hukum menggambar. Buku ini dikemas dengan style komik bergambar dan bahasa yang ringan namun kaya akan ilmu yang bermanfaat.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30(1)

Pada keliling ronde terakhir (setelah dompet merasa nyawanya sudah habis) dilakukan survei buku apa gerangan yang akan dibeli di kesempatan selanjutnya, sambil membelikan titipan teman. 2 buku yang menjadi titipan teman di Bandung, yakni novel terbaru kang Abik berjudul Bidadari Bermata Bening dan komik Islami berjudul LiQomik: Antologi Komik Islam.

Investasi di buku insya Allah tidak akan rugi. Kalaupun tak sempat dibaca semuanya, akan ada masanya buku itu akan diwariskan kepada yang lainnya, berharap ini menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir zaman.

[RESENSI BUKU] Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi

Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan LiberalisasiMisykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi by Hamid Fahmy Zarkasyi

My rating: 5 of 5 stars

Sebelum membaca buku ustadz DR. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil ini, saya sudah mencoba membaca 2 buku karangan aktivis muda lulusan UIKA Bogor yang juga membahas mengenai Islam yang dikaitkan dengan Liberalisme, Pluralisme dll. Saat membaca buku mereka, saya yang miskin ilmu ini puyeng, klepek-klepek, banyak mencoba memutar otak dan berpikir keras, ra mudeng dan hampir overflow otak saya, tersebab banyaknya istilah pembahasan yang terlalu tinggi dengan berbagai istilah asing yang njelimet. Buku mereka sudah bagus dan disusun dengan dengan baik, hanya saya saja yang susah memahaminya.

Tetapi, alhamdulillaah… Ketika membaca Misykat karya ustadz yang lulusan Gontor, Pakistan, Inggris dan Malaysia ini, saya perlahan bisa mengerti dan memahami mengenai Liberalisme, Pluralisme, Westernisasi dan istilah-istilah lainnya dengan mudah. Bahasa yang digunakan beliau pun tidak terkesan menggurui, mengalir bagai air, apalagi ditambah lagi dengan pengalaman-pengalaman pribadi beliau, semakin menambah wawasan para pembaca mengenai topik tersebut, apalagi saya lebih senang saat membaca suatu buku jika dilengkapi dengan kisah-kisah atau pengalaman pribadi penulis, buku menjadi semakin interaktif.

Lemahnya kita umat Islam dalam menghadapi barat dan agen-agennya di Indonesia (sebut saja JIL, dll) adalah kurangnya wawasan, bacaan dan ilmu. Sehingga banyak di antara kita yang hanya bisa melawannya dengan cercaan, hinaan bahkan aktivitas fisik, sehingga makin menguatkan argumentasi mereka bahwa kita adalah penganut paham kekerasan. Padahal jika menguasai ilmunya kemudian dituliskan dalam bentuk buku, plus pernah kuliah di Eropa, mereka aktivis yang sangat terpesona dengan paham-paham yang lahir dari Barat akan kejang-kejang, marah-marah bahkan protes. “Bilang sama Mas Hamid”, kata seorang kawannya dalam sebuah milis, “dulu di Birmingham dia nyantri dengan para orientalis, sekarang dia mencela dan mengkritik orientalis. Jangan seperti kacang lupa pada kulitnya.” Ternyata mereka yang sering mengatakan Islam, MUI, al-Qur’an anti kritik, padahal mereka sendiri anti kritik, ini yang namanya standar janda, eh maksudnya ganda.

Saya juga pernah membaca Catatan Pinggir, tulisan Goenawan Mohamad di majalah Tempo, jujur saya terpana dan terpukau, karena memang asyik membacanya. Ustadz Cholis Akbar, redaktur pelaksana Hidayatullah.com, dalam komentarnya mengenai buku ini mengatakan, saat membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, mendapatkan informasi, tetapi saat membaca Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi selain mendapatkan informasi, kita juga mendapatkan ilmu plus meneguhkan keyakinan. Itu juga yang saya alami, kebanggaan akan agama Islam ini semakin bertambah.

Para pemuda Islam wajib membaca buku ini, untuk menambah khazanah dan perbendaharaan akan keterkaitan antara Westernisasi, Liberalisasi dan Islam. Agar kita tak mudah ditipu oleh mereka yang ngaku lulusan pesantren, bisa baca kitab kuning terus lanjut “belajar” Islam di Barat, dan sering menggunakan bahasa-bahasa tingkat tinggi. Kata ustadz Bachtiar Natsir, Sekjen MIUMI dalam sambutannya untuk buku ini, “kemajuan dunia Barat sebenarnya telah menyilaukan (mereka) kaum lemah pemikiran, lemah aqidah dan lemah wawasan.” Kita boleh kagum pada sisi kedisiplinan, teknologi dan tradisi keilmuan dunia Barat, tetapi tidak untuk aspek pandangan hidup, moralitas, kemanusiaan, keluarga dan lain-lainnya. Karena sebenarnya mereka menjadi maju setelah meninggalkan Gereja dan agamanya, tetapi tidak dengan kita umat Islam. Kita akan jatuh, terbelakang dan menjadi bodoh saat kita meninggalkan Islam, dan akan maju dan jaya saat kita menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, seperti yang terjadi beberapa abad yang lalu.

Wallaahu a’lam..

View all my reviews