Sepenggal Cerita dari Aksi 212

212

Jadi begini ceritanya.

Pada mulanya kami akan diikutkan dengan kafilah Cimahi, darimana kami berasal. Namun apa daya, PO bus Cimahi tetiba meng-cancel bus yg sudah disewa, mirip-mirip kasusnya dengan beberapa PO bus di kota lainnya. Teman-teman di Cimahi tidak patah arang. Dari status FB saya ketahui, mereka menggunakan moda transportasi lainnya, yakni kereta untuk menuju lokasi aksi.

Seusai Maghrib, saya dibantu beberapa teman mencoba mencari-cari alternatif lain. Tak mungkin kita berhenti sampai di sini. Semangat adik-adik mahasiswa untuk membela kitab sucinya jangan sampai pupus hanya karena tak ada sarana. Salman ITB dihubungi, dan diberikan slot untuk 10 orang, padahal jumlah kami 14 orang. Tak mungkin di antara kami ada yg harus dikorbankan.

Dan pada akhirnya, selepas shalat Isya, Allah memberikan jalan. Di bus kafilah Bandung Barat masih ada kursi kosong dan cukup untuk kami semua. Alhamdulillaah, kami pun berangkat.

Perjalanan lancar jaya. Ketika berhenti di rest area Cikampek, ada banyak sekali bus kafilah kota lainnya yg hilir mudiknya. Dari sini saja, aroma-aroma perjuangannya sudah terasa.

Tiba di TKP sekitar pukul 6 pagi, kami sudah menyaksikan banyak sekali peserta aksi yg berjalan dengan pakaian putihnya. Saya sebagai PJ untuk mahasiswa yg ikut aksi sempat kebingungan dimana mencarikan sarapan untuk adik-adik mahasiswa ini. Karena masih buta kawasan Monas, tidak tahu dimana lokasi ATM berada dan dimana spot wisata kuliner nikmat, halal dan murah tentunya. Serta “uang 500.000” dari panitia, yg diberitakan beberapa media ternyata tidak ada. Hihihihi…

Namun tak disangka, ada dermawan yg memberikan kami sarapan pagi. Nasi plus fried chicken, tentu teman-teman yg rata-rata anak kos bahagia dibuatnya. Jarang-jarang sarapan seperti ini, kata mereka. Tak berhenti di situ saja. Dermawan-dermawan ini bertebaran di sepanjang jalan menuju lokasi aksi. Ada yg membagikan roti, kurma, nasi kuning, pisang, air mineral, sampai tak enak kita dibuatnya. “Ambil saja, gratis…”, seru para dermawan. Masya Allah, siapa sponsor mereka pemirsa? Tiada lain tiada bukan, Allah SWT.

Para peserta aksi juga tak menjadikan pembagian makanan gratis ini sebagai sarana aji mumpung. Mereka tak maruk dan serakah. Mereka tak anarkis dan berebut saat mengambilnya. “Sudah Bu”. “Kami sudah makan pak”. “Terima kasih, untuk yg belakang saja.” Begitu kata mereka saat menolak pemberian yg ada. Allahu Akbar, kapan lagi menyaksikan dan merasakan pemandangan persaudaraan seperti ini?

Di dalam taman Monas suasana dahsyat luar biasa. Entah berapa jumlahnya. Mereka masuk dengan rapih dan tertib. Tua muda, laki-laki perempuan, dari yg celana cingkrang, berjubah, bersarung sampai bercelana jeans. Muslimah berhijab, bercadar bahkan sosialita yg modis juga ikut serta. Berbagai bendera ormas, hijau, putih, hitam, merah semua berkibar bersama sang saka. Dimana lagi bisa menyaksikan pemandangan indah seperti ini?

Ketika ada yg khilaf menginjak rumput, satu persatu peserta yg lain berjibaku meneriaki dan mengingatkannya. “Jangan injak rumput woi, nanti ada metrotipu!” Sadis pemirsa…

Ketika menjelang shalat Jumat, doa para haters terkabul, gerimis hujan turun membasahi. Semakin deras ketika khatib, Habib Rizieq naik mimbar. Alhamdulillah.. tak ada yg kabur mencari tempat berteduh. Ini tentu tak sesuai dengan harapan haters. Suasana tetap tenang dan damai sampai akhirnya shalat Jumat ditunaikan, walau harus berbasah-basah ketika ibadah.

Ketika keluar dari area Monas, peserta aksi melakukannya dengan tertib. Tak ada yg adegan dorong-dorongan hingga terjatuh dan tertatih. Taman Monas juga kemudian dibersihkan oleh tim Daarut Tauhid, santri Ciamis dan peserta lainnya hingga kinclong dan bersih seperti sedia kala. Mereka inilah sebenarnya idaman para mertua. Monas aja dijaga dgn baik apalagi kamu. Iya kamu..

Rasa persaudaraan, persatuan dan juga pengorbanan yg bergelora di dalam sanubari umat Muslim Indonesia ini bisa menjadi modal besar untuk menjaga negeri Indonesia ini dari gangguan internal maupun eksternal. Ketika ada pihak yg mencoba mengganggu stabilitas, persatuan dan kebhinnekaannya, sudah pasti mereka lah yg pertama kali turun untuk membelanya.

Tak seperti aktivis dan buzzer penista yg hanya aktif dan beraninya di dunia maya saja.

Sekian..

“Ditulis sehari setelah aksi Aksi Belas Islam III di kota Cimahi…” #KamiAlumni212

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah (oleh Ust. Rahmat Abdullah)


Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi… mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan ‘manusiawi’ yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang… Dakwah ini berat… karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan…melalui jalan dakwah ini… mengarungi jalan perjuangan… kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya… Tetaplah disini… dijalan ini…bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh… Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya…tetaplah disini…

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri… karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan…

Jika bersama dakwah saja… kau serapuh itu…Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri…???

Posted from WordPress for Windows Phone