Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia (Cognitive Theory of Multimedia Learning)

Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer, 2011).

Multimedia Principle

Multimedia principle merupakan teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.

Hasil studi juga menunjukkan bahwasanya terdapat dua saluran (channel) yang digunakan untuk melakukan pemrosesan terhadap informasi, yaitu auditori dan visual. Saluran auditori melakukan pemrosesan terhadap suara yang kita dengar, dan saluran visual melakukan pemrosesan terhadap apapun yang kita lihat. Dengan mengkombinasikan kedua proses ini, hasil studi menunjukkan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih mendalam dan hasilnya tersimpan dalam memori para peserta didik dengan waktu yang lebih lama. Hasil studi tersebut juga menunjukkan, visual ataupun teks yang sangat banyak bisa membebani peserta didik. Jadi antar visual dan teks harus diseimbangkan dan saling berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak membingungkan proses pembelajaran para peserta didik.

Grafik (graphic) bisa berupa gambar statis, animasi ataupun video. Adapun tipe-tipe grafik, antara lain:

  • Decorative graphics, grafik jenis ini digunakan hanya untuk dekorasi saja, tidak meningkatkan kualitas dari pesan yang ingin disampaikan pada pembelajaran dan terkadang membingungkan peserta didik.
  • Representational graphics, gambaran yang berupa foto yang di dalamnya terdapat caption (teks) yang menjelaskan tentang foto tersebut. Contohnya pada gambar di bawah, merupakan foto gunung Everest yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk berkemah.

  • Relational graphic, menggambarkan adanya hubungan yang bersifat kuantitatif antara dua atau lebih variabel.

  • Organizational graphics, menggambarkan adanya hubungan antar masing-masing elemen.
  • Transformational graphics, menggambarkan adanya perubahan ruang dan waktu. Contohnya adalah gambaran metamorfosis di bawah ini.

  • Interpretive graphics, visual yang menampilkan objek-objeknya secara nyata dan konkrit. Contohnya adalah gambaran siklus air di bawah ini.

Telah banyak studi yang dilakukan dan membuktikan bahwasanya teori ini valid dan terus berkembang saat ini. Selama lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti bagaimana peserta didik melakukan proses pembelajaran dan mencari cara terbaik untuk menstimulus kedua saluran tersebut, auditori dan visual. Dia melakukan sebelas penelitian untuk membandingkan peserta didik yang mana yang melakukan proses pembelajaran dengan baik, dibandingkan antara yang menggunakan animasi dan narasi atau yang menggunakan teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan teks saja. Seluruh penelitiannya menyatakan para peserta didik yang belajar dengan grafik dan teks bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks saja.

Contiguity Principle

Secara sederhana prinsip ini diartikan sebagai, “mendekatkan (align) teks dengan grafik yang sesuai” (Clark & Mayer, 2011). Hal ini berarti, subjek utama secara fisik tidak boleh terpisah dari teksnya. Prinsip contiguity ini secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait. Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.

Gambar di atas telah menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang menyatakan bagian-bagian dari otak secara fisik diletakkan dekat dengan bagian otak yang dijelaskan oleh label-label tersebut.

Pada gambar di atas, prinsip contiguity telah diabaikan karena label-label yang menjelaskan bagian-bagian dari otak diletakkan terpisah dari gambar otak.

Prinsip ini mungkin tampak sederhana dan intuitif, akan tetapi terdapat beberapa “pelanggaran” yang mungkin dilakukan terhadap prinsip ini. Clark & Mayer (2011) memberikan beberapa contoh pelanggaran tersebut di bawah ini [di sini kami tidak menuliskan semua contohnya, ed]:

  • Terpisahnya teks dan grafik karena harus di-scroll dari satu laman ke laman lainnya pada layar komputer (biasanya ditemukan pada halaman web instruksional).
  • Terpisahnya kuis dengan feedback-nya. Terkadang feedback disediakan pada laman yang terpisah dari pertanyaan kuisnya, hal ini membuat para peserta didik kesulitan untuk mencari keterkaitan atau hubungan antara feedback dengan pertanyaannya.
  • Penyajian arahan saat mengerjakan ujian (seperti klik di sini, kemudian klik di sini) yang terpisah dari ujian itu sendiri. Hal ini mendorong peserta didik untuk berpikir sedikit keras agar terbiasa menjalankan arahan yang diberikan pada layar (screen) yang terpisah dan ini adalah pelanggaran terhadap prinsip contiguity.
  • Secara simultan menampilkan teks dan animasi yang berkaitan. Hal ini mendorong peserta didik untuk membaca ulang teks, kemudian melihat grafik, kemudian melihat teks lagi, begitu seterusnya.
  • dll

Berbagai macam studi telah dilakukan untuk mendukung prinsip contiguity ini. Moreno dan Mayer (1999) menemukan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik ketika teks dan animasi ditempatkan saling dekat antara satu dengan yang lain dibandingkan dengan yang berjarak jauh antara satu dengan yang lain. Mereka juga melaporkan pada hasil publikasi yang sama, narasi diberikan secara simultan dengan animasi untuk para peserta didik dan secara temporal dipisahkan dengan animasi. Peserta didik dengan kondisi narasi dan animasi ditampilkan secara simultan melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi dimana narasi dan animasi dipisahkan antar satu dengan yang lain.

Modality Principle

Secara umum, prinsip modality adalah lebih banyak menampilkan narasi (perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text) (Clark dan Mayer, 2011). Peserta didik akan melakukan pembelajaran dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat penting untuk dicatat bahwasanya prinsip modality akan semakin terasa manfaatnya ketika materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik (Tindall-Ford, Chandler & Sweller, 1977).

Menurut pandangan ilmu psikologi, tugas peserta didik dalam proses pembelajaran adalah menerima informasi. Banyak peserta didik lebih mudah menerima informasi lewat narasi audio jika dibandingkan dengan on-screen text, terlebih jika narasi dan gambar ditampilkan secara bersamaan dengan tepat, dengan perkataan yang familiar dan grafik yang kompleks. Jika menggunakan on-screen text peserta didik bisa terbebani dengan banyaknya visual dan gambar pada layar dan di saat yang sama mereka harus memproses grafik dan teks yang ada.

Moreno & Mayer (1999) melakukan penelitian dengan memisahkan dua kelompok peserta didik dengan dua metode pembelajaran yang berbeda dengan topik terjadinya kilat. Kelompok pertama diberikan animasi yang menggambarkan tahapan terbentuknya kilat, pada animasi tsb juga dilengkapi dengan narasi audio penjelasan terbentuknya kilat yang ditampilkan secara bersamaan. Pada kelompok kedua, mereka diberikan animasi yang dilengkapi dengan on-screen text yang juga ditampilkan secara bersamaan. Kelompok yang pertama, yang animasinya dilengkapi dengan narasi audio ternyata bisa menjelaskan dengan lebih signifikan dibandinng dengan kelompok yang kedua.

Prinsip Modality sepertinya tidak bisa diimplementasikan pada situasi dimana ternyata penjelasannya panjang dan kompleks, kemudian terdapat simbol-simbol ataupun istilah teknis ataupun penjelasannya tidak menggunakan bahasa asli peserta didik, ataupun materi yang disampaikan dengan kecepatan yang kecil, dll.

Redudancy Principle

Pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang ditampilkan secara visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat redundan, menghilangkan narasi dan teks yang bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihat pesan verbal secara bersamaan selama presentasi pembelajaran (Hoffman, 2006).

Coherence Principle

Salah satu kesalahan yang umum dilakukan ketika pengembang e-learning merancang proyek atau course adalah menggunakan latarbelakang musik, konten dan grafik on-screen yang tidak relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali. Menurut Clark dan Mayer (2011) dalam buku: “E-learning and the Science of Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi yang tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara, gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan materi yang menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan para pengguna.

Personalization Principle

Prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional (percakapan) dan virtual coaches (Clark & Mayer, 2011). Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran. Clark dan Mayer (2011) juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal bisa membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan.

Kita harus menggunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga peserta didik bisa berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara manusia dengan manusia (human-to-human conversations). Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.

Segmenting Principle

Segmentasi merupakan prinsip yang sangat sederhana, dimana kita hanya membagi segmen yang lebih luas menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Cara yang umum digunakan pada materi yang disegmentasi ini adalah dengan cara memainkan tombol “Continue” pada masing-masing frame pada setiap slide. Hal ini bisa bermanfaat untuk, pertama: bisa membantu peserta didik untuk berpindah dari satu slide ke slide lainnya sesuai dengan seleranya masing-masing dan kedua mereka bisa mencerna informasi yang ada sesuai dengan kecepatan (berpindah dari satu slide ke slide lainnya) untuk bekerja dengan lebih baik. Menurut Clark dan Mayer (2011), rasional dari menggunakan segmentasi adalah bisa memberikan manfaat kepada peserta didik untuk mencerna informasi tanpa harus meng-overload sistem kognitif.

Pre-training Principle

Secara umum, prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari sesuatu. Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang begitu kompleks.

Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan di bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.

Contohnya adalah ketika mengilustrasikan bagaimana menggunakan mikroskop di bawah ini:

Place the Slide on the Microscope

  • Stage Clips are not necessary
  • Click Nosepiece to the lowest (shortest) setting – Scanning Objective
  • Look into the Eyepiece
  • Use the Coarse Focus
  • Once the slide is focused, rotate the nosepiece to the low power objective (medium sized)
  • Refocus using the coarse (large) knob

Move slide to get a centered view

Maka bagian pre-training-nya adalah memberikan penjelasan bagian-bagian mikroskop agar mereka bisa memahami bagaimana menggunakannya.

Diringkas dari: https://sites.google.com/site/cognitivetheorymmlearning