Metode Khusus Menjaring Buku di Islamic Book Fair 2017

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(4)

Alhamdulillaah ini kali kedua mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke event Islamic Book Fair di Jakarta. Jika tahun sebelumnya diadakan di Istora Senayan, maka tahun ini diadakan di tempat yang lebih besar, yakni di Jakarta Convention Hall (JCC).

JCC memang ideal sebagai tempat untuk pameran, karena luas dan juga full AC. Space antara stand juga tidak terlalu mepet, sehingga leluasa kita berjalan di sana. Dengan memanfaatkan Google Maps, tempatnya juga mudah dijangkau oleh pengunjung dari luar Jakarta. Namun kata pepatah no body’s perfect in the world. Tempat ini mempunyai kekurangan besar terakait urusan perut. Jika di Istora Senayan dahulu ada tempat khusus untuk mencari pengganjal perut, maka di JCC ini tidak ada sama sekali. Di JCC ada cafe khusus pengunjung, namun jujur harganya tak bersahabat dengan dompet. Harga makanan yang tertera sama dengan harga kitab hardcover dengan ketebalan 1000an halaman. Mahal bro! Ada juga penjual jajanan seperti siomay dan gorengan, namun ini adanya di dekat pintu keluar. Tipsnya, bawalah makanan dari luar, ini lebih menenangkan.

Bagaimana dengan tempat shalat? Alhamdulillaah, ada mushalla yang cukup besar, terpisah antara jamaah ikhwan dan akhwat. Untuk toilet jika tidak mau mengantri panjang, Anda bisa memilih toilet yang berada di dekat pintu masuk atau dekat panggung utama. Toiletnya bersih dan wangi, seperti toilet di bandara.

Sewaktu berkunjung kemarin, sungguh di luar dugaan banyak sekali yang datang, terutama anak-anak sekolah yang mungkin program study tour dari sekolahnya. Dari jenjang TK sampai SMA ada semuanya. Saking padatnya, di beberapa stand harus berdesak-desakan beberebut buku dengan anak-anak ataupun orang tua. Jadi yang bawa keluarga mohon dijaga dengan baik, karena saat berkunjung di sana ada banyak sekali pengumuman anak yang terpisah dari orangtuanya. Please bagi yang belum menemukan jodoh jangan jadikan sarana ini untuk mengumumkan status dan kriteria jodoh idamannya.

Diskon yang ditawarkan beragam. Di beberapa stand favorit, buku-buku bagus didiskon besar-besaran. Di stand Pustaka Al-Kautsar ada buku diskon hingga 50-70% khusus buku terbitan lama atau yang sudah tidak ada segel plastiknya. Aqwam, Serambi, Tiga Serangkai, Proumedia, GIP, Almahira, Darus Sunnah, Darul Haq, Imam Syafi’i dan penerbit lainnya juga memberikan diskon yang menarik untuk pengunjungnya. Ada buku-buku lama yang mungkin susah ditemukan, ada juga beberapa buku yang fresh, baru diterbitkan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(2)

Di pameran ini, saya melakukan metode khusus untuk menjaring buku namun dengan modal yang terbatas. Mungkin Anda bisa menirunya. Metode tersebut yakni dengan berkeliling berulang kali untuk mendapatkan buku yang yang bisa berdamai dengan dompet tentunya. Keliling ronde pertama ditujukan untuk survei dan grab fast buku-buku yang langka, atau tersisa tinggal 1-2 saja. Di ronde pertama tsb saya berhasil mendapatkan 2 buku yang sudah saya idamkan sejak lama, yakni Fikih Sirah karya Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid di stand Darus Sunnah dengan harga 50.000 saja dan Fikih Tamkin karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi di stand penerbit Pustaka Al-Kautsar dengan harga jauh dari biasanya, 40.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(1)

Ronde pertama ini juga, mulai mengincar beberapa buku sambil menyesuaikannya dengan uang yang bersesakan di dompet. Setelah selesai ronde pertama, semua stand buku dicek satu per-satu semuanya, maka kembali lagi ke titik awal, keliling lagi. Nah, di ronde kedua ini buku yang saya ambil ada buku The Fall of Khilafah karya Eugene Rogan dan Perang Salib: Sudut Pandang Islam karya Carole Hillenbrand di stand penerbit Serambi. Saya salut dengan penerbit ini karena memberi diskon 40-50an persen kepada pengunjungnya termasuk untuk buku-buku best sellernya. Padahal di penerbit lain, paling hanya 25% diskon yang diberikan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30

Penerbit Serambi setiap harinya selama IBF 2017 berlangsung memberikan diskon 50% untuk beberapa bukunya. Tiap hari berbeda-beda list judulnya. Diskon diberikan kepada pengunjung IBF dan juga yang memesan secara online di websitenya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, buku yang didiskon 50% pada hari saya datang salah satunya adalah buku The Fall of Khilafah. Harga aslinya 140.000 dijual dengan harga 70.000 sahaja. Buku ini mendapatkan anugerah sebagai buku terjemahan Islam terbaik dalam pembukaan Islamic Book Fair 2017. Sedang buku Perang Salib: Sudut Pandang Islam didiskon 40% dari menjadi 120.000. Buku ini juga pernah mendapatkan penghargaan dari The King Faisal Internasional Prize dengan kategori Islamic Studies.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29

Di penerbit Tiga Serangkai, buku Sirah Rasulullah SAW karya Syaikh Mahmud Al-Mishri juga ikut diboyong pulang. Buku ini saya beli karena berdasarkan buku beliau yang sudah saya miliki sebelumnya tentang Sirah Sahabat dan Sahabiyah, gaya menulis beliau sungguh sastrawi, menyentuh dan didasarkan pada sumber yang terpercaya. Maka tak ada salahnya melengkapi koleksi karya beliau dengan membeli Sirah Rasulullah setebal 1026 halaman ini. Apalagi harganya hanya 80.000 saja, dari harga normal 190.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(3)

Dari stand Proumedia, penerbit dari Jogjakarta ada 3 buku yang ingin ikut pulang dengan saya ke Bandung. Pertama, biografi Sayyid Quthb karya Dr. Shalah Al-Khalidiy. Di media sosial beberapa kali saya temukan perdebatan tentang Sayyid Quthb baik itu dari pengagumnya hingga pembencinya. Maka untuk lebih objektif, saya ingin mengetahui bagaimana biografi beliau yang ditulis secara objektif oleh seorang akademisi Palestina, yang merupakan tamatan S1 dari Universitas Al-Azhar, S2 dan S3 dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia.

Buku kedua dari Proumedia, karya penulis Jejak Islam Bangsa (JIB), Rizki Lesus, yang berjudul Perjuangan yang Dilupakan. Di masa saat ini, banyak penduduk Indonesia entah itu pemerintahnya ataupun rakyatnya terkena penyakit sindrom Islamophobia. Mereka juga terkena penyakit hilang ingatan terkait perjuangan umat Islam dalam sejarah terbentuknya republik ini. Nah, buku ini terbit di waktu yang tepat di saat umat Islam dinomorsekiankan dalam berbagai kepentingan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(5)

Buku terakhir dari Proumedia yang saya beli adalah buku murah seharga 10.000 namun dengan judul yang luar biasa, Membangun Kekuatan Islam di Tengah Perselisihan Umat karya Lembaga Study & Penelitian Islam Pakistan. Buku yang kiranya juga pantas dibaca di tengah kondisi umat Islam yang mencoba menggalang persatuan setelah Al-Qur’an dinistakan oleh seorang gubernur non-Islam di Jakarta.

Ramadhan sebentar lagi menyapa kita semua. Salah satu persiapan yang perlu dimatangkan adalah persiapan ilmu. Buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Syaikh Dr. Thariq Muhammad Suwaidan yang menjadi pilihan. Buku terakhir yang dipilih adalah buku komik dakwah berjudul “Gambar itu Haram” karya Zia Ul Haq yang ternyata berteman dengannya di Facebook. Buku ini menjawab keluh kesah para seniman, mahasiswa atau juga dosen terkait hukum menggambar. Buku ini dikemas dengan style komik bergambar dan bahasa yang ringan namun kaya akan ilmu yang bermanfaat.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30(1)

Pada keliling ronde terakhir (setelah dompet merasa nyawanya sudah habis) dilakukan survei buku apa gerangan yang akan dibeli di kesempatan selanjutnya, sambil membelikan titipan teman. 2 buku yang menjadi titipan teman di Bandung, yakni novel terbaru kang Abik berjudul Bidadari Bermata Bening dan komik Islami berjudul LiQomik: Antologi Komik Islam.

Investasi di buku insya Allah tidak akan rugi. Kalaupun tak sempat dibaca semuanya, akan ada masanya buku itu akan diwariskan kepada yang lainnya, berharap ini menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir zaman.

Advertisements

[RESENSI BUKU] Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi

Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan LiberalisasiMisykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi by Hamid Fahmy Zarkasyi

My rating: 5 of 5 stars

Sebelum membaca buku ustadz DR. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil ini, saya sudah mencoba membaca 2 buku karangan aktivis muda lulusan UIKA Bogor yang juga membahas mengenai Islam yang dikaitkan dengan Liberalisme, Pluralisme dll. Saat membaca buku mereka, saya yang miskin ilmu ini puyeng, klepek-klepek, banyak mencoba memutar otak dan berpikir keras, ra mudeng dan hampir overflow otak saya, tersebab banyaknya istilah pembahasan yang terlalu tinggi dengan berbagai istilah asing yang njelimet. Buku mereka sudah bagus dan disusun dengan dengan baik, hanya saya saja yang susah memahaminya.

Tetapi, alhamdulillaah… Ketika membaca Misykat karya ustadz yang lulusan Gontor, Pakistan, Inggris dan Malaysia ini, saya perlahan bisa mengerti dan memahami mengenai Liberalisme, Pluralisme, Westernisasi dan istilah-istilah lainnya dengan mudah. Bahasa yang digunakan beliau pun tidak terkesan menggurui, mengalir bagai air, apalagi ditambah lagi dengan pengalaman-pengalaman pribadi beliau, semakin menambah wawasan para pembaca mengenai topik tersebut, apalagi saya lebih senang saat membaca suatu buku jika dilengkapi dengan kisah-kisah atau pengalaman pribadi penulis, buku menjadi semakin interaktif.

Lemahnya kita umat Islam dalam menghadapi barat dan agen-agennya di Indonesia (sebut saja JIL, dll) adalah kurangnya wawasan, bacaan dan ilmu. Sehingga banyak di antara kita yang hanya bisa melawannya dengan cercaan, hinaan bahkan aktivitas fisik, sehingga makin menguatkan argumentasi mereka bahwa kita adalah penganut paham kekerasan. Padahal jika menguasai ilmunya kemudian dituliskan dalam bentuk buku, plus pernah kuliah di Eropa, mereka aktivis yang sangat terpesona dengan paham-paham yang lahir dari Barat akan kejang-kejang, marah-marah bahkan protes. “Bilang sama Mas Hamid”, kata seorang kawannya dalam sebuah milis, “dulu di Birmingham dia nyantri dengan para orientalis, sekarang dia mencela dan mengkritik orientalis. Jangan seperti kacang lupa pada kulitnya.” Ternyata mereka yang sering mengatakan Islam, MUI, al-Qur’an anti kritik, padahal mereka sendiri anti kritik, ini yang namanya standar janda, eh maksudnya ganda.

Saya juga pernah membaca Catatan Pinggir, tulisan Goenawan Mohamad di majalah Tempo, jujur saya terpana dan terpukau, karena memang asyik membacanya. Ustadz Cholis Akbar, redaktur pelaksana Hidayatullah.com, dalam komentarnya mengenai buku ini mengatakan, saat membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, mendapatkan informasi, tetapi saat membaca Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi selain mendapatkan informasi, kita juga mendapatkan ilmu plus meneguhkan keyakinan. Itu juga yang saya alami, kebanggaan akan agama Islam ini semakin bertambah.

Para pemuda Islam wajib membaca buku ini, untuk menambah khazanah dan perbendaharaan akan keterkaitan antara Westernisasi, Liberalisasi dan Islam. Agar kita tak mudah ditipu oleh mereka yang ngaku lulusan pesantren, bisa baca kitab kuning terus lanjut “belajar” Islam di Barat, dan sering menggunakan bahasa-bahasa tingkat tinggi. Kata ustadz Bachtiar Natsir, Sekjen MIUMI dalam sambutannya untuk buku ini, “kemajuan dunia Barat sebenarnya telah menyilaukan (mereka) kaum lemah pemikiran, lemah aqidah dan lemah wawasan.” Kita boleh kagum pada sisi kedisiplinan, teknologi dan tradisi keilmuan dunia Barat, tetapi tidak untuk aspek pandangan hidup, moralitas, kemanusiaan, keluarga dan lain-lainnya. Karena sebenarnya mereka menjadi maju setelah meninggalkan Gereja dan agamanya, tetapi tidak dengan kita umat Islam. Kita akan jatuh, terbelakang dan menjadi bodoh saat kita meninggalkan Islam, dan akan maju dan jaya saat kita menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita, seperti yang terjadi beberapa abad yang lalu.

Wallaahu a’lam..

View all my reviews

Membaca Buku: Kunci Memimpin Peradaban

Sesungguhnya, membaca bukan sekadar hobi, tapi sebuah konsep hidup
– DR. Raghib As-Sirjani

Membaca buku bukanlah budaya yang populer di Indonesia. Sangat jarang kita temukan, orang Indonesia yang begitu khusyuk membaca buku di tempat umum, taman, kampus, sekolah ataupun transportasi publik seperti kebiasaan penduduk negara maju di Jepang, Eropa maupun Amerika Serikat. Bahkan saya melihat dengan mata kepala sendiri, di sebuah perpustakaan kampus ternama di kota Bandung, yang notabene surganya buku-buku, alih-alih membaca buku, mahasiswa malah banyak yang melakukan browsing, bermain gadget, ngobrol bahkan asyik tiduran di sana. Kita patut miris dengan keadaan seperti ini. Bagaimana negeri kita mau maju dan mengalahkan negara lain, jika budaya baca saja kita ogah melakoninya.

Dosen-dosen saya mempunyai beberapa cara unik agar mahasiswanya mau membaca. Ada yang menugaskan mahasiswa membedah buku kemudian mempresentasikannya secara berkelompok. Ada yang menugaskan untuk mengeksplorasi buku dan bacaan lainnya sesuai dengan tema yang ditentukan, lalu dirangkai dalam bentuk tulisan. Ada yang menugaskan untuk membuat resume dari buku tersebut. Yang paling unik (baca: gila), mahasiswa-mahasiswa di kelas disuruh membaca satu orang satu paragraf, kemudian bergantian sampai jam kuliah habis. Setahu saya metode yang terakhir digunakan oleh guru SD ataupun SMP saya beberapa tahun yang lalu. Semua hal tersebut dilakukan untuk satu hal, agar para mahasiswa yang lebih suka main gadget termotivasi untuk mau membaca (walaupun niatnya bisa jadi hanya untuk nilai). Murabbi saya juga pernah memberikan tugas bedah buku kepada kami, agar kami mau membaca buku. Hasil penelitian UNICEF menyebutkan bahwasanya minat baca orang Indonesia tergolong rendah. Kalau dipresentasekan ada pada kisaran 0,01 persen, yang mengindikasikan satu buku dibaca oleh seribu orang di Indonesia (Republika.co.id).

“Sebenarnya masyarakat yang minim buku ” tulis DR. Muhammad Musa Asy-Syarif hafizhahullaah, assistant professor di Department of Islamic Studies, Universitas King Abdul Aziz dalam bukunya, Smart Reading for Muslim. “jarang menulis dan membaca buku, serta suka bersenda gurau perlu dikasihani. Masyarakat seperti ini memiliki kekuaran akal yang lemah. Jiwa mereka menjadi kerdil dan terisolasi. Mereka tak mampu mengambil manfaat dari pengalaman dan pelajaran dari orang lain. Hubungan mereka dengan hasil pemikiran manusia juga terputus. Padahal itulah yang menghamparkan jalan kehidupan dan perkembangan bagi setiap masyarakat sehingga mereka bisa melangkah dengan cepat guna mengejar ketertinggalan.”

Mengapa kita malas untuk membaca? Tak sadarkah kita bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi kita yang mulia, Muhammad SAW lewat perantara Jibril as adalah perintah membaca? Ustadz Dwi Budiyanto hafizhahullaah dalam bukunya, Prophetic Learning mengatakan: “Iqra’ merupakan perintah Allah SWT yang luar biasa. Wahyu pertama itu tidak memerintahkan kita untuk shalat, puasa, zakat atau yang lainnya. ‘BACALAH!’, Ia menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam. Sebuah peradaban dan pengetahuan sebagai titik awal perkembangan. Sebuah peradaban yang dibangun melalui tradisi literasi yang kuat, yaitu tradisi yang menempatkan baca-tulis sebagai pijakan.” Peradaban Abbasiyah bisa memimpin dunia di abad pertengahan, kemudian Eropa bisa menaklukkan dunia di awal abad ke-15 dan bangsa Amerika menguasai ilmu pengetahuan di segala bidang di zaman modern ini dimulai dari kebiasaan membaca para generasinya.

“Membaca adalah kaidah yang pertama kali Allah ajarkan.” demikian dikatakan oleh Ustadz Muhammad Elvandi hafizhahullaah, penulis buku Syair Cinta Pejuang Damaskus dan Inilah Politikku. “Kaidah itu bukanlah rumus ajaib umat Islam, tapi ia adalah kaidah yang juga konstan dan universal. Ia adalah syarat kebangkitan umat manapun, untuk agama apapun. Kaidah ini pernah mengantarkan generasi muslim zaman Abbasiyyah memimpin peradaban, sebagaimana mengantarkan generasi berpengetahuan Eropa menaklukan dunia, dan seperti juga mengantarkan generasi pembaca Amerika memimpin pengetahuan.”

Mari kita tengok bagaimana ulama terdahulu sangat mencintai kebiasaan membaca. Imam Jahidz seorang sastrawan dan filosof muslim, meninggal karena rak bukunya jatuh menimpa beliau yang sedang tenggelam dalam membaca. Imam Turmudzi rahimahullaah, pemilik kitab hadis Sunan Turmudzi menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan hadits Rasulullah SAW, sampai mata beliau buta karena kebanyakan membaca. Sahib Ibnu Abbad menolak menjadi perdana menteri Samarkand, tersebab merasa kerepotan untuk memindahkan buku-bukunya ke Samarkand, dibutuhkan sekitar 400 ekor unta untuk memboyong habis semua buku-bukunya tersebut.

Ibnul Jauzi rahimahullaah, penulis buku motivasi fenomenal Shaidul Khatir berkata: “Selama menuntut ilmu, aku telah membaca buku sebanyak 20.000 jilid buku. Dengan buku aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka dan ilmu-ilmi mereka yang menakjubkan. Semua itu jelas tak mungkin diketahui oleh orang-orang yang malas membaca.”

Al-Qathbu Al-Yunini bercerita mengenai Imam Nawawi rahimahullaah, pengarang kitab Riyadush Shalihin, “An-Nawawi adalah orang yang tidak mau membuang-buang waktu, baik siang maupun malam. Ia selalu menyibukkan diri dengan urusan ilmu. Bahkan, saat sedang dalam perjalanan pun ia tetap sibuk menghafal dan membaca buku.” Abu Bakar Al-Anbari menjelang kematiannya berkata kepada dokternya, “aku membaca seratus ribu lembar halaman buku setiap minggu.” Ibnu Katsir menuturkan kepada Adz-Dzahabi, “aku selalu membaca dan menulis di malam hari di bawah cahaya lampu yang lemah sinarnya, sehingga mengakibatkan mataku buta.”

Bercermin dari kisah-kisah tersebut, bagaimana dengan kondisi kita. Sudah toko buku sedikit, uang tak banyak, jumlah buku yang berkualitas bisa dihitung jari, minat baca rendah, ke perpustakaan malas, bagaimana mau membaca banyak buku? Bagaimana mau memajukan Indonesia? Bagaimana mau memajukan peradaban Islam?

“Sesungguhnya bencana yang menimpa umat saat ini adalah keengganan membaca.” tulis DR. Muhammad Musa Asy-Syarif. “Meski demikian, pernyataan ini tak bisa serta merta dialamatkan kepada umat semata karena cara untuk mengatasi masalah ini panjang dan berjenjang. Dimulai dari kesadaran para da’i agar mau menuntun mereka. Bahkan langkah ini secara khusus dialamatkan kepada pemimpin dan da’i muda yang mulia. Hal ini disebabkan, mereka adalah pemimpin masa depan. Sebaik-baik pemuda adalah pemuda juru dakwah yang mau membaca.”

DR. Raghib as-Sirjani hafizhahullaah, seorang dokter yang telah doktor, dosen, penulis, sejarawan dan ulama dari Mesir, memberikan pesan dalam bukunya Palestina – Kewajiban yang Terlupakan, dalam bab Kewajiban Pemuda kepada kita untuk membiasakan diri dalam hal membaca. “Penulis menyerukan kepada para pemuda yang ingin memberikan sumbangsih kepada umat dan terhadap masalah Palestina, hendaklah ia sering membaca agar dia mengetahui hakikat konspirasi yang dilakukan oleh para musuh terhadap umat ini. Janganlah ia meremehkan kewajiban ini karena sesungguhnya kunci kebangkitan dan kemunculan umat ini adalah kalimat Iqra’ (bacalah). Permasalahan bangsa Arab (dan umat Islam keseluruan, ed) adalah kenyataan yang menyatakan bahwa mereka adalah umat yang sedikit membaca bila dibandingkan dengan umat dan bangsa lain.”

Layaknya pekerjaan lainnya, membaca buku juga harus kita niatkan hanya untuk Allah SWT, agar manfaat yang kita dapatkan bukan saja di dunia tapi juga di akhirat. Dengan membaca kita bisa menambah ilmu, menambah wawasan dan pemahaman, mengetahui berbagai permasalahan yang mengancam dunia Islam, meningkatkan pengetahuan syari’at, memberikan inspirasi dan motivasi, meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan lain-lain, yang kesemua itu bisa membawa kita menuju surga-Nya Allah.

Mudah-mudahan Allah yang Maha Pemurah, Penyayang lagi Bijaksana berkenan untuk memberikan kemudahan, kekuatan dan keistiqomahan kepada kita dalam membaca buku.

Pertanyaannya, sudahkah anda membaca buku hari ini?

Beragamnya Tema Buku yang Ditulis Para Ulama

Bayt el-Hikma (House of Wisdom)

Saya kaget ketika pada suatu ketika mendapatkan sebuah buku terjemahan berjudul “Bergonju: Seni Bercinta dalam Islam” karya Imam Jalaluddin As-Suyuti di sebuah pameran buku. Saya bertanya dalam hati, apakah benar yang menulisnya beliau? Saya berkeliling mencari buku yang serupa, saya dapatkan buku “Sutra Ungu” karya Abu Umar Basyir. Saya berkata dalam hati menyimpulkan, bila ada ulama sekarang menulis masalah seks tentu merujuk pada ulama-ulama terdahulu. Saya berkata lagi, tema yang serupa pasti juga pernah dibahas oleh para ulama lainnya dan entah berapa buku yang telah ditulis mengenai hal ini. Hanya karena ketidaktahuan saya membuat saya kaget; ulama sekelas Imam Jalaluddin As-Suyuti menulis buku seks! Walaupun dijual bebas, buku ini bagusnya dibaca bagi mereka yang akan dan sudah menikah. Karena disana ada cara-cara dan posisi dalam berhubungan intim suami-istri *_*

Buku-buku seks seperti ini mengingatkan saya pada buku-buku dengan tema lain yang ditulis oleh para alim ulama. Misalnya buku tentang tema “cinta” seperti buku Raudhatul Muhibbin karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Thauqul Hamamah karya Imam Ibnu Hazm. Kedua buku ini begitu dalam membahas tema cinta walaupun dengan bahasa yang berbeda. Ada bahasan tentang sifat-sifat orang yang jatuh cinta, bagaimana mengatasi mabuk asmara, kisah-kisah orang yang terlibat percintaan, dan sebagainya. Yang hebat, keduanya ditulis oleh ulama pakar syariah, ahli ilmu hadits dan fikih. Keduanya ibarat psikolog yang mengetahui tentang seluk beluk cinta. Dan mungkin, keduanya memang psikolog cinta yang sesungguhnya. Banyak buku yang mereka tulis menunjukkan keahlian mereka dalam ilmu psikologi. Lagi-lagi karena sedikitnya buku cinta yang ditulis ulama yang saya baca, saya baru mengetahui dua buku ini. Diluar sana mungkin masih banyak buku dengan tema serupa.

Para ulama juga menulis buku yang lain daripada yang lain, misalnya lagi tentang tata cara memperlakukan buku, bagaimana meraut ujung pena agar tulisan lebih baik, dan bagaimana menjadi penyalin buku yang baik. Simak penuturan Imam Musa Almawi dalam bukunya yang berjudul Mu’id fi Adab Al-Mufid wa Al-Mustafid sebagaimana dikutip Franz Rosenthal dalam “Etika Kesarjanaan Muslim”, “Buku-buku harus diatur menurut subjeknya, dan buku yang paling penting harus ditempatkan paling atas. Urutan berikut ini harus dipatuhi: pertama adalah Al-Qur’an; lalu kitab hadits shahih, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim; selanjutnya tafsir Al-Qur’an; berikutnya komentar terhadap kitab hadits; disambung kitab-kitab fikih; lalu kitab ushuluddin dan ushul fiqh; terus buku-buku tata bahasa, puisi, dan ilmu-ilmu lain.”

Imam Ibnu Jama’ah juga menulis tema serupa yang ditulis Imam Musa Almawi. Judul bukunya Tadzkirah Al-Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim. Beliau berkata, “Jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Al-Qur’an atau hadits hendaklah ditempatkan di atas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku tersebut mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan lebih atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas.”

Coba dengarkan lagi beberapa nasehat Imam Almawi, “Buku tidak boleh dijadikan tempat menyimpan lembaran-lembaran keras atau benda-benda lain yang serupa. Buku tidak boleh dijadikan bantal, dijadikan kipas, sandaran punggung atau alas berbaring, atau dipakai untuk membunuh lalat. Untuk menandai halaman yang sedang dibaca, pinggir atau sudut halaman buku tidak boleh dilipat. Orang-orang bodoh sering melakukan hal itu.” Kata Imam Ibnu Jama’ah, “Untuk penanda bacaan harus dipakai selembar kertas atau yang serupa itu, tetapi tidak boleh dari potongan kayu atau apapun yang terbuat dari bahan yang keras.”

Subhanallah, sampai sedetail itu para ulama kita dalam menguraikan sebuah pengetahuan. Hampir semua ilmu yang berkembang saat itu ada bukunya. Tapi sayang sekali, yang sampai kepada kita baru sedikit daripadanya. Apalagi banyak buku yang ditulis para ulama itu hilang atau dimusnahkan seperti yang pernah dilakukan oleh pasukan Mongol saat menyerbu Baghdad (ibukota kekhalifahan Abbasiyah). Buku-buku yang ada diperpustakaan besar dibuang ke sungai Tigris hingga sungai pun berubah warna menjadi hitam karena tinta. Kejadian ini ibarat pukulan hook dalam tinju, membuat umat Islam sempoyongan dan mundur beberapa langkah. Banyak akhirnya para ulama dan ilmuwan setelah kejadian itu berusaha mencari salinan buku yang dimusnahkan itu. Salah satu caranya adalah dengan berteriak, “Wahai fulan, apakah kalian mempunya buku anu?” saat berada ditanah suci pada musim haji. Karena saat itu berkumpul jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Itulah mengapa para ulama berusaha mendapatkan buku yang dimaksud pada saat itu. Bila ada yang punya, maka para ulama itu tidak segan-segan untuk menyalinnya meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mendapatkannya. Di antara para ulama yang menjadi “jembatan” ilmu-ilmu masa lalu untuk disampaikan oleh umat terkemudian adalah Imam Jalaluddin As-Suyuti. Beliau berhasil merangkum banyak pengetahuan dari buku-buku langka itu. Konon kabarnya jumlah buku yang beliau tulis mencapai 500 jilid.

Buku-buku yang ditulis ulama zaman dahulu mungkin tidak kalah hebat dengan yang ditulis oleh orang-orang zaman sekarang, khususnya cerdik pandai dari dunia Barat. Kelebihannya adalah, buku-buku itu ditulis oleh para ulama yang memiliki jiwa tauhid, paham syariah, dan memiliki akhlak yang baik. Melewati fase kemunduran Islam artinya kita memulai dari apa yang ada atau memulainya dari nol. Dan ini merupakan pekerjaan rumah umat. Karena kita harus yakin bahwa kejayaan itu akan kembali berulang di masa yang akan datang. Apakah kita menjadi bagian di dalamnya?

Penulis: Ustadz Abu Farras Mujahid