Slide Presentasi: Perancangan Game (Game Design)

Pembuatan game sangat kompleks. Bahkan, game sederhana sekali pun membutuhkan waktu dan usaha yang lumayan.

Game design merupakan pekerjaan penuh tantangan, membutuhkan pemahaman akan seni, pemrograman, audio dan bisnis. Jadi bersiaplah!

Advertisements

542 Tahuh yang Lalu: Granada Jatuh ke Tangan Kerajaan Spanyol

image

Tepat pada hari ini, pada 524 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 2 Januari 1492 M, akhir peradaban Andalusia yang agung runtuh dan hilang untuk selamanya. Penguasa terakhir Granada, Abu Abdillah Muhammad bin al-Ahmar ash-Shaghir memilih untuk menyerah setelah dikepung oleh pihak Kerajaan Castilla, Spanyol. Diwakili oleh menterinya, Abu al-Qasim Abdul Malik, ia menandatangani kesepakatan damai dengan pihak Kerajaan Castilla.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, duet maut penguasa Spanyol itu pun memasuki Granada, dan menginjakkan kakinya ke istana yang megah, Alhambra. Abu Abdillah memilih pergi dan angkat kaki dari istana dan yang telah susah payah dibangun dengan tetesan keringat dan darah oleh pendahulunya.

Di sebuah bukit, ia berhenti sejenak. Ia amati dalam-dalam pemandangan kota Granada dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Tetiba, air matanya mengalir deras. Ia menangis tersedu-sedu. Sang ibu, Aisyah berteriak padanya, “Menangislah… Menangislah… Menangislah… Kini engkau menangis seperti perempuan yang kehilangan, padahal kau tak mampu mempertahankan kerajaan selayaknya laki-laki perkasa.” Bukit itu pun diberi nama Puerto del Suspiro del Moro oleh penduduk Spanyol, yang bermakna Bukit Tangisan Orang Arab Terakhir. Sungguh memilukan!

Kejadian memilukan ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Saat menyepakati perdamaian dengan pihak Castilla, Abu Abdillah ash-Shaghir menyangka bahwa keselamatan kaum Muslimin yang tinggal di sana akan terjamin dan terjaga.

Tapi, fakta berkata lain. Raja Ferdinand merevisi perjanjian tsb setahun kemudian. Jutaan Muslim yang memilih untuk tetap tinggal di bumi Andalusia yang menjadi korbannya. Mereka semua dibaptis paksa untuk memeluk agama Kristiani. Raja Ferdinand yang zalim juga mengeluarkan dekrit yang isinya menutup operasional masjid, melarang ritual-ritual agama Islam dan Yahudi.
Perlakuan buruk ini terus berlanjut. Pada tahun 1529 M, pada masa pemerintahan Raja Charles, sebuah peraturan yang isinya melarang kaum Muslimin berbicara menggunakan bahasa Arab diterbitkan. Membaca Al-Qur’an dan melakukan perjalanan ke luar Granada juga dianggap sebagai pelanggaran hukum. Yang paling gila adalah peraturan yang dibuat oleh Raja Philip II pada tahun 1576 M. Sang Raja membuat peratutan berupa larangan mandi kepada semua umat Muslim. Tempat pemandian umum yang ada di Granada dihancurkan.
Dewan Inquisisi adalah puncak kezaliman yang dilakukan oleh pihak Kerajaan dan Gereja Spanyol saat itu. Setelah upaya Kristenisasi terhadap pemeluk agama tauhid ini belum mendapatkan hasil yang maksimal, mereka pun berencana menghabisi kaum Muslim dengan berbagai dalih yang tak masuk akal. Jika dewan ini menemukan adanya mushaf di rumah penduduk Granada, mendapati mereka melakukan ibadah shalat, mereka enggan meminum arak atau dicurigai melakukan aktivitas yang berkaitan dengan Islam lainnya maka sanksi berat pun dijatuhkan. Dewan Inquisisi akan menyiksa mereka dengan zalim. Mereka memiliki 1001 macam alat untuk menyiksa mereka yang dianggap berkhianat. Ada alat peremuk tulang, alat perobek kulit, alat pengoyak daging dan berbagai macam alat lainnya yang membuat bergidik bulu siapapun yang menyaksikannya. Dewan ini berhasil dibubarkan empat abad kemudian setelah membantai banyak manusia tak berdosa. Pada tahun 1808 Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis mengeluarkan dekrit yang isinya membubarkan Dewan Inquisisi di Kerajaan Spanyol tsb.

Fais Al-Fatih | Diselesaikan menjelang waktu maghrib di kosan Al-Fajri, tanggal 2 Januari 2016.

Referensi utama:
Raghib as-Sirjani. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Tariq Suwaidan. 2015. Dari Puncak Andalusia. Jakarta: Penerbit Zaman

Doa Memohon Petunjuk, Ketakwaan, Keterjagaan dan Kecukupan

Pembaca yang budiman, kali ini pembaca sekalian akan kami perkenalkan dengan sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang ringkas namun padat maknanya. Demikianlah memang, salah satu keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah beliau diberikan jawami’ al kalim, yaitu kemampuan untuk berkata-kata ringkas namun padat dan luas maknanya. Demikian pula dalam keumuman doa-doa beliau.

Berikut ini doanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:

/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”

(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya).

Derajat hadits

Hadits ini shahih tanpa keraguan, semua perawinya tsiqah. Dan hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, yang sudah cukup menjadi indikasi shahihnya hadits tersebut.

Penjelasan hadits

Dalam doa ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk memohon 4 hal, yaitu:

Al Hudaa (petunjuk)At Tuqaa (ketaqwaan)Al ‘Afaaf (keterjagaan)Al Ghina (kekayaan)

Namun para ulama menjabarkan lebih luas makna dari 4 hal yang kita minta di sini. Al Mulla Ali Al Qari menjelaskan makna-makna: “Al Hudaa, artinya hidayah yang sempurna. At Tuqaa, artinya ketaqwaan yang menyeluruh. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah, artinya al kafaaf (kecukupan rezeki). Sebagian ulama mengatakan artinya adalah al iffah (terjaganya diri dari maksiat). Sebagian ulama mengatakan artinya keterjagaan diri dari yang haram. Dalam kamus Ash Shihah, ya’ifu – ‘affan, ‘iffatan, ‘afaafan artinya kaffun(kecukupan). Dan dinukil dari Abul Futuh An Naisaburi bawah ia berkata: ‘Al Afaaf artinya keshalihan jiwa dan hati’. Adapun al ghinaa artinya kekayaan hati, yaitu merasa cukup dari apa yang ada pada manusia” (Mirqatul Mafatih, 5/1721).

Imam An Nawawi juga menjelaskan, “Al ‘Afaaf dan al iffah artinya terhindar dari hal-hal yang tidak halal dan terjaganya diri dari hal tersebut. Adapun al ghinaa di sini adalah kekayaan jiwa, dan merasa cukup dari apa yang ada pada manusia dan apa yang ada di tangan mereka” (Syarah Shahih Muslim 17/41).

Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i menjelaskan, “Al Hudaa, dengan ha di-dhammah dan dal di-fathah, artinya lawan dari kesesatan. At Tuqaa, dengan ta di-dhammah, maknanya taqwa. Yaitu isim mashdar dari ittaqaytullah itqaa-an, artinya adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah dan dua huruf fa’, mashdar dari ‘affa, artinya terhindar dari segala maksiat dan keburukan. Al Ghinaa, dengan ghain di-kasrah dan dalam bentuk qashr, artinya tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).

Dengan demikian jika kita ringkas dari penjelasan-penjelasan di atas, 4 hal yang diminta dalam doa ini adalah:

Al Hudaa, yaitu petunjuk yang sempurna dari Allah untuk menjalani jalan yang lurus 

At Tuqaa, yaitu ketaqwaan yang menyeluruh dalam semua hal, dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi yang dilarang dalam agama

Al ‘Afaaf, yaitu keterjagaan dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan hal-hal yang tidak halal, sehingga hati dan jiwa kita menjadi shalih.Al Ghina, yaitu kekayaan hati, sehingga tidak merasa bergantung dan terlalu mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, melainkan bergantung dan berharap pada apa yang ada di tangan Allah

Pembaca yang budiman, mengapa al huda dan at tuqaa lebih didahulukan untuk diminta? Nah, ketahuilah bahwa ternyata urutan dari 4 hal yang diminta tadi pun ada rahasianya. Simak penjelasan Ibnu ‘Allan berikut ini: “Al Huda (petunjuk) didahulukan karena dialah landasan, dan ketaqwaan dibangun di atasnya. Sedangkan digandengkannya al ‘afaaf kepada al huda, ini merupakan penggandengan sesuatu yang khusus kepada sesuatu yang umum, dalam rangka menegaskan hal yang khusus tersebut. Karena nafsu, memiliki kecenderungan untuk mengajak kepada lawan dari al ‘afaaf (yaitu maksiat dan keburukan). Maka seorang hamba hendaknya meminta pertolongan Allah untuk meninggalkannya. Nah, setelah sempurna permintaan-permintaan yang terkait dengan agama, maka selanjutnya permintaan ditujukan untuk sebagian perkara dunia, yaitu al ghinaa, merasa cukup atau tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).

At Thibbiy juga menjelaskan rahasia lainnya, “Dimintanya al huda dan at tuqaa secara mutlak untuk meraih petunjuk yang semestinya diterapkan dalam mendapatkan penghidupan, perbekalan dan akhlak-akhlak mulia. Dan juga petunjuk untuk menghindari apa-apa yang semestinya dijauhi dalam melakukannya, baik baik berupa syirik, maksiat dan akhlak-akhlak tercela. Adapun meminta al ‘afaaf dan al ghina adalah penyebutan yang lebih khusus setelah disebutkan yang lebih umum” (dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 9/324).

Subhaanallah… ternyata doa yang singkat ini adalah doa yang mengumpulkan hal-hal yang bisa meraih banyak kebaikan agama dan kebaikan dunia bagi seseorang. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di juga menjabarkan bagaimana dahsyatnya doa ini, beliau berkata: “Doa ini merupakan diantara doa yang paling padat dan paling bermanfaat. Karena di dalamnya terkandung permintaan kebaikan agama dan kebaikan dunia. Sebab, yang dimaksud al hudaa adalah ilmu yang bermanfaat, at tuqaa adalah amal shalih dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan dua hal ini, terwujudlah kebaikan agama. Karena hakikat agama adalah ilmu yang bermanfaat dan pemahaman yang benar, dan inilah al hudaa, serta menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan inilah at tuqaa.

Sedangkan permintaan al ‘afaaf dan al ghina mengandung ketercukupan diri dari makhluk dan tidak bergantungnya hati kepada mereka. Lalu merasa cukup dengan Allah dan rizki dari Allah, serta qana’ah dengan apa yang diberikan Allah, dan meminta segala kecukupan yang bisa membuat hati seorang hamba tenang. Dengan semua ini, sempurnalah kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Inilah kehidupan yangthayyibah. Barangsiapa yang diberi rizki oleh Allah berupa al hudaa, at tuqaa, al ‘afaaf dan al ghinaa ia telah mendapatkan dua kebahagian dan ia mendapatkan semua yang hal diinginkan serta terhindar dari semua hal yang tidak disukai. Wallahu a’lam” (Bahjah Qulub Al Abrar, 205).

Menariknya di sini As Sa’di menjelaskan bahwa hidayah adalah ilmu dan taqwa adalah amal shalih. Seseorang dikatakan mendapatkan hidayah ketika ia berilmu, dan bertaqwa ketika mengamalkan agama berdasarkan ilmu. Bukan karena ikut-ikutan, hawa nafsu atau berdasarkan opini masing-masing. Oleh karena itu, Thalq Bin Habib Al’Anazi mengatakan:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah” (Siyar A’lamin Nubala, 8/175).

Demikian, mudah-mudahkan kita diberi hidayah oleh Allah untuk dapat mengamalkan doa ini dalam keseharian kita. Terutama dibaca di waktu-waktu yang mustajab seperti ketika sepertiga malam yang akhir, di antara adzan dan iqamah, diwaktu bersujud atau sebelum salam dalam shalat, ketika hujan dan waktu-waktu mustajab lainnya. Semoga kita diantara para hamba yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Wabillahi at taufiq wa sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

Semua Teroris adalah Muslim, Really?

image

“Tidak semua Muslim adalah teroris, tapi semua teroris adalah Muslim.” Sudah berapa kali kau mendengarkan statement tersebut? Dan tersebabkan oleh dicuci otaknya media, banyak orang yang juga mengamini pernyataan tersebut.

Tiba-tiba muncul pertanyaan: Mengapa kita tidak pernah melihat teroris yang beragama Kristen, Buddha ataupun Yahudi?
OK, mari kita telusuri satu per satu. Anda akan mendapatkan berita yang mengejutkan yang mungkin tak pernah sekali pun Anda mengetahuinya.

Fakta sesungguhnya bahwa kebanyakan teroris yang menyerang Amerika Serikat dan juga Eropa ternyata bukanlah Muslim. Ini bukanlah salah Anda, jika Anda sama sekali belum mengetahui mengenai fakta mengejutkan ini. Cukup salahkan media yang Anda tonton dan saksikan setiap harinya.

Akan kami paparkan beberapa statistik bagi Anda yang mungkin masih penasaran, apakah benar pernyataan saya di paragraf sebelumnya, bahwa “kebanyakan teroris yang menyerang Amerika Serikat dan juga Eropa ternyata bukanlah Muslim”.
Mari kita mulai dari benua Eropa. Coba tebak, berapa persenkah serangan teroris yang dilakukan oleh (orang yang mengaku) Muslim di Eropa dalam 5 tahun terakhir! Tebakan Anda salah. Jawaban yang benar adalah kurang dari 2 persen saja. Yah, kurang dari 2 persen saja.
Europol, badan khusus kriminalitas Uni Eropa merilis laporannya bahwa mayoritas serangan teror yang terjadi di Eropa dilakukan oleh kelompok separatis. Contohnya saja, di tahun 2013 ada 152 serangan teror di Eropa dan hanya 2 serangan yang mengatasnamakan agama. Lebih dari setengahnya, sekitar 84 serangan diprediksikan disebabkan oleh kelompok etnik-nasionalis ataupun para separatis.

Di Perancis, sebut saja FLNC (Front de la Liberation Nationale de la Corse) alias Front Nasional Pembebasan Pulau Corsica. Pada bulan Desember 2013, teroris FLNC meluncurkan serangan roket secara beruntun terhadap kantor polisi di dua kota Perancis. Sedangkan di Yunani, kelompok kiri Militant Popular Revolutionary Forces menembak dan membunuh 2 anggota partai Golden Dawn. Di Italia, kelompok anarkis FAI (Federazione Anarchica Italiana) terlibat dalam sejumlah aksi teror, termasuk di antaranya mengirimkan paket bom kepada seorang jurnalis.

Oiya, pernah mendengarkan insiden-insiden tersebut? Saya haqqul yaqin pasti Anda belum pernah mendengarkannya. Tapi, coba teroris Muslim yang melakukan aksi brutal tersebut. Bagaimana reaksi media (dan Anda)? Saya tak perlu jawaban, itu hanya pertanyaan basa basi kok.

Serangan teror yang paling cetar membahana di Eropa adalah ketika Anders Breivik membantai 77 orang di Norwegia. Tau kah Anda siapa dia? Dia adalah seorang anti-Muslim, anti-imigran dan ternyata, pemeluk Kristen “taat”. Anda tahu bagaimana akhir kisah perjalanan maniak ini? Dia dinyatakan gila. Iya, gila! Dia kemudian dipenjara paling minimal selama 10 tahun. Gila gak sich?

Pernah dengar teroris beragama Buddha? Pemeluk agamanya yang dikenal dengan welas asihnya ini ternyata ada juga yang sadis. Ekstrimis Buddha yang dipimpin seorang Biksu berdarah dingin, Wirathu ini telah membunuh banyak Muslim di Rohingya, Burma dan tahun lalu, di Srilanka para ekstrimis Buddha juga membakar rumah dan membunuh 4 orang Muslim.

Teroris Yahudi juga ada. Di tahun 2013 saja ada sekitar 399 aksi teror yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai bangsa “pilihan Tuhan” ini. Mereka merampok tanah, menghancurkan rumah, menyerang tempat ibadah, membabat habis perkebunan dan membunuh penduduk Palestina yang tak berdosa.
Sekarang mari kita terbang ke negara polisi dunia, Amerika Serikat. Ternyata, persentase teroris Muslim di sana sama kecilnya dengan persentase di Eropa. Penelitian yang dilakukan oleh FBI menyebutkan bahwa dari tahun 1980 sampai 2005, 94 persen serangan terorisme bukan dilakukan oleh Muslim. 42 persen di antaranya dilakukan oleh kelompok Latin, dan 24 persen dilakukan oleh ektrimis kiri.
Penelitian di tahun 2014 yang dilakukan oleh University of North Carolina menyatakan bahwa sejak serangan 9/11 serangan teror yang dilakukan oleh Muslim menewaskan sekitar 37 penduduk Amerika Serikat. Padahal waktu yang sama, ada sekitar 190.000 penduduk Amerika Serikat yang dibunuh dengan berbagai macam penyebab, dan yang paling marak akhir-akhir ini adalah penembakan secara membabi buta oleh orang-orang yang stress dan tidak berprikemanusiaan. Tapi bagaimana, liputan media terhadap teroris  (yang mengaku Muslim) tersebut?

Aksi teror apapun itu, yang bermotifkan agama atau tidak, sungguh tidak mendapatkan tempat dimanapun. Tapi yang membuat kami -umat Muslim- tidak rela adalah bagaimana upaya framing dan stereotyping yang dilakukan oleh media. Mereka menggiring pemirsa dan mencuci otak mereka, sampai mereka percaya bahwa “semua teroris adalah Muslim”.

Jika ternyata pelakunya bukan Muslim, media tidak meliputnya habis-habisan. Mereka bahkan enggan menggunakan embel-embel terorisme untuk aksi yang mereka lakukan. Memang, cerita yang menakutkan memainkan peranan penting dalam menggiring opini para pemirsa. Diwacanakan bahwa ini adalah kejahatan versus kebaikan. Kejahatan ada di pihak Muslim, dan Amerika Serikat yang menjadi superhero-nya.
Media dunia kurang mengekspos bagaimana senjata api yang membunuh 30 orang penduduk Amerika Serikat setiap harinya ataupun kekerasan dalam rumah tangga yang membunuh 3 wanita setiap harinya. Mereka akan on fire ketika mendiskusikan bagaimana cara menghentikan aksi teror Muslim yang berdasarkan data statistik jumlah korbannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembunuhan oleh warganya sendiri.

Mudah-mudahan setelah membaca ini, Anda semakin tercerahkan bahwa tidak semua aksi terorisme itu dilakukan oleh Muslim. Teroris sesungguhnya tidak memiliki agama. Jika dia mengaku Islam, maka aksinya sungguh tidak diridhai oleh Allah Yang Maha Kuasa. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah: 32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.”
Sekian.

Dimodifikasi dari:
http://www.thedailybeast.com/articles/2015/01/14/are-all-terrorists-muslims-it-s-not-even-close.html

Nabi yang Mulia itu bernama Isa (Alaihissalam)

image

Wanita yang mulia itu tetiba pergi menjauh dari keluarga dan khalayak ramai. Di dalam rahimnya yang suci, terdapat calon bayi yang kelak akan menjadi utusan Ilahi. Sebelumnya ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia akan melahirkan seorang putera. Jangankan berzina, bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya saja tak pernah! Tapi, apa yang tak mungkin bagi Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa.
Waktu terus berputar, da usia kehamilannya pun semakin tua, membuatnya payah dan lemah. Di sebuah pohon kurma, ia sandarkan tubuhnya. “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan menjadi tak berarti lagi dilupakan”, keluhnya sambil menahan rasa sakit.

Ruhul Qudus, malaikat Jibril yang suci pun turun dari langit dan menghibur dirinya yang hampir putus asa. Beberapa saat kemudian, si bayi pun akhirnya terlahir ke dunia.
Kelak, ketika bayi itu ditunjukkan kepada kaumnya, mereka rasa tak percaya. Mereka memandang miring dan menganggap wanita itu telah berbuat yang tidak-tidak. “Ayahmu…”, kata salah seorang di antara mereka. “Sekali-kali bukanlah orang yang jahat, dan ibumu bukan pula seorang pezina!”

Dengan izin Allah, si bayi pun berbicara. Ya, berbicara! Ia bela kehormatan sang ibunda dengan perkataan yang tegas dan lugas. “Sesungguhnya, aku adalah hamba Allah. Dia memberikanku Kitab dan Dia menjadikanku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan shalat),  (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan padaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
————————

Itulah sepenggal episode perjalanan hidup Nabi Isa dan ibunya yang mulia, Maryam. Dalam bahasa Inggris, mereka dikenal dengan nama Jesus dan Maria. Kami, umat Islam diperintahkan untuk mengimani kenabian Isa, serta membenarkan risalah-risalah yang ia sampaikan kepada umatnya.

Sebagaimana Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, dan juga Muhammad SAW, Allah SWT mengutusnya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan bagi mereka yang ingkar pada-Nya. Nabi Isa alaihissalam juga dititahkan oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya untuk beribadah, menyembah dan meminta hanya kepada-Nya semata. Tidak menyekutukan-Nya, tidak menduakan apalagi mentigakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya. Maha Suci Allah dari itu semua. Tidak sah keimanan seorang Muslim. Sekali lagi, tidak sah keimanan seorang Muslim jika mereka tidak mengimani kenabian Isa alaihissalam.

Berbeda halnya dengan Muslim, orang Yahudi – yang menganggap bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan – memiliki pandangan yang berbeda terhadap Isa dan ibunya, Maryam. Mereka menganggap Isa sebagai “the False Messiah”, Messiah palsu. Bahkan yang ekstrim di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Isa atau Jesus adalah “anak haram dari wanita pezina.”

Terhadap pribadi Isa, Muslim berada pada pihak yang moderat. Tidak mengagungkan secara berlebihan dan menganggapnya sebagai salah satu unsur Tuhan dan tidak pula memandangnya sebagai anak haram dari wanita pezina. Isa alaihissalam adalah manusia biasa – biasa makan, minum dan tidur sebagaimana kita – yang diutus oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi dan Rasul. Dia memiliki mukjizat sebagaimana Ibrahim yang tak terbakar api yang membumbung tinggi mengangkasa, Musa yang membelah laut Merah dengan tongkatnya, atau juga Sulaiman yang bisa bercakap-cakap dengan binatang dengan segala rupa, semua atas izin-Nya semata. Dengan izin Allah pula, Isa bisa menyembuhkan mereka yang buta atau kusta, bahkan menghidupkan orang mati yang telah lama terkubur di dalam tanah.

Dan nanti pada akhirnya, di hari penghakiman kita akan tau siapa pribadi Isa yang sebenarnya. Di hadapan mereka yang dulu menyembahnya, dan juga seluruh umat manusia, Allah Yang Maha Agung akan bertanya padanya, “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”.

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.
Isa juga mengatakan, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. 5: 116-117)

Mudah-mudahan tidak ada ratapan penyesalan dari kita. Semoga Allah menuniukkan jalan-Nya yang lurus pada kita semua dan semoga keselamatan dianugerahkan kepada Nabi Isa dan Maryam, ibunya.

Diselesaikan di kosan Al-Fajri, menjelang maghrib di Jumat yang penuh berkah, 25 Desember 2015.
Fais al-Fatih

Referensi utama:
Al-Qur’an
Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2015. Iman kepada Rasul. Jakarta: Ummul Qura
Ibnu Katsir. 2012. Kisah Para Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam

Futur, Penyebab dan Terapinya

Sumber: Hasanalbanna.com

Allah berfirman, “Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146).

Di surat lain menceritakan semangat para malikat, “Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya sepanjang malam dan siang.” (QS Al Anbiya’: 19-20).

Definisi

Futur, secara bahasa mempunyai dua makna.

Pertama yaitu terputus setelah bersambung, terdiam setalah bergerak terus.

Kedua yaitu malas, lamban atau kendur setelah rajin bekerja. Futur secara istilah merupakan suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah terus-menerus melakukan ibadah. Ar Râghib berkata, “Futûr ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, dan lemah setelah kuat.”

Futur, kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara – Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah dan menjadi lunak. Atau diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Orang yang futur mengalami penurunan kuantitas dan kulaitas amal shalih/ibadah. Atau ia mengalami kemerosotan atau kemalasan pada keimanan atau keislamannya. Atau orang yang mengendur sendi-sendi hatinya sehingga menyebabkan penurunan stamina ruhiyah yang dapat menjadikannya jauh dari kebaikan dan anjlok produktivitas amal shalihnya.

Dalam konteks amal dakwah, Futur adalah satu penyakit yang menimpa aktivis dakwah dalam bentuk rasa malas, menunda-nunda, berlambat-lambatan dan yang palingburuk ialah berhenti dari melakukan amal dakwah. Sedangkan sebelumnya ia adalah seorang yang aktif dan beriltizam (rajin).

Gejala Futur

Maka atas dasar inilah para ulama meletakkan beberapa tanda (alamat) yang dengannya dapat diketahui apakah seseorang itu terjangkiti penyakit futûr atau tidak. Ada banyak tandanya, namun tanda-tanda yang terpenting adalah sebagai berikut:
1.Bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan; namun ini tidak bermakna meninggalkan ibadah-ibadah fardhu. Sebab jika ibadah fardhu ditinggal maka seseorang itu berstatus fâsik, ‘âshy (pelaku kemaksiatan), disamping itu dia telah menyerupai orang-orang munafik -sekalipun ia tidak termasuk dari mereka- dimana mereka disifati oleh Allah, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS At Taubah: 54).
2.Merasakan kekerasan dan kekasaran hati. Allah azza wa jalla berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hadîd: 16).
3.Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yang ada di pundaknya. Ia tidak mau memikul beban dakwah, cuek dengan kondisi ummat yang tengah tercabik-cabik, kehilangan jati diri, dan jauh dari Allah ta’ala.
4.Perhatian yang besar terhadap dunia, sibuk dengan urusan-urusan duniawi dengan jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah ta’ala.
5.Banyak ngomong pada hAl hal yang tidak bermanfaat. Menyia-nyiakan waktu tanpa faidah. Majlis orang-orang taat diketahui dengan dzikrullah di dalamnya, majlis orang-orang maksiat diketahui dengan kemaksiatan-kemaksiatan di dalamnya. Sedang majlis orang-orang futur diketahui dengan banyaknya pembincangan tak berguna di dalamnya.
6.Meremehkan dosa-dosa kecil, padahal tidak ada dosa kecil jika dilakukan berkali-kali atau terus-terusan.
7.Gemar menunda-nunda pekerjaan. Barangsiapa yang mentadabburi firman Allah berikut ini, maka ia akan memahami hakikat dari penundaan. “Janganlah kamu pergi berangkat (berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih panas(nya), jika mereka mengetahui.” (QS At Taubah: 81).

Sebab Futur

Pertama, berlebihan dalam Din (Agama).

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim). Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu. “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu kerana sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.

Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesuangguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A‘raf: 31).

Ketiga, memisahkan diri dari jamaah.

Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah). Jauhnya seseorang dari jamaah membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah bersabda: “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad).

Keempat, sedikit mengingat akhirat.

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatakan adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal.Ini disebabkan tidak adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkaumengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya surge dan ngerinya neraka.” (HR. Muslim).

Kelima, masuknya barang haram ke dalam perut.

Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.” (HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599).

Keenam, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan.

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS Al Ahqaf: 14).

Ketujuh, bersahabat dengan orang-orang yang lemah. Rasulullah bersabda:

“Seseorang sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud).

Kedelapan, spontanitas dalam beramal.

Tidak ada perencanaan yang baik, baik dalam skala individu (fardi) maupun komunitas (jama’i). Amal yang tidak terencana, tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

Kesembilan, jatuh dalam kemaksiatan. .

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi,sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Menjaga diri sendiri saja kesulitan, aplgi orang lain.

Bahaya Futur

1. Pengabaian amanah.

Futur menyebabkan seorang aktivis dakwah bermalas dalam menunaikan tugas dakwahnya. Ini bisa menyebabkan tugas yang diamanahkan terbengkalai atu dilaksanakan tidak sempurna. Dan pengabaian terhadap amanah (kewajiban) adalah pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

2. Gugur dari jalan dakwah.

Sekiranya futur tidak ditangani atau dibiarkan, ia akan menjadi satu tabiat. Lama-lama, perasaan ini menjadi duri bagi aktivis di jaln dakwah, yang menjadikannya jauh dari amal dakwah, lalu meninggalkannya.

3. Mengakhiri kehidupan dalam keadaan yang futur.

Apabila seseorang itu berlama-lama dalam keadaan futur sehingga menjadi kebiasaannya, maka ia menanggung risiko besar yaitu mati dalam keadaan futur. Ini yang paling kita takuti, karena Allah menilai kita berdasarkan akhir dari perbuatan. “Sesungguhnya seorang hamba itu ada yang melakukan amalan ahli neraka padahal ia termasuk ahli surga, dan ada pula yang mengamalkan amalan ahli surga padahal ia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amal itu tergantung pada kesudahannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itulah, Rasulullah mengajar umatnya agar sentiasa berdoa dengan doa;

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit lemah dan malas…” (HR. Bukhari)

Terapi Futur
1.Menjauhi maksiat dan keburukan. Sebagaimana ibadah bisa menghindarkan diri dari maksiat, maksiat juga bias menjauhkan seseorang dari amAl amal kebajikan.
2.Istiqamah dengan amalan-amalan harian untuk meningkatkan kekuatan rohani dan jasmani. Hanya dengan persiapan rohani dan jasmani sajalah kita dapat mengarungi berbagai macam rintangan kehidupan.
3.Menjaga waktu-waktu yang utama dan menghidupkan amalan ketaatan. Sebagai contoh, berpuasa pada hari Senin dan Kamis, shalat dhuha, memperbanyak zikir dan doa.
4.Menjaga diri dari sikap melampau batas dan terlalu menyusahkan diri dalam urusan agama. Melakukan amalan yang sedikit tetapi istiqamah adalah lebih baik daripada melakukan banyak amalan tetapi hanya sesaat.
5.Menggabungkan diri dengan jemaah Islam dan meninggalkan ‘uzlah. Hanya dengan menyertai jemaah seseorang itu dapat meningkatkan diri dan tidak mudah tertipu oleh syetan.
6.Mengenali cobaan- cobaan di jalan dakwah, agar tidak mudah pataaah semangat atau kendur dan futur.
7.Selalu bergaul dengan orang yang shalih dan banyak melakukan amal shalih.
8.Memberi hak-hak tubuh dan jasmani seperti istirahat dan menjaga kesehatan.
9.Memberi ruang pada jiwa untuk menikmati perkara-perkara yang dibolehkan, seperti bergurau, bermain dan berekreasi.
10.Banyak membaca buku sirah nabi dan sejarah orang-orang yang shalih, agar termotivasi untuk mengikuti jejak mereka.
11.Senantiasa mengingat mati dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya seperti azab kubur dan akhirat.
12.Sentiasa membayangkan nikmat surga dan azab neraka. Ini akan memantapkan lagi iman dan menguatkan semangat untuk memikul amanah Allah.
13.Selalu menghadiri majlis ilmu. Ini kerana ia akan mengembalikan semangat yang kendur, dan mengingatkan ajaran yang terlupakan.
14.Memahami kesempurnaan Islam dengan mengamalkan kesyumulan agama itu sendiri. Ini akan mengelakkan pemahaman yang cetek terhadap Islam.
15.Sering bermuhasabah diri. Insya Allah ia akan cepat menyadarkan kita daripada kelesuan dan kemalasan (futur).

Penutup

Ibnul Qayyîm rahimahullah berkata, “Saat-saat futur bagi para salikin (orang-orang yang meniti jalan menuju Allah) adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Barangsiapa yang futûrnya membawa ke arah murâqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan senantiasa berlaku benar, tidak sampai mengeluarkannya dari ibadah-ibadah fardhu, dan tidak pula memasukkannya dalam perkara-perkara yang diharamkan, maka diharapkan ia akan kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.” (Kitab Madrijus Salikin).

Wallahu a’lam.

Posted from WordPress for Windows Phone

Puding Susu Nangka | Behind The Scene

Puding Susu Nangka

Puding Susu Nangka

Punten, kalau postingan ini keluar dari tema utama blog saya 😀 Jadi selain suka menulis sedikit-sedikit dan bikin presentasi, saya juga hobi memasak. Alhamdulillaah, teman-teman (dan kucing) yang jadi tester menyukai beberapa masakan yang saya buat. Entah karena memang suka atau karena rasa lapar yang mendera yang membuat mereka menghabiskan makanan tersebut.

Resep yang saya share pertama kali di jejaring sosial khusus ibu-ibu tukang masak – Cookpad – adalah Puding Susu Nangka ini. Setelah beberapa hari saya posting resep yang saya temukan di Google tsb tiba-tiba saja ada yang memberikan komentar:

Halo fais, resepnya bagusss.. Sekalian aja diikutsertakan di kontes resep Frutitivity. Caranya mba ke halaman kontes di https://cookpad.com/id/contests/9-fruitivity trus pilh resep ini dan submit deh 😀 Hal ini supaya resepnya tampil di halaman kontes dan bisa dilihat lebih banyak orang… yuk ikutan mba :D”

Saya mbatin dipanggil “mba” seperti itu. Tapi bukan itu yang mau saya bahas. Saya pun kemudian menyertakan resep puding tsb ke lomba Fruitivity yang dimaksud dan kemarin dapat email notifikasi dari Cookpad bahwa:

Email dari CookPad

Dah aku mah apa atuh… Resep puding sederhana gitu saja banyak yang tengok. Mudah-mudahan mereka tidak menelan pil pahit kekecewaan setelah mencobanya. Oiya hampir lupa, ide membuat puding ini bermula ketika di suatu sore ketika saya bangun dari tidur siang yang panjang mencium aroma nangka. Hmmm.. darimana aroma ini berasal? Tepat di dekat kasur ternyata ada setengah bagian nangka besar, disimpan oleh mang Ustadz Didin, sekretaris DKM. Alhamdulillaah… Inikah yang disebut sebagai “Rezeki Anak Sholeh” tsb?

Otak saya berputar bagaimana caranya agar nangka sebanyak ini cepat habis. Kemudian ingatan saya melayang ke rumah mungil di Kalimantan nun jauh di sana. Teringat pada Ibu saya yang sangat pandai membuat kue basah. Tiap Ramadhan, berbagai jajanan kue basah yang dibuat olehnya, seperti nasi-nasi (Bugis: Cella Ulu), puding jagung, kue ijo lumut, kue pisang dan puding nangka. OMG, beliau bisa membuat itu semua dari pagi sampai sore, luar biasa. Tepuk tangan untuk ibu saya pemirsa!

Mungkin cuma saya yang bahagia, kalau ada kue ibu yang dititip di tempat keluarga tidak habis terjual. Lho kok bisa? Sebab bagian sisa-sisa itu biasanya saya yang mengeksekusi dan menghabisi, padahal sebenarnya saya sudah dapat jatah beberapa persen sebelum kue-kue itu diantarkan oleh adik saya. Ya itu lah manusia, tak pandai bersyukur jika diberikan kenikmatan.

Nah, kembali ke Nangka ya. Saya pun meng-sms ibu saya untuk menanyakan resepnya, seperti yang biasa saya lakukan ketika kangen makanan rumah. Mulai dari tumis kangkung, sayur bening, sayur oyong sampai sop daging saya tanyakan padanya. Dan alhamdulillaah pasti dibalas. Tapi kali ini tak dibalas, ada apa ini, apakah karna mama minta pulsa? Ataukah ini resep rahasia? Saya kan.. ah sudahlah… Mungkin karna resepnya terlalu panjang, atau mungkin karna sedang ada kesibukan lain. Semoga Allah menjaganya selalu. Maafkan ananda yang selalu merepotkanmu.

Saya pun mencari resep tsb di Google and finally I found this: Resep Membuat Puding Buah Nangka Susu. Saya coba memodifikasi pada santannya, saya menggunakan Santan instan, sebut saja merk-nya Kara. Karna jujur walaupun sering membantu ibu memasak sejak SD sampai kuliah pas pulang kampung tetap saja saya tak bisa membuat santan dari kelapa yang diparut. Sebelum melebar dan meluber kemana-mana cerita saya lebih baik to the point saja langsung kita bahas resepnya ya! This is it, Puding Susu Nangka (Pusaka) by (calon) chef Fais al-Fatih:

Bahan:

1 bungkus agar-agar putih
600 ml santan (santan kara 65ml + air)
6 sdm gula pasir
1/2 kaleng susu kental manis
secukupnya vanili dan garam
6 biji nangka (potong kecil-kecil)

Cara Membuat:

  1. Masukkan agar-agar, garam, santan, vanili dan gula pasir ke dalam panci.
  2. Aduk-aduk bahan yang sudah dicampur supaya tidak menggumpal kemudian rebus di atas api sedang sampai mendidih sambil diaduk-aduk.
  3. Matikan api lalu masukkan susu kental manis sambil diaduk rata.
  4. Tuang ke dalam cetakan yang sudah ditaburi nangka, tunggu sampai dingin dan kaku.
  5. Potong-potong pudingnya dan siap dihidangkan. Disajikan dalam keadaan dingin apalagi saat berbuka puasa insya Allah lebih nikmat. Jangan lupa baca bismillaah ya. 🙂

Bagaimana dengan hasilnya saudara-saudara? Alhamdulillaah gurih dan lembut.. Nikmat luar biasa… Tips dari ibu saya, potong nangkanya kecil-kecil, sangat kecil, agar ketika pudingnya dipotong tidak rusak penampilannya seperti yang saya buat. Hikss.

“Anyone can cook!” Itulah yang dikatakan Chef Gusteau dalam film Ratatouille. Siapapun bisa masak, insya Allah asal mau mencoba dan tak pantang menyerah. Walaupun kondisi dapur seadanya kemarin alhamdulillah bisa. Centong sayur tak ada, hilang entah kemana. Dengan terpaksa saya pun mengaduk campuran bahan di atas menggunakan sendok nasi. Hihi..

Jadi masaklah wahai saudaraku mahasiswa, agar bisa menghemat kiriman orang tua dan kita bisa berbagi dengan tetangga.

Terima kasih. 🙂

7 Ayat Yang Patut Direnungkan Para Juru Dakwah

Sumber: Muslim.or.id

Untuk para da’i (juru dakwah), guru dan murabbi (pendidik), renungkan ketujuh ayat ini:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

Iya.. bangunlah dan bangkitlah, sebab perubahan dan perbaikan tidak akan terwujud dengan hanya bergumul di atas kasur. “Bangunlah…. berarti bergeraklah!“.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

3. Dan Tuhanmu agungkanlah/besarkanlah!

Iya, besarkan dan agungkan nama Rabb-mu, bukan namamu, jamaahmu, apalagi partaimu. Sebagian orang –hadaahumullah– menjadikan cinta dan bencinya, wala dan baro’-nya diatas kepentingan pribadi atau golongannya, “Bila bukan bersama kami, maka berarti musuh kami”. Ini manhaj yang keliru.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

4. Dan pakaianmu bersihkanlah

Ada dua tafsiran ulama berkaitan dengan ayat ini:
1.Bersihkan jiwamu dari noda kesyirikan
2.Bersihkan pakaianmu saat menghadap Rabb-mu dalam beribadah.

Terlepas dari dua tafsiran tersebut, yang jelas seorang guru, da’i ataupun murobbi perlu membersihkan hatinya dari noda syirik dan syubhat. Dia juga perlu memperhatikan penampilan luarnya agar menarik hati anak didik serta mad’u-nya (objek dakwahnya).

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah

Iya, karena dosa akan menjadi penghalang diterimanya dakwahmu. Dosa akan melemahkanmu, dosa akan menimbulkan kebencian dihati makhluk-Nya, sehingga mereka membencimu sebelum dakwahmu.

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Iya, bahkan engkau harus merasa belum berbuat apa-apa. Jangan pernah berkata, “Kalau bukan karena saya dia tidak akan sesukses ini. Atau mengatakan, “saya yang menunjukinya jalan hidayah“, padahal Allah berfirman:

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (QS. Al Hujurot: 17).

Teruslah menanam kebaikan, lalu tunggu hingga semua berbuah indah, bila telah siap panen maka bersabarlah, petiklah hasilnya disana. Di surga firdaus yang tinggi.

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Ini semakna dengan firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Iya, karena kesabaran adalah kunci kesuksesanmu di dunia dan akhirat.

Posted from WordPress for Windows Phone

Ebook Panduan Ramadhan

Ramadhan Wallpaper

Ramadhan Wallpaper

Puasa memiliki keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Untuk memasuki bulan yang mulia ini, tentu kita harus punya persiapan yang matang. Bekal utama yang mesti adalah bekal ilmu.

Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sukar untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang terjadi. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji, bahkan mendapatkan celaan.” (Panduan Ramadhan, Ust. Muhammad Abduh Tuasikal hal. 3)

Nah di sini saya mencoba membagi ebook (buku digital) panduan Ramadhan yang ditulis oleh Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, ST, MSc (Pengasuh Muslim.or.id dan Rumaysho.com) dan Ust. Abdullah Haidir, Lc (Pengasuh Manhajuna.com) dalam rangka menambah pengetahuan kita tentang Ramadhan. Untuk kedua ebook tsb alhamdulillaah sudah saya tambahkan Bookmarks untuk mempermudah navigasi ke halaman lain berdasarkan judul/tema tertentu.

Profil Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, ST, MSc: link | Facebook | Twitter | Website

Profil Ust. Abdullah Haidir, Lc: link | Facebook | Twitter | Website

Untuk link download ebooknya:

Semoga bermanfaat.

Syarat-syarat Seorang Da’i Dalam Pandangan Syaikh Muhammad Al-Ghazali

1366x768

Ketika Syekh al Ghazali ditanya tentang syarat-syarat seorang bisa menjadi da’i yang diharapkan (da’i disini bukan penceramah-penceramah ulung yang tampil di TV, tapi adalah orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Allah), maka Beliau menjawab dengan perkataan:

“Dakwah ke jalan Allah tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.. Pendakwah Islam di zaman kita sekarang ini haruslah memiliki seperangkat pengetahuan yang luas dan mencukupi tentang Islam dan kemanusiaan. Artinya dia hendaklah orang yang paham dengan al-Qur’an, Sunnah, Fiqh Islamy, dan Peradaban Islam. Dan di saat yang sama dia haruslah orang mengusai sejarah umum kemanusiaan, ilmu alam dan kehidupan, pengetahuan umum modern yang berkaitan dengan berbagai aliran pemikiran dan filsafat.

Seseorang yang menyeru ke jalan Allah hendaklah menyerahkan diri sepenuhnya dalam menyebarkan risalah dakwahnya. Hendaklah dia bergaul dengan masyarakat dengan hati yang terbuka tanpa rasa egois dan dengki, tidak gampang terprovokasi, tidak terkurung dalam pemikirannya sendiri, hingga dia bisa berbicara dengan orang lain dan menerima uzur dari orang-orang yang tersalah, tidak menyerang mereka membabi-buta tapi membimbing mereka dengan kesadaran.

Seorang Pendakwah Islam pada zaman sekarang ini membutuhkan kesadaran yang cukup tentang cara-cara tipu muslihat musuh-musuh Islam dengan berbagai latar belakang mereka, baik dari kalangan ateis yang tidak percaya Tuhan maupun kalangan Ahli Kitab yang mengingkari kebenaran Islam.

Sungguh telah kuperhatikan bahwa di medan dakwah saat ini ada sekelompok manusia yang memperburuk wajah Islam dengan seburuk-buruknya. Diantara mereka ada yang sibuk dengan pengharaman terus menerus, tidak ada yang lain didengar dari mereka kecuali bahwa agama ini menolak ini dan itu tanpa merasa bertanggung-jawab untuk mencari solusi pengganti yang dibutuhkan umat.. Seolah-olah kepentingannya hanyalah menghentikan orang yang sedang berjalan di sebuah jalan hingga diam di tempat, tanpa mengarahkannya ke jalan yang lebih lurus dan benar.

Juga kudapati di medan dakwah para da’i yang seolah-olah mereka hidup di masa lalu yang sangat jauh. Islam seolah-olah agama sejarah, bukan masa sekarang dan masa yang akan datang. Yang sangat aneh, engkau akan mendapati mereka sibuk memerangi dan menghujat pemahaman seperti Mutazilah dan Jahmiyah. Dia benar dalam hal itu, hanya saja dia lupa bahwa permusuhan yang dihadapi umat saat ini telah berubah, ada syubhat dan tema-tema baru yang muncul.

Kelompok lain kutemukan mereka tidak mampu membedakan antara penampilan dan isi (syakl wa maudhu), antara asal dengan cabang (ushl wa far’), atau antara sebahagian dan keseluruhan (juz’ wa kul). Mereka sampai mati-matian dalam mengingkari sebuah penampilan dengan mengerahkan segala kekuatannya untuk memerangi penampilan ini, sedangkan isi dan maksud sebenarnya mereka tidak tahu akan berbuat apa. Akhirnya mereka memerangi arah timur karena mengira disana ada musuh dan meninggalkan musuh yang nyata yang berada di sebelah barat, bahkan mereka memerangi yang bukan musuh.

Mereka-mereka ini hanyalah hambatan kepada dakwah Islam yang harus diperbaiki, sebagaimana harusnya memperbaiki orang-orang yang masuk ke medan dakwah dengan niat bekerja demi kepentingan pribadi. Karena amal untuk menegakkan nilai-nilai Islam bukanlah amal untuk mencapai kepuasan pribadi.

Setelah 40 tahun berjuang di jalan dakwah teranglah bagiku bahwa hambatan yang paling menyusahkan adalah aliran kerohanian yang rusak. Kerohanian yang menyandarkan diri kepada sebuah kekuatan gaib yang memberi ilham untuk berbuat khurafat dan mengada-adakan takhayul, atau dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Agama Islam adalah agama dengan kesadaran logika yang terang, sedangkan mereka menderita kelumpuhan akal bersanad sambung menyambung. Agama adalah hati yang jernih dan sehat, sedangkan hati mereka dikuasai penyakit-penyakit yang aneh.

Pada kenyataannya, kerohanian yang rusak adalah rahasia mengapa berpalingnya mereka yang dulu adalah orang-orang yang mampu berpikir lurus. Karena mereka memandang agama hanya dari sikap dan amalan sebagian pemuka alirannya dan pengaruh mereka kepada kehidupan umum. Yang terjadi adalah kelompok kerohanian ini menjadi musibah bagi agama ini baik dulu maupun sekarang.”

*dari Kitab Syekh al Ghazali Kama ‘Araftuhu, karangan Syekh Yusuf al Qardhawi (oleh Ust. Yahya Ibrahim).