Pelesiran (Tanggapan untuk “Warisan” yang Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisan)

Assalamu’alaikum Dek Afi Nihaya Faradisa.. Apa kabarmu? Alhamdulillaah, jika Dek Afi diberikan kesehatan dan kekuatan. Sungguh itu adalah nikmat dan karunia yang Allah SWT hanya berikan pada orang-orang tertentu di dunia, termasuk kita semua.

Dek Afi yang tersayang, di awal tulisanmu ada sesuatu yang membuat saya gundah dibuatnya. Dek Afi mengatakan, bahwa agama itu adalah sesuatu yang kebetulan. Lahir di negeri yang indah ini kebetulan. Pun dilahirkan oleh orangtua Dek Afi saat ini juga disebut kebetulan.

Dek Afi.. Sungguh itu bukanlah kebetulan. Itu semua ada Yang Merancang dan Menentukan. Kita dikaruniakan lahir di negeri yang indah, menyejukkan dan damai adalah anugerah dari Allah SWT. Dengan nikmat itu, kita bisa bersekolah dengan baik, menuntut ilmu, membaca, berinteraksi dengan kawan dan keluarga. Sungguh Dek, tak semua orang mendapatkan nikmat seperti kita.

Dek Afi juga mendapatkan karunia dari Allah SWT, dilahirkan di keluarga dimana saat ini Dek Afi dibesarkan. Mendapatkan cinta dan kasih sayang, tumbuh dan kembang, menjadi pribadi yang matang. Tak jarang kita saksikan, ada saudara kita yg terlahir tanpa sentuhan kasih sayang ibunda dan kehangatan dari ayahanda.

Nah, Dek Afi dari itu semua sayang. Ada nikmat yang luar biasa, melebihi nikmat yang saya ceritakan di atas, melebihi seluruh apa yang ada di semesta raya ini, yakni nikmat iman dan Islam. Dek Afi, sungguh itu adalah nikmat yang tiada duanya. Itu bukan kebetulan Dek Afi. Itu adalah nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT kepada kita semua. Sungguh ini adalah permata yang dititipkan oleh Allah SWT kepada kita, untuk dijaga dan dirawat dengan baik. Ini bukan warisan dek. Bukan warisan…

Dek Afi, negeri kita yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo atau disebut Max Havelaar dalam bukunya, “of de Koffij-veilingen der nederlandsche Handelmaatschappij” sebagai zamrud khatulistiwa. Negeri yang indah dan damai. Negeri yang terdiri atas beragam penganut agama, penutur bahasa dan pemilik budaya.

Namun semua itu berubah Dek Afi. Semua berubah setelah negara api menyerang! Dek Afi pernah nonton Avatar Aang kan? Ketentraman negara-negara Bumi, Air, Udara dan juga Api seketika berubah, ketika negara api memutuskan untuk menyerang. Di negeri kita, Indonesia yang keragamannya mengalahkan keragaman di negeri Avatar seketika juga berubah. Ada serangan yang lebih menyakitkan daripada sekedar lontaran api dan tembakan meriam negara Api. Serangan yang lebih menyakitkan daripada kilatan pedang. Serangan lisan dari seorang yang tak bertanggung jawab.

Dek Afi, dalam budaya kita, dalam keluarga kita, dalam agama kita, apakah diajarkan untuk berkata kasar. Berkata kasar kepada seorang ibu yang mencari kebenaran. Berkata kasar kepada orang yang mencari perlindungan dan tempat tinggal. Berkata kasar kepada penganut agama yang bukan bidangnya sama sekali. Sungguh Dek Afi, itu adalah perilaku yang menyakitkan kita semua.

Dek Afi, tindakan itulah yang seketika mengoyak persatuan yang sudah lama dijaga dan dipertahankan dengan susah payah oleh nenek moyang kita. Situasi negara kita menjadi tidak seperti dulu lagi. Kita saling menyerang padahal dulu kita saling kasih dan sayang. Kita saling menyindir padahal dulu kita suka melempar senyuman di bibir. Kita saling hantam padahal dulu kita sama-sama menyelamatkan kapal nusantara yang hampir karam.

Ya begitulah Dek Afi. Kami yang dengan semangat keimanan membela kalam Ilahi yang suci dianggap anti kebhinekaan, pengkhianat, anti pancasila dan intoleran. Sungguh Dek Afi, itu adalah tuduhan yang menyakitkan. Teriris sembilu rasanya hati ini. Bagaimana mungkin, kami dianggap anti kebhinekaan, padahal di keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja, kami masih hidup dan bergandengan tangan bersama. Bagamaina mungkin kami dianggap pengkhianat, padahal tak pernah sedetikpun kami memanggil pihak asing untuk ikut campur pada urusan negeri ini. Bagaimana mungkin kami dianggap anti pancasila, padahal itu adalah hasil kesepakatan ulama dan pendiri negeri yang kami cintai. Bagaimana mungkin kami dituduh intoleran, sedangkan semua saudara kami yang beragama minoritas, bisa beribadah dengan tenang di tempat ibadahnya masing-masing.

Dek Afi yang tersayang, jika kita benar-bencar mencintai Pancasila, maka ada wilayah tertentu yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain, siapapun itu. Wilayah itu disebut sebagai agama. Di sana tidak boleh ada intervensi sama sekali, termasuk oleh pemimpin negara ini. You got the point, right? Tak boleh siapapun mengintervensi apalagi memaksakan keinginannya, menjelek-jelekkannya di muka publik, karena ini terkait dengan apa yang Dek Afi anggap sebagai warisan, walaupun saya kurang sependapat itu disebut sebagai warisan.

Dek Afi, sekali lagi agama bukan warisan. Islam, agama yang Dek Afi anut dan yakini saat ini adalah anugerah terindah dari Allah SWT yang diberikannya kepada Dek Afi. Dan kebenaran itu sebagaimana yang Dek Afi kutip dari Jalaluddin Rumi, adalah selembar cermin yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Maka menurut saya, kebenaran itu ibarat permata, sebab tak mungkin pemberian dari-Nya rusak, pecah, hancur berkeping-keping. Permata nan berharga itu diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Bijaksana ke muka bumi. Kita mesti mencarinya, mendapatkannya bagaimana pun caranya. Bahkan bila perlu, kita mesti berkeliling dunia, pelesiran kemana-mana seperti yang dilakukan oleh Salman Al-Farisy.

Salman Al-Farisy pelesiran dari tanah Persia, ke Iraq, Turki, Syam hingga tanah yang penuh dengan pohon Kurma, Madinah untuk mencari permata kebenaran yang diturunkan oleh Allah SWT. Pelesiran yang ia lakukan penuh tantangan dan cobaan, namun tak membuatnya patah semangat. Hingga akhirnya ia temukan apa yang membuat jiwanya merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Andai itu warisan sayang, sudah pasti Salman akan menyembah api sebagaimana keluarganya.

Dek Afi… Untuk menemukan permata kebenaran itu. Ada travel guide yang akan membantu kita, dialah Nabi Muhammad SAW. Namun, jiwanya yang suci dan bersih telah dipanggil oleh Allah SWT. Ia dititipkan Sang Pemilik Permata, semacam peta yang akan menunjukkan dimana gerangan permata itu. Jika pun kamu sudah menemukannya, di sana ada pula manual handbook yang telah diajarkannya secara turun-menurun bagaimana menggenggam dan mempertahankan permata hingga akhir hayat.

Dek Afi… Dari hati ke hati kakak mau memberi nasehat. Godaan dunia sudah datang bertubi-tubi. Popularitas, dikagumi orang lain, disayangi banyak orang. Tapi ingat ya Dek Afi, sungguh itu semua semu. Ibarat gula, ketika rasa manisnya telah hilang, maka semut-semut akan menjauh dan pergi. Ibarat bunga, ketika madunya telah habis, maka lebah-lebah akan beterbangan mencari bunga yang lain. Jangan terpengaruh dengan godaan pemikiran-pemikiran aneh bin nyeleneh yang ditawarkan oleh khalayak banyak. Dek Afi dianugerahi Allah SWT akal yang jernih, semoga bisa mempertimbangkan darimana kita mesti menimba ilmu. Tentu kita akan memilih sumur yang airnya bersih, walaupun terlihat tua dan kuno penampakannya. Jangan memilih sumur yang berpoles cantik, namun ternyata airnya kotor dan membius pikiranmu yang bersih.

Pelesiran-lah kemanapun kau suka, namun jangan lupa travel guide dan manual handbook yang kakak ceritakan di atas. You are free to choose. But remember what Uncle Ben said to Peter Parker, “with great power comes great responsibility.”

Salam sayang dari Cimahi.

Syaharuddin Faisal. 20 Mei 2017.

Metode Khusus Menjaring Buku di Islamic Book Fair 2017

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(4)

Alhamdulillaah ini kali kedua mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke event Islamic Book Fair di Jakarta. Jika tahun sebelumnya diadakan di Istora Senayan, maka tahun ini diadakan di tempat yang lebih besar, yakni di Jakarta Convention Hall (JCC).

JCC memang ideal sebagai tempat untuk pameran, karena luas dan juga full AC. Space antara stand juga tidak terlalu mepet, sehingga leluasa kita berjalan di sana. Dengan memanfaatkan Google Maps, tempatnya juga mudah dijangkau oleh pengunjung dari luar Jakarta. Namun kata pepatah no body’s perfect in the world. Tempat ini mempunyai kekurangan besar terakait urusan perut. Jika di Istora Senayan dahulu ada tempat khusus untuk mencari pengganjal perut, maka di JCC ini tidak ada sama sekali. Di JCC ada cafe khusus pengunjung, namun jujur harganya tak bersahabat dengan dompet. Harga makanan yang tertera sama dengan harga kitab hardcover dengan ketebalan 1000an halaman. Mahal bro! Ada juga penjual jajanan seperti siomay dan gorengan, namun ini adanya di dekat pintu keluar. Tipsnya, bawalah makanan dari luar, ini lebih menenangkan.

Bagaimana dengan tempat shalat? Alhamdulillaah, ada mushalla yang cukup besar, terpisah antara jamaah ikhwan dan akhwat. Untuk toilet jika tidak mau mengantri panjang, Anda bisa memilih toilet yang berada di dekat pintu masuk atau dekat panggung utama. Toiletnya bersih dan wangi, seperti toilet di bandara.

Sewaktu berkunjung kemarin, sungguh di luar dugaan banyak sekali yang datang, terutama anak-anak sekolah yang mungkin program study tour dari sekolahnya. Dari jenjang TK sampai SMA ada semuanya. Saking padatnya, di beberapa stand harus berdesak-desakan beberebut buku dengan anak-anak ataupun orang tua. Jadi yang bawa keluarga mohon dijaga dengan baik, karena saat berkunjung di sana ada banyak sekali pengumuman anak yang terpisah dari orangtuanya. Please bagi yang belum menemukan jodoh jangan jadikan sarana ini untuk mengumumkan status dan kriteria jodoh idamannya.

Diskon yang ditawarkan beragam. Di beberapa stand favorit, buku-buku bagus didiskon besar-besaran. Di stand Pustaka Al-Kautsar ada buku diskon hingga 50-70% khusus buku terbitan lama atau yang sudah tidak ada segel plastiknya. Aqwam, Serambi, Tiga Serangkai, Proumedia, GIP, Almahira, Darus Sunnah, Darul Haq, Imam Syafi’i dan penerbit lainnya juga memberikan diskon yang menarik untuk pengunjungnya. Ada buku-buku lama yang mungkin susah ditemukan, ada juga beberapa buku yang fresh, baru diterbitkan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(2)

Di pameran ini, saya melakukan metode khusus untuk menjaring buku namun dengan modal yang terbatas. Mungkin Anda bisa menirunya. Metode tersebut yakni dengan berkeliling berulang kali untuk mendapatkan buku yang yang bisa berdamai dengan dompet tentunya. Keliling ronde pertama ditujukan untuk survei dan grab fast buku-buku yang langka, atau tersisa tinggal 1-2 saja. Di ronde pertama tsb saya berhasil mendapatkan 2 buku yang sudah saya idamkan sejak lama, yakni Fikih Sirah karya Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid di stand Darus Sunnah dengan harga 50.000 saja dan Fikih Tamkin karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi di stand penerbit Pustaka Al-Kautsar dengan harga jauh dari biasanya, 40.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(1)

Ronde pertama ini juga, mulai mengincar beberapa buku sambil menyesuaikannya dengan uang yang bersesakan di dompet. Setelah selesai ronde pertama, semua stand buku dicek satu per-satu semuanya, maka kembali lagi ke titik awal, keliling lagi. Nah, di ronde kedua ini buku yang saya ambil ada buku The Fall of Khilafah karya Eugene Rogan dan Perang Salib: Sudut Pandang Islam karya Carole Hillenbrand di stand penerbit Serambi. Saya salut dengan penerbit ini karena memberi diskon 40-50an persen kepada pengunjungnya termasuk untuk buku-buku best sellernya. Padahal di penerbit lain, paling hanya 25% diskon yang diberikan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30

Penerbit Serambi setiap harinya selama IBF 2017 berlangsung memberikan diskon 50% untuk beberapa bukunya. Tiap hari berbeda-beda list judulnya. Diskon diberikan kepada pengunjung IBF dan juga yang memesan secara online di websitenya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, buku yang didiskon 50% pada hari saya datang salah satunya adalah buku The Fall of Khilafah. Harga aslinya 140.000 dijual dengan harga 70.000 sahaja. Buku ini mendapatkan anugerah sebagai buku terjemahan Islam terbaik dalam pembukaan Islamic Book Fair 2017. Sedang buku Perang Salib: Sudut Pandang Islam didiskon 40% dari menjadi 120.000. Buku ini juga pernah mendapatkan penghargaan dari The King Faisal Internasional Prize dengan kategori Islamic Studies.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29

Di penerbit Tiga Serangkai, buku Sirah Rasulullah SAW karya Syaikh Mahmud Al-Mishri juga ikut diboyong pulang. Buku ini saya beli karena berdasarkan buku beliau yang sudah saya miliki sebelumnya tentang Sirah Sahabat dan Sahabiyah, gaya menulis beliau sungguh sastrawi, menyentuh dan didasarkan pada sumber yang terpercaya. Maka tak ada salahnya melengkapi koleksi karya beliau dengan membeli Sirah Rasulullah setebal 1026 halaman ini. Apalagi harganya hanya 80.000 saja, dari harga normal 190.000.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(3)

Dari stand Proumedia, penerbit dari Jogjakarta ada 3 buku yang ingin ikut pulang dengan saya ke Bandung. Pertama, biografi Sayyid Quthb karya Dr. Shalah Al-Khalidiy. Di media sosial beberapa kali saya temukan perdebatan tentang Sayyid Quthb baik itu dari pengagumnya hingga pembencinya. Maka untuk lebih objektif, saya ingin mengetahui bagaimana biografi beliau yang ditulis secara objektif oleh seorang akademisi Palestina, yang merupakan tamatan S1 dari Universitas Al-Azhar, S2 dan S3 dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia.

Buku kedua dari Proumedia, karya penulis Jejak Islam Bangsa (JIB), Rizki Lesus, yang berjudul Perjuangan yang Dilupakan. Di masa saat ini, banyak penduduk Indonesia entah itu pemerintahnya ataupun rakyatnya terkena penyakit sindrom Islamophobia. Mereka juga terkena penyakit hilang ingatan terkait perjuangan umat Islam dalam sejarah terbentuknya republik ini. Nah, buku ini terbit di waktu yang tepat di saat umat Islam dinomorsekiankan dalam berbagai kepentingan.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.29(5)

Buku terakhir dari Proumedia yang saya beli adalah buku murah seharga 10.000 namun dengan judul yang luar biasa, Membangun Kekuatan Islam di Tengah Perselisihan Umat karya Lembaga Study & Penelitian Islam Pakistan. Buku yang kiranya juga pantas dibaca di tengah kondisi umat Islam yang mencoba menggalang persatuan setelah Al-Qur’an dinistakan oleh seorang gubernur non-Islam di Jakarta.

Ramadhan sebentar lagi menyapa kita semua. Salah satu persiapan yang perlu dimatangkan adalah persiapan ilmu. Buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Syaikh Dr. Thariq Muhammad Suwaidan yang menjadi pilihan. Buku terakhir yang dipilih adalah buku komik dakwah berjudul “Gambar itu Haram” karya Zia Ul Haq yang ternyata berteman dengannya di Facebook. Buku ini menjawab keluh kesah para seniman, mahasiswa atau juga dosen terkait hukum menggambar. Buku ini dikemas dengan style komik bergambar dan bahasa yang ringan namun kaya akan ilmu yang bermanfaat.

WhatsApp Image 2017-05-06 at 07.05.30(1)

Pada keliling ronde terakhir (setelah dompet merasa nyawanya sudah habis) dilakukan survei buku apa gerangan yang akan dibeli di kesempatan selanjutnya, sambil membelikan titipan teman. 2 buku yang menjadi titipan teman di Bandung, yakni novel terbaru kang Abik berjudul Bidadari Bermata Bening dan komik Islami berjudul LiQomik: Antologi Komik Islam.

Investasi di buku insya Allah tidak akan rugi. Kalaupun tak sempat dibaca semuanya, akan ada masanya buku itu akan diwariskan kepada yang lainnya, berharap ini menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir zaman.

Sepenggal Cerita dari Aksi 212

212

Jadi begini ceritanya.

Pada mulanya kami akan diikutkan dengan kafilah Cimahi, darimana kami berasal. Namun apa daya, PO bus Cimahi tetiba meng-cancel bus yg sudah disewa, mirip-mirip kasusnya dengan beberapa PO bus di kota lainnya. Teman-teman di Cimahi tidak patah arang. Dari status FB saya ketahui, mereka menggunakan moda transportasi lainnya, yakni kereta untuk menuju lokasi aksi.

Seusai Maghrib, saya dibantu beberapa teman mencoba mencari-cari alternatif lain. Tak mungkin kita berhenti sampai di sini. Semangat adik-adik mahasiswa untuk membela kitab sucinya jangan sampai pupus hanya karena tak ada sarana. Salman ITB dihubungi, dan diberikan slot untuk 10 orang, padahal jumlah kami 14 orang. Tak mungkin di antara kami ada yg harus dikorbankan.

Dan pada akhirnya, selepas shalat Isya, Allah memberikan jalan. Di bus kafilah Bandung Barat masih ada kursi kosong dan cukup untuk kami semua. Alhamdulillaah, kami pun berangkat.

Perjalanan lancar jaya. Ketika berhenti di rest area Cikampek, ada banyak sekali bus kafilah kota lainnya yg hilir mudiknya. Dari sini saja, aroma-aroma perjuangannya sudah terasa.

Tiba di TKP sekitar pukul 6 pagi, kami sudah menyaksikan banyak sekali peserta aksi yg berjalan dengan pakaian putihnya. Saya sebagai PJ untuk mahasiswa yg ikut aksi sempat kebingungan dimana mencarikan sarapan untuk adik-adik mahasiswa ini. Karena masih buta kawasan Monas, tidak tahu dimana lokasi ATM berada dan dimana spot wisata kuliner nikmat, halal dan murah tentunya. Serta “uang 500.000” dari panitia, yg diberitakan beberapa media ternyata tidak ada. Hihihihi…

Namun tak disangka, ada dermawan yg memberikan kami sarapan pagi. Nasi plus fried chicken, tentu teman-teman yg rata-rata anak kos bahagia dibuatnya. Jarang-jarang sarapan seperti ini, kata mereka. Tak berhenti di situ saja. Dermawan-dermawan ini bertebaran di sepanjang jalan menuju lokasi aksi. Ada yg membagikan roti, kurma, nasi kuning, pisang, air mineral, sampai tak enak kita dibuatnya. “Ambil saja, gratis…”, seru para dermawan. Masya Allah, siapa sponsor mereka pemirsa? Tiada lain tiada bukan, Allah SWT.

Para peserta aksi juga tak menjadikan pembagian makanan gratis ini sebagai sarana aji mumpung. Mereka tak maruk dan serakah. Mereka tak anarkis dan berebut saat mengambilnya. “Sudah Bu”. “Kami sudah makan pak”. “Terima kasih, untuk yg belakang saja.” Begitu kata mereka saat menolak pemberian yg ada. Allahu Akbar, kapan lagi menyaksikan dan merasakan pemandangan persaudaraan seperti ini?

Di dalam taman Monas suasana dahsyat luar biasa. Entah berapa jumlahnya. Mereka masuk dengan rapih dan tertib. Tua muda, laki-laki perempuan, dari yg celana cingkrang, berjubah, bersarung sampai bercelana jeans. Muslimah berhijab, bercadar bahkan sosialita yg modis juga ikut serta. Berbagai bendera ormas, hijau, putih, hitam, merah semua berkibar bersama sang saka. Dimana lagi bisa menyaksikan pemandangan indah seperti ini?

Ketika ada yg khilaf menginjak rumput, satu persatu peserta yg lain berjibaku meneriaki dan mengingatkannya. “Jangan injak rumput woi, nanti ada metrotipu!” Sadis pemirsa…

Ketika menjelang shalat Jumat, doa para haters terkabul, gerimis hujan turun membasahi. Semakin deras ketika khatib, Habib Rizieq naik mimbar. Alhamdulillah.. tak ada yg kabur mencari tempat berteduh. Ini tentu tak sesuai dengan harapan haters. Suasana tetap tenang dan damai sampai akhirnya shalat Jumat ditunaikan, walau harus berbasah-basah ketika ibadah.

Ketika keluar dari area Monas, peserta aksi melakukannya dengan tertib. Tak ada yg adegan dorong-dorongan hingga terjatuh dan tertatih. Taman Monas juga kemudian dibersihkan oleh tim Daarut Tauhid, santri Ciamis dan peserta lainnya hingga kinclong dan bersih seperti sedia kala. Mereka inilah sebenarnya idaman para mertua. Monas aja dijaga dgn baik apalagi kamu. Iya kamu..

Rasa persaudaraan, persatuan dan juga pengorbanan yg bergelora di dalam sanubari umat Muslim Indonesia ini bisa menjadi modal besar untuk menjaga negeri Indonesia ini dari gangguan internal maupun eksternal. Ketika ada pihak yg mencoba mengganggu stabilitas, persatuan dan kebhinnekaannya, sudah pasti mereka lah yg pertama kali turun untuk membelanya.

Tak seperti aktivis dan buzzer penista yg hanya aktif dan beraninya di dunia maya saja.

Sekian..

“Ditulis sehari setelah aksi Aksi Belas Islam III di kota Cimahi…” #KamiAlumni212

542 Tahuh yang Lalu: Granada Jatuh ke Tangan Kerajaan Spanyol

image

Tepat pada hari ini, pada 524 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 2 Januari 1492 M, akhir peradaban Andalusia yang agung runtuh dan hilang untuk selamanya. Penguasa terakhir Granada, Abu Abdillah Muhammad bin al-Ahmar ash-Shaghir memilih untuk menyerah setelah dikepung oleh pihak Kerajaan Castilla, Spanyol. Diwakili oleh menterinya, Abu al-Qasim Abdul Malik, ia menandatangani kesepakatan damai dengan pihak Kerajaan Castilla.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, duet maut penguasa Spanyol itu pun memasuki Granada, dan menginjakkan kakinya ke istana yang megah, Alhambra. Abu Abdillah memilih pergi dan angkat kaki dari istana dan yang telah susah payah dibangun dengan tetesan keringat dan darah oleh pendahulunya.

Di sebuah bukit, ia berhenti sejenak. Ia amati dalam-dalam pemandangan kota Granada dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Tetiba, air matanya mengalir deras. Ia menangis tersedu-sedu. Sang ibu, Aisyah berteriak padanya, “Menangislah… Menangislah… Menangislah… Kini engkau menangis seperti perempuan yang kehilangan, padahal kau tak mampu mempertahankan kerajaan selayaknya laki-laki perkasa.” Bukit itu pun diberi nama Puerto del Suspiro del Moro oleh penduduk Spanyol, yang bermakna Bukit Tangisan Orang Arab Terakhir. Sungguh memilukan!

Kejadian memilukan ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Saat menyepakati perdamaian dengan pihak Castilla, Abu Abdillah ash-Shaghir menyangka bahwa keselamatan kaum Muslimin yang tinggal di sana akan terjamin dan terjaga.

Tapi, fakta berkata lain. Raja Ferdinand merevisi perjanjian tsb setahun kemudian. Jutaan Muslim yang memilih untuk tetap tinggal di bumi Andalusia yang menjadi korbannya. Mereka semua dibaptis paksa untuk memeluk agama Kristiani. Raja Ferdinand yang zalim juga mengeluarkan dekrit yang isinya menutup operasional masjid, melarang ritual-ritual agama Islam dan Yahudi.
Perlakuan buruk ini terus berlanjut. Pada tahun 1529 M, pada masa pemerintahan Raja Charles, sebuah peraturan yang isinya melarang kaum Muslimin berbicara menggunakan bahasa Arab diterbitkan. Membaca Al-Qur’an dan melakukan perjalanan ke luar Granada juga dianggap sebagai pelanggaran hukum. Yang paling gila adalah peraturan yang dibuat oleh Raja Philip II pada tahun 1576 M. Sang Raja membuat peratutan berupa larangan mandi kepada semua umat Muslim. Tempat pemandian umum yang ada di Granada dihancurkan.
Dewan Inquisisi adalah puncak kezaliman yang dilakukan oleh pihak Kerajaan dan Gereja Spanyol saat itu. Setelah upaya Kristenisasi terhadap pemeluk agama tauhid ini belum mendapatkan hasil yang maksimal, mereka pun berencana menghabisi kaum Muslim dengan berbagai dalih yang tak masuk akal. Jika dewan ini menemukan adanya mushaf di rumah penduduk Granada, mendapati mereka melakukan ibadah shalat, mereka enggan meminum arak atau dicurigai melakukan aktivitas yang berkaitan dengan Islam lainnya maka sanksi berat pun dijatuhkan. Dewan Inquisisi akan menyiksa mereka dengan zalim. Mereka memiliki 1001 macam alat untuk menyiksa mereka yang dianggap berkhianat. Ada alat peremuk tulang, alat perobek kulit, alat pengoyak daging dan berbagai macam alat lainnya yang membuat bergidik bulu siapapun yang menyaksikannya. Dewan ini berhasil dibubarkan empat abad kemudian setelah membantai banyak manusia tak berdosa. Pada tahun 1808 Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis mengeluarkan dekrit yang isinya membubarkan Dewan Inquisisi di Kerajaan Spanyol tsb.

Fais Al-Fatih | Diselesaikan menjelang waktu maghrib di kosan Al-Fajri, tanggal 2 Januari 2016.

Referensi utama:
Raghib as-Sirjani. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Tariq Suwaidan. 2015. Dari Puncak Andalusia. Jakarta: Penerbit Zaman

Semua Teroris adalah Muslim, Really?

image

“Tidak semua Muslim adalah teroris, tapi semua teroris adalah Muslim.” Sudah berapa kali kau mendengarkan statement tersebut? Dan tersebabkan oleh dicuci otaknya media, banyak orang yang juga mengamini pernyataan tersebut.

Tiba-tiba muncul pertanyaan: Mengapa kita tidak pernah melihat teroris yang beragama Kristen, Buddha ataupun Yahudi?
OK, mari kita telusuri satu per satu. Anda akan mendapatkan berita yang mengejutkan yang mungkin tak pernah sekali pun Anda mengetahuinya.

Fakta sesungguhnya bahwa kebanyakan teroris yang menyerang Amerika Serikat dan juga Eropa ternyata bukanlah Muslim. Ini bukanlah salah Anda, jika Anda sama sekali belum mengetahui mengenai fakta mengejutkan ini. Cukup salahkan media yang Anda tonton dan saksikan setiap harinya.

Akan kami paparkan beberapa statistik bagi Anda yang mungkin masih penasaran, apakah benar pernyataan saya di paragraf sebelumnya, bahwa “kebanyakan teroris yang menyerang Amerika Serikat dan juga Eropa ternyata bukanlah Muslim”.
Mari kita mulai dari benua Eropa. Coba tebak, berapa persenkah serangan teroris yang dilakukan oleh (orang yang mengaku) Muslim di Eropa dalam 5 tahun terakhir! Tebakan Anda salah. Jawaban yang benar adalah kurang dari 2 persen saja. Yah, kurang dari 2 persen saja.
Europol, badan khusus kriminalitas Uni Eropa merilis laporannya bahwa mayoritas serangan teror yang terjadi di Eropa dilakukan oleh kelompok separatis. Contohnya saja, di tahun 2013 ada 152 serangan teror di Eropa dan hanya 2 serangan yang mengatasnamakan agama. Lebih dari setengahnya, sekitar 84 serangan diprediksikan disebabkan oleh kelompok etnik-nasionalis ataupun para separatis.

Di Perancis, sebut saja FLNC (Front de la Liberation Nationale de la Corse) alias Front Nasional Pembebasan Pulau Corsica. Pada bulan Desember 2013, teroris FLNC meluncurkan serangan roket secara beruntun terhadap kantor polisi di dua kota Perancis. Sedangkan di Yunani, kelompok kiri Militant Popular Revolutionary Forces menembak dan membunuh 2 anggota partai Golden Dawn. Di Italia, kelompok anarkis FAI (Federazione Anarchica Italiana) terlibat dalam sejumlah aksi teror, termasuk di antaranya mengirimkan paket bom kepada seorang jurnalis.

Oiya, pernah mendengarkan insiden-insiden tersebut? Saya haqqul yaqin pasti Anda belum pernah mendengarkannya. Tapi, coba teroris Muslim yang melakukan aksi brutal tersebut. Bagaimana reaksi media (dan Anda)? Saya tak perlu jawaban, itu hanya pertanyaan basa basi kok.

Serangan teror yang paling cetar membahana di Eropa adalah ketika Anders Breivik membantai 77 orang di Norwegia. Tau kah Anda siapa dia? Dia adalah seorang anti-Muslim, anti-imigran dan ternyata, pemeluk Kristen “taat”. Anda tahu bagaimana akhir kisah perjalanan maniak ini? Dia dinyatakan gila. Iya, gila! Dia kemudian dipenjara paling minimal selama 10 tahun. Gila gak sich?

Pernah dengar teroris beragama Buddha? Pemeluk agamanya yang dikenal dengan welas asihnya ini ternyata ada juga yang sadis. Ekstrimis Buddha yang dipimpin seorang Biksu berdarah dingin, Wirathu ini telah membunuh banyak Muslim di Rohingya, Burma dan tahun lalu, di Srilanka para ekstrimis Buddha juga membakar rumah dan membunuh 4 orang Muslim.

Teroris Yahudi juga ada. Di tahun 2013 saja ada sekitar 399 aksi teror yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai bangsa “pilihan Tuhan” ini. Mereka merampok tanah, menghancurkan rumah, menyerang tempat ibadah, membabat habis perkebunan dan membunuh penduduk Palestina yang tak berdosa.
Sekarang mari kita terbang ke negara polisi dunia, Amerika Serikat. Ternyata, persentase teroris Muslim di sana sama kecilnya dengan persentase di Eropa. Penelitian yang dilakukan oleh FBI menyebutkan bahwa dari tahun 1980 sampai 2005, 94 persen serangan terorisme bukan dilakukan oleh Muslim. 42 persen di antaranya dilakukan oleh kelompok Latin, dan 24 persen dilakukan oleh ektrimis kiri.
Penelitian di tahun 2014 yang dilakukan oleh University of North Carolina menyatakan bahwa sejak serangan 9/11 serangan teror yang dilakukan oleh Muslim menewaskan sekitar 37 penduduk Amerika Serikat. Padahal waktu yang sama, ada sekitar 190.000 penduduk Amerika Serikat yang dibunuh dengan berbagai macam penyebab, dan yang paling marak akhir-akhir ini adalah penembakan secara membabi buta oleh orang-orang yang stress dan tidak berprikemanusiaan. Tapi bagaimana, liputan media terhadap teroris  (yang mengaku Muslim) tersebut?

Aksi teror apapun itu, yang bermotifkan agama atau tidak, sungguh tidak mendapatkan tempat dimanapun. Tapi yang membuat kami -umat Muslim- tidak rela adalah bagaimana upaya framing dan stereotyping yang dilakukan oleh media. Mereka menggiring pemirsa dan mencuci otak mereka, sampai mereka percaya bahwa “semua teroris adalah Muslim”.

Jika ternyata pelakunya bukan Muslim, media tidak meliputnya habis-habisan. Mereka bahkan enggan menggunakan embel-embel terorisme untuk aksi yang mereka lakukan. Memang, cerita yang menakutkan memainkan peranan penting dalam menggiring opini para pemirsa. Diwacanakan bahwa ini adalah kejahatan versus kebaikan. Kejahatan ada di pihak Muslim, dan Amerika Serikat yang menjadi superhero-nya.
Media dunia kurang mengekspos bagaimana senjata api yang membunuh 30 orang penduduk Amerika Serikat setiap harinya ataupun kekerasan dalam rumah tangga yang membunuh 3 wanita setiap harinya. Mereka akan on fire ketika mendiskusikan bagaimana cara menghentikan aksi teror Muslim yang berdasarkan data statistik jumlah korbannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembunuhan oleh warganya sendiri.

Mudah-mudahan setelah membaca ini, Anda semakin tercerahkan bahwa tidak semua aksi terorisme itu dilakukan oleh Muslim. Teroris sesungguhnya tidak memiliki agama. Jika dia mengaku Islam, maka aksinya sungguh tidak diridhai oleh Allah Yang Maha Kuasa. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah: 32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.”
Sekian.

Dimodifikasi dari:
http://www.thedailybeast.com/articles/2015/01/14/are-all-terrorists-muslims-it-s-not-even-close.html

Nabi yang Mulia itu bernama Isa (Alaihissalam)

image

Wanita yang mulia itu tetiba pergi menjauh dari keluarga dan khalayak ramai. Di dalam rahimnya yang suci, terdapat calon bayi yang kelak akan menjadi utusan Ilahi. Sebelumnya ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia akan melahirkan seorang putera. Jangankan berzina, bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya saja tak pernah! Tapi, apa yang tak mungkin bagi Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa.
Waktu terus berputar, da usia kehamilannya pun semakin tua, membuatnya payah dan lemah. Di sebuah pohon kurma, ia sandarkan tubuhnya. “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan menjadi tak berarti lagi dilupakan”, keluhnya sambil menahan rasa sakit.

Ruhul Qudus, malaikat Jibril yang suci pun turun dari langit dan menghibur dirinya yang hampir putus asa. Beberapa saat kemudian, si bayi pun akhirnya terlahir ke dunia.
Kelak, ketika bayi itu ditunjukkan kepada kaumnya, mereka rasa tak percaya. Mereka memandang miring dan menganggap wanita itu telah berbuat yang tidak-tidak. “Ayahmu…”, kata salah seorang di antara mereka. “Sekali-kali bukanlah orang yang jahat, dan ibumu bukan pula seorang pezina!”

Dengan izin Allah, si bayi pun berbicara. Ya, berbicara! Ia bela kehormatan sang ibunda dengan perkataan yang tegas dan lugas. “Sesungguhnya, aku adalah hamba Allah. Dia memberikanku Kitab dan Dia menjadikanku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (untuk melaksanakan shalat),  (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan padaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
————————

Itulah sepenggal episode perjalanan hidup Nabi Isa dan ibunya yang mulia, Maryam. Dalam bahasa Inggris, mereka dikenal dengan nama Jesus dan Maria. Kami, umat Islam diperintahkan untuk mengimani kenabian Isa, serta membenarkan risalah-risalah yang ia sampaikan kepada umatnya.

Sebagaimana Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, dan juga Muhammad SAW, Allah SWT mengutusnya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan bagi mereka yang ingkar pada-Nya. Nabi Isa alaihissalam juga dititahkan oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya untuk beribadah, menyembah dan meminta hanya kepada-Nya semata. Tidak menyekutukan-Nya, tidak menduakan apalagi mentigakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya. Maha Suci Allah dari itu semua. Tidak sah keimanan seorang Muslim. Sekali lagi, tidak sah keimanan seorang Muslim jika mereka tidak mengimani kenabian Isa alaihissalam.

Berbeda halnya dengan Muslim, orang Yahudi – yang menganggap bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan – memiliki pandangan yang berbeda terhadap Isa dan ibunya, Maryam. Mereka menganggap Isa sebagai “the False Messiah”, Messiah palsu. Bahkan yang ekstrim di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Isa atau Jesus adalah “anak haram dari wanita pezina.”

Terhadap pribadi Isa, Muslim berada pada pihak yang moderat. Tidak mengagungkan secara berlebihan dan menganggapnya sebagai salah satu unsur Tuhan dan tidak pula memandangnya sebagai anak haram dari wanita pezina. Isa alaihissalam adalah manusia biasa – biasa makan, minum dan tidur sebagaimana kita – yang diutus oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi dan Rasul. Dia memiliki mukjizat sebagaimana Ibrahim yang tak terbakar api yang membumbung tinggi mengangkasa, Musa yang membelah laut Merah dengan tongkatnya, atau juga Sulaiman yang bisa bercakap-cakap dengan binatang dengan segala rupa, semua atas izin-Nya semata. Dengan izin Allah pula, Isa bisa menyembuhkan mereka yang buta atau kusta, bahkan menghidupkan orang mati yang telah lama terkubur di dalam tanah.

Dan nanti pada akhirnya, di hari penghakiman kita akan tau siapa pribadi Isa yang sebenarnya. Di hadapan mereka yang dulu menyembahnya, dan juga seluruh umat manusia, Allah Yang Maha Agung akan bertanya padanya, “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”.

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.
Isa juga mengatakan, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. 5: 116-117)

Mudah-mudahan tidak ada ratapan penyesalan dari kita. Semoga Allah menuniukkan jalan-Nya yang lurus pada kita semua dan semoga keselamatan dianugerahkan kepada Nabi Isa dan Maryam, ibunya.

Diselesaikan di kosan Al-Fajri, menjelang maghrib di Jumat yang penuh berkah, 25 Desember 2015.
Fais al-Fatih

Referensi utama:
Al-Qur’an
Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2015. Iman kepada Rasul. Jakarta: Ummul Qura
Ibnu Katsir. 2012. Kisah Para Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam

Puding Susu Nangka | Behind The Scene

Puding Susu Nangka

Puding Susu Nangka

Punten, kalau postingan ini keluar dari tema utama blog saya 😀 Jadi selain suka menulis sedikit-sedikit dan bikin presentasi, saya juga hobi memasak. Alhamdulillaah, teman-teman (dan kucing) yang jadi tester menyukai beberapa masakan yang saya buat. Entah karena memang suka atau karena rasa lapar yang mendera yang membuat mereka menghabiskan makanan tersebut.

Resep yang saya share pertama kali di jejaring sosial khusus ibu-ibu tukang masak – Cookpad – adalah Puding Susu Nangka ini. Setelah beberapa hari saya posting resep yang saya temukan di Google tsb tiba-tiba saja ada yang memberikan komentar:

Halo fais, resepnya bagusss.. Sekalian aja diikutsertakan di kontes resep Frutitivity. Caranya mba ke halaman kontes di https://cookpad.com/id/contests/9-fruitivity trus pilh resep ini dan submit deh 😀 Hal ini supaya resepnya tampil di halaman kontes dan bisa dilihat lebih banyak orang… yuk ikutan mba :D”

Saya mbatin dipanggil “mba” seperti itu. Tapi bukan itu yang mau saya bahas. Saya pun kemudian menyertakan resep puding tsb ke lomba Fruitivity yang dimaksud dan kemarin dapat email notifikasi dari Cookpad bahwa:

Email dari CookPad

Dah aku mah apa atuh… Resep puding sederhana gitu saja banyak yang tengok. Mudah-mudahan mereka tidak menelan pil pahit kekecewaan setelah mencobanya. Oiya hampir lupa, ide membuat puding ini bermula ketika di suatu sore ketika saya bangun dari tidur siang yang panjang mencium aroma nangka. Hmmm.. darimana aroma ini berasal? Tepat di dekat kasur ternyata ada setengah bagian nangka besar, disimpan oleh mang Ustadz Didin, sekretaris DKM. Alhamdulillaah… Inikah yang disebut sebagai “Rezeki Anak Sholeh” tsb?

Otak saya berputar bagaimana caranya agar nangka sebanyak ini cepat habis. Kemudian ingatan saya melayang ke rumah mungil di Kalimantan nun jauh di sana. Teringat pada Ibu saya yang sangat pandai membuat kue basah. Tiap Ramadhan, berbagai jajanan kue basah yang dibuat olehnya, seperti nasi-nasi (Bugis: Cella Ulu), puding jagung, kue ijo lumut, kue pisang dan puding nangka. OMG, beliau bisa membuat itu semua dari pagi sampai sore, luar biasa. Tepuk tangan untuk ibu saya pemirsa!

Mungkin cuma saya yang bahagia, kalau ada kue ibu yang dititip di tempat keluarga tidak habis terjual. Lho kok bisa? Sebab bagian sisa-sisa itu biasanya saya yang mengeksekusi dan menghabisi, padahal sebenarnya saya sudah dapat jatah beberapa persen sebelum kue-kue itu diantarkan oleh adik saya. Ya itu lah manusia, tak pandai bersyukur jika diberikan kenikmatan.

Nah, kembali ke Nangka ya. Saya pun meng-sms ibu saya untuk menanyakan resepnya, seperti yang biasa saya lakukan ketika kangen makanan rumah. Mulai dari tumis kangkung, sayur bening, sayur oyong sampai sop daging saya tanyakan padanya. Dan alhamdulillaah pasti dibalas. Tapi kali ini tak dibalas, ada apa ini, apakah karna mama minta pulsa? Ataukah ini resep rahasia? Saya kan.. ah sudahlah… Mungkin karna resepnya terlalu panjang, atau mungkin karna sedang ada kesibukan lain. Semoga Allah menjaganya selalu. Maafkan ananda yang selalu merepotkanmu.

Saya pun mencari resep tsb di Google and finally I found this: Resep Membuat Puding Buah Nangka Susu. Saya coba memodifikasi pada santannya, saya menggunakan Santan instan, sebut saja merk-nya Kara. Karna jujur walaupun sering membantu ibu memasak sejak SD sampai kuliah pas pulang kampung tetap saja saya tak bisa membuat santan dari kelapa yang diparut. Sebelum melebar dan meluber kemana-mana cerita saya lebih baik to the point saja langsung kita bahas resepnya ya! This is it, Puding Susu Nangka (Pusaka) by (calon) chef Fais al-Fatih:

Bahan:

1 bungkus agar-agar putih
600 ml santan (santan kara 65ml + air)
6 sdm gula pasir
1/2 kaleng susu kental manis
secukupnya vanili dan garam
6 biji nangka (potong kecil-kecil)

Cara Membuat:

  1. Masukkan agar-agar, garam, santan, vanili dan gula pasir ke dalam panci.
  2. Aduk-aduk bahan yang sudah dicampur supaya tidak menggumpal kemudian rebus di atas api sedang sampai mendidih sambil diaduk-aduk.
  3. Matikan api lalu masukkan susu kental manis sambil diaduk rata.
  4. Tuang ke dalam cetakan yang sudah ditaburi nangka, tunggu sampai dingin dan kaku.
  5. Potong-potong pudingnya dan siap dihidangkan. Disajikan dalam keadaan dingin apalagi saat berbuka puasa insya Allah lebih nikmat. Jangan lupa baca bismillaah ya. 🙂

Bagaimana dengan hasilnya saudara-saudara? Alhamdulillaah gurih dan lembut.. Nikmat luar biasa… Tips dari ibu saya, potong nangkanya kecil-kecil, sangat kecil, agar ketika pudingnya dipotong tidak rusak penampilannya seperti yang saya buat. Hikss.

“Anyone can cook!” Itulah yang dikatakan Chef Gusteau dalam film Ratatouille. Siapapun bisa masak, insya Allah asal mau mencoba dan tak pantang menyerah. Walaupun kondisi dapur seadanya kemarin alhamdulillah bisa. Centong sayur tak ada, hilang entah kemana. Dengan terpaksa saya pun mengaduk campuran bahan di atas menggunakan sendok nasi. Hihi..

Jadi masaklah wahai saudaraku mahasiswa, agar bisa menghemat kiriman orang tua dan kita bisa berbagi dengan tetangga.

Terima kasih. 🙂

15 Mei: Hari Malapetaka dan Bencana Umat Islam Sedunia

Salah satu kejadian penting dan memilukan dalam sejarah peradaban Islam adalah dicaploknya tanah Palestina oleh bangsa Israel. Tragedi ini begitu kompleks dan menjadi isu yang paling sering dibahas di tatanan internasional. Tragedi ini memicu terjadinya gelombang pengungsi secara besar-besaran dari tanah Palestina dan berdirinya negara ilegal, Israel di tanah Palestina.

Pada tanggal 14 Mei 1948, dengan menggunakan bahasa Ibrani, sambil berdiri di bawah foto sang pencetus gerakan Zionis Internasional – Theodor Herzl – Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion mengumumkan kemerdekaannya. Sehari setelah tanggal berdirinya negara Zionis tersebut, 15 Mei dijadikan sebagai hari “Nakba” oleh bangsa Palestina, yang dalam bahasa Arab bermakna “malapetaka” atau “bencana”.

Latar Belakang

Pada tahun 1800an, bibit gerakan-gerakan yang bersifat nasionalis mulai tumbuh di tanah Eropa dan Zionisme adalah salah satu gerakan tsb. Zionis yang merupakan gerakan politik memiliki tujuan untuk mendirikan negara Yahudi. Banyaknya kaum Yahudi yang tinggal di Eropa saat itu mengalami diskriminasi dan penindasan mendorong mereka untuk mengadakan Kongres Zionis pertama pada tahun 1897.

Diskriminasi dan penindasan yang mereka alami antara lain, pada tahun 1483 – menurut laporan seorang komandan Inquisisi Spanyol, Fray Thomas de Torquemada – ada sekitar 13.000 kaum Yahudi yang terbunuh di Spanyol. Padahal sebelumnya, saat Spanyol dikuasai oleh kehilafahan Islam, umat Yahudi bisa hidup dengan tentram dan damai. Setelah kejadian itu, selama puluhan tahun bangsa Yahudi terus dikejar-kejar rasa ketakutan dan mengalami masa kegelapan. Puncak dari masa kegelapan itu jatuh pada tahun 1492, saat kerajaan Katolik memberikan pilihan yang sulit bagi mereka. Dibaptis paksa atau pergi meninggalkan Eropa. Pilihan kedua yang mereka ambil, yakni pergi meninggalkan Eropa. Hanya dalam hitungan bulan saja, sejak April hingga Agustus 1492, sebanyak 150.000 warga Yahudi yang pergi meninggalkan Spanyol. Dan salah satu tujuan utama mereka adalah wilayah yang dikuasai oleh Khilafah Utsmani yang saat itu bersedia memberikan tempat perlindungan bagi mereka. Mereka pun hidup dengan tenang di bawah naungan syariat Islam dan mendapatkan kebebasan yang seluas-luasnya.

Kongres Zionis yang dilaksanakan di Bassel, Swiss tersebut memutuskan untuk mendirikan sebuah negeri Yahudi di tanah Palestina, yang saat itu merupakan bagian dari Khilafah Utsmani. Sultan Abdul Hamid II rahimahullah, sultan Utsmani yang ke-34 jelas-jelas menolak rencana itu walaupun telah ditawarkan uang sejumlah 150 juta pon oleh Theodor Herzl, pendiri gerakan Zionisme. Adanya krisis keuangan yang sangat pelik dan banyaknya hutang akibat kalah perang, tapi dengan tegas dan penuh izzah Sultan Abdul Hamid II mengatakan ia tidak akan menggadaikan tanah Palestina, walau hanya sejengkal. “Dia (Palestina) adalah milik bangsa dan rakyat kami. Nenek moyang kami telah berjuang untuk mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan tetasan darah mereka. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka.”

Pintu mulai terbuka bagi kaum Yahudi untuk menduduki tanah Palestina setelah terjadinya perang dunia pertama. Faksi Jerman, yang didukung oleh Khilafah Utsmani berhasil dikalahkan oleh faksi Inggris. Inggris pun mulai mencaplok beberapa wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani, termasuk Palestina pada tahun 1917. Selain Palestina, wilayah Irak dan Yordania juga dicaplok oleh Inggris. Sedangkan pihak Perancis mencaplok wilayah Suriah dan Lebanon. Di waktu yang sama, Arthur Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris mendeklarasikan dan menjanjikan dukungan untuk berdirinya negara Yahudi di tanah Palestina.

Setelah perang tsb, oleh Liga Bangsa-Bangsa (PBB saat itu) tanah Palestina dimandatkan kepada pihak Inggris. Sejak berada di bawah kendali Inggris, gerakan Zionis mulai mendapatkan angin segar dan bergerak sebebas-bebasnya di tanah Palestina. Imigrasi besar-besaran pun dimulai. Jumlah Yahudi yang pada tahun 1922 hanya berjumlah 83.790 jiwa saja, meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 1931 menjadi 175.138 jiwa. Dan pada tahun 1945, jumlah itu semakin melompat tinggi menjadi setengah juta jiwa! Dalam 25 tahun saja, semula jumlah mereka hanya 11% saja di tanah Palestina, meningkat drastis menjadi 31%.

Inggris juga memberikan kemudahan bagi Yahudi untuk melakukan pembelian tanah-tanah milik rakyat Palestina. Kepemilikan tanah mereka pun meningkat drastis. Dari sekitar 50.000an hektar atau 2% saja menjadi 170.000an hektar atau sekitar 6,3% luas tanah Palestina.

Walaupun menghadapi berbagai kondisi kritis penuh penderitaan, 30 tahun lebih rakyat Palestina tetap bisa eksis dan mempertahankan tanah air mereka. Dengan jumlah sekitar 68%, mereka masih menguasai hampir seluruh tanah Palestina, yakni sekitar 93,7%.

Di bawah dukungan penuh dari Inggris, Yahudi terus melakukan pergerakan di bawah tanah. Mereka mulai mendirikan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang ekonomi, politik, pendidikan, militer dan sosial. Pada tahun 1948 saja, mereka telah berhasil mendirikan 292 organisasi dan membentuk kesatuan militer, seperti Hagana, Urgun, Stern dan lain-lain. Jumlah keseluruhan pasukan ini adalah sekitar 70.000 personil yang telah digembleng dan dididik secara militer oleh pihak Inggris. Diam-diam mereka telah mempersiapkan kekuatan yang nantinya berhasil mengusir penduduk Palestina dan merebut tanah milik mereka.

Perjuangan Bangsa Palestina

Kekuatan yang akan menghancurkan dan mengusir rakyat Palestina sangat kokoh dan didukung penuh oleh kerajaan Inggris, namun rakyat Palestina tetap komitmen dan konsisten untuk menolak penjajahan Inggris serta proyek yang dicanangkan oleh Zionis. Mereka pun menuntut kemerdekaan untuk negeri yang mereka cintai.

Maka muncullah, gerakan-gerakan Pan Islamis-Nasionalis di bawah pimpinan Musa Kadzim, Haji Amin al-Husaini (mufti Al-Quds) dan lain-lain. Mereka melakukan penyadaran, menggalang dukungan publik, melakukan manuver-manuver politik dan aksi-aksi revolusi seperti Revolusi al-Quds 1920, Revolusi Yafa 1921, Revolusi Buraq 1929 dan Revolusi Oktober 1933. Kemudian muncul pula gerakan jihad yang dipimpin oleh Syaikh Izzudin al-Qassam dan Front Jihad Suci oleh Abdul Qadir al-Husaini.

Revolusi besar yang terjadi tahun 1936-1939 oleh rakyat Palestina, yang telah menewaskan 1000an rakyat Palestina, 37 tentara militer Inggris dan 67 Yahudi, berhasil menekan Inggris. Inggris kemudian menjanjikan berdirinya negara Palestina dalam rentang 10 tahun berikutnya. Mereka juga menghentikan penjualan-penjualan tanah kepada Yahudi kecuali dalam jumlah terbatas dan menghentikan imigrasi Yahudi setelah 5 tahun mendatang. Namun, janji manis itu mereka khianati pada bulan Februari 1945 lewat pernyataan Mentri Luar Negeri, Ernest Bevin.

Resolusi PBB dan Pembagian Wilayah Palestina

Isu Palestina kemudian diangkat di Majelis Umum PBB pada tahun 1947. Majelis Umum tersebut menelurkan sebuah Resolusi yang membagi Palestina menjadi dua negara, untuk Arab dan Yahudi. Berdasarkan pembagian ini, 54% tanah Palestina menjadi milik Yahudi, 45% tetap menjadi milik warga Arab Palestina dan 1% yaitu keseluruhan wilayah Al-Quds atau Yerussalem menjadi kawasan Internasional.

Faksi Yahudi menerima rencana pembagian wilayah ini dengan antusias. Sementara faksi Arab menolak keras rencana yang tidak fair ini, sebab mereka telah tinggal di tempat ini secara turun temurun sejak Perang Salib dan tak mungkin memberikannya kepada pihak minoritas Yahudi. Ketegangan antar Yahudi-Arab pun kembali memuncak.

Di tengah memuncaknya ketegangan antara Arab dan Israel, Inggris kemudian mengumumkan penghentian mandat mereka terhadap Palestina dan menarik diri dari wilayah tersebut pada tanggal 14 Mei 1948. Salah satu faktor yang membuat mereka menarik diri dari wilayah Palestina adalah aksi-aksi penyerangan yang dilakukan oleh gerakan bawah tanah Yahudi terhadap pos-pos penting mereka di Palestina. Pihak Israel ingin sepenuhnya menguasai Palestina dengan cepat, oleh karena itu setelah memiliki kekuatan yang cukup mereka pun berusaha mengusir pihak Inggris yang berada di sana. Salah satu serangan mematikan terhadap Inggris yang pernah dilakukan gerakan ini adalah pengeboman terhadap Hotel King David pada tanggal 22 Juli 1946, yang digunakan sebagai pusat administratif dan militer pihak Inggris, 91 orang tewas saat itu. Serangan selanjutnya dilakukan terhadap Goldsmith House milik Inggris di Yerussalem, 16 jiwa melayang dan sebagian terluka. Media Inggris menyebut pihak penyerang ini sebagai “Jewish Terrorist Gang” atau Geng Teroris Yahudi.

Kelompok militer “Jewish Terrorist Gang” itu dipimpin oleh seorang lelaki bernama Menachem Begin. Kelak nanti, ia mendirikan Partai Likud (yang saat ini dipimpin oleh PM Israel, Netanyahu) dan menjadi perdana menteri Israel ke-6 (1977-1983). Begin – bersama Anwar Sadat – pada tahun 1978 mendapatkan nobel perdamaian atas inisiasi perdamaian antara Israel dan Mesir yang dilakukan di Camp David.

Malapetaka pun Dimulai

Setelah Inggris cuci tangan dari permasalahan ini, mereka pun pergi meninggalkan tanah Palestina. Pada hari itu juga, gerakan Zionis mulai merancang deklarasi pendirian negara Israel. Esok harinya, negara tetangga yang notabene berbangsa Arab juga mendeklarasikan penolakan mereka terhadap Israel serta berencana untuk memerangi dan menginvasi Israel.

Perang 1948 pun pecah. Walaupun banyak negara Arab yang melakukan penyerangan, kemenangan malah jatuh di tangan Israel yang didukung penuh oleh pihak Amerika Serikat. Faktor lain yang menyebabkan kemenangan ada di tangan Israel adalah lemahnya leadership dan koordinasi di pihak pasukan Arab. Minimnya pengalaman tempur juga menambah parahnya kekalahan ini.

Selain itu juga, beberapa tentara Arab berperang melawan Israel bukan dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah. Kalahnya pasukan Arab disebabkan berperang demi nasionalisme Arab, demi fanatisme golongan, hawa nafsu, pemikiran Arab dan prinsip-prinsip baru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Allah SWT berfirman, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Alhasil, pasukan Zionis yang sudah terlatih secara militer dan memiliki persenjataan yang lengkap dan modern berhasil menguasai 77% tanah Palestina yang luas keseruhannya adalah 20.770 kilometer persegi. David Ben Gurion, PM Israel saat itu menginstruksikan tentaranya untuk mengusir dan membersihkan tanah Palestina dari bangsa Arab. Sekitar 700 ribuan penduduk Palestina pun diusir paksa. 475 dari 585 desa Palestina diduduki. Bangunan mereka diruntuhkan dan dibumihanguskan. Kota-kota besar seperti Haiffa, Yafa, Tiberias dan kota lainnya dikosongkan dan diyahudisasi. Nama-nama tempat, desa atau kota yang sebelumnya berbau Arab, diganti dengan bahasa Ibrani. Proyek yahudisasi ini bertujuan agar generasi Palestina tidak mengetahui dimana nenek moyangnya dulu tinggal dan berasal.

Gelombang pengungsi mengalir deras. Pembantaian terhadap warga yang bertahan dilakukan secara besar-besaran. Sebelum perang 1948, Arab Palestina berjumlah 1 juta jiwa. Dan setelah berakhirnya perang pada tahun 1949, sekitar 700 ribuan penduduk Palestina menjadi asing di negeri sendiri, mengungsi ke negara-negara tetangga. Dan tersisa 150ribuan saja di tanah Palestina yang dikuasai Israel saat itu.

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu mudahnya Israel menguasai sebagian besar tanah Palestina, membantai dan mengusir sebagian besar penduduknya. Salah satu penyebab utamanya adalah, pihak Israel telah melakukan mata-mata terhadap semua desa di Palestina sejak lama, mereka memanfaatkan keterbukaan dan kebaikan penduduk Palestina terhadap tamu yang datang kepada mereka. Setelah itu mengetahui kondisi masing-masing desa, apa saja kekuatan dan kelemahannya, mereka pun membuat perencanaan yang matang untuk melakukan penyerangan terhadap semua desa yang ada di Palestina. Bagaimana strategi menduduki dan menguasai, dan bagaimana mengusir dan melawan penduduk semua desa telah dirancang dengan rapi dan tersembunyi.

Wilayah Palestina yang tersisa di wilayah Tepi Barat secara resmi digabungkan bersama Yordania. Jalur Gaza juga digabungkan secara administrasi bersama pemerintahan Mesir. PBB di bawah desakan Amerika Serikat kemudian menyetujui masuknya Israel sebagai salah satu anggotanya dengan syarat memperbolehkan para pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka. Namun anehnya, hingga saat ini syarat itu tak pernah dipenuhi oleh pihak Zionis Israel!

Menyikapi Hari Al-Nakba

Entitas Israel yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat ini berdiri di atas kezhaliman, dan prinsip-prinsip rasis dan dogma-dogma agama Yahudi yang telah diselewengkan. Entitas ini juga tidak menentukan batas-batas negaranya dengan jelas, sebab mereka memimpikan negeri yang luas terbentang di antara dua sungai sebagaimana tergambar pada bendera mereka, yakni sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak.

Malapetaka ini sebenarnya tidak menimpa bangsa Palestina saja, melainkan juga seluruh umat Islam sedunia. Sebab sejak saat itu, entitas ini juga menginjak-injak kesucian Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Mereka ingin meruntuhkannya dan menggantinya dengan bangunan impian mereka, kuil Sulaiman. Pertanyaannya, akankah kita membiarkan malapetaka itu terus terjadi? Hasbunallaahu wani’mal wakiil…

Referensi

Abdullah Nashih Ulwan. 2012. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Solo: Pustaka Arafah

Ali Muhammad ash-Shalabi. 2011. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Al-Jazeera. 29 Mei 2013. Al-Nakba: Series on the Palestinian ‘catastrophe’ of 1948 that led to dispossession and conflict that still endures. url: http://www.aljazeera.com/programmes/specialseries/2013/05/20135612348774619.html?hc_location=ufi

Ferry Nur. 2010. Mavi Marmara Menembus Gaza. Jakarta: Gema Insani

Firas Alkhateeb. 23 April 2013. The Nakba: The Palestinian Catastrophe of 1948. url: http://lostislamichistory.com/the-nakba-the-palestinian-catastrophe-of-1948/

Herry Nurdi. Jejak Freemason & Zionis di Indonesia. Jakarta: Cakrawala Publishing

Mohsen Muhammad Sholeh. 2014. Memahami Prahara Palestina. Aqso Publishing

Mensyukuri Indonesia

gunung

Alhamdulillaah, kita diberikan anugerah oleh Allah SWT lahir dan dibesarkan di negeri nan indah, Indonesia. Negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Negeri yang oleh Multatuli dalam bukunya, “Max Havelaar, of de Koffij-veilingen der nederlandsche Handelmaatschappij” disebut sebagai zamrud khatulistiwa. Negeri yang oleh Koes Plus dalam satu lagunya yang legendaris digambarkan sebagai:

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Negeri yang oleh Syaikh Ali Thanthawi rahimahullaah – seorang ulama dan sastrawan dari Suriah – dideskripsikan dengan: “Bukan surga akhirat yang saya maksud… Bukan juga surga dunia Syam, bukan Libanon, juga bukan Swiss. Tetapi Surga dunia Jawa. Siapa yang melihatnya, sungguh dia akan tahu bahwa saya benar. Siapa yang belum melihatnya, penjelasan ini tidak mewakili penglihatan.

Saya di sana dua hari. Sekarang umur saya telah mencapai 50 tahun. Belum pernah saya melihat dalam hidup saya dua hari yang lebih menyenangkan darinya, paling indah di mataku dan bekas rasanya masih tinggal di dalam hatiku.

Dua hari saya arungi Pulau Jawa dari timur hingga ke barat dengan kereta. Dari Jakarta hingga Surabaya. Di jalan, saya belum pernah melihat juga belum mendengar, saya pun tidak menyangka akan bisa melihat dan mendengar, bahwa di dunia ini ada jalan yang lebih indah di bandingkan Jawa.”

Negeri yang oleh traveller ternama dari abad pertengahan, Ibnu Battutah diceritakan sebagai: “Hijau dan indah. Kebanyakan pohonnya adalah kelapa, bunga mawar, gaharu, mangga. Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah.”

Masya Allah… Betapa besar nikmat negeri yang Allah SWT berikan kepada kita. Sudahkan kita mensyukurinya?

Fais Al-Fatih
Cimahi, 18 April 2015

Dimana Bisa Kita Temukan Khalifah al-Mu’tashim di Zaman Ini?

PEDANG

PADA malam hari, kota ini diterangi lampu-lampu yang gemerlapan sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya beralaskan batu ubin, dan bersih dari sampah-sampah yang berserakan. Kota ini juga berhiaskan taman-taman yang hijau, memiliki tempat pemandian berjumlah 900 buah, bangunan-bangunan sebanyak 80.000 buah, masjid 800 buah dan berpenduduk lebih dari satu juta jiwa.

Di kota ini terdapat istana az-Zahra yang megah dan keindahannya menyejarah karena bernilai seni tinggi dan dibangun dengan teknologi yang canggih, sampai-sampai sejarawan Turki, Dhiya Pasha mengatakan bahwa istana az-Zahra merupakan keajaiban zaman yang belum pernah terlintas imajinasinya dalam benak arsitek sejak Allah menciptakan alam ini. Kota ini bernama Cordoba, terletak di Andalusia, dimana negara Spanyol kini berada.

Begitulah pemandangan dan suasana ketika umat Islam mencapai zaman keemasannya dalam sejarah.  Peradabannya gemerlap dengan indahnya akhlak dan kemajuan ilmu pengetahuan serta keindahan arsitektur bangunan.

Karen Amstrong, dalam buku Biography of Muhammad mengatakan, “Kaum Muslim adalah peletak dasar peradaban agung di semua aspek peradaban manusia di altar kehidupan ini. Mereka juga meletakkan dasar-dasar metodologi berpikir brilian yang menjadi acuan dasar para pemikir Eropa pada abad pertengahan, bahkan hingga masa kini.”

Tapi setelah berbagai persoalan datang mendera baik itu dari internal maupun eksternal, maka berlakulah fase kemunduran yang penuh dengan ratapan, tangisan dan penderitaan. Saat Khilafah Utsmaniyah dihapuskan oleh pengkhianat bernama Musthafa Kemal, seorang penyair Turki berkata:

Kini senandung pengantin berbalik menjadi ratapan

Aku meratap di tengah lencana-lencana kegembiraan

Kau dikafankan di malam pengantin dengan pakaiannya

Dan tatkala pagi akan menjelang, engkau telah sirna

Mimbar-mibar dan tempat adzan bergerak untukmu

Sedangkan kerajaan-kerajaan meratap menangisi kepergianmu

India, Walhah dan Mesir demikian bersedih ditinggalkanmu

Menangis dengan air mata yang deras untuk kepergianmu

Syam, Iraq dan Persia semua bertanya-tanya

Adakah oleh orang-orang dari muka bumi, khilafah telah dimusnahkan?

Wahai alangkah malang, dikubur hidup-hidup orang yang merdeka

Dibunuh tanpa melakukan kesalahan dan kejahatan

Seorang intelektual asal Aljazair, Malik bin Nabi mengatakan, bahwa sebuah peradaban akan terus menanjak naik tatkala yang menjadi panglimanya adalah ruh. Dengan ruh, sebuah peradaban akan menjadi peradaban yang bersih dan tak terkotori. Pada masa inilah peradaban akan dianggap mencapai puncak yang sebenarnya.

Pada tahapan kedua, peradaban akan mengalami perluasan dan pemekaran wilayah, tatkala yang menjadi pemain dalam peradaban itu adalah akal. Peradaban yang dikendalikan oleh akal akan mengalami tarik menarik yang demikian kencang antara ruh dan hawa nafsu.

Dan jika hawa nafsu menjadi panglimanya, maka terjadilah tahapan yang ketiga, yaitu fase kehancuran dan kebangkrutan. Pada titik inilah peradaban akan meluncur deras ke titik paling bawah dalam sejarah.

Itulah fakta sejarah. Bangsa Arab dahulu bukanlah siapa-siapa. Dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Khulafaur Rasyidin, bani Umawiyah dan bani Abbasiyah, Islam bisa meraih kejayaan dan menjadi soko-guru dalam peradaban. Wilayah kekuasaan mereka terbentang luas dari Andalusia sampai negeri India. Hal ini bisa dicapai karena mereka bersenyawa dengan Islam, Al-Quran dan sunnah dijadikan sebagai pedoman.

Maka ketika mereka terlena dengan musik, tari-tarian, pertunjukan tengah malam dan masuknya perselisihan, maka dicabutlah amanah kepemimpinan itu dari mereka. Allah Subhanahu Wata’ala serahkan kepada bangsa Kurdi dengan tokohnya yang gemilang, Nuruddin Muhammad Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Di tangan mereka, masjid al-Aqsha yang dikuasai Pasukan Salib selama 88 tahun berhasil direbut dan diselamatkan.

Ketika bangsa Kurdi berpaling dari Islam, Allah Subhanahu Wata’ala serahkan estafet kepemimpinan kepada Mamluk, bekas-bekas budak dari Asia Tengah, dan kemudian diberikan kepada bangsa Turki.

Lewat perantara salah satu pemimpinnya yang agung, Sultan Muhammad al-Fatih, Kota Konstantinopel yang telah dijanjikan akan ditaklukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam 8 abad sebelumnya, bertekuk lutut dan menyerah di bawah telapak kakinya.

Kekuasaan Turki Utsmani mencengkram kuat di daratan Eropa dan mampu bertahan selama 6 abad lamanya dan menjadi adidaya yang ditakuti oleh bangsa-bangsa Eropa.

Sunnatullah terus berlaku, ketika sultan-sultan Turki Utsmani menjauh dari syariat Allah dan Rasul-Nya, maka kekuasaan mereka yang terbentang luas dari tanah Hindustan, India hingga wilayah Balkan, Eropa menjadi bercerai berai, seperti makanan yang terhidang di meja, diperebutkan dan disantap dengan buas oleh bangsa Eropa.

Sampai detik ini, belum ada lagi generasi Muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah Islam yang telah runtuh.

Sebaliknya, umat Islam dinistakan dan mendapatkan perlakukan yang sewenang-wenang di berbagai belahan dunia. Jika dulu hanya karena seorang wanita ditawan; “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”, ratapnya dalam tawanan. Khalifah al-Mu’tashim langsung menunggang kudanya dan bersama bala tentaranya pergi menyelamatkan dan membebaskan wanita tersebut. “Ku penuhi seruanmu!”, ujar sang khalifah setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut.

Tapi saat ini, ratusan bahkan ribuan wanita Muslimah menjerit dan berteriak, dianiaya, diperkosa dan dizhalimi di Palestina, Suriah, Iraq, Afghanistan, Rohingya dan negeri Islam lainnya, belum ada dari kita yang bisa menyelamatkan dan membebaskan mereka. Betapa menyedihkannya!

Di mana Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash yang mengalahkan adidaya Persia?

Di mana sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan masjid al-Aqsha?

Di mana tentara-tentara Thariq bin Ziyad yang menggemparkan bumi Andalusia?

Di mana pasukan al-Fatih penakluk Konstantinopel, yang membuat gentar Eropa?

Kita sebagai umat Islam harus bangkit dari lumpur kehinaan ini dan berupaya untuk merajut kembali kiswah peradaban yang telah lama robek dan koyak. Memang tak ada faedah yang akan kita dapatkan, dengan hanya meratapi dan menangisi puing-puing masa lalu yang telah lapuk dan hancur.

Salah satu upaya cerdas yang bisa kita lakukan adalah merenungi dan mempelajari lembar tiap lembar, membaca buku sejarah umat Islam, mulai dari masa Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, masa Khulafaur Rasyidin, Umawiyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Mamluk hingga kekhilafahan Utsmaniyah agar kita bisa memetik hikmah dan mengambil pelajaran apa saja yang menjadi faktor kebangkitan dan kejayaan mereka dan apa saja yang menjadi penyebab keruntuhan peradaban yang mereka bangun.

Dalam sebuah syair dikatakan;

Pelajarilah sejarah!

Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya,

ibarat anak pungut yang tak mengetahui nasabnya.

Atau seperti orang yang hilang ingatannya,

hingga ia tidak ingat tentang masa lalunya.

Pemahaman dan penghayatan mengenai sejarah masa lampau merupakan sebuah keniscayaan bagi pembangunan umat dan peradaban. Tatkala Allah Subhanahu Wata’ala mengutus Nabi Musa as kepada Bani Israil yang telah lemah mentalnya dan rusak kepribadiannya, Nabi Musa as berkata: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (QS. al-Maidah: 20)

Bani Israil telah melupakan kegemilangan sejarah nenek moyangnya: Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Yusuf as, sehingga merasa diri mereka sebagai bangsa budak yang selalu terbelenggu dan lupa terhadap keistimewaan-keistimewaan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada mereka. Kita adalah umat terbaik dan umat yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala untuk memperjuangkan risalah akhir zaman yang berlaku universal dan global. Dan tentunya, mentalitas kita tidak seperti mentalitas Bani Israil di masa Nabi Musa as, yang melupakan kejayaan yang dicapai oleh pendahulunya bukan? Na’udzubillah…

Kita sebagai umat Islam hendaknya berusaha menjunjung tinggi dan memperjuangkan risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagaimana yang pernah digemakan oleh al-Miqdad bin Amr ra saat diseru untuk berperang melawan kaum musyrikin oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa, ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja.’ Tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua.”

Menyadari bahwa sejarah para pendahulu kita merupakan warisan kekayaan yang begitu agung, maka mengkaji, menelaah, mempelajari dan menghayati setiap langkah generasi terdahulu merupakan salah satu pra-syarat utama kembalinya kejayaan Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad, perjuangan dan pengorbanan mereka merupakan modal utama perjuangan umat Islam yang sungguh tiada ternilai harganya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Menyelami sejarah para shalafus shalih bisa menjadikan seorang Muslim memandang rendah dunia, melawan daya tariknya dan kelezatannya yang fana. Dia juga akan menjadikan melangkah dan bergerak di bumi namun semangat dan cita-citanya melambung mengangkasa.

Salah seorang ulama rabbani yang sangat berpengaruh dalam membentuk mental sang penakluk Konstantinopel, Syaikh Aaq Syamsuddin setiap hari menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam, serta menanamkan kepribadian Rasul melalui sirah-nya kepada Muhammad al-Fatih. Ia juga menceritakan kepahlawanan dan kegagahan para sahabat dan penakluk lainnya, kehebatan mereka yang tak terbendung, perjuangannya hingga berakhir syahid di jalan-Nya dan juga usaha-usaha yang dilakukan pendahulu mereka dalam upaya menaklukkan Konstantinopel. Dan itulah salah satu faktor penentu yang membuatnya sukses menaklukkan ibukota kerajaan Byzantium tersebut.

Dalam membaca sejarah, hendaknya kita melakukan analisis yang mendalam terhadap sejarah tersebut. Lembar demi lembar kita buka untuk menengok kembali peristiwa-peristiwa yang telah tertutupi debu selama berabad-abad lamanya.

Mari kita perhatikan, jalan mana yang saat ini kita tapaki, agar kita bisa ketahui kemana arah yang kita tuju dalam hidup ini. Seorang mukmin yang berakal akan memetik hikmah dan mengambil pelajaran yang menjadi sebab-sebab kejayaan Islam yang pernah diraih, juga tentunya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu, yang menyebabkan mereka terkubur dalam puing-puing sejarah.*

Diposting di Hidayatullah Online

http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/04/17/68342/di-mana-bisa-kita-temukan-khalifah-al-mutashim-di-zaman-ini.html

http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/04/17/68353/di-mana-bisa-kita-temukan-khalifah-al-mutashim-di-zaman-ini-2.html