542 Tahuh yang Lalu: Granada Jatuh ke Tangan Kerajaan Spanyol

image

Tepat pada hari ini, pada 524 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 2 Januari 1492 M, akhir peradaban Andalusia yang agung runtuh dan hilang untuk selamanya. Penguasa terakhir Granada, Abu Abdillah Muhammad bin al-Ahmar ash-Shaghir memilih untuk menyerah setelah dikepung oleh pihak Kerajaan Castilla, Spanyol. Diwakili oleh menterinya, Abu al-Qasim Abdul Malik, ia menandatangani kesepakatan damai dengan pihak Kerajaan Castilla.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, duet maut penguasa Spanyol itu pun memasuki Granada, dan menginjakkan kakinya ke istana yang megah, Alhambra. Abu Abdillah memilih pergi dan angkat kaki dari istana dan yang telah susah payah dibangun dengan tetesan keringat dan darah oleh pendahulunya.

Di sebuah bukit, ia berhenti sejenak. Ia amati dalam-dalam pemandangan kota Granada dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Tetiba, air matanya mengalir deras. Ia menangis tersedu-sedu. Sang ibu, Aisyah berteriak padanya, “Menangislah… Menangislah… Menangislah… Kini engkau menangis seperti perempuan yang kehilangan, padahal kau tak mampu mempertahankan kerajaan selayaknya laki-laki perkasa.” Bukit itu pun diberi nama Puerto del Suspiro del Moro oleh penduduk Spanyol, yang bermakna Bukit Tangisan Orang Arab Terakhir. Sungguh memilukan!

Kejadian memilukan ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Saat menyepakati perdamaian dengan pihak Castilla, Abu Abdillah ash-Shaghir menyangka bahwa keselamatan kaum Muslimin yang tinggal di sana akan terjamin dan terjaga.

Tapi, fakta berkata lain. Raja Ferdinand merevisi perjanjian tsb setahun kemudian. Jutaan Muslim yang memilih untuk tetap tinggal di bumi Andalusia yang menjadi korbannya. Mereka semua dibaptis paksa untuk memeluk agama Kristiani. Raja Ferdinand yang zalim juga mengeluarkan dekrit yang isinya menutup operasional masjid, melarang ritual-ritual agama Islam dan Yahudi.
Perlakuan buruk ini terus berlanjut. Pada tahun 1529 M, pada masa pemerintahan Raja Charles, sebuah peraturan yang isinya melarang kaum Muslimin berbicara menggunakan bahasa Arab diterbitkan. Membaca Al-Qur’an dan melakukan perjalanan ke luar Granada juga dianggap sebagai pelanggaran hukum. Yang paling gila adalah peraturan yang dibuat oleh Raja Philip II pada tahun 1576 M. Sang Raja membuat peratutan berupa larangan mandi kepada semua umat Muslim. Tempat pemandian umum yang ada di Granada dihancurkan.
Dewan Inquisisi adalah puncak kezaliman yang dilakukan oleh pihak Kerajaan dan Gereja Spanyol saat itu. Setelah upaya Kristenisasi terhadap pemeluk agama tauhid ini belum mendapatkan hasil yang maksimal, mereka pun berencana menghabisi kaum Muslim dengan berbagai dalih yang tak masuk akal. Jika dewan ini menemukan adanya mushaf di rumah penduduk Granada, mendapati mereka melakukan ibadah shalat, mereka enggan meminum arak atau dicurigai melakukan aktivitas yang berkaitan dengan Islam lainnya maka sanksi berat pun dijatuhkan. Dewan Inquisisi akan menyiksa mereka dengan zalim. Mereka memiliki 1001 macam alat untuk menyiksa mereka yang dianggap berkhianat. Ada alat peremuk tulang, alat perobek kulit, alat pengoyak daging dan berbagai macam alat lainnya yang membuat bergidik bulu siapapun yang menyaksikannya. Dewan ini berhasil dibubarkan empat abad kemudian setelah membantai banyak manusia tak berdosa. Pada tahun 1808 Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis mengeluarkan dekrit yang isinya membubarkan Dewan Inquisisi di Kerajaan Spanyol tsb.

Fais Al-Fatih | Diselesaikan menjelang waktu maghrib di kosan Al-Fajri, tanggal 2 Januari 2016.

Referensi utama:
Raghib as-Sirjani. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Tariq Suwaidan. 2015. Dari Puncak Andalusia. Jakarta: Penerbit Zaman

Advertisements

Saifuddin Quthuz di Tengah Bangsa Kalah (Kebangkitan di tengah Keterpurukan)

Oleh: Ust. Budi Ashari Lc

Semua sebab kejatuhan Daulah-Daulah Islamiyyah ada pada kita.

Tetapi, semua sebab kebangkitan perlahan mulai terlihat.

Para ahli sejarah Islam, khususnya DR. Abdul Halim Uwais –rahimahullah– banyak mengkaji kejatuhan berbagai daulah Islam sepanjang sejarahnya. Ada dua poin penting yang bisa disimpulkan:

Pertama, selalu ada sebab-sebab yang sama walau berbeda zaman. Itulah mengapa sejarah berulang sebagai sunnatullah.

Kedua, semua sebab itu ada pada kita hari ini. Itulah mengapa kita jatuh.

Di awal, kita akan membicarakan sebagian dari penyebab itu, bukan untuk sekadar membuka luka tetapi untuk memahaminya agar mendapatkan obat yang tepat.

Rusaknya aqidah dan bermunculannya aliran sesat

Aliran sesat tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Faktornya adalah jauhnya masyarakat dari ilmu dan ketidakpedulian ulama serta negara. Apapun alirannya sesatnya, mereka agama yang satu. Mereka telah membuat negeri Islam kelelahan.

Kelompok Khawarij yang mengkafirkan dan siap membunuh siapa saja telah membuat lelah sepanjang sejarah kekhilafahan Islam.

Syiah telah mencatatkan nama mereka sebagai benalu peradaban. Tak memberi kehidupan justru mematikan pohonnya. Siapapun yang membaca sejarah tahu bagaimana Hulagu panglima Tartar, Mongol itu bisa leluasa masuk dan menghancurkan Baghdad. Berawal dari kepercayaan bodoh pemimpin lemah kepada Muayyadduddin Ibnul Al Qomi, perdana menteri syiah yang mengendalikan seluruh kepemimpinan.

Sekte shufi yang menyebabkan masyarakat Turki Utsmani tak minat lagi berjihad menjadi saksi jatuhnya kekhilafahan terakhir muslimin itu,

“Siapa pun yang mengamati sejarah Turki Utsmani, mengetahui sebab utama kejatuhan mereka adalah jauhnya mereka secara bertahap dari aqidah yang bersih yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dan menggantinya dengan aqidah khurafat.” (Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi, Kaifa Saqathat Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Berlomba menumpuk harta

Hal inilah yang sudah diwanti-wanti oleh Rasul dalam banyak hadits beliau. “Demi Allah bukan kemiskinan yang aku takuti terjadi pada kalian. Tetapi jika dunia dibuka di hadapan kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini pula yang membuat Umar menangis. Saat ia melihat harta dan perhiasan berdatangan ke Madinah hasil dari jihad, “Demi Allah, karena inilah kalian bertikai.

Abdul Halim Uwais, seorang ahli sejarah Islam yang sangat fokus mendalami sebab-sebab kejatuhan negeri-negeri Islam menulis buku At Takatsur Al Madiy Wa Atsaruhu fi Suquthil Andalus (Berbanyak-banyakan harta dan dampaknya bagi kejatuhan Andalus)

Al Wahn dalam bahasa Rasulullah itu, menjalari seluruh sendi para pemimpinnnya. Tidaklah Andalus pecah menjadi lebih dari 20 negara kecil kecuali karena hal tersebut. Efeknya panjang. Mereka rela bekerjasama dengan kekuatan kafir walaupun harus mengorbankan dan membunuh saudara. Semuanya berujung, dijualnya Granada sebagai kota terakhir yang dimiliki muslimin.

Lihatlah pengkhianatan di balik layar yang tak diketahui oleh masyarakat muslim. Tetapi aroma busuk itu tersimpan rapi dalam arsip sejarah. Tiga sekawan penjual Andalus kepada Fernando dan Isabella, salah satunya adalah menteri yang bernama Abul Qosim Al Malih. Dan inilah surat itu,

“Saya bersumpah demi Allah dan demi syariat, bahwa jika saya mampu memikul Granada di pundak saya pasti akan saya bawa ke tuan-tuan yang mulia. Ini keinginan saya. Allah akan membinasakan saya jika saya berdusta. Sebagaimana saya berharap dari Allah agar urusan ini berakhir dengan baik, terbebas dari kaum gila itu. Dan saya berharap anda yakin bahwa saya adalah pembantu mulia yang tulus untuk tuan-tuan terhormat. Tetapi sayangnya pemahaman penduduk kota ini belum matang dan terbuka.”

Ulama yang tak berperan lagi jahat

Andai ada satu atau dua ulama mau bergerak membimbing umat menuju kebangkitan, sangatlah cukup. Tetapi justru mereka yang memberi dalil sebagai dalih atas pengkhianatan itu. Kembali membaca kejatuhan Andalus, Abul Qosim Al Malih, Yusuf bin Kamasyah sesungguhnya bergerak leluasa dengan panduan dalil-dalil yang diberikan oleh Al Faqih Al Baqini. Maka ketiga orang inilah yang bergerak di lapangan untuk menjual sisa Andalus tersebut.

Dikarenakan ahli ilmunya asyik memunguti sampah dunia, maka mereka yang baru belajar ilmu memunculkan berbagai fatwa dan mengawal pergerakan umat. Tentu tanpa ilmu. Dengarlah kalimat ulama hebat Andalus yang mengawal kebangkitan kedua Andalus, Ibnu Hazm –rahimahullah-,

“Cara kita lepas dari fitnah yang menimpa Andalus adalah menahan lisan kecuali dari satu hal: Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Tapi sangat disayangkan banyak penuntut ilmu yang tidak menahan diri dari apapun kecuali dari Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar……kalau setiap orang yang menolak dengan hatinya berkumpul, mereka tak mampu mengalahkan kita.” (Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Dan jihad pun telah digantikan oleh hiburan

“Salah seorang ulama muslimin di abad ini berkata: Tanyakan kepada sejarah, bukankah redupnya bintang peradaban kita tidak terjadi kecuali pada hari bersinarnya bintang para artis.” (DR. Thoriq As Suwaidan, Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar)

1 Shafar 656 H. Tahun yang tak pernah terlupakan oleh Baghdad , bahkan seluruh muslimin. Saat Hulagu mulai mengepung Baghdad, ibukota kekhilafahan Dinasti Bani Abbasiyah dan menghujaninya dengan panah dan senjata paling mutakhir saat itu. Baghdad belum menghadapi tekanan sebesar itu sebelumnya. Tapi bacalah apa yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi muslimin saat itu, apakah dia segera menyatukan muslimin dan mengumumkan jihad?

Ibnu Katsir –rahimahullah– yang menyampaikan ini langsung,

“Tatar mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan panah api, hingga terkenalah seorang wanita yang sedang bermain dan menghibur di hadapan Khalifah. Dan ini salah satu kesalahannya. Wanita itu bernama Arafah. Panah melesat dari salah satu jendela membunuhnya saat ia sedang menari di hadapan khalifah. Khalifah terkejut dan sangat marah. Dia mengambil panah yang menancap, ternyata tertulis padanya: jika Allah ingin menjatuhkan ketentuannya, Dia menghilangkan akal orang-orang berakal. Maka khalifah pun memerintahkan untuk menambahi penghalang hingga banyak sekali penutup di istana khalifah.” (Al Bidayah wa An Nihayah

Roghib As Sirjani mengomentari kalimat di atas,

“Tarian wanita dalam darah telah menjelma menjadi makanan dan minuman. Harus ada walapun sedang dalam keadaan perang. Saya sungguh tidak paham, bagaimana ia rela menyibukkan diri dengan hal tersebut. Padahal negara, rakyat dan dia sendiri sedang dalam keadaan sulit.” (islamstory.com)

Hasilnya, 1.000.000 muslim mati hanya dalam 40 hari! Termasuk pemimpin mereka yang lalai dan lemah itu, mati dengan cara diinjak-injak di dalam istananya dengan tangan kaki terbelenggu. Sangat hina.

Sampailah kita pada zaman ini.

“Dan Yahudi melipat akhir lembaran kita yang bercahaya” (DR. Abdul Halim Uwais, Dirasah Lisuquth Tsalatsin Daulah Islamiyyah)

Dan kita telah mendapatkan banyak pelajaran. Kita bukan keledai yang mudah terjatuh dalam lubang yang sama. Menghindarlah dulu dari semua sebab kejatuhan itu. Untuk shaf muslimin segera menggerakkan bagian dari tubuhnya perlahan. Dan memang inilah zamannya. Kesadaran dan pergerakan untuk bangkit itu mulai kentara terlihat.

Di Tengah Bangsa Kalah

Ada teori terkenal yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun –rahimahullah– dalam Muqaddimah-nya di pasal ke-23 bahwa,

“Yang kalah terkagum selamanya dengan cara mengikuti yang menang; pada semboyannya, pakainnya, cara hidupnya dan seluruh keadaan serta kebiasaannya.”

Walau konsep ini tidak selamanya benar dan dikritik oleh para ulama hari ini, tetapi ada sisi benarnya. Dan itulah yang kita rasakan hari ini. Kita masih saja duduk terpaku di hadapan peradaban Yahudi hari ini dengan terkagum-kagum. Mata terbelalak, mulut terbuka, semua anggota tubuh mati dan mulut berdecak kagum. Yang lebih buruk, hati bertekad untuk mengikutinya.

Karenanya, bagi siapapun yang hendak bangkit di tengah bangsa yang kalah perlu segera bangun dari keterkaguman itu. Dan segera melihat ke sekeliling dampak kerusakan yang sudah menjalar ke seluruh wilayah muslimin.

Tiga poin berikut ini semoga bisa membantu kita untuk bangun,

  • Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Yusuf bin Tasyifin bagi Andalus
  • Antara Musa bin Abi Ghassan dan Saifuddin Quthuz
  • Antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki

Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr adalah nama-nama besar para ulama Andalus. Mereka hadir di masa kehancuran Andalus yang pertama. Andalus besar selama 8 abad, tetapi pada 4 abad pertama Andalus nyaris lenyap. Semua penyebab kejatuhan di atas sudah ada pada muslimin Andalus; rakyat dan pemimpin.

Tapi Allah berkehendak Andalus masih bertahan 4 abad berikutnya. Dan inilah 3 nama besar yang bergerak untuk menyelamatkan Andalus. Tak henti mereka berkeliling menemui para raja-raja kecil rakus dunia untuk menyadarkan bahaya perpecahan di tengah kesigapan Kerajaan Kristen Castille untuk memangsa muslimin dari utara. Tapi para raja kecil itu sudah gelap mata. Dahsyatnya, para ulama itu tidak pernah putus asa dan selalu mencari jalan lain. Hingga mereka memutuskan untuk meminta bantuan pasukan dari daratan Afrika Utara. Maka Yusuf bin Tasyifin dibukakan jalannya untuk masuk daratan Iberia itu. DR. Thoriq As Suwaidan mengatakan,

“Kalau ada yang menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Rasyid kelima, maka kalau boleh saya menggelari Yusuf bin Tasyifin sebagai Khalifah Rasyid keenam.” (ceramah tentang sejarah Andalus di TV Arreesalah )

Untuk para ahli ilmu hari ini, segera sadarlah dan lakukan sesuatu! Jangan pernah berputus asa.

Adapun Musa bin Abi Ghassan adalah nama besar yang nyaris tidak kenal. Tapi tanyakan pada Granada yang menghadapi pengkhinatan pemimpinnya sendiri tentang nama besar ini. Saat bergabung menteri, ulama dan pemimpin tertinggi untuk menjual Andalus, tokoh besar ini sadar dan mendatangi mereka. Nahi mungkar!

Kembali, nasehat membentur kerasnya batu syahwat. Dan inilah kalimat kokoh Musa bin Abi Ghassan yang mengakhiri hidupnya dengan syahid,

“Jangan serahkan Granada! Biarkan kami berjihad fi sabilillah. Biarkan kami berperang fi sabilillah. Jangan menipu diri kalian sendiri. Jangan menyangka kalau Nashoro akan memenuhi janji mereka. Jangan bersandar pada besarnya kerajaan mereka. Kematian hanya sedikit dari ketakutan kita. Di hadapan kita ada penjarahan kota-kota kita dan penghancurannya, pengotoran masjid-masjid kita, perobohan rumah-rumah kita, pemerkosaan istri-istri dan putri-putri kita. Di hadapan kita dosa keji, fanatisme buas, cambuk dan belenggu rantai. Di hadapan kita penjara, siksaan dan pembakaran!” (Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Sedangkan Saifuddin Quthuz, dia pemimpin Mesir di tengah hancurnya mental muslimin pasca penghancuran Baghdad oleh Tatar. Setiap surat panglima Mongol dikirimkan ke sebuah wilayah muslimin agar menyerah, pemimpinnya langsung menyerah. Tak ada kata perlawanan, apalagi jihad. Mereka merasa berhadapan dengan raksasa yang datang dari negeri antah berantah. Tak mungkin, mustahil sekadar bisa melakukan perlawanan apalagi menang. Saifuddin Quthuz pun kebagian surat itu, saat Tatar bergerak ke Palestina. Ia segera membacakannya di hadapan para panglimanya. Dan kembali terulang, sebagian panglima itu menyarankan agar menyerah saja karena perlawanan tidak ada gunanya. Dan inilah kalimat Saifuddin Quthuz,

“Saya langsung yang akan hadapi Tartar wahai para pemimpin muslimin. Sekian lama kalian telah makan dari Baitul Mal, sementara sekarang kalian benci perang.

Saya pasti berangkat. Siapa yang memilih jihad, akan bersama saya. Siapa yang tidak memilih itu, pulanglah ke rumah!! :(DR. Ali M. Ash Shalaby, As Sulthan Saifuddin Quthuz Wa Ma’rokah ‘Ain Jalut)

Untuk mereka yang telah sadar dan mengetahui jalan kebangkitan, pemimpin ataupun tokoh, segera sebarkan semangat itu kepada yang lainnya!

Kini perbandingan antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki. Perhatikan tahunnya dan ambil pelajarannya,

Andalus jatuh pada tahun 897H / 1492 M dan Turki Utsmani berdiri pada tahun 699 H/1299 M.

Saat Andalus jatuh, Daulah Turki Utsmani telah berusia 200 tahun.

Inilah bersambungnya peradaban Islam. Andalus memang sudah tak mungkin dipertahankan dengan keadaan masyarakat dan pemimpinnya yang sudah rusak seperti itu. Maka, hari-hari kebesaran digeser ke timur. Diserahkan kepada yang telah siap.

Untuk melihat sesiap apa, mari kita baca sebagian nasehat pendiri Turki Utsmani yang bernama Utsman bin Ertugrul kepada anaknya. Isinya menunjukkan kebaikan diri penasehatnya sekaligus sebagai haluan bagi pelanjutnya,

“Wahai anakku, jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintah Allah Robbul ‘Alamin. Jika kamu menghadapi masalah dalam hukum, maka bermusyawarahlah dengan ulama.

Anakku, kamu tahu tujuan kita adalah Ridho Allah Robbul ‘Alamin. Dan bahwasanya jihad untuk menebarkan cahaya agama kita ini ke seluruh penjuru hingga datanglah keridhoaan Allah jalla jalaluh.

Anakku, kita bukan bagian orang-orang yang melakukan perang dengan syahwat kekuasaan atau ambisi pribadi. Kita dengan Islam ini hidup dan untuk Islam kita mati.

Anakku, aku wasiatkan kepadamu tentang ulama umat. Teruslah menjaga mereka, perbanyak memuliakan mereka, bermusyawarahlah dengan mereka karena mereka tidak memerintahkan kecuali pada kebaikan. (DR. Ali M. Ash Shalaby, Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Selalu ada harapan sekecil apapun. Yang tak layak akan layu kemudian mati. Yang layak akan bertunas dan segera besar.

Harapan, harapan !!

Ini agama Allah

Tetapi mana para pekerja kerasnya?

(Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durus wa Ibar)

Selanjutnya Apa?

Yang pernah mengantarkan mereka menuju kebangkitan adalah panduan utama orang beriman; Al Quran dan Sunnah Nabi. Dan aplikasi serta buktinya ada dalam sejarah Islam. Teori umum luar biasa, tetapi sayangnya telah memakan banyak korban, yaitu mereka yang merasa telah menjalankan bidangnya berlandaskan dua wahyu itu. Tetapi sesungghnya konsep dan teorinya berasal peradaban Yahudi hari ini. Maka mari lebih kita detailkan sedikit.

Setelah panjang lebar kita bertebaran di sepanjang sejarah Islam, kini apa yang harus kita lakukan?

Mari kita uji diri kita, apakah kita pelaku kebangkitan itu atau sekadar penonton atau komentatornya?

(Pendidikan dan Kesehatan dalam sejarah kebesaran Islam bukan lembaga profit!!!)

Apa yang ada di benak Anda, setelah membaca pernyataan di atas?

Jawabannya adalah merupakan posisi kita dari kebangkitan Islam hari ini.

Perhatikan lebih detail konsep Bymaristan (Rumah Perawatan Pasien) di sejarah kebesaran Islam. Kalau ada pasien datang ke Bymaristan untuk berobat, maka berikut ini prosedurnya,

  • Setiap pasien yang datang akan dicatat namanya
  • Diperiksa oleh kepala dokter detak jantungnya, urinenya dan ditanyakan berbagai gejalanya
  • Jika oleh dokter pemeriksa dinyatakan hanya rawat jalan, maka dibuatkan resep saja
  • Resep dibawa ke bagian apotek untuk mengambil obatnya
  • Jika dokter menyatakan harus dirawat, maka akan langsung diserahkan kepada tim perawatnya (dokter pengawas, perawat dan pelayan kebutuhan pasien)
  • Setiap pagi dilakukan kunjungan dokter ke semua pasien
  • Jika telah sembuh, pasien dipersilakan pulang dengan diberi baju baru dan beberapa keping uang emas (DR. Ahmad Isa, Tarikh Al Bymaristanat fil Islam dan Hassan Syamsi Basya, Hakadza Kanu Yaum Kunna)

Mungkinkah kita ulang kebesaran dunia kesehatan ini?

Allah mengurung kalian dengan kehinaan sampai kalian mau kembali ke agama kalian!

(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

*Disampaikan dalam Seminar Akbar Dewan Syari’ah Kota Surakarta: Dengan Menghidupkan Sunnah Rasul Kita Songsong Kebangkitan Islam 2020? Ahad, 19 Januari 2014

Kenapa Harus Huruf “X”?

Komentar saya pribadi:

amazing…hanya dgn membicarakan x maka kita tahu begitu besar pengaruh peradaban Islam, terutama Arab dalam menyokong pengetahuan modern..

dari SD kita sudah belajar matematika.. dan huruf yang hampir selalu digunakan untuk mewakili variabel tertentu adalah huruf x..

contoh x kuadrat + 5x + 6 = 0, dalam persamaan kuadrat kita diminta mencari berapakah x-nya?

adalah dalam pelajaran trigonometri, jika sin x = 0,5. berapakah x-nya? lagi-lagi huruf x..

bahkan ada project-x, x-file.. x digunakan untuk mewakili sesuatu yang tidak diketahui…

but kenapa harus huruf x…?

hal itu disebabkan bangsa Spanyol saat itu – yang peradabannya menjadi pintu gerbang masuknya pengetahuan Islam ke Eropa – kesulitan melafazkan huruf sya pada الشّيء yang bermakna “sesuatu/things” dengan bahasa mereka…

dan selanjutnya, biarkan Terry Moore, direktur Radius Foundation di New York yang menjawabnya untuk Anda!

sumber: link

15 Mei: Hari Malapetaka dan Bencana Umat Islam Sedunia

Salah satu kejadian penting dan memilukan dalam sejarah peradaban Islam adalah dicaploknya tanah Palestina oleh bangsa Israel. Tragedi ini begitu kompleks dan menjadi isu yang paling sering dibahas di tatanan internasional. Tragedi ini memicu terjadinya gelombang pengungsi secara besar-besaran dari tanah Palestina dan berdirinya negara ilegal, Israel di tanah Palestina.

Pada tanggal 14 Mei 1948, dengan menggunakan bahasa Ibrani, sambil berdiri di bawah foto sang pencetus gerakan Zionis Internasional – Theodor Herzl – Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion mengumumkan kemerdekaannya. Sehari setelah tanggal berdirinya negara Zionis tersebut, 15 Mei dijadikan sebagai hari “Nakba” oleh bangsa Palestina, yang dalam bahasa Arab bermakna “malapetaka” atau “bencana”.

Latar Belakang

Pada tahun 1800an, bibit gerakan-gerakan yang bersifat nasionalis mulai tumbuh di tanah Eropa dan Zionisme adalah salah satu gerakan tsb. Zionis yang merupakan gerakan politik memiliki tujuan untuk mendirikan negara Yahudi. Banyaknya kaum Yahudi yang tinggal di Eropa saat itu mengalami diskriminasi dan penindasan mendorong mereka untuk mengadakan Kongres Zionis pertama pada tahun 1897.

Diskriminasi dan penindasan yang mereka alami antara lain, pada tahun 1483 – menurut laporan seorang komandan Inquisisi Spanyol, Fray Thomas de Torquemada – ada sekitar 13.000 kaum Yahudi yang terbunuh di Spanyol. Padahal sebelumnya, saat Spanyol dikuasai oleh kehilafahan Islam, umat Yahudi bisa hidup dengan tentram dan damai. Setelah kejadian itu, selama puluhan tahun bangsa Yahudi terus dikejar-kejar rasa ketakutan dan mengalami masa kegelapan. Puncak dari masa kegelapan itu jatuh pada tahun 1492, saat kerajaan Katolik memberikan pilihan yang sulit bagi mereka. Dibaptis paksa atau pergi meninggalkan Eropa. Pilihan kedua yang mereka ambil, yakni pergi meninggalkan Eropa. Hanya dalam hitungan bulan saja, sejak April hingga Agustus 1492, sebanyak 150.000 warga Yahudi yang pergi meninggalkan Spanyol. Dan salah satu tujuan utama mereka adalah wilayah yang dikuasai oleh Khilafah Utsmani yang saat itu bersedia memberikan tempat perlindungan bagi mereka. Mereka pun hidup dengan tenang di bawah naungan syariat Islam dan mendapatkan kebebasan yang seluas-luasnya.

Kongres Zionis yang dilaksanakan di Bassel, Swiss tersebut memutuskan untuk mendirikan sebuah negeri Yahudi di tanah Palestina, yang saat itu merupakan bagian dari Khilafah Utsmani. Sultan Abdul Hamid II rahimahullah, sultan Utsmani yang ke-34 jelas-jelas menolak rencana itu walaupun telah ditawarkan uang sejumlah 150 juta pon oleh Theodor Herzl, pendiri gerakan Zionisme. Adanya krisis keuangan yang sangat pelik dan banyaknya hutang akibat kalah perang, tapi dengan tegas dan penuh izzah Sultan Abdul Hamid II mengatakan ia tidak akan menggadaikan tanah Palestina, walau hanya sejengkal. “Dia (Palestina) adalah milik bangsa dan rakyat kami. Nenek moyang kami telah berjuang untuk mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan tetasan darah mereka. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka.”

Pintu mulai terbuka bagi kaum Yahudi untuk menduduki tanah Palestina setelah terjadinya perang dunia pertama. Faksi Jerman, yang didukung oleh Khilafah Utsmani berhasil dikalahkan oleh faksi Inggris. Inggris pun mulai mencaplok beberapa wilayah kekuasaan Khilafah Utsmani, termasuk Palestina pada tahun 1917. Selain Palestina, wilayah Irak dan Yordania juga dicaplok oleh Inggris. Sedangkan pihak Perancis mencaplok wilayah Suriah dan Lebanon. Di waktu yang sama, Arthur Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris mendeklarasikan dan menjanjikan dukungan untuk berdirinya negara Yahudi di tanah Palestina.

Setelah perang tsb, oleh Liga Bangsa-Bangsa (PBB saat itu) tanah Palestina dimandatkan kepada pihak Inggris. Sejak berada di bawah kendali Inggris, gerakan Zionis mulai mendapatkan angin segar dan bergerak sebebas-bebasnya di tanah Palestina. Imigrasi besar-besaran pun dimulai. Jumlah Yahudi yang pada tahun 1922 hanya berjumlah 83.790 jiwa saja, meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 1931 menjadi 175.138 jiwa. Dan pada tahun 1945, jumlah itu semakin melompat tinggi menjadi setengah juta jiwa! Dalam 25 tahun saja, semula jumlah mereka hanya 11% saja di tanah Palestina, meningkat drastis menjadi 31%.

Inggris juga memberikan kemudahan bagi Yahudi untuk melakukan pembelian tanah-tanah milik rakyat Palestina. Kepemilikan tanah mereka pun meningkat drastis. Dari sekitar 50.000an hektar atau 2% saja menjadi 170.000an hektar atau sekitar 6,3% luas tanah Palestina.

Walaupun menghadapi berbagai kondisi kritis penuh penderitaan, 30 tahun lebih rakyat Palestina tetap bisa eksis dan mempertahankan tanah air mereka. Dengan jumlah sekitar 68%, mereka masih menguasai hampir seluruh tanah Palestina, yakni sekitar 93,7%.

Di bawah dukungan penuh dari Inggris, Yahudi terus melakukan pergerakan di bawah tanah. Mereka mulai mendirikan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang ekonomi, politik, pendidikan, militer dan sosial. Pada tahun 1948 saja, mereka telah berhasil mendirikan 292 organisasi dan membentuk kesatuan militer, seperti Hagana, Urgun, Stern dan lain-lain. Jumlah keseluruhan pasukan ini adalah sekitar 70.000 personil yang telah digembleng dan dididik secara militer oleh pihak Inggris. Diam-diam mereka telah mempersiapkan kekuatan yang nantinya berhasil mengusir penduduk Palestina dan merebut tanah milik mereka.

Perjuangan Bangsa Palestina

Kekuatan yang akan menghancurkan dan mengusir rakyat Palestina sangat kokoh dan didukung penuh oleh kerajaan Inggris, namun rakyat Palestina tetap komitmen dan konsisten untuk menolak penjajahan Inggris serta proyek yang dicanangkan oleh Zionis. Mereka pun menuntut kemerdekaan untuk negeri yang mereka cintai.

Maka muncullah, gerakan-gerakan Pan Islamis-Nasionalis di bawah pimpinan Musa Kadzim, Haji Amin al-Husaini (mufti Al-Quds) dan lain-lain. Mereka melakukan penyadaran, menggalang dukungan publik, melakukan manuver-manuver politik dan aksi-aksi revolusi seperti Revolusi al-Quds 1920, Revolusi Yafa 1921, Revolusi Buraq 1929 dan Revolusi Oktober 1933. Kemudian muncul pula gerakan jihad yang dipimpin oleh Syaikh Izzudin al-Qassam dan Front Jihad Suci oleh Abdul Qadir al-Husaini.

Revolusi besar yang terjadi tahun 1936-1939 oleh rakyat Palestina, yang telah menewaskan 1000an rakyat Palestina, 37 tentara militer Inggris dan 67 Yahudi, berhasil menekan Inggris. Inggris kemudian menjanjikan berdirinya negara Palestina dalam rentang 10 tahun berikutnya. Mereka juga menghentikan penjualan-penjualan tanah kepada Yahudi kecuali dalam jumlah terbatas dan menghentikan imigrasi Yahudi setelah 5 tahun mendatang. Namun, janji manis itu mereka khianati pada bulan Februari 1945 lewat pernyataan Mentri Luar Negeri, Ernest Bevin.

Resolusi PBB dan Pembagian Wilayah Palestina

Isu Palestina kemudian diangkat di Majelis Umum PBB pada tahun 1947. Majelis Umum tersebut menelurkan sebuah Resolusi yang membagi Palestina menjadi dua negara, untuk Arab dan Yahudi. Berdasarkan pembagian ini, 54% tanah Palestina menjadi milik Yahudi, 45% tetap menjadi milik warga Arab Palestina dan 1% yaitu keseluruhan wilayah Al-Quds atau Yerussalem menjadi kawasan Internasional.

Faksi Yahudi menerima rencana pembagian wilayah ini dengan antusias. Sementara faksi Arab menolak keras rencana yang tidak fair ini, sebab mereka telah tinggal di tempat ini secara turun temurun sejak Perang Salib dan tak mungkin memberikannya kepada pihak minoritas Yahudi. Ketegangan antar Yahudi-Arab pun kembali memuncak.

Di tengah memuncaknya ketegangan antara Arab dan Israel, Inggris kemudian mengumumkan penghentian mandat mereka terhadap Palestina dan menarik diri dari wilayah tersebut pada tanggal 14 Mei 1948. Salah satu faktor yang membuat mereka menarik diri dari wilayah Palestina adalah aksi-aksi penyerangan yang dilakukan oleh gerakan bawah tanah Yahudi terhadap pos-pos penting mereka di Palestina. Pihak Israel ingin sepenuhnya menguasai Palestina dengan cepat, oleh karena itu setelah memiliki kekuatan yang cukup mereka pun berusaha mengusir pihak Inggris yang berada di sana. Salah satu serangan mematikan terhadap Inggris yang pernah dilakukan gerakan ini adalah pengeboman terhadap Hotel King David pada tanggal 22 Juli 1946, yang digunakan sebagai pusat administratif dan militer pihak Inggris, 91 orang tewas saat itu. Serangan selanjutnya dilakukan terhadap Goldsmith House milik Inggris di Yerussalem, 16 jiwa melayang dan sebagian terluka. Media Inggris menyebut pihak penyerang ini sebagai “Jewish Terrorist Gang” atau Geng Teroris Yahudi.

Kelompok militer “Jewish Terrorist Gang” itu dipimpin oleh seorang lelaki bernama Menachem Begin. Kelak nanti, ia mendirikan Partai Likud (yang saat ini dipimpin oleh PM Israel, Netanyahu) dan menjadi perdana menteri Israel ke-6 (1977-1983). Begin – bersama Anwar Sadat – pada tahun 1978 mendapatkan nobel perdamaian atas inisiasi perdamaian antara Israel dan Mesir yang dilakukan di Camp David.

Malapetaka pun Dimulai

Setelah Inggris cuci tangan dari permasalahan ini, mereka pun pergi meninggalkan tanah Palestina. Pada hari itu juga, gerakan Zionis mulai merancang deklarasi pendirian negara Israel. Esok harinya, negara tetangga yang notabene berbangsa Arab juga mendeklarasikan penolakan mereka terhadap Israel serta berencana untuk memerangi dan menginvasi Israel.

Perang 1948 pun pecah. Walaupun banyak negara Arab yang melakukan penyerangan, kemenangan malah jatuh di tangan Israel yang didukung penuh oleh pihak Amerika Serikat. Faktor lain yang menyebabkan kemenangan ada di tangan Israel adalah lemahnya leadership dan koordinasi di pihak pasukan Arab. Minimnya pengalaman tempur juga menambah parahnya kekalahan ini.

Selain itu juga, beberapa tentara Arab berperang melawan Israel bukan dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah. Kalahnya pasukan Arab disebabkan berperang demi nasionalisme Arab, demi fanatisme golongan, hawa nafsu, pemikiran Arab dan prinsip-prinsip baru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Allah SWT berfirman, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Alhasil, pasukan Zionis yang sudah terlatih secara militer dan memiliki persenjataan yang lengkap dan modern berhasil menguasai 77% tanah Palestina yang luas keseruhannya adalah 20.770 kilometer persegi. David Ben Gurion, PM Israel saat itu menginstruksikan tentaranya untuk mengusir dan membersihkan tanah Palestina dari bangsa Arab. Sekitar 700 ribuan penduduk Palestina pun diusir paksa. 475 dari 585 desa Palestina diduduki. Bangunan mereka diruntuhkan dan dibumihanguskan. Kota-kota besar seperti Haiffa, Yafa, Tiberias dan kota lainnya dikosongkan dan diyahudisasi. Nama-nama tempat, desa atau kota yang sebelumnya berbau Arab, diganti dengan bahasa Ibrani. Proyek yahudisasi ini bertujuan agar generasi Palestina tidak mengetahui dimana nenek moyangnya dulu tinggal dan berasal.

Gelombang pengungsi mengalir deras. Pembantaian terhadap warga yang bertahan dilakukan secara besar-besaran. Sebelum perang 1948, Arab Palestina berjumlah 1 juta jiwa. Dan setelah berakhirnya perang pada tahun 1949, sekitar 700 ribuan penduduk Palestina menjadi asing di negeri sendiri, mengungsi ke negara-negara tetangga. Dan tersisa 150ribuan saja di tanah Palestina yang dikuasai Israel saat itu.

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu mudahnya Israel menguasai sebagian besar tanah Palestina, membantai dan mengusir sebagian besar penduduknya. Salah satu penyebab utamanya adalah, pihak Israel telah melakukan mata-mata terhadap semua desa di Palestina sejak lama, mereka memanfaatkan keterbukaan dan kebaikan penduduk Palestina terhadap tamu yang datang kepada mereka. Setelah itu mengetahui kondisi masing-masing desa, apa saja kekuatan dan kelemahannya, mereka pun membuat perencanaan yang matang untuk melakukan penyerangan terhadap semua desa yang ada di Palestina. Bagaimana strategi menduduki dan menguasai, dan bagaimana mengusir dan melawan penduduk semua desa telah dirancang dengan rapi dan tersembunyi.

Wilayah Palestina yang tersisa di wilayah Tepi Barat secara resmi digabungkan bersama Yordania. Jalur Gaza juga digabungkan secara administrasi bersama pemerintahan Mesir. PBB di bawah desakan Amerika Serikat kemudian menyetujui masuknya Israel sebagai salah satu anggotanya dengan syarat memperbolehkan para pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka. Namun anehnya, hingga saat ini syarat itu tak pernah dipenuhi oleh pihak Zionis Israel!

Menyikapi Hari Al-Nakba

Entitas Israel yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat ini berdiri di atas kezhaliman, dan prinsip-prinsip rasis dan dogma-dogma agama Yahudi yang telah diselewengkan. Entitas ini juga tidak menentukan batas-batas negaranya dengan jelas, sebab mereka memimpikan negeri yang luas terbentang di antara dua sungai sebagaimana tergambar pada bendera mereka, yakni sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Irak.

Malapetaka ini sebenarnya tidak menimpa bangsa Palestina saja, melainkan juga seluruh umat Islam sedunia. Sebab sejak saat itu, entitas ini juga menginjak-injak kesucian Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Mereka ingin meruntuhkannya dan menggantinya dengan bangunan impian mereka, kuil Sulaiman. Pertanyaannya, akankah kita membiarkan malapetaka itu terus terjadi? Hasbunallaahu wani’mal wakiil…

Referensi

Abdullah Nashih Ulwan. 2012. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Solo: Pustaka Arafah

Ali Muhammad ash-Shalabi. 2011. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Al-Jazeera. 29 Mei 2013. Al-Nakba: Series on the Palestinian ‘catastrophe’ of 1948 that led to dispossession and conflict that still endures. url: http://www.aljazeera.com/programmes/specialseries/2013/05/20135612348774619.html?hc_location=ufi

Ferry Nur. 2010. Mavi Marmara Menembus Gaza. Jakarta: Gema Insani

Firas Alkhateeb. 23 April 2013. The Nakba: The Palestinian Catastrophe of 1948. url: http://lostislamichistory.com/the-nakba-the-palestinian-catastrophe-of-1948/

Herry Nurdi. Jejak Freemason & Zionis di Indonesia. Jakarta: Cakrawala Publishing

Mohsen Muhammad Sholeh. 2014. Memahami Prahara Palestina. Aqso Publishing

Setelah 30 Tahun Berlalu…

komandan-jihad

Tahun 51 Hijriyah

Pasukan Muslim berhasil memporakporandakan sarang-sarang kekufuran di muka bumi, di belahan Timur dan Barat. Mereka membawa cahaya aqidah yang terang benderang dan mata air keimanan yang menyejukkan bagi segenap umat manusia yang sebelumnya tenggelam dalam gelapnya kejahiliahan. Mereka mengulurkan tangannya untuk kemaslahatan dunia dan akhirat, menyebarkannya hingga ke sudut-sudut dan lorong-lorong bumi yang sebelumnya tertutupi oleh kabut kekufuran, serta membebaskan mereka semua dari belenggu penghambaan kepada sesama makhluk kepada pengabdian total kepada Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya.

Saat itu, sahabat Nabi SAW yang agung, Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi radhiyallaahu ‘anhu, amir di Khurasan, pembuka pintu Sajistan, dan panglima yang handal tengah memimpin pasukan perangnya di jalan Allah, didampingi oleh seorang budaknya yang loyal. Farrukh namanya.

Allah SWT menganugerahkan kemenangan padanya atas Sajistan dan daerah-daerah lainnya. Tidak berhenti di situ saja. Ar-Rabi’ bin Ziyad ingin melengkapi kemenangannya yang gemilang dengan melintas sungai Seyhun – sungai yang saat ini melintasi empat negara: Kyrgistan, Uzbekistan, Tajikistan dan Kazakhstan – untuk mengibarkan panji tauhid di bukit-bukit yang berada di seberang sungai tersebut.

Ar-Rabi’ bin Ziyad pun mempersiapkan pasukan untuk menyongsong perang yang telah direncanaknnya, mengatur strategi dan memberikan pengarahan tentang saat yang tepat untuk menyerang, juga posisi musuh yang hendak diserangnya.

Perang pun pecah. Ar-Rabi’ bin Ziyad beserta pasukannya yang militan bertabur seruan tasbih dan pekikan takbir menunjukkan kebolehannya dalam berperang di jalan Allah SWT. Budaknya, Farrukh juga memperlihatkan kegagahan dan ketangkasannya dalam medan perang, hingga membuat Ar-Rabi’ bin Ziyad semakin kagum terhadap dirinya.

Usailah peperangan yang menentukan itu. Kemenangan jatuh ke tangan kaum Muslimin. Mereka berhasil menggoyahkan kaki-kaki musuh dan mencerai beraikan barisannya. Mereka pun menyeberangi sungai yang selama ini menjadi penghalang tersebarnya dakwah Islam ke Turki dan negeri Cina nun jauh di belahan Timur sana.

Setelah berhasil menyeberangi sungai dan menginjakkan kaki di tepiannya, panglima dan pasukannya ini langsung mengambil air wudhu. Mereka menghadap kiblat, menunaikan shalat dua raka’at sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemenangan kepada mereka.

Ar-Rabi’ bin Ziyad kemudian memberikan hadiah kepada Farrukh atas andilnya yang besar dalam peperangan berupa kemerdakaan untuk dirinya. Farrukh juga mendapatkan ghanimah yang banyak ditambah lagi Ar-Rabi’ bin Ziyad memberikan hadiah khusus yang dikeluarkan dari kantongnya sendiri.

2 tahun kemudian.

Ajal pun datang menjemput Ar-Rabi’ bin Ziyad. Dia kembali kepada Allah SWT dengan penuh kerelaan dan keridhoan.

Adapun Farrukh – sang pemuda perkasa – berniat untuk kembali ke kota Nabi, Madinah. Dia pulang sambil membawa ghanimah dan hadiah, tombak yang digunakan untuk menerjang musuh, sekaligus membawa kemerdekaan dari tuannya, serta memori indah saat bergemul dengan debu-debu jihad di jalan Allah SWT.

Di usianya yang muda. Lincah, gagah dan perkasa, ia bertekad untuk membangun bahtera rumah tangga bersama seorang wanita yang shalihah. Dilamarnya seorang gadis yang sebaya usianya, matang pikirannya dan sempurna agamanya agar menjadi tenang dan sakinah kehidupannya. Dibelinya juga sebuah rumah nan sederhana di kota Madinah. Dia pun hidup berbahagia bersama sang kekasih dengan penuh kebahagiaan dan kenikmatan.

Namun rupanya, rumah yang nyaman, lengkap dengan segala kebutuhannya, belum lagi ada pendamping yang shalihah, dengan akhlak dan wajah yang jelita tak mampu meredam gejolak kerinduannya untuk terjun di medan jihad fii sabilillaah. Setiap kali mendengar berita kemenangan dan kemajuan yang dicapai oleh pasukan Muslim, maka semakin membuncah kerinduannya untuk turut serta, semakin menggebu-gebu hasratnya untuk mati di jalan-Nya.

Hari Jum’at, khatib masjid Nabawi memberikan kabar gembira tentang kemenangan yang berhasil diraih oleh kaum Muslimin di berbagai medan jihad. Tak lupa, khatib juga membakar semangat para jamaah untuk terus berjihad di jalan-Nya dan memberikan kabar gembira tentang keutamaan syahid demi meninggikan agama-Nya. Pulanglah Farrukh ke rumahnya sedang di hatinya telah bulat tekadnya untuk berjuang di bawah panji-panji Islam yang bertebaran di muka bumi.

“Wahai Abu Abdirrahman”, kata sang istri dengan lembut setelah Farrukh menjelaskan tekad dan keinginannya. “Kepada siapakah engkau hendak menitipkan aku beserta janin yang ada di dalam kandunganku ini, sedangkan engkau di sini adalah orang asing yang tak punya sanak famili di kota ini?

Farrukh pun menjawab, “Aku titipkan engkau, kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku juga meninggalkan 30.000 dinar (sekitar 50-an milyar rupiah), hasil yang pernah aku kumpulkan dari pembagian ghanimah di medan perang. Gunakanlah secukupnya untuk keperluanmu dan kebutuhan bayi kita kelak dengan sebaik-baiknya sampai aku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah. Atau Allah SWT memberikan nikmat berupa syahid sebagaimana yang pernah aku dambakan.” Farrukh pun pamit kepada istrinya, sambil membawa segenggam cita-citanya yang mulia tersebut.

Bersambung…

Musthafa As-Siba’i: Sang Politikus, Akademisi, Faqih dan Mujahid

Musthafa As-Siba'i

Musthafa As-Siba’i

Oleh: Ust. Saief Alemdar

Beliau adalah Musthafa bin Husni As-Siba’i, lahir di kota Homs tahun 1915 dari sebuah keluarga besar yang terkenal dengan keshalehan, keilmuwan dan ulama selama ratusan tahun. Sejak turun-temurun keluarganya menjadi iman dan khatib di masjid Agung Homs. Musthafa As-Siba’i sangat terpengaruh oleh ayahnya sheikh mujahid Husni As-Siba’i, yang cukup keras berjuang melawan penjajahan Perancis. Sejak kecil, Musthafa As-Siba’i selalu dibawa oleh ayahnya menghadiri majlis-majlis ilmu di Homs yang dihadiri oleh ulama-ulama besar Homs, makanya Musthafa kecil cukup sibuk dengan berbagai kegiatan, yang berlanjut sampai dia menjadi pemuda, sehingga saat melamar calon istri, orangtuanya mengatakan kepada keluarga calon istri bahwa Musthafa adalah aktifis yang cukup sibuk dengan kegiatan dakwah sehingga banyak waktunya tersita untuk dakwah, dan calon istrinya pun menyanggupi, kalau seandainya tidak, maka pernikahan itu tidak jadi.

Pada masa penjajahan Perancis, Musthafa muda ikut berjuang anti penjajah dengan membagi-bagi brosur anti Perancis dan memimpin demonstrasi melawan Perancis, saat itu umurnya masih 16 tahun. Tahun 1931 untuk pertama kalinya dia dijebloskan dalam penjara dengan tuduhan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Perancis.  Setelah lepas dia ditangkap kembali karena tuduhan yang sama melalui khutbahnya di masjid. Tidak sampai disitu, Musthafa muda ikut angkat senjata melawan Perancis.

Pad atahun 1933 Musthafa muda bernagkat ke Cairo untuk melanjutkan studinya di Azhar. Disana dia kembali membuat keributan dengan demonstrasi melawan penjajahan Inggris bersama pada mahasiswa Mesir lainnya. Pada tahun 1941 dia ditangkap bersama kawan-kawannya oleh pemerintah Mesir atas permintaan Inggris dan dijebloskan ke dalam penjara di Palestina.

Pada masa kuliah di Azhar, Musthafa berkenalan dengan Imam Hasan Al Banna, hubungan itu berlanjut sampai Musthafa kembali ke Suriah sebagai Doktor dalam ilmu Syariah, dan menjadi Doktor Syariah pertama di Suriah. Berkat hubungan yang akrab dengan Imam Hasan Al Banna, maka pada tahun 1942 beliau bersama para Ulama dan aktifis Suriah lainnya mengumumkan berdirinya kelompok Ikhwan Muslimin di Suriah, dan pada tahun 1945 Dr. Musthafa As-Siba’i terpilih sebagai Muraqib Aam Ikhwan Muslimin Suriah.

Pada tahun 1948, ketika terjadi perang Palestina, IM Suriah yang dipimpin sheikh As-Siba’i ikut mengangkat senjata melawan pendirian Negara Israel bersama pada anggota IM dari Mesir, Jordan dan Palestina. Pasukan IM Suriah dipimpin langsung oleh sheikh As-Siba’i.

Setelah “perang-perangan” terjadi antara Negara-negara Arab dengan Israel, para pasukan IM dari Mesir ditangkap oleh Pemerintah Mesir yang dipimpin oleh Mahmud Nukrashi Pasha, dan kemudian diserahkan tanah Palestina kepada Israel, tepat pada tanggal 8 Desember 1948 jamaah IM pun resmi dibubarkan.

As-Siba’i pun kembali ke Suriah dengan angkara murka, dia membocorkan adanya konspirasi dalam perang tersebut yang dipimpin jendral Inggris Letjend. Sir John Bagot Glubb. Dia juga mengatakan bahwa senjata-senjata yang diberikan kepada tentara Mesir adalah senjata rusak, dan juga penyataan panglima pasukan Irak yang mengatakan bahwa mereka tidak mendapatkan perintah untuk menyerang tentara Israel.

Dalam memorialnya “Ikhwan Muslimin dalam Perang Palestina” mengatakan: “ Ketika kami sedang berada di tengah medan perang, kami merasakan adanya manuver yang terjadi di tingkat internasional, khususnya dalam politik Negara-negara Arab, tiba-tiba kami mendapat perintah untuk mundur dari Quds, dengan berbagai pertimbangan kami mundur sesuai perintah, dan kami pikir nanti kami akan mengirim pasukan dari Damascus untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di Quds, dan apakah memungkinkan bagi kami untuk kembali ke Quds berjihad melawan Israel membebaskan Palestina. Ketika kami sampai di Damascus, senjata kami smeua dilucuti, dan mereka mengatakan akan memberikan kembali apabila diperlukan…

Saya pergi ke sleuruh Suriah dan mengatakan kepada seluruh umat Islam apa yang sebenarnya terjadi di Palestina dan bagaimana Negara-negara Arab mundur, semuanya terkejut mendengar kenyataan yang tidak mereka sangka”.

Sheikh Musthafa As-Siba’i kembali ke Suriah untuk berjuang melawan kondisi Negara yang rusak, korup, dan berjuang mendidik generasi muda sesuai tarbiyah Islamiyyah. Mendidik setiap individu dalam keluarga, sehingga akan tumbuh keluarga dengan pendidikan yang baik, dari keluarga-keluarga itu akan tercipta komunitas yang Islami, dari komunitas Islami tersebut akan tumbuh sebuah Negara islami yang memerangi kejahatan dna menerapkan syariah Tuhan, yang menjaga kemaslahatan umat manusia.

Sheikh As-Siba’i bersama para aktifis lainnya berhasil memperjuangkan masuknya “Tarbiyah Islamiyyah” ke dalam kurikulum  sekolah negeri di Suriah, dan juga mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Suriah yang sekarang disebut Universitas Damaskus dan beliau bertindak sebagai Dekan Pertama Fakultas tersebut. Kemudian beliau memprakarsai pembuatan “Ensiklopedia Fiqih Islami” berdasarkan Kitab, Sunnah, Fiqh Salaf dan Ijtihad Ulama, proyek ini diketuai oleh Prof. Musthafa Zarqa, diikuti oleh semua ulama-ulama muslim dari berbagai Negara.

Pada tahun 1950 beliau terpilih sebagai anggota parlemen Suriah dari kota Damascus, padahal beliau baru beberapa tahun menetap di Damascus, namun pergerakannya sudah dirasakan oleh masyarakat, sehingga masyarakat mempercayakan beliau sebagai wakil mereka di parlemen Suriah dan menjadi ketua parlemen Suriah. Pada tahun itu pula beliau terpilih sebagai 1 dari 9 anggota Panitia Penyusunan Konstitusi Suriah, beliau berjuang mati-matian untuk mempertahankan supaya “bau-bau” komunis dan atheis jauh dari konstitusi Suriah dan tetap Islami.

Pada tahun 1951 beliau menghadiri konferensi OKI di Pakistan, dan sepulang dari Pakistan tahun 1952 As-Siba’i bersama para aktifis IM meminta ijin dari Presiden untuk mengikuti perang Mesir melawan Inggris di Suez, tetapi Presiden Adeeb Shishakly pada saat itu malah mengeluarkan keppres supaya kelompok IM dibubarkan dan seluruh pengurusnya ditangkap, termasuk Sheikh As-Siba’i ditangkap dan dijbloskan dalam penjara. Setelah itu keluar keppres berisi pemecatan Prof. Dr. Musthafa As-Siba’i dari Universitas Suriah dan diasingkan ke Lebanon.

Pada tahun 1956 Prof. Musthafa As-Siba’i diutus oleh Universitas Suriah ke Eropa untuk melaksanakan studi banding tentang metode Islamic Studies di universitas-universitas Eropa, antara lain: Italia, Inggris, Irlandia, Belgia, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Jerman, Austria, Swiss, dan Perancis. Dalam kunjungan tersebut beliau benyak bertemu dengan para orientalis dan berdiskusi dengan mereka.

Buku-buku Sheikh Musthafa As-Siba’i:

Prof. As-Siba’i memiliki banyak karya, dimana beliau seorang akademisi, seorang ulama muhaqqiq dan termasuk fuqaha besar di Suriah, yang menguasai Ushul Fiqih secara mendalam, dan berpikiran sangat moderat. Diantara karya beliau: Sharh Qanun Ahwal Shaksiyyah (3 jilid), Al mar’ah bainal Fiqh wal Qanun, Sunnah wa Makanatuha Fi Tasyri’, Hakaza Allamatni Hayat (3 jilid) dan puluhan buku lainnya yang membahas masalah problematika masyarakat.

Anehnya, di saat beliau sakit itulah saat paling produktif, bahkan menurut Prof. Muhammad Adeeb Shaleh sehari sebelum meninggal beliau menulis naskah 3 bukunya yang kelak tidak selesai, yaitu “Ulama Aulia, Ulama Mujahidun, dan Ulama Shuhada”.

Pada tahun 1964, ketika beliau melaksanakan ibadah haji dan saat itu beliau sedang sakit, dan hampir lumpuh sebelah bandanya, beliau berkata, “ Ini yang pertama sejak 7 tahun saya sakit, saya mampu melaksanakan shalat berdiri di atas dua kaki saya, dan saya mampu duduk tasyahud, pertama kali sampai di Mekkah saya thawaf di atas kursi roda, namun ketika tawaf wada’ saya mampu thawaf sendiri tanpa kursi roda. Ketika sampai di Madinah, Allah menyembuhkan sakit gula saya, setiap paginya saya makan kurma Rasulullah 7 biji karena saya percaya pada hadis Rasulullah yang mengatakan kurma itu menjadi obat”.

Suatu hari, salah seorang sahabatnya membesuk beliau yang sedang sakit di rumahnya, beliau berkata, “Saya sedang sakit, tapi itu tidak masalah. Kamu juga bisa melihat sebagian badan saya tidak bisa bergerak lagi, tapi coba lihat hikmah Allah, Dia bisa saja melumpuhkan semua badan saya, dan memang telah dilumpuhkan, tapi lihat…itu sebelah kiri yang lumpuh, sedangkan sebelah kanan sehat, bayangkan kalau sebelah kanan yang lumpuh, maka saya tidak bisa lagi menulis apa-apa”.

Selama sakit, waktu beliau dipakai untuk menulis, salah satu buku beliau yang ditulis saat menyendiri sakit itu adalah “Hakaza Allamatni Hayat”, berisi pesan seorang ayah kepada anak, pesan pemimpin kepada generasi, dan pesan dai kepada umat, semuanya adalah pengalaman hidup beliau, ditulis dengan hati tulus, sehingga kalau membacanya terasa seperti siraman air.

Sakitnya itu berlangsung sekitar 8 tahun, selama itu beliau menunjukkan bagaimana sabar yang benar ketika menghadapi musibah, bagaimana melapangkan dada ketika menerima takdir Allah, dan beliau selalu bersyukur, memperbanyak tasbih dan istighfar, meskipun sakit seperti itu beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban dakwah. Dr. Hasan Huwaidy menceritakan suatu hari melihat Prof. As-Siba’i memakai tongkat berjalan ke kampus untuk mengajar. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa beliau memang tidak bisa berdiam diri, maunya berjihad, berkorban, berjuang dan berbuat.

Beliau meninggal dunia pada hari sabtu bertepatan dengan tanggal 3 Oktober tahun 1964 di Homs. Sheikh Muhammad Abu Zahra mengatakan, “Saya tidak melihat di Negeri Sham orang yang lebih semangat berjuang dari Musthafa As-Siba’i, tidak juga orang yang berjiwa besar seperti dia, dan tidak melihat orang yang mencintai Islam dan Muslimin melebihi Musthafa As-Siba’i”.

Muridnya, Prof. Dr. Fauzy Faidhullah mengatakan, “Pada saat itu ada dua singa panggung di Asia, yang bisa membuat orang tertawa ketika dia bicara dan setelah itu mampu membuat mereka menangis seketika, Sukarno di Indonesia dan Musthafa As-Siba’i di Suriah”.

Almarhum sheikhna Al Buty, mengomentari kondisi spiritual Dr. As-Siba’i semasa sakit itu bahwa Sheikh Musthafa benar-benar naik derajatnya semasa beliau sakit, hal itu terlihat dari wajahnya dan ucapannya yang ikhlas. Saat mengunjungi sheikh Musthafa, Al Buty masih seorang dosen baru di universitas Damascus, dan As-Siba’i mantan Dekan dan Pendiri Fakultas Syariah di Universitas tersebut. Rahimallah Prof. Dr. Musthafa As-Siba’i. (Islamic History)

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Permata Hati yang Terlupa

Diterjemahkan oleh: Ust. Fachriy Aboe Syazwiena

Abu Bakr bukanlah orang faqir seperti Abu Dzar, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia di antara mereka itu.

Abu Bakr tak pernah disiksa seperti Khubab, Bilal, Sumayyah, Yasir, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia dibanding mereka yang disiksa itu.

Abu Bakr tak terbunuh sebagai syahid seperti Umar, Utsman, Ali, Hamzah, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi sosok terbaik dan termulia dibanding mereka para syuhada itu.

Rahasia apakah yang dimiliki Abu Bakr hingga sosoknya mampu mengalahkan mereka yang gemilang dalam prestasi ukhrawi masing-masing?

Kita biarkan seorang tabi’in menyingkap tabir kemuliaan Abu Bakr.

Bakr bin Abdillah al-Muzaniy berkata:

“Abu Bakr menggapai itu semua dan melebihi mereka bukan karena tingginya kuantitas shalat, puasa dan lainnya namun karena sesuatu yang menetap di hatinya yaitu amalan-amalan hati.”

Itulah yang dicapai Abu Bakr yang tak bisa digapai oleh amal-amal lain. Itulah yang menjadikan imannya lebih tinggi dibanding iman penduduk bumi jika memang mesti ditimbang.

Umar berkata:

“Kita telah memahami bahwa iman adalah amalan hati, ungkapan lisan dan peragaan anggota badan. Namun kita begitu mengusahakan rupa dan penampilan amal dan kuantitasnya. Begitu pula dgn ungkapan lisan. Namun sengaja melupakan mutiaranya yaitu ‘amal alqalb (amalan hati).

Setiap ibadah ada tampilan dan permata.

Ruku, sujud dan rukun lainnya dalam shalat ada tampilan namun khusyu adalah permatanya.

Menahan diri dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga maghrib adalah tampilan puasa namun takwa adalah permatanya.

Sa’i, thawaf, wukuf, dan melempar jumrah adalah tampilan haji namun pengagungan terhadap syiar Allah adalah permatanya.

Mengangkat tangan, menghadap kiblat, lafadz munajat dan pinta adalah tampilan doa namun ketundukan dan kepasrahan adalah mutiaranya.

Bertasbih, tahlil, takbir dan lainnya adalah tampilan dzikir namun pemuliaan, kecintaan, khauf dan raja’ adalah permatanya.

Permata di balik permata adalah penekanan amalan hati lebih diutamakan dibanding amalan anggota badan.

Esok akan datang: ((hari dinampakkan segala rahasia)) at-Thariq: 9

Esok pula: ((Dinampakkan apa yang ada dalam dada)) qs. Al-Adiyat: 10

Esok tak akan melesat ke Surga: ((kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang bersih)) qs as-Syuaro: 89

Esok tak melesat pula ke Surga kecuali: ((orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman)) qs al-Qaf: 34.

Posted from WordPress for Windows Phone

Hasan al-Banna, Mujaddid Yang Syahid

Imam asy-Syahid Hasan al-Banna

Imam asy-Syahid Hasan al-Banna

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini setiap permulaan seratus tahun, orang yang memperbarui agamanya”[1]

Hadits yang mulia ini, memberikan –paling tidak- dua pelajaran kepada kita.

Pertama. Rasulullah ‘Alaihi Shallatu was Salam hendak membangkitkan optimisme pada jiwa kaum muslimin, bahwa Islam tidak akan mati; dalam setiap masa tertentu Allah ‘Azza wa Jalla mengutus orang yang mentajdid (memperbarui) agamaNya dan menghidupkan syariatNya.

Makna ‘ala ra’si kulli mi-ah sanah (pada setiap permulaan seratus tahun) artinya bukan di tahun 100 atau 101, tetapi pada penghujung akhir abad dan awal dari abad selanjutnya. Tidak ada riwayat yang menerangkan apakah yang dimaksud adalah tahun hijriyah, atau dari tahun wafatnya Rasulullah, atau tahun diutusnya beliau sebagai Rasul (masa bi’tsah). Yang pasti, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan membiarkan terombang ambing tidak menentu, tanpa orang atau sekelompok orang yang membimbing (mursyid), agar mereka bangkit dari keterpurukan, terjaga dari tidur panjangnya.

Tidak sedikit dari umat ini yang pesimis melihat keadaan zaman dan kerusakan manusia. Mereka berdalil dengan zhahir hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Tidak datang kepadamu masa melainkan masa sesudahnya lebih buruk darinya.”[2]

Alangkah baiknya hadits ini tidak difahami secara tekstual dan umum. Imam Ibnu Hajar telah memberikan ta’wil yang benar ketika ia berkata:

“Hadits ini maksudnya khusus bagi para sahabat yang mendengarnya, walaupun Anas bin Malik memahaminya untuk umum.”[3]

Padahal telah banyak hadits-hadits kabar gembira yang melahirkan optimisme kita. Lalu, kemanakah hadits-hadits tersebut?

“Umatku laksana hujan, tidak diketahui apakah yang baik itu awalnya atau akhirnya.”[4]

Dari Ubai bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu: “Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kedudukan yang tinggi, derajat yang mulia, agama dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka ia tidak mendapat bagaian di akhirat.”[5]

Kedua. Dari hadits mulia tersebut, bisa kita fahami bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadirkan untuk umat ini di awal setiap abad seorang tokoh (atau sekelompok orang) yang mengembalikan Islam seperti keadaan masa awalnya (tajdid).

Mayoritas ulama memaknai kalimat man yujaddidu (orang yang mentajdid) adalah bentuk mufrad (singular/tunggal), maka dalam pandangan mereka mujaddid hanyalah satu orang untuk setiap abad. Imam as Suyuthi telah membuat syair panjang yang merekam nama-nama mujaddid dari abad pertama hingga zamannya (abad 9), bahkan ia mengklaim dirinya adalah pembaharu zamannya, namun ditolak oleh manusia sezamannya.

Ringkasnya dari syair itu, mujaddid abad pertama adalah Umar bin Abdul Aziz (w. 101H), Abad kedua adalah Imam asy Syafi’i (w. 204H). Setelah dua abad ini, para ulama tidak ada kata sepakat siapa para mujaddid sebenarnya. Abad ketiga adalah Imam Abu Hasan al Asy’ary (w. 324H), Imam Ibnu Suraij (w. 306H), dan Imam an Nasa’i (W. 303H). Abad keempat adalah Imam al Baqilani (w. 403H) dan Imam Abu Hamid al Isfirayini (w. 406H). Abad kelima ditempati oleh Imam al Ghazaly (w. 505H). Abad keenam Imam Fakhrurrazi (w. 606H), ada pula yang menyebutkan Imam ar Rafi’i (w. 623H). Abad ketujuh diisi oleh Imam Ibnu Daqiq al ‘Ied (w. 703H). Abad kedelapan ditempati oleh Imam Zainuddin al Iraqy (w. 808H) atau Imam al Bulqiny (w. 805H). Imam as Suyuthi (w. 911H) menyebut dirinya sebagai mujaddid abad kesembilan. Demikian.

Ada pula ulama yang memaknai man yujaddidu adalah bentuk jamak (plural), sebab pada asalnya kata man memang bisa untuk tunggal dan jamak. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam adz Dzahabi, Imam Ibnul Atsir, Syaikh al Qaradhawy, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagian ulama menyatakan bahwa pembaharu bisa terjadi pada banyak bidang, baik waktu bersamaan atau tidak. Ada mujaddid dari kalangan pemimpin, fuqaha, mutakallimin (teolog), ahli hadits, qurra (pembaca qur’an), mufassir, ahli zuhud, juru da’wah, gerakan da’wah, dan lain-lain.

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ini pendapat yang benar, karena terhimpunnya beberapa kriteria yang perlu diperbarui tidak terbatas pada satu jenis saja, dan tidak harus semua sifat kebaikan terkumpul pada satu orang belaka (kecuali Umar bin Abdul Aziz). Dia menjadi mujaddid abad pertama karena memiliki semua sifat kebaikan, sampai-sampai Imam Ahmad mengatakan bahwa para ulama mengarahkan hadits tentang tajdid kepadanya. Setelahnya adalah Imam asy Syafi’i karena beliau memiliki sifat-sifat keutamaan, walau ia tidak tampil dalam arena jihad dan tidak menjadi penguasa yang dengannya bisa menegakkan keadilan.”

Atas dasar ini, Ibnu Hajar berpendapat bahwa setiap orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut di awal abad adalah mujaddid, baik perorangan atau bukan.[6]

Apa itu Tajdid ?

Imam al Azizi –mengutip ucapan Alqami- bahwa tajdid adalah menghidupkan semangat pengamalan Al Qur’an dan As Sunnah, serta menunaikan segalan tuntutan keduanya.[7] Imam al Manawy berkata tajdid adalah menjelaskan perbedaan antara sunah dan bid’ah, memperbanyak ilmu, menolong ahlus sunnah, dan menghancurkan ahli bid’ah.[8] Ia juga berkata tajdid agama adalah mereaktualisasikan hukum syara’ yang telah terpendam, menghidupkan kembali petunjuk-petunjuk sunah yang telah lenyap, serta ilmu-ilmu lahir dan batin yang tersembunyi.[9]

Ada juga yang mengatakan, tajdid adalah mengembalikan agama ini sebagaimana awalnya ia ada, membuatnya seperti yang dibawa oleh generasi pertama umat ini. Bukan menggantinya dengan ajaran baru yang tidak dikenal syara’ dan sejarah umatnya. Ibarat bangunan, tajdid adalah menjaga esensi bentuknya dengan menambal yang bocor, menutup yang retak, mengokohkan yang rapuh, membersihkan yang kotor, dan merenovasi yang usang. Sehingga menjadi seperti bentuk dan kondisi awal ia ada. Bukan merubuhkan gedung tersebut, lalu dibuat gedung baru. Itulah tajdid a la JIL, yang tebih layak disebut tabdid (merusak).

Begitu pula tajdid dalam agama. Bukan merubahnya menjadi wajah baru, tetapi mengembalikannya seperti era tiga zaman terbaik, era Rasulullah dan sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Hasan al Banna dan Tajdid

Tokoh sentral dalam buku ini, apakah dalam dirinya terhimpun kepribadian seorang mujaddid? Wallahu A’lam (inilah jawaban yang lebih selamat).

Banyak tokoh yang menyatakan demikian, khususnya mereka yang pernah berinteraksi langsung dengannya, atau yang menelaah sepak terjang da’wahnya. Saya tidak mengatakan bahwa umat telah aklamasi tentang ini, paling tidak, kebanyakan mereka meyakini bahwa Imam Hasan al Banna – rahimahullah- sebagai lokomotif utama dan pemilik saham terbesar bagi kebangkitan islam abad 14 Hijriyah hingga sekarang.

Syaikh Muhammad al Ghazaly –rahimahullah- dalam pengantar bukunya Dustur al Wihdah ats Tsaqafiyah berkata: “Inspirator buku ini dan pemilik tema-tema bahasannya adalah al ustadz Hasan al Banna yang saya lukiskan, juga oleh orang banyak bahwa ia adalah seorang mujaddid abad 14 hijriyah. Ia telah meletakkan dasar-dasar yang merangkum kekuatan yang terpisah-pisah, menjelaskan tujuan yang hendak dicapai, membumikan kitab Allah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di kalangan kaum muslimin di samping menjelaskan faktor-faktor naik turunnya umat …”.

Upaya pembaruannya yang amat mudah terbaca adalah wacana yang beliau gulirkan tentang konsep Syumuliyatul Islam (integralitas Islam) yang tertera dalam poin pertama ushulul ‘isyrin (dua puluh prinsip). Pemikiran ini bukanlah ajaran baru, melainkan upaya reaktualisasi pemahaman dan pengamalan berislam yang telah lama terpendam. Pada masanya, banyak ulama, da’i, dan organisasi da’wah dan kebajikan yang memahami dan menampilkan Islam secara juz’iyah (parsial). Hanya terkonsentrasi pada sudut tertentu, melupakan yang lain. Masing-masing mereka asyik dengan agenda perjuangannya sendiri. Ada yang titik berat kepada da’wah pembinaan pemuda saja, yang lain memberantas kemungkaran. Ada yang memerangi bid’ah dan khurafat saja, yang lain sibuk dengan amal shalih dan wirid-wiridnya, dan seterusnya. Mereka seperti orang buta yang sedang mendeskripsikan gajah. Ada yang mengatakan gajah itu tinggi seperti pohon kelapa, sebab yang ia pegang adalah kakinya. Yang lain membantah, gajah itu seperti ular, sebab ia mememgang belalainya. Yang lain juga membantah, gajah itu seperti gentong besar, sebab ia memegang perutnya. Yang lain ikut membantah, gajah itu seperti kipas, tipis dan lebar, sebab ia memegang telinganya.

Hasan al Banna tidak mau Islam difahami secara serpihan seperti itu, sebab tidak demikian Islam yang difahami dan diamalkan oleh generasi awal umat ini. Bila kita mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah secara utuh, maka akan kita jumpai luas dan sempurnanya ajaran Islam. Kita dituntut untuk memahami serta memperhatikan itu semua secara menyeluruh dan seimbang. Sebab ketika kita menitikberatkan pada satu hal, saat yang bersamaan biasanya akan melalaikan hal lain. Namun, demikian Hasan al Banna tidaklah menyalahkan manusia-manusia zamannya, ia hanya menengahkan apa yang seharusnya difahami dan diamalkan. Demikianlah seharusnya seorang da’i, tidak mudah menyalahkan, tetapi memberikan solusi.

“Islam adalah agama yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih. (Hasan al Banna, Risalatut Ta’alim wal Usar, h. 7. Dar an Nashr lithiba’ah al Islamiyah, Mesir)

Tidak ada pakar yang mengingkari, demikianlah memang Islam seharusnya. Akhirnya, pemikian ini menjadi tren bagi penggiat kebangkitan Islam baik dinegeri-negeri muslim atau bukan, baik dibawah asuhan Ikhwanul Muslimin atau tidak.

Nampaknya, butuh banyak halaman bahkan satu buku untuk mengeksposisikan peran tajdid Imam Hasan al Banna -rahimahullah. Buku yang sedang Anda baca ini, adalah salah satu referensi untuk memperoleh gambaran tentang peran tajdid dan jihad beliau dalam da’wah Islam dan kehidupan secara umum. Ia tidak hanya mereformasi pemikiran, tetapi juga menerapkannya. Tidak hanya menggagaskan bangunan pergerakan, tetapi juga mendirikannya bahkan menjadi pimpinannya. Tidak hanya mengajak, tetapi juga menjadi penggerak utamanya. Ia adalah model bagi para pemimpin amal Islami. Yang jelas, sebagaimana yang digambarkan oleh Syaikh al Ghazaly, Syahidul Islam Sayyid Quthb, Abul Hasan al hasani an Nadwi, Abdus Salam Yasin, Ia adalah seorang yang jenius yang berhasil memformulasikan metode pendidikan, pendirian dan pengorganisasian bangunan pergerakan, pemurnian pemikiran, reaktualisasi ajaran, serta pembentukan pribadi-pribadi unggulan, di tambah dengan amal jihad yang kongkrit di berbagai medan jihad sesungguhnya. Tidak ada maksud saya menyejajarkannya dengan Umar bin Abdul Aziz atau Imam asy Syafi’i, dan itu tidak mungkin. Sebab mereka memiliki permasalahannya masing-masing.

Syaikh al Qaradhawy menyatakan, bahwa pada diri Hasan al Banna terhimpun metode al Afghani, kecerdasan Abduh, serta keilmuan Rasyid Ridha, bahkan Al Banna lebih. Sebab tokoh-tokoh tersebut hanya meninggalkan karya pemikiran, tanpa mewariskan generasi binaan. Sedangkan Hasan al Banna memiliki itu semua.

Tidak dipungkiri, ada segelintir pihak yang mengkritik Hasan al Banna dengan tujuan merendahkannya sebagai seorang yang tidak pantas dissbut ‘alim apalagi disejajarkan dengan ulama-ulama sebelumnya. Lantaran ia belum pernah membuat kitab-kitab ilmiah sebagaimana ulama sebelumnya. Pernyataan mereka itu, seakan mengajak umat untuk meragukan keilmuannya. Sungguh jika ukuran kemuliaan seseorang dilihat dari berapa banyak kita yang dihasilkan, tentulah para sahabat nabi menjadi kelompok pertama yang ‘tidak mulia’, sebab mereka tidak pernah menghasilkan karya-karya ilmiah yang bisa dinikmati generasi sekarang. Tentu ini pandangan sinisme yang naif. Hendaknya mereka paham, bahwa setiap zaman memiliki peristiwa yang khas, setiap peristiwa selalu menghasilkan tokoh utama (atau tokoh itu yang menciptakan peristiwa), dan setiap tokoh utama selalu dihadapkan kondisi yang spesifik dengan penanganan yang spesifik pula. Umar bin Abdul Aziz adalah mujaddid, tetapi adakah karya ilmiah yang ia wariskan? Yang ada hanyalah bulir-bulir pemikiran dan fatwanya yang berserakan dalam berbagai kitab ulama yang mencatatnya, bukan kitab karyanya sendiri. Kenapa? Sebab memang bukan itu tuntutan yang dihadapinya.

Hasan al Banna pernah ditanya, kenapa ia tidak menyusun kitab. Ia menjawab bahwa dirinya lebih suka menghasilkan dan mencetak rijal dibanding buku, sebab buku akan tersimpan dan usang di raknya, hanya segelintir yang mau menikmati manfaatnya. Sedangkan rijal akan menjadi buku berjalan yang memberikan manfaat bagi siapa saja yang bersentuhan dengannya. Faktanya, itulah yang terjadi. Dari tempaannya, lahirlah rijalud da’wah yang tersebar seantero bumi. Mereka ada yang menjadi ahli fiqih seperti Abdul Qadir Audah, Abdul Halim Abu Syuqqah dan Yusuf al Qaradhawy, muhaddits seperti Muhibbudin al Khathib dan Abdul Fattah Abu Ghudah, pemikir dan penulis handal seperti Sayyid Quthb, Muhammad Quth, Muhammad al Ghazaly, Taufiq Yusuf al Wa’iy, Fathi Yakan dan lain-lain.

Hasan al Banna, seorang yang Syahid

Ia syahid, Insya Allah. Itulah model kematian yang paling dicari para pejuang. Ia dibunuh oleh kaki tangan penguasa ketika sedang memperjuangkan syariat Islam di negerinya, amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa tiran. Umat menyebutnya Asy Syahid, tanpa ada yang mempermasalahkannya, kecuali segelinter saja dari para perajin kedengkian.

Syaikh Abdurrahman al Jibrin mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Taufiq al Wa’iy dalam Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubuhat wa Rudud, “Hasan al Banna dan Sayyid Quthb telah lama disebut Asy Syahid oleh manusia lantaran kezaliman yang menimpa mereka berdua hingga akhir hayatnya.”

Mengapa ia disebut syahid? Ada beberapa alasan.

Pertama. Rasulullah bersabda dalam hadits shahih riwayat Abu Daud, “Jihad paling utama (afdhalul jihad) adalah mengutarakan kebenaran (Al Haq) kepada penguasa yang zalim.”

Tidak dipungkiri Hasan al Banna wafat ditangan penguasa yang zalim lantaran perjuangannya, sebagaimana dahulu Imam Ahmad dan Imam Ibnu Taimiyah. Saya tidak akan mengulang kisah perjuangan Al Banna, yang pasti ia dibunuh karena itu. Nah, disebut apa orang yang mempersembahkan jiwanya, dibunuh karena perjuangannya? Itulah afdhalul jihad sebab ia dibunuh oleh penguasa tiranik pada masanya.

Kedua. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR. Al Hakim, ia nyatakan shahih. Adz Dzahabi menyepakatinya)

Dari hadits ini dapat kita ketahui. Penghulu para syuhada ada dua orang. Pertama Rasulullah menyebut langsung secara definit yaitu pamannya sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib. Kedua Rasulullah hanya memberikan kriterianya, yaitu mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka.

Hasan al Banna karena menda’wahi penguasa zalim, mereka takut dengan da’wahnya kekuasaannya terancam, lalu mereka membunuhnya. Menurut hadits ini, ia syahid, bahkan penghulu para syuhada. Wallahu a’lam.

Ketiga. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela agamanya, ma ia syahid. Terbunuh membela dirinya, ia syahid. Dan terbunuh karena membela keluarganya, ia syahid.” (HR. Ahmad (1565), Tirmidzi (1341), dari Said bin Zaid, ia menshahihkannya, An Nasa’I (4026), Abu Daud (4142) )

Rasulullah menyatakan syahid orang ‘sekadar’ membela diri dan keluarga, lalu bagaimana dengan membela agama dan kehormatan syariat Allah? Bukankah itu syahid? Dan Al Banna sebagaimana yang dikatakan banyak manusia, afna hayatahu fid da’wah (telah habis masa hidupnya untuk da’wah).

Lebih penting ditekankan di sini adalah, apa yang kita lakukan untuk meneruskan perjuangan para pejuang Islam, agar gelar kemormatan syahid bukan hanya milik mereka. Yaa Ikhwan, aina nahnu min ha’ula? (di mana posisi kita di antara mereka?)

Al Faqir ila Rabbihi
ustadz Farid Nu’man
12 Muharram 1427 H/ 11 Februari 2006
…………………………………….

[1] Hadits ini dishahihkan banyak ulama, seperti Imam Mundziri, Imam as Suyuthi, Imam al manawi, Imam Hakim, Imam Zainuddin al Iraqi, Syaikh al Albany, dan Syaikh al Qaradhawy. Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany –rahimahullah: Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud (no. 4291), Abu Amr ad Dani dalam Al Fitan (1/45), Al Hakim (4/522), Al baihaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar (h. 52), Al Khathib dalam At Tarikh (2/61), Al Harawi dalam Dammul Kalam (2/111) dari beberapa sanad dari Ibnu Wahb: Said bin Ayyub telah memberitakan kepadaku dari Syarahil bin Yazid al Mu’afiri dari Abu al Qamah dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: (lalu disebutkan hadits di atas)

Saya (Syaikh al Albany) berpendapat: Al Hakim dan Adz Dzahabi tidak berkomentar. Sedangkan Al Manawi telah mengutip bahwa Ibnu Wahb telah menyatakan keshahihan-nya. Namun barangkali dalam naskah cetak kitab Al Mustadrak keterangan ini hilang. Sedang sanadnya adalah shahih, rijalnya tsiqah serta dipakai oleh Imam Muslim. Dalam sanad yang ada pada Al Hakim dan Al Harawi, Syarahil tertulis Syurahbil. Saya tidak yakin ia adalah perawi yang terjaga. Hal ini diisyaratkan oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar al Asqalany) dalam biograpi Syrahbil bin Syuraik dalam kitab At Tahzib. Wallahu A’lam

Namun komentar Abu Daud tidak menjelaskan cacat hadits tersebut: “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Syuraih al Iskandarani. Sementara Syarahil tidak memenuhi syarat.”

Hal tersebut disebabkan karena Said bin Ayyub adalah tsiqah. Demikian dalam At Taqrib. Ia telah menyambungkan sanadnya. Jadi tambahan tersebut dari perawi yang tsiqah, maka harus diterima. (Silsilah al Ahadits as Shahihah, Juz. II, h. 151, hadits no. 599. Al Maktab Al Islami, Beirut )

[2] HR. Bukhari, bab Al Fitan. no. 7068

[3] Fat-hul Bari , Imam Ibnu Hajar, 13/21

[4] HR. At Tirmidzi no. 2873 dari Anas radhiallahu, ia berkata hasan gharib. Al Manawi berkata: Ibnu Hibban menshahihkannya dari jalur Ammar, Faidhul Qadir 5/507. Ibnu Hajar dalam Fat-hul Bari berkata bahwa hadits ini hasan namun punya banyak jalur sehingga naik menjadi shahih.

[5] HR. Ahmad. Nuruddin al Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaid, 10/220: para perawinya adalah para perawi shahih. Al Mawarid no. 2501. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqy. Al Hakim berkata: Shahih sanadnya. Begitu pula menurut Syaikh al Albany, Shahih Targhib wa Tarhib, 1/87-88

[6] Fat-hul Bari , 12/295

[7] Sirajul Munir, 1/411

[8] Faidhul Qadir, 2/281-282

[9] Ibid, 1/10 – See more at: http://www.faridnuman.com/2015/02/hasan-al-banna-mujaddid-yang-syahid.html#sthash.FNHogOPs.dpuf

Mencuri di Rumah Mufti

Kaaba_by_muhammadibnabdullah

Akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur itu memang lebih menyentuh daripada untaian kalimat. Nasihat dengan keteladanan lebih mengena daripada ucapan lisan. Itulah yang dipraktikkan oleh seorang ulama Rabbani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Selain menasihati umat dengan lisan dan tulisan, beliau juga membuat hati manusia tunduk dan jiwa-jiwa terketuk dengan keteladanan. Di antara contoh yang sangat mengagumkan dari keteladanan beliau adalah bagaimana beliau memperlakukan seorang pencuri yang tertangkap basah menyatroni rumahnya.

Salah seorang penuntut ilmu menceritakan:

Saat aku beri’tikaf di Masjid al-Haram di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, aku menghadiri majelisnya Syaikh Ibnu Utsaimin yang diadakan setelah shalat subuh usai. Ada seseorang bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan yang menurutnya terdapat kerancuan dan bagaimana pandangan Syaikh Ibnu Baz terhadap kasus tersebut. Syaikh Ibnu Utsaimin pun menanggapi si penanya dan memuji Syaikh Ibnu Baz rahimahumallahu jami’an.

Saat aku sedang hanyut dalam pembahasan pelajaran, tiba-tiba seorang laki-laki di sampingku –mungkin usianya akhir 30-an- sedang berurai air mata. Kemudian isak tangisnya mulai merambat ke telinga para peserta kuliah subuh itu.

Ketika pelajaran usai, kulemparkan pandanganku kepada laki-laki yang menangis tadi. Kulihat ia tengah memegang mush-haf dan tenggelam dalam kesedihannya. Kudekati dia meskipun terlihat ia tampak menghindar. Kuucapkan salam padanya dan kemudian aku bertanya, “Kaifa haaluka yaa akhi? Maa yubkiika?” (Apa kabarmu saudaraku? Apa yang membuatmu menangis?) Ia menjawab dengan suara parau yang tidak jelas. Terdengar hanya jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Aku pun mengulangi pertanyaanku, “Maa yubkiika akhi?” (Apa yang membuatmu menangis?).

Dengan wajah bersunggut-sunggut kesedihan ia menjawab, “Laa laa syai-a, innama tadzakkartu Ibnu Baz, fabakaitu” (Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Ibnu Baz. Kemudian aku pun menangis.).

Aku menangkap logatnya, akau tahu ia adalah seorang yang berasal dari Pakistan walaupun ia mengenakan pakaian Saudi. Akhirnya ia pun bercerita:

Dulu aku mengalami sebuah kejadian bersama beliau. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang satpam di salah satu pabrik di Kota Thaif. Kemudian sepucuk surat dari Pakistan sampai kepaku. Surat ini membawa kabar bahwa ibuku dalam keadaan sekarat/koma. Dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi transplantasi ginjal. Dan biayanya sebesar 7.000 Riyal Saudi. Sedangkan aku hanya memiliki 1.000 Riyal. Tidak kutemui seorang pun yang dapat membantuku demikian juga dari perusahaan.

Jika operasi tidak dilakukan dalam waktu satu pekan, kemungkinan ibuku akan meninggal. Keadaannya benar-benar tinggal menghitung hari. Aku menangisi ibuku. Karena dialah yang mengasuhku. Yang bergadang di malam hari untuk menjagaku. Situasi kepepet ini pun membuatku nekad. Akhirnya aku melompat masuk ke salah satu rumah di dekat pabrik tempatku bekerja. Kumasuki tempat itu pukul dua dini hari.

Setelah aku berhasil meloncati pagar rumah itu, beberapa saat kemudian tanpa kusadari petugas keamanan telah menangkapku. Mereka melemparku ke dalam mobil. Saat itu, betapa gelap dunia ini kurasakan.

Kemudian, menjelang shalat subuh, datanglah seorang polisi. Ia mengembalikanku ke rumah yang kusatroni tadi. Yang hendak kujarah barangnya. Polisi itu menempatkanku di suatu tempat, lalu ia pergi berlalu.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda dengan membawa makanan. Ia berkata, “Kul! Bismillah” (Makanlah dengan menyebut nama Allah).

Aku heran dan bingung. Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Saat adzan fajar berkumandang, orang-orang di rumah itu berkata kepadaku, “Tawadhdha’ lish shalah” (Wudhulah untuk shalat). Rasa khawatir dan takut menggerayangi tubuhku.

Lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah sepuh. Ia dituntun oleh seorang pemuda menuju padaku. Laki-laki tua itu menyalamiku kemudian mengucapkan salam. “Hal akalta?” (Sudah makan?) tanyanya. “Na’am” jawabku. Ia pun meraih tangan kananku lalu menggandengku pergi bersama ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Setelah shalat, kulihat laki-laki tua yang memegang tanganku itu duduk di sebuah kursi di baris depan masjid. Para jamaah dan pelajar pun mendekat, duduk di sekelilingnya. Mulailah Syaikh itu menyampaikan pelajaran.

Seketika itu kuletakkan kedua tanganku di kepala. Aku malu dan aku juga takut. “Ya Allaaah.. apa yang sudah aku lakukan??? Aku mencoba mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz” gumamku. Aku tahu, nama Syaikh Ibnu Baz karena beliau begitu tenar di negaraku Pakistan.

Setelah pelajaran usai, Syaikh kembali membawaku ke rumahnya. Dengan hangat, ia kembali menggapai tanganku dan mengajakku sarapan pagi. Sarapan yang dihadiri banyak orang-orang. Ia dudukkan aku di sampingnya. Sambil menyantap sarapan beliau bertanya, “Masmuka?” (Siapa namamu?) “Murtadha.” Jawabku.

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Beliau menanggapi, “Hasanan.. sanu’thika 9.000 Riyal.” (Baik, akan kami berikan 9.000 Riyal untukmu). “Al-mathlub 7.000 Riyal” (Yang dibutuhkan hanya 7.000 Riyal).

Beliau menanggapi, “Sisanya ambillah untukmu. Tetapi jangan kau ulangi lagi perbuatan mencuri itu wahai anakku”. Aku pun mengambil uang itu. Kuucapkan terima kasih kepadanya. Dan kudoakan kebaikan untuknya.

Setelah itu aku pulang ke Pakistan untuk membiayai operasi ibuku. Alhamdulillah ibuku bisa kembali sembuh.

Lima bulan kemudian, aku kembali ke Saudi. Dan langsung menuju Riyadh. Aku mencari Syaikh dan kukunjungi kediamannya. Aku sudah mengenalnya sekarang. Begitu pula beliau, tidak lupa padaku. Beliau bertanya tentang ibuku. Lalu aku berikan kepada beliau 1500 Riyal. Segera beliau bertanya, “Maa hadza?” (Apa ini?) “Al-Baaqi” (Sisanya) jawabku. Lalu beliau berkata, “Huwa laka” (Uang itu untukmu).

Aku kembali mengajukan permintaan kepada Syaikh, “Syaikh, aku ada permintaan”. “Apa itu wahai anakku?” katanya.

“Aku ingin bekerja padamu. Jadi pembantu atau yang lainnya. Aku mohon Syaikh, jangan tolak permintaanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Pintaku. “Hasanan” (Baiklah) jawabnya.

Lalu aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau rahimahullah wafat.

Salah seorang yang dekat dengan Syaikh mengabarkan kepadaku, “Tahukah engkau, saat kau melompati pagar rumah beliau. Beliau sedang shalat malam dan mendengar suara gaduh di halaman rumahnya. Lalu beliau menekan bel yang biasa ia gunakan untuk membangunkan orang-orang di rumahnya saat-saat shalat wajib saja. Mereka semua terbangun dan merasakan ada suatu kejanggalan. Lalu beliau memberi tahu bahwa ada suara ribut-ribut di halaman. Mereka pun menyampaikannya ke satpam, lalu satpam menelpon polisi. Tanpa menunggu lama mereka pun menangkapmu.

Syaikh pun bertanya apa yang terjadi. Orang-orang di rumahnya mengatakan ada pencuri, dan polisi telah menggelandangnya. Syaikh pun marah, lalu berkata, “Jangan, jangan.. bebaskan dia sekarang dari kantor polisi. Aku yakin dia tidak mencuri kecuali karena sangat terdesak. Kemudian kejadiannya sebagaimana yang sudah engkau ketahui”.

Aku (yang bertanya) berkata kepada sahabatku (yang bercerita), “Sekarang matahari telah terbit (sudah pagi). Seluruh umat ini terasa berat dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.
—–

Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.. Amin..

Sumber: KisahIslam

Kemuliaan Panji Islam

Bendera_tauhid_20140806_223902

Sultan Muhammad, yang bergelar Alib Arselan alias Singa Pemberani memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Saljuk setelah wafatnya Thughril Baek, pamannya. Alib Arselan adalah sosok yang pemberani dan cerdik. Keinginan untuk berjihad di jalan Allah selalu mengalir di setiap pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya. Dia juga sangat antusias menebarkan cahaya Islam, menancapkan dan mengibarkan panji-panjinya di wilayah-wilayah Kristen Byzantium. Sebelum merealisasikan cita-citanya, dia selalu melakukan inspeksi di wilayah kekuasaannya selama tujuh tahun guna mengokohkannya dan membuatnya loyal kepada sang raja.

Strategi yang dia buat bukan main-main. Selain ingin menaklukkan negeri-negeri yang dikuasai para penyembah salib, ia juga berkeinginan menaklukkan Dinasti Syiah Fatimiyyah di Mesir dan menyatukan seluruh dunia Islam di bawah panji Khilafah Abbasiyah. Untuk memuluskan cita-citanya, maka mula-mula dia menyiapkan sejumlah besar pasukan untuk bergerak menuju Armenia. Georgia akhirnya bertekuk lutut di bawah kakinya. Air hujan Islam yang menyejukkan pun akhirnya turun membasahi wilayah-wilayah yang ada di daerah tersebut.

Kemudian, langkah yang dia tempuh setelah membebaskan Georgia dari belenggu kejahilan dan kekufuran adalah melakukan penyerbuan terhadap Syam bagian utara dan mengepung negeri Muradisah, Aleppo. Negeri yang bermazhabkan Syiah sejak tahun 414 H/1023 M itu pun takluk dan kembali mengakui pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Loyalitas mereka kepada Dinasti Fatimiyyah yang berbasis di Mesir pun diputuskan.

Panglima perangnya yang bernama Atansaz bin Auq al-Khawarizmi diperintahkan untuk melakukan penyerbuan ke bagian selatan negeri Syam. Panglima perang pemberani ini tak menyia-nyiakan amanah yang telah dititahkan oleh sang raja kepadanya. Ramalah dan Baitul Maqdis yang selama ini dikuasai Dinasti Fatimiyyah akhirnya berhasil dikembalikan ke pangkuan ahlu sunnah wal jama’ah.

Pada tahun 462 H, seorang utusan dari pemerintahan Mekkah, Muhammad bin Abu Hasyim datang menemui Sultan Alib Arselan. Utusan ini mengabarkan bahwa, nama pemerintahan Dinasti Fatimiyyah akan dihapuskan dan akan digantikan dengan nama Khalifah Abbasiyah setiap khutbah di mimbar-mimbar kota Mekkah. Panggilan adzan dengan tambahan Hayya ‘alal ‘amal juga akan dihentikan. Sultan seketika itu juga memberikan hadiah yang melimpah berupa 30 ribu dinar kepada utusan tersebut. “Jika penguasa Madinah melakukan hal yang sama”, kata Sultan kepada utusan. “Maka akan kami berikan padanya hadiah sebanyak 20 dinar.”

Penaklukan-penaklukan yang dimotori oleh Alib Arselan ini membuat kaisar Romawi, Romanus Diogenes kebakaran jenggot. Dia tak tinggal diam melihat wilayahnya dicaplok satu per satu oleh Alib Arselan. Romanus kemudian berangkat dengan pasukan besar – yang oleh Ibnu Katsir disebutkan – laksana gunung dan persenjataan yang kuat untuk menyerang Alib Arselan. Dalam pasukannya itu, selain terdapat pasukan Romawi, ada juga pasukan dari Kontantinopel sejumlah 15 ribu personil, Perancis 35 ribu personil, serta 35 ribu Bitriq (komandan pasukan Romawi). Di bawah seorang Bitriq ada 100 ribu penunggang kuda. Dalam pasukan perang ini dibawa juga 100 ribu tukang seruling dan penggali lobang, 1000 kuda kerja, 400 gerobak pengangkut sandal dan paku, 1000 gerobak yang berisikan senjata, penerangan, alat perang, pelempar batu, manjaniq. Pasukan dengan jumlah yang menyesakkan dada ini tujuannya hanya satu, menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya!

Pasukan ini mampu menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Irak dan Khurasan. Misi selanjutnya adalah mengambil alih negeri Syam yang indah dari tangan kaum Muslimin. Pasukan ini berhasil dihadang oleh Sultan Alib Arselan yang saat itu memimpin pasukan sekitar 20 ribu orang di sebuah tempat yang bernama Zahwah. Peristiwa yang menyejarah ini terjadi pada tanggal 25 Dzulqa’dah. Kecemasan pun melanda Sultan setelah melihat jumlah pasukan Romawi yang demikian banyaknya. Semoga Allah merahmati seorang faqih yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al-Bukhari yang ketika melihat kecemasan nampak pada sultannya kemudian memberikan nasihat agar waktu perang ditetapkan di hari Jum’at setelah matahari tergelincir, tatkala para khatib naik mimbar mendoakan kemenangan pasukan mujahidin.

Waktu yang menentukan itu pun akhirnya datang juga. Kedua pasukan yang tak seimbang dari segi jumlah dan kekuatan itu pun bertemu di medan perang. Sejenak, Sultan Alib Arselan turun dari kudanya dan bersujud di atas tanah yang dipijaknya kemudian bermunajat kepada Allah SWT agar menganugerahkan kemenangan pada pasukannya.

Allah SWT sungguh tak menyia-nyiakan permohonan hambanya yang shalih. Pasukan Romawi yang jumlahnya maha dahsyat itu pun kocar kacir bak pasukan kafir Quraisy saat dikalahkan pasukan muslimin di perang Badar berabad-abad sebelumnya. Kemenangan berhasil diraih oleh Sultan Alib Arselan dan pasukannya. Bahkan, sang kaisar Romawi yang congkak itu berhasil ditawan dan dihadapkan kepada sultan.

Setelah dipukul dengan tiga pukulan tangan, kaisar Romawi yang ditinggal lari oleh pasukannya itu kemudian ditanya oleh sultan. “Jika aku yang menjadi tawananmu, apa gerangan yang akan kau lakukan padaku?”

“Aku pasti melakukan keburukan padamu!”, jawab Romanus. Sultan kembali menanyakan, “Lalu menurutmu, apa yang akan aku lakukan padamu?”.

Romanus pun menjawab, “Mungkin kau akan membunuhku dan kau giring aku ke negerimu. Atau kau mengampuniku dan mengambil tebusan dariku dan mengembalikan aku ke negeriku!”

Sultan Alib Arselan pun memaafkannya dan menghendakinya untuk membayar sejumlah tebusan. Romanus menebus dirinya dengan uang sejumlah 150 ribu dinar. Setelah itu dia berdiri di depan sultan dan memberikan minum padanya sambil mencium tanah di depan sultan. Romanus juga mencium tanah menghadap ke arah tempat khilafah Abbasiyah berada.

Sultan yang murah hati itu, sebelum melepaskan kaisar Romawi, memberikan 1000 dinar sebagai perbekalan di perjalanan pulang dan mengirim beberapa panglima pasukan untuk menjaganya dengan selamat sampai ke negerinya. Sultan sendiri mengantarnya hingga jarak empat mil. Tentara yang menjaganya ini dengan gagah berani sambil membawa panji-panji yang bertuliskan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlah Muhammad Rasulullah.