Futur, Penyebab dan Terapinya

Sumber: Hasanalbanna.com

Allah berfirman, “Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146).

Di surat lain menceritakan semangat para malikat, “Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula letih. Mereka bertasbih tidak henti-hentinya sepanjang malam dan siang.” (QS Al Anbiya’: 19-20).

Definisi

Futur, secara bahasa mempunyai dua makna.

Pertama yaitu terputus setelah bersambung, terdiam setalah bergerak terus.

Kedua yaitu malas, lamban atau kendur setelah rajin bekerja. Futur secara istilah merupakan suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah terus-menerus melakukan ibadah. Ar Râghib berkata, “Futûr ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, dan lemah setelah kuat.”

Futur, kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara – Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah dan menjadi lunak. Atau diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Orang yang futur mengalami penurunan kuantitas dan kulaitas amal shalih/ibadah. Atau ia mengalami kemerosotan atau kemalasan pada keimanan atau keislamannya. Atau orang yang mengendur sendi-sendi hatinya sehingga menyebabkan penurunan stamina ruhiyah yang dapat menjadikannya jauh dari kebaikan dan anjlok produktivitas amal shalihnya.

Dalam konteks amal dakwah, Futur adalah satu penyakit yang menimpa aktivis dakwah dalam bentuk rasa malas, menunda-nunda, berlambat-lambatan dan yang palingburuk ialah berhenti dari melakukan amal dakwah. Sedangkan sebelumnya ia adalah seorang yang aktif dan beriltizam (rajin).

Gejala Futur

Maka atas dasar inilah para ulama meletakkan beberapa tanda (alamat) yang dengannya dapat diketahui apakah seseorang itu terjangkiti penyakit futûr atau tidak. Ada banyak tandanya, namun tanda-tanda yang terpenting adalah sebagai berikut:
1.Bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan; namun ini tidak bermakna meninggalkan ibadah-ibadah fardhu. Sebab jika ibadah fardhu ditinggal maka seseorang itu berstatus fâsik, ‘âshy (pelaku kemaksiatan), disamping itu dia telah menyerupai orang-orang munafik -sekalipun ia tidak termasuk dari mereka- dimana mereka disifati oleh Allah, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS At Taubah: 54).
2.Merasakan kekerasan dan kekasaran hati. Allah azza wa jalla berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hadîd: 16).
3.Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yang ada di pundaknya. Ia tidak mau memikul beban dakwah, cuek dengan kondisi ummat yang tengah tercabik-cabik, kehilangan jati diri, dan jauh dari Allah ta’ala.
4.Perhatian yang besar terhadap dunia, sibuk dengan urusan-urusan duniawi dengan jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah ta’ala.
5.Banyak ngomong pada hAl hal yang tidak bermanfaat. Menyia-nyiakan waktu tanpa faidah. Majlis orang-orang taat diketahui dengan dzikrullah di dalamnya, majlis orang-orang maksiat diketahui dengan kemaksiatan-kemaksiatan di dalamnya. Sedang majlis orang-orang futur diketahui dengan banyaknya pembincangan tak berguna di dalamnya.
6.Meremehkan dosa-dosa kecil, padahal tidak ada dosa kecil jika dilakukan berkali-kali atau terus-terusan.
7.Gemar menunda-nunda pekerjaan. Barangsiapa yang mentadabburi firman Allah berikut ini, maka ia akan memahami hakikat dari penundaan. “Janganlah kamu pergi berangkat (berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih panas(nya), jika mereka mengetahui.” (QS At Taubah: 81).

Sebab Futur

Pertama, berlebihan dalam Din (Agama).

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim). Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu. “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu kerana sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.

Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesuangguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A‘raf: 31).

Ketiga, memisahkan diri dari jamaah.

Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah). Jauhnya seseorang dari jamaah membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah bersabda: “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad).

Keempat, sedikit mengingat akhirat.

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatakan adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal.Ini disebabkan tidak adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkaumengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya surge dan ngerinya neraka.” (HR. Muslim).

Kelima, masuknya barang haram ke dalam perut.

Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.” (HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599).

Keenam, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan.

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS Al Ahqaf: 14).

Ketujuh, bersahabat dengan orang-orang yang lemah. Rasulullah bersabda:

“Seseorang sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud).

Kedelapan, spontanitas dalam beramal.

Tidak ada perencanaan yang baik, baik dalam skala individu (fardi) maupun komunitas (jama’i). Amal yang tidak terencana, tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

Kesembilan, jatuh dalam kemaksiatan. .

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi,sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Menjaga diri sendiri saja kesulitan, aplgi orang lain.

Bahaya Futur

1. Pengabaian amanah.

Futur menyebabkan seorang aktivis dakwah bermalas dalam menunaikan tugas dakwahnya. Ini bisa menyebabkan tugas yang diamanahkan terbengkalai atu dilaksanakan tidak sempurna. Dan pengabaian terhadap amanah (kewajiban) adalah pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

2. Gugur dari jalan dakwah.

Sekiranya futur tidak ditangani atau dibiarkan, ia akan menjadi satu tabiat. Lama-lama, perasaan ini menjadi duri bagi aktivis di jaln dakwah, yang menjadikannya jauh dari amal dakwah, lalu meninggalkannya.

3. Mengakhiri kehidupan dalam keadaan yang futur.

Apabila seseorang itu berlama-lama dalam keadaan futur sehingga menjadi kebiasaannya, maka ia menanggung risiko besar yaitu mati dalam keadaan futur. Ini yang paling kita takuti, karena Allah menilai kita berdasarkan akhir dari perbuatan. “Sesungguhnya seorang hamba itu ada yang melakukan amalan ahli neraka padahal ia termasuk ahli surga, dan ada pula yang mengamalkan amalan ahli surga padahal ia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amal itu tergantung pada kesudahannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itulah, Rasulullah mengajar umatnya agar sentiasa berdoa dengan doa;

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit lemah dan malas…” (HR. Bukhari)

Terapi Futur
1.Menjauhi maksiat dan keburukan. Sebagaimana ibadah bisa menghindarkan diri dari maksiat, maksiat juga bias menjauhkan seseorang dari amAl amal kebajikan.
2.Istiqamah dengan amalan-amalan harian untuk meningkatkan kekuatan rohani dan jasmani. Hanya dengan persiapan rohani dan jasmani sajalah kita dapat mengarungi berbagai macam rintangan kehidupan.
3.Menjaga waktu-waktu yang utama dan menghidupkan amalan ketaatan. Sebagai contoh, berpuasa pada hari Senin dan Kamis, shalat dhuha, memperbanyak zikir dan doa.
4.Menjaga diri dari sikap melampau batas dan terlalu menyusahkan diri dalam urusan agama. Melakukan amalan yang sedikit tetapi istiqamah adalah lebih baik daripada melakukan banyak amalan tetapi hanya sesaat.
5.Menggabungkan diri dengan jemaah Islam dan meninggalkan ‘uzlah. Hanya dengan menyertai jemaah seseorang itu dapat meningkatkan diri dan tidak mudah tertipu oleh syetan.
6.Mengenali cobaan- cobaan di jalan dakwah, agar tidak mudah pataaah semangat atau kendur dan futur.
7.Selalu bergaul dengan orang yang shalih dan banyak melakukan amal shalih.
8.Memberi hak-hak tubuh dan jasmani seperti istirahat dan menjaga kesehatan.
9.Memberi ruang pada jiwa untuk menikmati perkara-perkara yang dibolehkan, seperti bergurau, bermain dan berekreasi.
10.Banyak membaca buku sirah nabi dan sejarah orang-orang yang shalih, agar termotivasi untuk mengikuti jejak mereka.
11.Senantiasa mengingat mati dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya seperti azab kubur dan akhirat.
12.Sentiasa membayangkan nikmat surga dan azab neraka. Ini akan memantapkan lagi iman dan menguatkan semangat untuk memikul amanah Allah.
13.Selalu menghadiri majlis ilmu. Ini kerana ia akan mengembalikan semangat yang kendur, dan mengingatkan ajaran yang terlupakan.
14.Memahami kesempurnaan Islam dengan mengamalkan kesyumulan agama itu sendiri. Ini akan mengelakkan pemahaman yang cetek terhadap Islam.
15.Sering bermuhasabah diri. Insya Allah ia akan cepat menyadarkan kita daripada kelesuan dan kemalasan (futur).

Penutup

Ibnul Qayyîm rahimahullah berkata, “Saat-saat futur bagi para salikin (orang-orang yang meniti jalan menuju Allah) adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Barangsiapa yang futûrnya membawa ke arah murâqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan senantiasa berlaku benar, tidak sampai mengeluarkannya dari ibadah-ibadah fardhu, dan tidak pula memasukkannya dalam perkara-perkara yang diharamkan, maka diharapkan ia akan kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.” (Kitab Madrijus Salikin).

Wallahu a’lam.

Posted from WordPress for Windows Phone

Apakah Allah Mencintaiku?

Islamic_Wallpaper_Allah_014-1366x768

Syeikh Ali Musthafa Thanthawi -rahimahullah- pernah berkata:

“Apakah Allah mencintaiku?”

Pertanyaan ini terus mengusikku!
Aku teringat bahwa kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya hadir karena beberapa sebab dan sifat yang disebutkan didalam al Quran al Karim..

Aku membalikkannya kedalam memoriku, untuk membandingkan apakah diriku sudah seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an itu, agar aku dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku..

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang bertakwa” dan aku tidak berani menganggap diriku bagian dari mereka (yang bertakwa)..!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang sabar” maka aku teringat betapa tipisnya kesabaranku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berjihad” maka aku pun tersadar akan kemalasanku dan rendahnya perjuanganku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berbuat baik” Betapa jauhnya diriku dari sifat ini….

Saat itulah aku berhenti meneruskan pencaharian dan pengamatanku : Aku takut bila nanti aku tidak menemukan sesuatu pun didalam diriku yang dapat menyebabkan Allah mencintaiku !

Aku periksa semua amal-amalku….
Ternyata di dalamnya banyak yang bercampur dengan kemalasan/kelemahan, kotoran-kotoran dan dosa-dosa. seketika itu terbersitlah dalam ingatanku firman Allah Ta’ala :

( إنّ الله يحب التوابين )

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”

Seakan-akan aku menjadi faham bahwa ayat itu adalah untuk diriku dan orang-orang yang sepertiku, seketika mulutkupun mulai komat-kamit membaca:

أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه

Astaghfirullah wa Atuubu ilaihi
“Aku memohon ampunan Allah dan aku bertaubat kepada Nya”

Diterjemahkan dari: www.mktaba.org
Oleh: Ustadz ACT El-Gharantaly

Inilah Sahabatmu


Sumber: Suara Madinah

Menyela sejenak:
Imam Syafi’i berkata
“Jika engkau punya teman – yg selalu membantumu dlm rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskanny sangat mudah sekali”
Sahabatku fillah luangkanlah waktu sejenak untuk membaca hadits yg mulia berikut ini….!!!

Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mrk tidak menemukan Sahabat2 mrk yg selalu bersama mrk dahulu di dunia.

Mrk bertanya tentang Sahabat mrk kepada اللّهُ سبحانه و تعالى ..

“Yaa Rabb…
Kami tidak melihat Sahabat2 kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…??

“Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
“Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat2mu yg di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah.”
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”).

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah Sahabat – sahabat mukminmu, karena mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat”.

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat -sahabatnya sambil menangis:

“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اللّهُ تعالى tentang aku:

“Wahai Rabb Kami…
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami ttg ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu”

Sahahabatku fillah
Mudah-mudahan dg ini, aku telah Mengingatkanmu ttg اللّهُ تعالى ..
Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Ridho-Nya..

Yaa Rabb…
ْAku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku
Sahabat2 yg selalu mengajakku utk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu…

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Posted from WordPress for Windows Phone

Syukuri Apa yang Ada


Oleh: Ust. Aan Chandra Thalib

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Tak seorangpun di dunia ini melainkan pernah bertemu dengan orang yang kondisinya lebih baik dirinya atau lebih buruk dirinya.

Bila engaku miskin, pasti ada yang jauh lebih miskin darimu.
Bila engkau sakit, pasti ada yang sakitnya jauh lebih parah darimu.
Lalu mengapa engkau lebih sering mengarahkan kepalamu ke atas, dan memandang orang-orang yang kondisinya lebih baik darimu, ketimbang mengarahkannya ke bawah agar engkau melihat orang yang kondisinya jauh lebih buruk darimu..?

Bila kau tau bahwa ada orang yang bisa meraih harta dan kedudukan yang mana engkau belum bisa meraihnya. Padahal dari aspek kecerdasan, pengetahuan dan perangai levelnya jauh dibawahmu, mengapa engkau tidak mengingat bahwa ternyata ada orang yang levelnya di diatasmu atau semisal denganmu dalam hal kecerdasan dan pengetahuan namun dia tidak pernah bisa meraih sebagian dari apa yang telah engkau raih…?

Falsafah rizki itu sangat sulit untuk dimengerti

Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupannya) dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupannya) berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rizkinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa mendapatkannya sambil duduk di atas kursi. Bersyukurlah karena Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.

Beliau juga mengatakan:

Dengan gaji yang sedikit engkau bisa menjadi manusia yang paling bahagia asalkan engkau cerdas mengelola keuanganmu dan ridho terhadap pembagian-Nya.

(Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma’a An-Naas hal: 78-79)

Posted from WordPress for Windows Phone

Kisi-Kisi Soal Ujian Akhirat

BAB 1 : ALAM KUBUR

1. Siapa Tuhanmu ?

2. Apa Agamamu ?

3. Siapa Nabimu ?

BAB 2 : HARI KIAMAT

1. Usiamu, kau habiskan untuk apa ?

2. Untuk apa kau pergunakan masa mudamu ?

3. Hartamu, darimana kau dapat ? Dan untuk apa kau belanjakan ?

4. Apa yang sudah kau amalkan dengan ilmu yang telah kau peroleh ?

فأعد للسؤال جوابا وليكن الجواب صوابا

Siapkanlah jawaban untuk setiap pertanyaan, Dan pastikan jawaban Anda benar ..

PERHATIAN PENTING..!!!!!

1. “Pada hari ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin : 65)

2. Ujian kali ini tanpa pengulangan.

3.Jawaban untuk masing-masing soal berdasarkan amalan dan bukan hafalan.

4. Peserta ujian yang lulus, akan ditempatkan di surga. Dan bagi yang gugur akan ada dua kemungkinan: -Bila ketidaklulusan disebabkan dosa syirik (dimana pelakunya mati sebelum bertaubat), maka ia kekal di dalam neraka. Bila ia bertobat, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih -Bila ketidaklulusan disebabkan dosa selain syirik, maka pelakunya dibawah kehendak Allah, apabila Dia berkenan maka akan diberi Ampunan, jika tidak maka akan di Adzab oleh-Nya. -Pelaku dosa yang selama hidupnya tidak menyekutukan Allah akan dimasukkan kedalam surga setelah proses penyucian dosa di dalam neraka selesai. Wallahu a’lam Catatan: Sungguh menyedihkan.. Soal dan jawaban begitu jelas, namun tak sedikit yang berguguran. Semoga dikehidupan selanjutnya kita termasuk orang-orang yang lulus.

By: Sami Himma

Posted from WordPress for Windows Phone

Kentut


Sumber: DPU Daarut Tauhid

Diantara adab dalam islam yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak menghina keadaan orang lain, yang dirinya sendiri juga melakukannya termasuk ketika kentut.

Untuk itu, ketika kita mendengar ada orang yang kentut, kita dilarang menertawakannya. Karena kita sendiripun pernah mengalaminya

A. Dilarang Menertawakannya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menasehati ketika ada salah seorang sahabat yang tertawa ketika ada yg kentut tatkala itu beliau sedang menceritakan tentang kisah onta Nabi Sholeh yang disembelih kaumnya yang membangkang

إِلَامَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ؟

“Mengapa kalian mentertawakan kentut yang kalian juga biasa mengalaminya.” (HR. Bukhari 4942 dan Muslim 2855)

B. Kebiasaan Orang Jahiliyah

Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, Al-Mubarokfuri mengatakan,

وكانوا في الجاهلية إذا وقع ذلك من أحد منهم في مجلس يضحكون فنهاهم عن ذلك

“Dulu mereka (para sahabat) di masa jahiliyah, apabila ada salah satu peserta majlis yang kentut, mereka pada tertawa. Kemudian beliau melarang hal itu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 9/189).

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

الإنسان إنما يضحك ويتعجب من شيء لا يقع منه، أما ما يقع منه؛ فإنه لا ينبغي أن يضحك منه، ولهذا عاتب النبي صلى الله عليه وسلم من يضحكون من الضرطة؛ لأن هذا شيء يخرج منهم، وهو عادة عند كثير من الناس.

Umumnya orang akan menertawakan dan terheran dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi pada dirinya. Sementara sesuatu yang juga dialami dirinya, tidak selayaknya dia menertawakannya. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang menertawakan kentut. Karena kentut juga mereka alami. Dan semacam ini (menertawakan kentut) termasuk adat banyak masyarakat. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Kemudian Imam Ibnu Utsaimin juga menyebutkan satu kaidah,

وفي هذا إشارة إلى أن الإنسان لا ينبغي له أن يعيب غيره فيما يفعله هو بنفسه

Ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya. Maroji’ : syarh riyadlush sholihin, (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Posted from WordPress for Windows Phone

Amalan-amalan yang Hanya Melelahkan

عاملة ناصبة
“Aamilatun Naashibah”

Ayat ke-3 surah Al-Ghaasyiyah…

Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka dan para penghuninya.

Ternyata salah satu penyebab seseorang disungkurkan ke neraka adalah sebab amalan yang banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun cara yang tidak sesuai dengan ajaran sunnah Rasul saw. AstaghfiruLlaahal ‘azhim…

Alkisah, ‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu menangis saat mendengar ayat ini disampaikan…

Alkisah juga, suatu hari Atha as-Salami, seorang tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,

“Ya, Atha’ sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha’ termenung lalu menangis. Melihat Atha’ menangis, sang penjual kain berkata,

“Atha’ sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya,

“Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu”.

“Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya”.

“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak. Hanya dengan ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.

Maka bukan hanya dengan beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dengan sebenar-benarnya.

Wallaahu a’lamu bish shawaab…

Posted from WordPress for Windows Phone

Masing-masing Diberikan Kelebihan

oleh Ust. Anshari Taslim, Lc

Ibnu Abdil Barr menceritakan bahwa Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari Al-Abid menulis surat kepada Malik bin Anas untuk lebih giat beramal dan menyendiri, karena dia tidak suka kegiatan Malik yg menyibukkan diri dengan dunia ajar mengajar dan berkumpulnya orang padanya.
Lalu Malik bin Anas (Imam Darul Hijrah) ini menulis surat balasan kepada Abdullah,

“Sesungguhnya Allah itu telah membagi amal sebagaimana membagi rejeki. Betapa banyak orang yg Allah anugerahkan kekuatan untuk shalat, tapi kurang dari aspek puasa. Ada pula yg Allah anugerahkan kekuatan untuk bersedekah tapi kurang dalam hal puasa. Ada pula yg Allah anugerahkan kesempatannya untuk berjihad tapi dari sisi shalat (sunnah -penerj) dia tak terlalu menonjol.
Menyebarkan ilmu merupakan salah satu amal terbaik, dan aku ridha dgn apa yg Allah anugerahkan kepadaku dan aku tidak merasa bahwa apa yg kulakukan saat ini nilainya lebih rendah dari apa yg kau laksanakan.
Tapi aku berharap kita berdua mendapat nilai kebaikan. Hendaklah masing-masing kita ridha dgn apa yg telah Allah anugerahkan kepadanya. Wassalam.”

(Lihat: At-Tamhid jilid 7 hal. 185).

Demikian kira-kira isi balasan Malik yg diceritakan Ibnu Abdil Barr berdasarkan hafalannya karena buku asli yg berisi pernyataan Malik itu hilang pada saat dia menulis buku ini.

Begitulah, masing-masing orang Allah anugerahkan kesempatan dan kemampan yg berbeda-beda. Ada yg Allah anugerahkan keahlian di bidang agama sehingga dia bisa mengajar, ada yg Allah anugerahkan kelebihan harta sehingga dia bisa jadi penopang dakwah dgn infaqnya, ada yg Allah berikan kekuatan fisik dan keberanian hingga dia bisa berjihad. Bila dia rela dan memanfaatkan apa yg dianugerahkan Allah padanya maka dia tetap bisa memperoleh nilai sama dgn orang lain.

Maka jangan berkecil hati bagi yang tak punya ilmu, tak punya harta, tak punya tenaga, dia tetap bisa menjadi manusia terbaik dgn kesabarannya menghadapi semua kekurangan atau musibah, sehingga bisa jadi keikhlasannya menerima itu semua malah dinilai lebih tinggi oleh Allah daripada yg beramal tapi terkotori oleh riya`.

Selain itu kita juga tak boleh menganggap yg ahli di bidang tertentu lebih baik daripada yg ahli di bidang lain, karena semua harus bersinergy dan semua orang diaugerahkan Allah apa yg terbaik untuknya.

Inilah penjelasan dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من أنفق زوجين في سبيل الله نودي في الجنة يا عبد الله هذا خير فمن كان من أهل الصلاة نودي من باب الصلاة وإن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة وإن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان” فقال أبو بكر يا رسول الله ما على من يدعى من هذه الأبواب من ضرورة فهل يدعى أحد من هذه الأبواب كلها قال “نعم وأرجو أن تكون منهم”

“Siapa yg memberi nafkah sepasang harta di jalan Allah maka di surga nanti dia akan dipanggil, “Wahai hamba Allah, ini yg terbaik!” Siapa yg merupakan ahli shalat (sangat rajin shalat sunnah -penerj) maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, siapa yg ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli sedekah maka dia akan dipanggil dari pntu sedekah, kalau dia ahli puasa (sunnah -penerj) maka dia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.”
Mendengar itulah berkatalah Abu Bakar, “Wahai Rasulullah, tidaklah ada keharusan untuk dipanggil dari pintu-pintu tersebut, lalu apakah ada orang yg dipanggil dari semua pintu?”
Rasulullah menjawab, “Ya ada, dan aku harap kau termasuk diantara mereka (yg dipanggil dari semua pintu).” (HR. Malik, Bukhari dan Muslim)

Posted from WordPress for Windows Phone

7 Indikator Kebahagiaan Hidup di Dunia

Ibnu Abbas RA menjelaskan, ada 7 indikator kebahagiaan hidup di dunia,
yaitu :

1) Qolbun Syakirun, atau hati yang selalu bersyukur, artinya selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

2) Al-Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang shaleh / shalihah, pasangan hidup yang shaleh / shalihah akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah.

3) Al-Auladul Abrar, yaitu anak yang shaleh / shalihah. Do’a anak yg shaleh / shalihah kepada orang tuanya dijamin dikabulkan ALLAH, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh / solehah.

4) Al-Biatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang shaleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.

5) Al-Malul Halal, atau harta yang halal, bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup.

6) Tafakuh Fid-Dien, atau semangat untuk memahami agama, dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

7) Umur yang barokah, artinya umur yang semakin tua semakin shaleh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yang barokah umurnya.

Posted from WordPress for Windows Phone

Bila Prasangka Buruk Hinggap di Hati


Oleh: Ust. ad-Dariny

Ibnu Qudamah -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika terbetik di hatimu prasangka buruk terhadap seorang muslim, maka hendaklah kamu memberikan PERHATIAN yang lebih kepadanya dan juga MENDOAKAN kebaikan untuknya.

Karena hal itu akan menjadikan setan marah dan menjauh dari Anda, sehingga dia tidak melemparkan kepada Anda prasangka buruk, karena khawatir Anda malah akan sibuk mendoakan kebaikan untuknya dan lebih memperhatikannya”.

[Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah, hal: 172].

——–

Saudaraku, sibuklah memperbaiki diri sendiri…

Suatu ketika ada seseorang disebut keburukannya di depan Robi’ bin Khutsaim -rohimahulloh-, maka beliau pun mengatakan:

“Aku saja tidak puas dengan diriku, maka mengapa aku meninggalkannya, lalu mencela orang lain?!

Sungguh para hamba itu takut kepada Allah atas dosa-dosa orang lain, tapi mereka merasa aman dari Allah atas dosa-dosa mereka sendiri!”.

[Syu’abul Iman, Albaihaqi, 10/57].

Posted from WordPress for Windows Phone