Apakah Allah Mencintaiku?

Islamic_Wallpaper_Allah_014-1366x768

Syeikh Ali Musthafa Thanthawi -rahimahullah- pernah berkata:

“Apakah Allah mencintaiku?”

Pertanyaan ini terus mengusikku!
Aku teringat bahwa kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya hadir karena beberapa sebab dan sifat yang disebutkan didalam al Quran al Karim..

Aku membalikkannya kedalam memoriku, untuk membandingkan apakah diriku sudah seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an itu, agar aku dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku..

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang bertakwa” dan aku tidak berani menganggap diriku bagian dari mereka (yang bertakwa)..!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang sabar” maka aku teringat betapa tipisnya kesabaranku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berjihad” maka aku pun tersadar akan kemalasanku dan rendahnya perjuanganku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berbuat baik” Betapa jauhnya diriku dari sifat ini….

Saat itulah aku berhenti meneruskan pencaharian dan pengamatanku : Aku takut bila nanti aku tidak menemukan sesuatu pun didalam diriku yang dapat menyebabkan Allah mencintaiku !

Aku periksa semua amal-amalku….
Ternyata di dalamnya banyak yang bercampur dengan kemalasan/kelemahan, kotoran-kotoran dan dosa-dosa. seketika itu terbersitlah dalam ingatanku firman Allah Ta’ala :

( إنّ الله يحب التوابين )

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”

Seakan-akan aku menjadi faham bahwa ayat itu adalah untuk diriku dan orang-orang yang sepertiku, seketika mulutkupun mulai komat-kamit membaca:

أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه

Astaghfirullah wa Atuubu ilaihi
“Aku memohon ampunan Allah dan aku bertaubat kepada Nya”

Diterjemahkan dari: www.mktaba.org
Oleh: Ustadz ACT El-Gharantaly

Mensucikan Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Images-of-Rain-Wallpapers

Para rasul diutus oleh Allah untuk memberi peringatan (tadzkir), menyampaikan pengajaran (ta’lim) dan mensucikan jiwa (tazkiyah), sebagaimana yang terdapat dalam do’a yang dilantunkan oleh Nabi Ibrahim as untuk anak cucunya:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Baqarah: 129)

Allah SWT-pun mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim as tersebut dan menganugerahkan kepada umat ini karunia yang tiada terkira, firman-Nya:

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada-Mu) Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikanmu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(QS. Al-Baqarah: 151)

Terkhusus mengenai pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang merupakan salah satu tugas utama Rasul juga terekam dalam pernyataan Nabi Musa as kepada Fir’aun dalam al-Qur’an:

Dan katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan ku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”
(QS. An-Nazi’at: 18-19)

Dari ayat-ayat di atas sudah terang benderang bahwasanya tazkiyatun nafs merupakan salah satu tugas utama para rasul, dan juga menjadi tujuan pokok setiap orang yang bertakwa pada-Nya, serta menjadi penentu selamat atau tidaknya seseorang di sisi Allah SWT.

Kata tazkiyah bisa berarti penyucian (at-tathir) atau pertumbuhan (an-numuw). Jadi tazkiyatun nafs adalah mensucikan jiwa (tatahhur) dari segala penyakit dan cacat lalu mengaktualisasikan (tahaqquq) kesucian itu dalam kehidupan sehari-hari dan menghiasi jiwa yang suci itu (takhalluq) dengan sifat-sifat mulia sebagaimana asma’ dan sifat-sifat Tuhan Yang Mulia.

Dengan demikian, tazkiyah pada akhirnya adalah proses tatahhur, tahaqquq dan takhalluq. Ketiga proses itu memiliki sarana, hakikat dan hasilnya tersendiri, yang pengaruhnya akan terlihat jelas pada prilaku seseorang ketika berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama makhluk serta pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan anggota tubuh sesuai perintah-Nya.

Seorang alim yang melek dakwah harus mampu menyampaikan tadzkir, ta’lim dan tazkiyah dalam halaqah serta majelis-majelisnya. Dalam hal ini, titik awal yang menentukan berhasil tidaknya suatu majelis adalah adab yang mengatur hubungan antara murid dan guru atau murabbi dan mutarabbinya. Selagi tak ada adab yang mengikat maka kajian dan majelis yang digagas tidak akan berlanjut. Keberhasilan seorang guru sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mempraktekkan adab-adab dalam ta’lim. Oleh sebab itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam rangka perjalanan menuju Allah dan menegakkan agama-Nya.

Adab dan wazifah lahiriyah bagi para murid atau pencari ilmu antara lain:

  • Memprioritaskan kebersihan hati dari akhlak dan perangai buruk
  • Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia
  • Tidak sombong dan tidak durhaka kepada sang guru
  • Menghindarkan diri dari mendengarkan perdebatan di antara manusia
  • Mengetahui maksud dan tujuan semua ilmu
  • Membuat prioritas, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus
  • Menguasai ilmu satu per satu, secara bertahap
  • Mengetahui mengapa suatu ilmu dianggap mulia, didasarkan pada pertimbangan buah yang didapatkan dari ilmu tersebut, dan kekuatan serta kekokohan dalil yang mendukungnya
  • Menghias dan mempercantik batin dengan tujuan hanya karena Allah
  • Mengetahui posisi ilmu yang dipelajari

Adapun adab dan tugas para guru atau mursyid dan muallim adalah:

  • Berbelas kasih terhadap murid, memposisikan mereka layaknya anak
  • Mengajar lillaahi ta’ala, tidak meminta upah, imbalan ataupun ucapan terima kasih dalam mengajar
  • Selalu memberi nasihat dan peringatan kepada para murid
  • Mencegah murid dari akhlak-akhlak yang tercela
  • Tidak mencela ilmu yang tidak ia tekuni
  • Mencukupkan diri dengan menyampaikan ilmu sekadar yang mampu dipahami oleh murid
  • Menyampaikan keilmuan yang jelas kepada murid yang memiliki keterbatasan dalam pemahaman
  • Melaksanakan ilmu yang ia miliki

Proses tazkiyatun nafs ditempuh dengan melakukan serangkaian amal dan ibadah, yang apabila amal itu dilakukan secara sempurna maka akan melahirkan spirit dan nilai-nilai tertentu dalam hati yang dengannya hati menjadi suci bersih. Efek dari spirit serta nilai-nilai yang tertanam di dalam hati tersebut akan tampak jelas pada anggota badan seperti lisan, mata, telinga dan anggota tubuh yang lain. Hasil paling nyata dari hati yang telah tersucikan itu adalah adab dan muamalah yang baik kepada Allah dan manusia. Kepada Allah dengan menunaikan hak-haknya, termasuk berkorban di jalan-Nya. Sedangkan kepada manusia, seseorang yang telah memiliki hati bersih itu akan berinteraksi sesuai dengan ajaran, posisi dan taklif rabbani yang ada.

Sarana tazkiyatun nafs adalah amal dan ibadah semisal shalat, zakat, puasa, haji, zikir, tafakkur, tilawah al-Qur’an, tadabbur, muhasabah serta zikrul maut. Semua itu bisa menjadi sarana tazkiyatun nafs apabila dilakukan secara sempurna dan penuh penghayatan.

Shalat

Shalat merupakan sarana terbesar sekaligus bukti dan standar dalam tazkiyatun nafs. Shalat adalah sarana dan tujuan tazkiyatun nafs sekaligus. Shalat mempertegas makna-makna ubudiyah, tauhid dan syukur. Shalat adalah zikir, gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk. Shalat adalah berdiri untuk ibadah dengan berbagai posisi gerakan pokok anggota tubuh.

Mendirikan shalat bisa memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada Allah, ujub, sombong, bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 29)

Khusyuk dalam shalat merupakan tanda pertama bagi orang-orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Khusyuk merupakan wujud tertinggi dari sehatnya hati. Hati kan rusak jika khusyuk tidak ada, sebab bila tak ada khusyuk dalam hati maka hal ini mengindikasikan bahwa hati telah didominasi oleh berbagai penyakit berbahaya dan kondisi yang buruk. Hati yang sudah didominasi oleh berbagai penyakit akan kehilangan orientasi akhirat dan tak ada lagi kebaikan yang bisa diberikan kepada umat Islam.

Zakat dan Infaq

Zakat dan infaq merupakan sarana terpenting kedua dalam tazkiyatun nafs, karena tabiat jiwa itu kikir maka harus pula dibersihkan. Infaq merupakan amalan yang membersihkan jiwa dari kekikiran sehingga menjadikannya bersih. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang taqwa dari neraka itu, (yaitu mereka) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan hartanya.” (QS. Al-Lail: 17-18)

Puasa

Puasa dalam tazkiyatun nafs menduduki derajat ketiga setelah shalat dan zakat, karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan syahwat yang ada. Oleh sebab itu, puasa merupakan faktor penting dalam tazkiyatun nafs.

Allah SWT menjadikan puasa sebagai sarana untuk mencapai derajat taqwa ketika berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tingkatan puasa ada tiga, yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus (khas) dan puasa orang super khusus (khawasul khas). Puasanya orang awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat. Puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan puasanya orang super khusus adalah puasanya hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tak berarti; juga menahan hati dari selain Allah secara total. Puasa ini merupakan tingkatan puasa para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.

Haji

Haji adalah pembiasaan jiwa untuk melakukan sejumlah nilai, seperti istislam, taslim, mengerahkan jerih payah dan harta di jalan Allah, ta’awun, ta’aruf dan melaksanakan syiar-syiar ubudiyah kepada Allah. Semua itu memiliki pengaruh dalam tazkiyatun nafs, sebagaimana merupakan bukti telah merealisasikan kesucian jiwa.

Tilawah Al-Qur’an

Dari beberapa segi, tilawah al-Qur’an dapat menghaluskan jiwa. Dengan tilawah, seseorang akan tahu apa kewajiban yang harus ia lakukan. Tilawah al-Qur’an juga dapat membangkitkan berbagai nilai dalam tazkiyatun nafs, menerangi hati, mengingatkannya, menyempurnakan fungsi shalat, zakat, puasa dan haji dalam mencapai maqam ubudiyah kepada Allah.

Untuk mencapai semua itu, tilawah al-Qur’an memerlukan penguasaan yang baik tentang hukum-hukum tajwid dan komitmen harian dengan wirid dari al-Qur’an. Al-Qur’an akan berfungsi dengan baik apabila tilawahnya disertai adab-adab batin dalam perenungan, khusyuk serta tadabbur.

Zikir

Orang yang berharap pada akhirat harus memiliki program wirid pribadi berupa bacaan istighfar, tahlil, shalawat dan zikir-zikir ma’tsur lainnya, sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk terus membaca zikir seperti tasbih, istighfar, tahlil, takbir atau hauqalah untuk ditambahkan dengan berbagai shalat, ibadah dan amalan-amalan lainnya. Kesucian dan ketinggian jiwa seseorang akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan sarana-sarana tazkiyah.

Tafakkur

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Berdasarkan ayat tersebut kita tahu bahwa kesempurnaan akal hanya tercapai dengan zikir dan pikir. Zikir dan pikir dapat memperdalam ma’rifatullah di dalam hati, yang mana ma’rifatullah merupakan titik tolak bagi setiap tazkiyah.

Mengingat Kematian dan Pendek Angan-Angan

Panjang angan-angan dan lupa mati merupakan dua hal yang menyebabkan jiwa tersesat dan mendorongnya pada konflik-konflik yang merugikan dan merupakan syahwat yang tercela. Untuk itu, di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah dengan mengingat mati – yang merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi – dan pendek angan-angan – yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Semakin pendek angan-angan dan semakin banyak kematian maka semakin meningkat pula ketekunan seseorang dalam melaksanakan hak-hak Allah, di samping semakin ikhlas dalam amalnya.

Murabathah

Sesungguhnya jiwa dan hati memerlukan ikatan janji harian, bahkan ikatan janji dari waktu ke waktu. Jika manusia tidak mengikat jiwanya dengan janji harian atau waktu demi waktu maka ia akan mendapatinya menyimpang, sesat dan lalai. Oleh karena itu kita perlu mengambil langkah musyarathah, muraqabah, muhasabah, mujahadah dan mu’atabah sebagai salah satu sarana tazkiyatun nafs.

  • Musyarathah (persyaratan). Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh lalai melakukan muhasabah terhadap jiwanya. Dia harus mendisiplinkan berbagai gerak, diam, lintasan dan langkah-langkah jiwa. Saat waktu shubuh tiba dan telah selesai menunaikan shalat Shubuh maka hendaklah ia meluangkan waktu untuk melakukan musyarathah terhadap jiwanya. Contoh: berkata kepada jiwanya, “Wahai jiwaku janganlah bermalas-malasan ataupun bersantai-santai. Sebab dengan keduanya engkau tak akan meraih derajat ‘illiyyin seperti yang telah diraih oleh orang-orang sebelummu.
  • Muraqabah (diawasi). Ketika seseorang telah mensiasati jiwanya dan menetapkan syarat kepadanya, maka langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah muraqabah (mengawasinya) ketika melakukan berbagai amal perbuatan dan memerhatikannya dengan mata yang tajam, karena jika dibiarkan pasti akan melampaui batas dan rusak. Tentang keutamaan muraqabah, Jibril as pernah bertanya tentang ihsan lalu Rasulullah SAW menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
  • Muhasabah setelah beramal. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini merupakan isyarat perihal muhasabah terhadap amal perbuatan yang telah dikerjakan. Umar ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum engkau ditimbang.
  • Muaqabah (pemberian sanksi). Meski telah menghisab diri, seseorang tetap tidak terbebas sama sekali dari kemaksiatan dan melalaikan hak-hak Allah. Hal semacam ini tak boleh dibiarkan. Sebab bila dibiarkan maka seseorang akan mudah terjatuh dalam maksiat dan jiwa menjadi senang pada kemaksiatan hingga sulit untuk memisahkannya. Padahal inilah penyebab kehancuran diri. Untuk itu, bila terjadi pelanggaran maka harus diberikan sanksi. Harus ada muaqabah. Apabila seseorang memakan satu suap makanan syubhat dengan nafsu syahwat maka harus melakukan muaqabah kepada perut dan menghukumnya dengan rasa lapar.
  • Mujahadah. Seseorang yang ketika melakukan muhasabah menemukan diri melakukan maksiat maka ia harus menghukumnya dengan berbagai hukuman. Jika ia mendapati diri tidak melakukan berbagai amal sunnah dan keutamaan atau tidak membaca wirid karena malas maka ia harus diberi pelajaran dengan memperberat wirid dan mewajibkan beberapa macam tugas demi menutupi dan mengejar ketertinggalannya. Umar bin Khattab ra menghukum dirinya dengan mensedekahkan tanah miliknya yang senilai 200.000 dirham ketika tertinggal shalat Ashar berjamaah. Ibnu Umar ra menghukum dirinya dengan menghidupkan malam hari secara penuh apabila tertinggal dari shalat berjamaah.
  • Muatabah (mencela). Musuh bebuyutan kita adalah jiwa kita itu sendiri. Jiwa diciptakan dengan karakter suka memerintahkan keburukan (ammarah bissu’), cenderung pada kejahatan dan lari dari kebaikan. Terhadapnya engkau diperintahkan agar mensucikannya, meluruskannya dan menuntunnya dengan rantai paksaan untuk beribadah kepada Tuhan dan Penciptanya. Kita dituntut untuk mencegahnya dari berbagai syahwat dan menyapihnya dari berbagai kelezatannya. Jika kita mengabaikannya maka pasti merajalela dan liar setelah itu kita tidak dapat mengendalikannya. Tapi jika kita senantiasa mencela dan menegurnya maka bisa jadi kita akan tunduk dan menjadi nafsu lawwamah (jiwa yang amat menyesali dirinya), yang mana Allah pernah bersumpah atasnya di dalam al-Qur’an. Bahkan ada harapan akan menjadi nafsu muthma’innah (jiwa yang tenang), yang mengajakmu untuk masuk ke dalam rombongan hamba-hamba Allah yang ridha dan diridhai. Allah SWT berfirman, “Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Jihad

Dalam QS. Ali Imran ayat 104, Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada dari kalangan kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” Dan pada QS. Al-Ma’idah ayat 35, Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapatkan keberuntungan.”

Keberuntungan pada ayat-ayat tersebut tergantung pada dakwah, amar ma’ruf, nahi mungkar, taqwa, amal shalih dan jihad. Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan yang tercantum pada tazkiyatun nafs pada ayat, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9), meliputi semua hal tersebut.

Melayani dan Tawadhu

Melayani dan bersikap tawadhu merupakan sarana tazkiyatun nafs. Keduanya telah menjadi bukti bahwa jiwa telah tersucikan. Oleh sebab itu, Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan kedua hal ini. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” Allah SWT juga berfirman, “Dan berendahdirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr: 88)

Memberikan pelayanan ada dua, yaitu pelayanan khusus dan pelayanan umum. Keduanya memiliki pengaruh dalam tazkiyatun nafs. Pelayanan umum memerlukan kesabaran, lapang dada dan kesiapan untuk memenuhi tuntutan pada setiap saat. Sedangkan pelayanan khusus memerlukan tawadhu dan kerendahan hati kepada kaum mukminin. Oleh sebab itu, pelayanan termasuk sarana penting dalam tazkiyah bagi orang yang menunaikannya secara ikhlas dan bersabar.

Mengetahui Pintu Masuk Setan ke Dalam Jiwa & Menutup Jalannya

Setan punya andil dalam mempengaruhi jiwa, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah. Setan datang ke dalam jiwa melalui celah-celah tabiat dan syahwat indrawi dan maknawi manusia. Ia juga sangat mengetahui titik-titik lemah manusia. Oleh sebab itu, di antara sarana untuk membentengi jiwa dan sekaligus sebagai sarana tazkiyatun nafs adalah mengetahui pintu-pintu masuk setan ke dalam diri.

Pintu masuk setan adalah sifat-sifat hamba yang banyak jumlahnya, diantaranya:

  • Marah dan syahwat
  • Dengki dan tamak
  • Perut yang kenyang, sekali pun dengan yang halal
  • Suka bermegah-megah dengan perabotan, pakaian dan rumah
  • Tamak
  • Terburu-buru dan tidak tabayun
  • Uang dan segala harta kekayaan
  • Bakhil dan takut miskin
  • Ta’assub (fanatik) terhadap mazhab, dengki dan melecehkan orang lain
  • Mengajak orang awam untuk berpikir tentang Dzat Allah
  • Berburuk sangka kepada kaum Muslimin

Penutup

Ketika amal dan ibadah tersebut dilakukan secara sempurna maka semua itu akan melahirkan spirit dan nilai-nilai luhur di dalam hati semisal tauhid, ikhlas, sabar, khauf, raja’ serta mahabbatullah. Selain itu, ia juga dapat mengusir nilai-nilai buruk dalam hati, semisal riya, ujub, ghurur dan marah karena dorongan nafsu atau setan.

Dengan nilai-nilai luhur seperti itu maka hati akan suci bersih. Hasilnya akan tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang yang dalam hatinya terpenuhi nilia-nilai luhur tersebut, ia dapat mengendalikan seluruh anggota tubuhnya agar sesuai perintah Allah dalam segala interaksi, baik ketika berinteraksi dengan keluarga, tetangga, masyarakat maupun umat manusia pada umumnya.

Allah SWT berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya…” (QS. Ibrahim: 24-25)

(Disarikan dari buku Tazkiyatun Nafs karya Syaikh Sa’id Hawwa rahimahullah, untuk UTS Take Home mata kuliah Tazkiyatun Nafs, oleh ust. Eko Budi Hartono)

Aduhai Betapa Kecilnya kita di Dunia ini!

1. Di sini kita semua hidup, planet Bumi…

2. Ini sistem tata surya, dan bandingkanlah bumi kita dengan planet lainnya…

3. Ini jarak antara bumi dan bulan…

4. Sejauh apa sich jarak antara bumi dan bulan itu…?

5. Jika kau belum merasakan betapa kecilnya kita ini… Begini kita-kira jika Amerika Utara (gabungan AS, Kanada, Meksiko) jika dibandingkan dengan planet Jupiter…

via: astronomycentral.co.uk

6. Kita bisa mensejajarkan enam planet bumi pada cincin planet Saturnus…

via: astronomycentral.co.uk

7. Dan begini jadinya jika bumi kita memiliki cincin seperti planet Saturnus…

via: io9.com

8. Ini adalah ukuran sebuah komet, jika dibandingkan dengan kota Los Angeles.. Menurut kamu ukurannya besar ga?

via: mentalfloss.com

9. Jika menurut kamu gambar komet itu sangat besar… Coba lihat gambar di bawah ini…

via: twitter.com

10. Begini bumi kita jika dilihat dari bulan…

NASA

11. Dan dari planet Mars…

NASA

12. Dari planet Saturnus…

NASA

13. Dan ini jika dilihat dari planet Neptunus, yang jaraknya 4 milyar mil dari bumi…

NASA

14. Sekali lagi, mari kita bandingkan ukuran bumi kita dengan matahari..

via: astronomycentral.co.uk

15. Benda bulat kecil berwarna putih itu adalah matahari, jika dilihat dari planet Mars..

NASA

16. Apakah kamu tahu, bahwa jumlah bintang di langit lebih banyak daripada jumlah butiran pasir yang ada di setiap pantai di muka bumi…?

via: science.nationalgeographic.com

17. Dan di antara bintang-bintang di langit, banyak di antaranya yang ukurannya lebih besar daripada matahari… Ini dia perbandingan antara matahari dan bintang VY Canis Majoris

via: wikipedia.org

18. Dan galaksi Bima Sakti tempat matahari dan bumi berada, itu ukurannya guuuuuuuuuuede banget… Perbandingannya dengan matahari kita.. Kalau matahari itu sebesar sel darah di tubuh kita, maka ukuran galaksi Bima Sakti sebesar Amerika Serikat…!!

via: reddit.com

19. Ini dia letak sistem Tata Surya kita di galaksi Bima Sakti..

via: teecraze.com

20. Bebintang yang berkelap kelip di langit malam, yang sering kita pandangi itu hanyalah sebagian kecil saja, seluas lingkaran kuning yang ada pada gambar di bawah ini…

via: twitter.com

21. Sebentar! Sebentar! Jangan-jangan kamu berpikir galaksi Bima Sakti adalah yang terbesar di jagad raya… Ini dia perbandingan antara galaksi Bima Sakti (Milky Way) dan galaksi Ic 1011..

via: twitter.com

22. Gambar di bawah ini berhasil diambil menggunakan teleskop Hubble.. Pada gambar ini saja, ada jutaan galaksi… tiap galaksi memiliki jutaan bintang… dan tidak berhenti di situ saja… tiap bintang, terdapat planet-planet yang mengorbitnya…

via: hubblesite.org

23. Ini adalah salah satu galaksi tersebut… Namanya UDF 423… jaraknya sekitar 10 milyar tahun cahaya dari kita… apa artinya itu..? jadi waktu yang ditempuh cahaya dari galaksi ini untuk menuju bumi adalah selama 10 milyar tahun lamanya..!!

via: wikisky.org

24. Sadarilah, bahwa pada setiap inchi pandangan kita ke langit, di sana ada milyaran galaksi, bintang dan planet…

via: thetoc.gr

25. Terakhir, ini adalah gambar Lubang Hitam (Black Hole) yang ada di luar angkasa… Black Hole adalah suatu bagian di luar angkasa yang memiliki gaya gravitasi sangat kuat, sampai-sampai cahaya yang masuk ke dalamnya tak akan bisa kembali lagi.. dan Gambar ini menunjukkan perbandingan antara black hole dengan orbit planet kita…

via: mcdonaldobservatory.org

Jadi di saat kita merenungi kehidupan dan keberadaan kita di muka bumi.. sadarilah betapa sangat kecilnya kita ini… kita hanyalah butiran debu di jagad raya yang maha luas ini…

masih kah kita berpikir itu bersikap sombong…? dan mengingkari keberadaan Allah SWT yang menciptakan dan mengatur semua ini…?

disinilah kita berada…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan ini planet bumi dalam sistem tata surya…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

dan ini tetangga kita… bintang lain dalam galaksi Bima Sakti..

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan bersama tetangga di atas.. di galaksi Bima Sakti letaknya di titik merah itu..!!

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan jika dilihat lebih jauh… di sini galaksi Bima Sakti berada bersama galaksi-galaksi lainnya..

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Kita lihat lebih jauh lagi…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Lebih jauh lagi…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan dari jarak yang lebih jauh lagi… ini dia jagad raya yang berhasil diobservasi oleh umat manusia sejauh ini…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan ketahuilah, sistem yang sempurna ini diciptakan dan diatur oleh Allah SWT, Tuhan Semesta Alam…

“…Dan telah diciptakan-Nya segala sesuatu, dan diberikan-Nya dengan ukuran-ukurannya dengan sempurna.” (QS. al-Furqan: 2)

Di balik setiap galaksi, bintang, planet dan semua yang ada di jagad raya ini terdapat suatu kehendak yang menyelaraskannya, suatu takdir yang menggerakkannya dan suatu hukum yang mengaturnya. Hukum ini mengatur hubungan antara masing-masing unit dari segala yang ada, mengatur semua gerakannya, sehingga tidak saling bertabrakan dan bertentangan, dan tidak pula berhenti semua gerakannya yang teratur dan berlangsung terus menerus seperti itu hingga hari penghakiman tiba…

Seluruh alam semesta ini tunduk dan berserah diri kepada yang mengaturnya, menggerakkannya dan menyelaraskannya… sehingga tak pernah sedetikpun mereka berontak terhadap kodrat ataupun melawan takdir ataupun melanggar hukum-Nya…

“Tuhan yang menjagamu adalah Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas ‘Arsy. Ia-lah yang menutupi siang dengan malam, yang masing-masing mengikutinya dengan cepat. Ia ciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Bukankah Ia Yang Menciptakan dan Memerintah? Mahasuci Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. al-A’raf: 54)

-disarikan dari Al-Islam karya Syaikh Said Hawwa-

Sumber gambar: JustSomething.co

Nasehat Dari Nikmat Allah Bernama Sakit

Oleh : Ust. Salim A Fillah

1. #Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya.

2. #Sakit, sebagaimana tiap ujian, tidaklah menguji kemampuan sebab telah diukur tepat sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna.

3. Maka dia nan mampu memberi makna terbaik bagi #Sakit, kemuliaannya akan diangkat untuk membuat malaikat yang selalu sehat itu tertakjub.

4. Bersyukurlah Salim diajari Mas @_pepeng yang pernah memaknai #Sakit & musibahnya: “Tugas kita meng-HADAP-i, biar Allah yang meng-ATAS-i!”

5. #Sakit adalah jalan kenabian Ayyub yang menyejarah. Kesabarannya diabadikan jadi teladan semesta. Hari-hari ini kita bercermin padanya.

6. #Sakit orang mulia bersebabkan kemuliaan; Asy Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu, Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa.

7. Nabi kitapun #Sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup di gigit pertama melalui celah gigi yang patah dalam perang Uhud.

8. Tetapi bahkan mereka yang penyebab #Sakit-nya tak semenakjubkan para luhur itu, tetap punya peluang mulia dengan memaknai rasa sakitnya.

9. #Sakit itu dzikruLlah. Mereka yang menderitanya hampir pasti lebih sering & syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

10. #Sakit itu istighfar. Mereka yang sedang disapanya lebih mudah untuk teringat dosa-dosa lama, mengakuinya, & bertaubat mohon ampun.

11. #Sakit itu Tauhid. Mereka yang parah dicengkamnya pasti dituntun orang untuk ber-kalimat thayyibat, mengesakanNya dalam lisan & rasa

12. #Sakit itu Muhasabah. Sebab dia yang sakit punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.

13. #Sakit itu Jihad. Sebab dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, dia diwajibkan untuk terus berikhtiar, berjuang bagi kesembuhannya.

14. #Sakit itu ilmu. Dalam menjalani pemeriksaan, berkonsultasi dengan dokter, dirawat, & berobat bertambahlah pengetahuan tentang tubuhnya.

15. #Sakit itu Nasehat. Yang sakit ingatkan nan sehat tuk jaga diri. Yang sehat menghibur si penderita agar bersabar. Allah cinta keduanya.

16. #Sakit itu silaturrahim. Yang jarang datang di saat nan bersangkutan sehat wal afiat, tiba-tiba menjenguk dengan senyum & rindu mesra.

17. #Sakit itu perekat ukhuwah. Kawan lama nan tak bersua bertahun lamanya, tiba-tiba berjumpa di waktu membezuk seorang kolega lainnya.

18. #Sakit itu belajar. Berbaring setengah duduk memungkinkan mencerap ilmu dengan tekun lewat buku, kata-kata terucap, maupun gambar gerak.

19. #Sakit itu membaca, menulis, berkarya. Habiburrahman El Shirazy menggoreskan Ayat-ayat Cinta saat terbaring patah kakinya.

20. #Sakit itu dijamin cinta Allah dalam sabarnya; sabar tetap ibadat, sabar tak bermaksiat, sabar tahan deritanya, sabar menunda capaian..

21. #Sakit itu gugur dosa-dosa. Barang haram terselip tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan nan mungkin berdosa dinyerikan & dicuciNya.

22. #Sakit itu mustajab doanya. Sampai-sampai Imam As Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka.

23. #Sakit itu salah satu keadaan yang menyusahkan syaithan; diajak maksiat tak mampu-tak mau, dosa yang lalu malah disesali lalu diampuni.

24. #Sakit itu membuat sedikit tertawa & banyak menangis; satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi & makhluq-makhluq langit.

25. #Sakit itu meningkatkan kualitas ibadah; ruku’-sujud lebih khusyu’, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyat & doa jadi lebih lama.

26. #Sakit itu memperbaiki akhlaq; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & tawadhu’.

27. #Sakit itu membuat kita lebih serius mengingat & mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat maut menghargai waktunya dengan baik.

Lebih Sibuk Memperbaiki Diri Sendiri

Kaum Muslimin yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Termasuk diantara jalan keselamatan adalah sibuk memperbaiki diri sendiri dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting bagi diri kita. Kita lihat bagaimana para salaf begitu sibuk mengoreksi diri mereka dari pada mengoreksi orang lain.

tree

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat Al-Fawa’id, hal. 56).

Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya -bisa jadi- jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29]).

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 38)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 62).

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 80).

Syaqiq Al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475).

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul, hal. 12) .

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa merasa diawasi Allah, mengevaluasi dirinya, dan membekali diri untuk menyambut akhiratnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 711)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (lihat Al-Fawa’id, hal. 143)

Hudzaifah Al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter utama. Pertama; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. Kedua; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah ta’ala. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- tatkala keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat Al-Qawa’id Al-Hisan, hal. 86)

Dikisahkan, ada seorang tukang kisah mengadu kepada Muhammad bin Wasi’. Dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat hati yang menjadi khusyu’, mata yang mencucurkan air mata, dan kulit yang bergetar?”. Maka Muhammad menjawab, “Wahai fulan, tidaklah aku pandang orang-orang itu seperti itu kecuali diakibatkan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhnya dzikir/nasehat jika keluar dari hati [yang jernih] niscaya akan meresap ke dalam hati pula.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 12)

Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

Al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihat Al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Melakukan kebaikan/ketaatan memunculkan cahaya bagi hati dan kekuatan bagi badan. Adapun melakukan kejelekan/dosa melahirkan kegelapan di dalam hati dan kelemahan badan.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 2 hal. 135)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mencintai orang-orang salih sementara aku bukanlah termasuk diantara mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku lebih jelek daripada mereka.” (lihat Shalahul Ummah fi ‘Uluwwil Himmah [1/133])

sumber: Muslim.or.id

Indahnya Makna Do’a Iftitah dan al-Fatihah dalam Ibadah Shalat


Berikut ini ada sesuatu yang menakjubkan bagi orang yang hatinya memahami esensi dan substansi al-Qur’an dari keajaiban nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT serta merasakan secara langsung keelokan iman, yaitu dia memandang bahwa setiap nama dan sifat Allah SWT memiliki tempat dalam shalatnya. Ketika dia berdiri tegak di hadapan Allah SWT, hatinya menyaksikan sifat Allah SWT al-Qayyum (Maha Mengurus makhluk-makhluk-Nya secara terus menerus).

Ketika mengucapkan: Allaahu Akbar “Allah Maha Besar”, hatinya menyaksikan kebesaran Allah SWT. Ketika mengucapkan doa’ iftitah: Subhanakallaahumma wa bihamdika, watabarakasmuka, wa ta’alaa jadduka, wa la ilaaha ghairuka “Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi kebesaran-Mu dan tak ada tuhan yang patut disembah selain-Mu”, hatinya menyaksikan Tuhan yang tersucikan dari segala bentuk cacat, terhindari dari segala bentuk kekurangan dan berhak menyandang segala pujian.

Do’a iftitah yang dimaksud adalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)

Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara marfu’, yaitu dari ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  Radhiallahu’anhum. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :

أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك

Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)” (HR. Muslim no.399) [editor, sumber: Muslim.or.id]

Pujian kepada Allah SWT berarti mensifatinya dengan seluruh bentuk kesempurnaan. Hal tersebut berkonsekuensinya tersucikannya Allah SWT dari segala bentuk kekurangan. Mahasuci nama-Nya. Tidak disebutkan pada sesuatu yang sedikit melainkan pasti menjadikannya banyak. Tidak disebutkan pada kebaikan melainkan pasti menumbuhkembangkan dan memberkatinya. Tidak disebutkan pada suatu musibah melainkan pasti akan mengusirnya dalam keadaan celaka dan putus asa.
Continue reading