Abu Bakar Ash-Shiddiq: Permata Hati yang Terlupa

Diterjemahkan oleh: Ust. Fachriy Aboe Syazwiena

Abu Bakr bukanlah orang faqir seperti Abu Dzar, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia di antara mereka itu.

Abu Bakr tak pernah disiksa seperti Khubab, Bilal, Sumayyah, Yasir, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia dibanding mereka yang disiksa itu.

Abu Bakr tak terbunuh sebagai syahid seperti Umar, Utsman, Ali, Hamzah, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi sosok terbaik dan termulia dibanding mereka para syuhada itu.

Rahasia apakah yang dimiliki Abu Bakr hingga sosoknya mampu mengalahkan mereka yang gemilang dalam prestasi ukhrawi masing-masing?

Kita biarkan seorang tabi’in menyingkap tabir kemuliaan Abu Bakr.

Bakr bin Abdillah al-Muzaniy berkata:

“Abu Bakr menggapai itu semua dan melebihi mereka bukan karena tingginya kuantitas shalat, puasa dan lainnya namun karena sesuatu yang menetap di hatinya yaitu amalan-amalan hati.”

Itulah yang dicapai Abu Bakr yang tak bisa digapai oleh amal-amal lain. Itulah yang menjadikan imannya lebih tinggi dibanding iman penduduk bumi jika memang mesti ditimbang.

Umar berkata:

“Kita telah memahami bahwa iman adalah amalan hati, ungkapan lisan dan peragaan anggota badan. Namun kita begitu mengusahakan rupa dan penampilan amal dan kuantitasnya. Begitu pula dgn ungkapan lisan. Namun sengaja melupakan mutiaranya yaitu ‘amal alqalb (amalan hati).

Setiap ibadah ada tampilan dan permata.

Ruku, sujud dan rukun lainnya dalam shalat ada tampilan namun khusyu adalah permatanya.

Menahan diri dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga maghrib adalah tampilan puasa namun takwa adalah permatanya.

Sa’i, thawaf, wukuf, dan melempar jumrah adalah tampilan haji namun pengagungan terhadap syiar Allah adalah permatanya.

Mengangkat tangan, menghadap kiblat, lafadz munajat dan pinta adalah tampilan doa namun ketundukan dan kepasrahan adalah mutiaranya.

Bertasbih, tahlil, takbir dan lainnya adalah tampilan dzikir namun pemuliaan, kecintaan, khauf dan raja’ adalah permatanya.

Permata di balik permata adalah penekanan amalan hati lebih diutamakan dibanding amalan anggota badan.

Esok akan datang: ((hari dinampakkan segala rahasia)) at-Thariq: 9

Esok pula: ((Dinampakkan apa yang ada dalam dada)) qs. Al-Adiyat: 10

Esok tak akan melesat ke Surga: ((kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang bersih)) qs as-Syuaro: 89

Esok tak melesat pula ke Surga kecuali: ((orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman)) qs al-Qaf: 34.

Posted from WordPress for Windows Phone

Syukuri Apa yang Ada


Oleh: Ust. Aan Chandra Thalib

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Tak seorangpun di dunia ini melainkan pernah bertemu dengan orang yang kondisinya lebih baik dirinya atau lebih buruk dirinya.

Bila engaku miskin, pasti ada yang jauh lebih miskin darimu.
Bila engkau sakit, pasti ada yang sakitnya jauh lebih parah darimu.
Lalu mengapa engkau lebih sering mengarahkan kepalamu ke atas, dan memandang orang-orang yang kondisinya lebih baik darimu, ketimbang mengarahkannya ke bawah agar engkau melihat orang yang kondisinya jauh lebih buruk darimu..?

Bila kau tau bahwa ada orang yang bisa meraih harta dan kedudukan yang mana engkau belum bisa meraihnya. Padahal dari aspek kecerdasan, pengetahuan dan perangai levelnya jauh dibawahmu, mengapa engkau tidak mengingat bahwa ternyata ada orang yang levelnya di diatasmu atau semisal denganmu dalam hal kecerdasan dan pengetahuan namun dia tidak pernah bisa meraih sebagian dari apa yang telah engkau raih…?

Falsafah rizki itu sangat sulit untuk dimengerti

Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupannya) dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupannya) berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rizkinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa mendapatkannya sambil duduk di atas kursi. Bersyukurlah karena Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.

Beliau juga mengatakan:

Dengan gaji yang sedikit engkau bisa menjadi manusia yang paling bahagia asalkan engkau cerdas mengelola keuanganmu dan ridho terhadap pembagian-Nya.

(Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma’a An-Naas hal: 78-79)

Posted from WordPress for Windows Phone

Aduhai Betapa Kecilnya kita di Dunia ini!

1. Di sini kita semua hidup, planet Bumi…

2. Ini sistem tata surya, dan bandingkanlah bumi kita dengan planet lainnya…

3. Ini jarak antara bumi dan bulan…

4. Sejauh apa sich jarak antara bumi dan bulan itu…?

5. Jika kau belum merasakan betapa kecilnya kita ini… Begini kita-kira jika Amerika Utara (gabungan AS, Kanada, Meksiko) jika dibandingkan dengan planet Jupiter…

via: astronomycentral.co.uk

6. Kita bisa mensejajarkan enam planet bumi pada cincin planet Saturnus…

via: astronomycentral.co.uk

7. Dan begini jadinya jika bumi kita memiliki cincin seperti planet Saturnus…

via: io9.com

8. Ini adalah ukuran sebuah komet, jika dibandingkan dengan kota Los Angeles.. Menurut kamu ukurannya besar ga?

via: mentalfloss.com

9. Jika menurut kamu gambar komet itu sangat besar… Coba lihat gambar di bawah ini…

via: twitter.com

10. Begini bumi kita jika dilihat dari bulan…

NASA

11. Dan dari planet Mars…

NASA

12. Dari planet Saturnus…

NASA

13. Dan ini jika dilihat dari planet Neptunus, yang jaraknya 4 milyar mil dari bumi…

NASA

14. Sekali lagi, mari kita bandingkan ukuran bumi kita dengan matahari..

via: astronomycentral.co.uk

15. Benda bulat kecil berwarna putih itu adalah matahari, jika dilihat dari planet Mars..

NASA

16. Apakah kamu tahu, bahwa jumlah bintang di langit lebih banyak daripada jumlah butiran pasir yang ada di setiap pantai di muka bumi…?

via: science.nationalgeographic.com

17. Dan di antara bintang-bintang di langit, banyak di antaranya yang ukurannya lebih besar daripada matahari… Ini dia perbandingan antara matahari dan bintang VY Canis Majoris

via: wikipedia.org

18. Dan galaksi Bima Sakti tempat matahari dan bumi berada, itu ukurannya guuuuuuuuuuede banget… Perbandingannya dengan matahari kita.. Kalau matahari itu sebesar sel darah di tubuh kita, maka ukuran galaksi Bima Sakti sebesar Amerika Serikat…!!

via: reddit.com

19. Ini dia letak sistem Tata Surya kita di galaksi Bima Sakti..

via: teecraze.com

20. Bebintang yang berkelap kelip di langit malam, yang sering kita pandangi itu hanyalah sebagian kecil saja, seluas lingkaran kuning yang ada pada gambar di bawah ini…

via: twitter.com

21. Sebentar! Sebentar! Jangan-jangan kamu berpikir galaksi Bima Sakti adalah yang terbesar di jagad raya… Ini dia perbandingan antara galaksi Bima Sakti (Milky Way) dan galaksi Ic 1011..

via: twitter.com

22. Gambar di bawah ini berhasil diambil menggunakan teleskop Hubble.. Pada gambar ini saja, ada jutaan galaksi… tiap galaksi memiliki jutaan bintang… dan tidak berhenti di situ saja… tiap bintang, terdapat planet-planet yang mengorbitnya…

via: hubblesite.org

23. Ini adalah salah satu galaksi tersebut… Namanya UDF 423… jaraknya sekitar 10 milyar tahun cahaya dari kita… apa artinya itu..? jadi waktu yang ditempuh cahaya dari galaksi ini untuk menuju bumi adalah selama 10 milyar tahun lamanya..!!

via: wikisky.org

24. Sadarilah, bahwa pada setiap inchi pandangan kita ke langit, di sana ada milyaran galaksi, bintang dan planet…

via: thetoc.gr

25. Terakhir, ini adalah gambar Lubang Hitam (Black Hole) yang ada di luar angkasa… Black Hole adalah suatu bagian di luar angkasa yang memiliki gaya gravitasi sangat kuat, sampai-sampai cahaya yang masuk ke dalamnya tak akan bisa kembali lagi.. dan Gambar ini menunjukkan perbandingan antara black hole dengan orbit planet kita…

via: mcdonaldobservatory.org

Jadi di saat kita merenungi kehidupan dan keberadaan kita di muka bumi.. sadarilah betapa sangat kecilnya kita ini… kita hanyalah butiran debu di jagad raya yang maha luas ini…

masih kah kita berpikir itu bersikap sombong…? dan mengingkari keberadaan Allah SWT yang menciptakan dan mengatur semua ini…?

disinilah kita berada…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan ini planet bumi dalam sistem tata surya…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

dan ini tetangga kita… bintang lain dalam galaksi Bima Sakti..

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan bersama tetangga di atas.. di galaksi Bima Sakti letaknya di titik merah itu..!!

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan jika dilihat lebih jauh… di sini galaksi Bima Sakti berada bersama galaksi-galaksi lainnya..

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Kita lihat lebih jauh lagi…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Lebih jauh lagi…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan dari jarak yang lebih jauh lagi… ini dia jagad raya yang berhasil diobservasi oleh umat manusia sejauh ini…

photo credits: Andrew Z. Colvin  (Own work) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons

Dan ketahuilah, sistem yang sempurna ini diciptakan dan diatur oleh Allah SWT, Tuhan Semesta Alam…

“…Dan telah diciptakan-Nya segala sesuatu, dan diberikan-Nya dengan ukuran-ukurannya dengan sempurna.” (QS. al-Furqan: 2)

Di balik setiap galaksi, bintang, planet dan semua yang ada di jagad raya ini terdapat suatu kehendak yang menyelaraskannya, suatu takdir yang menggerakkannya dan suatu hukum yang mengaturnya. Hukum ini mengatur hubungan antara masing-masing unit dari segala yang ada, mengatur semua gerakannya, sehingga tidak saling bertabrakan dan bertentangan, dan tidak pula berhenti semua gerakannya yang teratur dan berlangsung terus menerus seperti itu hingga hari penghakiman tiba…

Seluruh alam semesta ini tunduk dan berserah diri kepada yang mengaturnya, menggerakkannya dan menyelaraskannya… sehingga tak pernah sedetikpun mereka berontak terhadap kodrat ataupun melawan takdir ataupun melanggar hukum-Nya…

“Tuhan yang menjagamu adalah Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas ‘Arsy. Ia-lah yang menutupi siang dengan malam, yang masing-masing mengikutinya dengan cepat. Ia ciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Bukankah Ia Yang Menciptakan dan Memerintah? Mahasuci Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. al-A’raf: 54)

-disarikan dari Al-Islam karya Syaikh Said Hawwa-

Sumber gambar: JustSomething.co

Masing-masing Diberikan Kelebihan

oleh Ust. Anshari Taslim, Lc

Ibnu Abdil Barr menceritakan bahwa Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari Al-Abid menulis surat kepada Malik bin Anas untuk lebih giat beramal dan menyendiri, karena dia tidak suka kegiatan Malik yg menyibukkan diri dengan dunia ajar mengajar dan berkumpulnya orang padanya.
Lalu Malik bin Anas (Imam Darul Hijrah) ini menulis surat balasan kepada Abdullah,

“Sesungguhnya Allah itu telah membagi amal sebagaimana membagi rejeki. Betapa banyak orang yg Allah anugerahkan kekuatan untuk shalat, tapi kurang dari aspek puasa. Ada pula yg Allah anugerahkan kekuatan untuk bersedekah tapi kurang dalam hal puasa. Ada pula yg Allah anugerahkan kesempatannya untuk berjihad tapi dari sisi shalat (sunnah -penerj) dia tak terlalu menonjol.
Menyebarkan ilmu merupakan salah satu amal terbaik, dan aku ridha dgn apa yg Allah anugerahkan kepadaku dan aku tidak merasa bahwa apa yg kulakukan saat ini nilainya lebih rendah dari apa yg kau laksanakan.
Tapi aku berharap kita berdua mendapat nilai kebaikan. Hendaklah masing-masing kita ridha dgn apa yg telah Allah anugerahkan kepadanya. Wassalam.”

(Lihat: At-Tamhid jilid 7 hal. 185).

Demikian kira-kira isi balasan Malik yg diceritakan Ibnu Abdil Barr berdasarkan hafalannya karena buku asli yg berisi pernyataan Malik itu hilang pada saat dia menulis buku ini.

Begitulah, masing-masing orang Allah anugerahkan kesempatan dan kemampan yg berbeda-beda. Ada yg Allah anugerahkan keahlian di bidang agama sehingga dia bisa mengajar, ada yg Allah anugerahkan kelebihan harta sehingga dia bisa jadi penopang dakwah dgn infaqnya, ada yg Allah berikan kekuatan fisik dan keberanian hingga dia bisa berjihad. Bila dia rela dan memanfaatkan apa yg dianugerahkan Allah padanya maka dia tetap bisa memperoleh nilai sama dgn orang lain.

Maka jangan berkecil hati bagi yang tak punya ilmu, tak punya harta, tak punya tenaga, dia tetap bisa menjadi manusia terbaik dgn kesabarannya menghadapi semua kekurangan atau musibah, sehingga bisa jadi keikhlasannya menerima itu semua malah dinilai lebih tinggi oleh Allah daripada yg beramal tapi terkotori oleh riya`.

Selain itu kita juga tak boleh menganggap yg ahli di bidang tertentu lebih baik daripada yg ahli di bidang lain, karena semua harus bersinergy dan semua orang diaugerahkan Allah apa yg terbaik untuknya.

Inilah penjelasan dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من أنفق زوجين في سبيل الله نودي في الجنة يا عبد الله هذا خير فمن كان من أهل الصلاة نودي من باب الصلاة وإن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة وإن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان” فقال أبو بكر يا رسول الله ما على من يدعى من هذه الأبواب من ضرورة فهل يدعى أحد من هذه الأبواب كلها قال “نعم وأرجو أن تكون منهم”

“Siapa yg memberi nafkah sepasang harta di jalan Allah maka di surga nanti dia akan dipanggil, “Wahai hamba Allah, ini yg terbaik!” Siapa yg merupakan ahli shalat (sangat rajin shalat sunnah -penerj) maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, siapa yg ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli sedekah maka dia akan dipanggil dari pntu sedekah, kalau dia ahli puasa (sunnah -penerj) maka dia akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.”
Mendengar itulah berkatalah Abu Bakar, “Wahai Rasulullah, tidaklah ada keharusan untuk dipanggil dari pintu-pintu tersebut, lalu apakah ada orang yg dipanggil dari semua pintu?”
Rasulullah menjawab, “Ya ada, dan aku harap kau termasuk diantara mereka (yg dipanggil dari semua pintu).” (HR. Malik, Bukhari dan Muslim)

Posted from WordPress for Windows Phone

Anak yang Membuang Ibunya


Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Arab dulu hidup menjadi pengembala yang berpindah dari satu lembah ke lembah lain demi mencari rerumputan dan air untuk binatang ternak mereka.

Di antara mereka itu ada seorang laki-laki yang mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta. Dia adalah anak satu-satunya dari si ibu.

Karena sudah tua, si ibu ditimpa kepikunan. Kadang-kadang ia kehilangan ingatannya dan kadang-kadang normal.

Si ibu menjadi cengeng seperti anak-anak. Dia tidak mau berpisah dengan anak semata wayangnya.

Keadaan ibu itu membuat anaknya menjadi merasa terkungkung dari setiap tindakannya. Pandangan kaumnya kepada dirinya menjadi berkurang, begitu menurut perasaannya yang dangkal.

Pada suatu hari kaumnya ingin berpindah ke tempat lain, mencari sumber air baru dan rumput yang lebih subur.

Dia berpesan kepada istrinya: “Bila kita berangkat besok hari, tinggalkan ibuku di tempatnya. Dan tinggalkan juga di dekatnya bekal makanan dan air. Sampai nanti ada orang yang memungutnya, hingga kita terbebas darinya, atau dia meninggal”.

Istrinya menjawab: Tenanglah, aku akan melaksanakan apa yang kamu perintahkan.

Keesokan harinya rombongan qabilah Arab itu meninggalkan tempat itu. Di antara mereka adalah laki-laki itu bersama keluarganya.

Istri laki-laki tersebut meninggalkan ibunya di tempatnya sesuai perintah suaminya.

Akan tetapi di samping itu ia melakukan suatu hal sangat aneh. Istrinya juga meninggalkan anaknya yang masih kecil bersama si ibu.

Oh ya, dia mempunyai seorang anak laki-laki yang umurnya baru satu tahun. Anak itu sangat ia sayangi. Bila ia pulang dari bekerja dalam kondisi capek, dia selalu meminta anaknya itu untuk ia timang-timang. Hal itu membuat capek dan lelahnya bekerja menjadi hilang.

Setelah berjalan cukup jauh, rombongan qabilah Arab itu istirahat untuk makan siang, sekaligus memberi makan binatang ternak mereka. Mereka sudah kelelahan karena berjalan dari semenjak terbit fajar di subuh hari.

Masing-masing keluarga duduk bersama anggota keluarganya di sekitar binatang ternak mereka.

Sebagaimana biasanya, laki-laki itu meminta anaknya kepada istrinya untuk menghilangkan keletihannya.

Istrinya berkata: Anakmu sudah aku tinggalkan bersama ibumu. Kita tidak menginginkannya lagi.

Laki-laki itu bekata: “Apa?!”

Dia berteriak histeris menggelegar. Tubuhnya menghambur berdiri dengan tangan berkacak di pinggang. Matanya membelalak saking kagetnya mendengar jawaban istrinya.

Dengan tenang istrinya melanjutkan perkataannya: Iya, kita tidak menginginkannya lagi. Karena nanti dia akan membuang dirimu di padang pasir tandus sebagaimana yang kamu lakukan kepada ibumu.

Ucapan istrinya itu bagaikan halilintas menyambar perasaannya.

Dia langsung sadar bahwa dia sudah bersalah kepada ibunya. Karena itu ia tidak menjawab sepatahpun perkataan istrinya.

Segera saja ia menghambur dan mendecak kudanya, kemudian ia kembali ke tempatnya semula. Semoga saja ia masih mendapati ibu dan anaknya dalam keadaan selamat sebelum dimangsa oleh binatang buas.
Karena sudah menjadi kebiasaan, bila suatu tempat baru ditinggalkan oleh sebuah qabilah, binatang-binatang padang pasir akan datang untuk memakan sisa-sisa peninggalan mereka.

Laki-laki itu sampai ke tempatnya dan ia lihat ibunya lagi mendekap anaknya ke dadanya. Kepalanya di keluarkan supaya ia bisa bernafas. Di sekitarnya beberapa ekor srigala berkeliling-keliling ingin memangsa anak kecil itu. Sementara ibu tua itu melemparinya dengan batu.

Ibu tua itu berteriak-teriak: Pergi kalian….pergi kalian…..ini anak si Fulan. Sambil menyebut nama anaknya.

Ketika laki-laki itu melihat apa yang terjadi dengan ibu dan anaknya, dengan sigap ia membunuh beberapa ekor srigala, hingga yang lainnya kabur, lari tunggang langgang.

Kemudian ia memeluk ibu dan anaknya sambil menangis haru tersedu-sedu. Dia ciumi kepala dan pipi ibunya berulang kali. Dia betul-betul menyesal atas kekhilafannya tadi.

Selanjutnya ia memboyong ibu dan anaknya, kembali bergabung dengan rombongan qabilahnya.

Setelah kejadian itu, dia berubah menjadi anak yang paling berbakti kepada ibunya. Dia tidak pernah lagi meninggalkannya. Setiap kali berpindah tempat, ibunya lah yang paling duluan ia naiknya ke atas unta. Dia dan keluargannya berjalan di belakang.

Istrinya pun menjadi semakin berharga di matanya, karena ia telah mengajarkan dengan kecerdasannya suatu hal yang sangat berharga, yang tidak akan pernah terlupakan selama-lamanya.

Ya Allah, jadikan kami anak yang mampu berbakti kepada kedua orang tua kami.

Posted from WordPress for Windows Phone

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah (oleh Ust. Rahmat Abdullah)


Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi… mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan ‘manusiawi’ yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang… Dakwah ini berat… karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan…melalui jalan dakwah ini… mengarungi jalan perjuangan… kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya… Tetaplah disini… dijalan ini…bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh… Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya…tetaplah disini…

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri… karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan…

Jika bersama dakwah saja… kau serapuh itu…Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri…???

Posted from WordPress for Windows Phone

Lebih Sibuk Memperbaiki Diri Sendiri

Kaum Muslimin yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Termasuk diantara jalan keselamatan adalah sibuk memperbaiki diri sendiri dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting bagi diri kita. Kita lihat bagaimana para salaf begitu sibuk mengoreksi diri mereka dari pada mengoreksi orang lain.

tree

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengenali jati dirinya sendiri maka dia akan menyibukkan diri dengan memperbaikinya daripada sibuk mengurusi aib-aib orang lain. Barangsiapa yang mengenal kedudukan Rabbnya niscaya dia akan sibuk dalam pengabdian kepada-Nya daripada memperturutkan segala keinginan hawa nafsunya.” (lihat Al-Fawa’id, hal. 56).

Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya -bisa jadi- jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29]).

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 38)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat Ar-Risalah Al-Mughniyah, hal. 62).

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Sungguh aku pernah menghitung-hitung seratus sifat kebaikan dan aku merasa bahwa pada diriku tidak ada satu pun darinya.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 80).

Syaqiq Al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475).

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dicari untuk menuju sesuatu yang lain -yaitu amal- sebagaimana halnya sebatang pohon. Adapun amal laksana buahnya. Oleh sebab itu harus mengamalkan agama Islam, karena orang yang memiliki ilmu namun tidak beramal lebih jelek daripada orang yang bodoh.” (lihat Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul, hal. 12) .

Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa merasa diawasi Allah, mengevaluasi dirinya, dan membekali diri untuk menyambut akhiratnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 711)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (lihat Al-Fawa’id, hal. 143)

Hudzaifah Al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Hati yang sehat dan sempurna memiliki dua karakter utama. Pertama; kesempurnaan ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang tertancap di dalam hatinya. Kedua; kesempurnaan kehendak hatinya terhadap segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah ta’ala. Dengan kata lain, hatinya senantiasa menginginkan kebaikan apapun yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya. Kedua karakter ini akan berpadu dan melahirkan profil hati yang bersih, yaitu hati yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, serta mengenali kebatilan dan meninggalkannya. Orang yang ilmunya dipenuhi dengan syubhat/kerancuan dan keragu-raguan, itu artinya dia telah kehilangan karakter yang pertama. Adapun orang yang keinginan dan cita-citanya selalu mengekor kepada hawa nafsu dan syahwat, maka dia telah kehilangan karakter yang kedua. Seseorang bisa tertimpa salah satu perusak hati ini, atau bahkan -yang lebih mengerikan lagi- tatkala keduanya bersama-sama menggerogoti kehidupan hatinya (lihat Al-Qawa’id Al-Hisan, hal. 86)

Dikisahkan, ada seorang tukang kisah mengadu kepada Muhammad bin Wasi’. Dia berkata, “Mengapa aku tidak melihat hati yang menjadi khusyu’, mata yang mencucurkan air mata, dan kulit yang bergetar?”. Maka Muhammad menjawab, “Wahai fulan, tidaklah aku pandang orang-orang itu seperti itu kecuali diakibatkan apa yang ada pada dirimu. Karena sesungguhnya dzikir/nasehat jika keluar dari hati [yang jernih] niscaya akan meresap ke dalam hati pula.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 12)

Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

Al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihat Al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Melakukan kebaikan/ketaatan memunculkan cahaya bagi hati dan kekuatan bagi badan. Adapun melakukan kejelekan/dosa melahirkan kegelapan di dalam hati dan kelemahan badan.” (lihat Tafsir Ibnu Rajab, Jilid 2 hal. 135)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat At-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mencintai orang-orang salih sementara aku bukanlah termasuk diantara mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku lebih jelek daripada mereka.” (lihat Shalahul Ummah fi ‘Uluwwil Himmah [1/133])

sumber: Muslim.or.id

“Cucilah Tangan Ibumu…!”

Tangan ibu

Seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter meminang seorang gadis. Namun ketika gadis itu tahu bahwa ibu pemuda itu hanya seorang pembantu ia memberikan syarat supaya di hari resepsi pernikahannya nanti ibunya tidak dihadirkan. Itu sebagai syarat ia mau dipersunting.

Dokter muda itu menjadi serba salah. Tidak ada yang bisa membantunya menyelesaikan permasalahan itu kecuali salah seorang dari orang tua temannya yang sangat ia hormati. Beliau adalah seorang profesor di sebuah universitas. Dia ingin meminta pendapat dan saran darinya.

Ketika ia bertanya kepadanya, profesor itu mengajukan pertanyaan: “Kenapa harus ini yang dijadikan syarat?”

Dokter muda itu menjawab dengan malu-malu:

“Ayahku meninggal ketika aku masih berumur satu tahun. Ibu ku bekerja sebagai tukang cuci di rumah orang kaya untuk membiayai hidup dan pendidikan ku. Tapi ini adalah masa lalu yang membuatku minder, dan sekarang aku akan memulai kehidupan baru…”

Profesor itu berkata: “Aku punya permintaan sederhana kepadamu….Sekarang pulanglah ke rumahmu, dan cucilah tangan ibumu. Kemudian, besok datanglah menemuiku. Saat itu aku akan memberikan pertimbangan dalam masalah mu ini”.

Betul saja, ia langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ia meminta ibunya supaya mengizinkannya untuk mencuci tangannya.

Dia mulai mencuci tangan ibunya dengan perlahan dan lembut. Baru saja ia menyentuh tangan ibunya, air matanya berkucuran melihat kondisi kedua telapak tangan ibunya itu.

Hal pertama sekali yang terbayang di dalam fikirannya; betapa ibunya menanggungkan sakit dan pedih ketika tangannya pecah-pecah akibat terlalu banyak kena air.

Setelah selesai mencuci kedua tangan ibunya ia tidak sanggup menunggu hari esok. Dia langsung menghubungi orang tua temannya melalui telepon:

“Aku sangat berterima kasih sekali atas bimbingan bapak….. Aku sudah mengambil keputusan untuk masalah ini. Aku tidak akan mengorbankan ibuku demi hari bahagiaku. Beliau sudah mengorbankan seluruh hidupnya demi masa depanku”.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun….” (Luqman: 14)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah….(Al Ahqaf: 15)

Untaian Syair yang Membuat Imam Ahmad Menitikkan Air Mata

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَ مَا استَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”

وَتُخفِي الذَنبَ عَن خَلقِي وَ بِالعِصيَانِ تَأتِينِي

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

فَكَيفَ أُجِيبُ يَا وَيْحِيِ وَ مَن ذَا سَوفَ يَحمِينِي؟

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

أُسَلِّي النَفْسَ بِالآمَالِ مِن حِينٍ إِلَى حِينِي

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu

وَ أَنْسَى مَا وَرَاءَ المَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِينِي

Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani

كَأَنِّي قَدْ ضّمِنتُ العَيشَ لَيسَ المَوْتُ يَأْتِينِي

Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku

وَ جَائَتْ سَكرَةُ الموتِ الشَدِيدَةُ مَن سَيَحْمِينِي

Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?

نَظَرْتُ إِلَى الوُجُوْهِ أَ لَيْـسَ مِنهُمْ مَنْ سَيَفْدِينِـــي

Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?

سَأُسْأَلُ مَا الذِي قَدَّمْتُ فِي دُنيَايَ يُنْجِينِي

Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)

فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بَعدُ مَا فَرُّطْتُ فِي دِينِي
Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku

وَ يَا وَيْحِي أَ لَــــمْ أَسْمَعُ كَلَامَ اللهِ يَدْعُوْنِي

Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?

أَ لَــــمْ أَسْمَعْ لِما قَد جَاءَ فِي قَافٍ وَ ياسِين

Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?

أَ لَـــمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الحَشْرِ يَوْمَ الجَمْعِ وَ الدِّينِي

Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?

أَ لَـــمْ أَسْمَعْ مُنَادِي المَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِينِي
Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?

فَيَا رَبَّــــاه عَبدٌ تَــائِبٌ مَنْ ذَا سَيَؤْوِينِي

Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?

سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ لِلحَقِّ يَهْدِيْنِي

Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas Karunianya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku

أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّـــلْ فِي مَوَازِينِي

Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)

وَخَفِّف فِي جَزَائِي أَنتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِي

Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku

(Kitab Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah)

Posted from WordPress for Windows Phone

Twit-twit Penuh Hikmah

Saat anda mendapat kedudukan tinggi, teman2 anda kan tahu siapa anda. Saat anda jatuh, anda akan tahu siapa teman2 anda…

Seorang ulama ditanya ttg seseorng yg rajin ibadah tapi suka ghibah. Dia jawab, mungkin Allah kehendakinya rajin beramal utk orang lain.

Jika burung2 berkicau menyambut pagi yang segar…
Hendaknya kita berzikir menyambut mentari yang bersinar..

Ibnu Taimiah: Siapa yg ingin masuk derajat org mulia dan pilihan, maka setiap kali matahari terbit, niatkan utk memberi manfaat kpd makhluk

Bersatu itu indah..
Berceraiberai itu lemah..

Bersatu itu kapan saja relevan…
Berseteru itu kapan saja tidak relevan…

Kalau akidah tidak dapat menyatukan kalian, apalagi yg dapat menyatukan kalian, kecuali persatuan simbolis dan pragmatis?

Dlm persatuan jangan melulu lihat menang kalah, lihatlah perintah Allah yg pasti mengandung berkah….

Ucapan itu bagai anak panah, semua bisa melontarknnya. Yg penting adlah dirinya tahu kemana sasaran ucapannya spt dia tahu kemana sasaran panahnya..

Syekh Muhamad Habdan: Jadilah spt rembulan, naik meninggi untuk terangi dunia. Jangan spt asap, naik meninggi bikin sesak manusia.

Abdulkarim Bakkar: Saat menerima, yang bangkit adalah naluri. Saat memberi yang bangkit adalah ruhani….

Thariq Suwaidan:
Akal kecil: Sibuk bicarakan materi
Akal menengah: Sibuk bicarakan pribadi2
Akal besar: Sibuk bicarakan teori dan prestasi

Awad Alqarni: Prinsip2 bahagia:
Slalu bersama Allah
Jgn dengki
Jgn khianat
Hidup bersahaja
Berharap kebaikn dibalik musibah
Suka memberi

Nabil Awadhy: Yg paling indah setelah keimanan dan ketaatan adalah persaudaraan hakiki dan cinta sejati.

Yusuf Qardhawi: Perkasa tdk diukur oleh fisik, harta dan jabatan, tapi oleh kekuatan jiwa mnanggung tugas2 besar dan menjauhi perkara2 remeh

Abdulaziz Thuraify: Musuh paling berbahaya bagi kaum muslimin adlh kaum munafiq. Org pandainya saja sulit mengenali mereka, apalagi yg awam.

Jangan katakan berangkat kerja, katakan berangkat ibadah
Jgn katakan cari sesuap nasi, katakan cari karunia ilahi…

Membaca dan menulis sdh dipesankan sejak ayat2 pertama dlm Alquran, Al-alaq:1-5. Sudahkah kita jdi umat pembaca dan penulis….?

Jangan katakan berangkat kerja, katakan berangkat ibadah
Jgn katakan cari sesuap nasi, katakan cari karunia ilahi…

Posted from WordPress for Windows Phone