7 Ayat Yang Patut Direnungkan Para Juru Dakwah

Sumber: Muslim.or.id

Untuk para da’i (juru dakwah), guru dan murabbi (pendidik), renungkan ketujuh ayat ini:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

Iya.. bangunlah dan bangkitlah, sebab perubahan dan perbaikan tidak akan terwujud dengan hanya bergumul di atas kasur. “Bangunlah…. berarti bergeraklah!“.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

3. Dan Tuhanmu agungkanlah/besarkanlah!

Iya, besarkan dan agungkan nama Rabb-mu, bukan namamu, jamaahmu, apalagi partaimu. Sebagian orang –hadaahumullah– menjadikan cinta dan bencinya, wala dan baro’-nya diatas kepentingan pribadi atau golongannya, “Bila bukan bersama kami, maka berarti musuh kami”. Ini manhaj yang keliru.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

4. Dan pakaianmu bersihkanlah

Ada dua tafsiran ulama berkaitan dengan ayat ini:
1.Bersihkan jiwamu dari noda kesyirikan
2.Bersihkan pakaianmu saat menghadap Rabb-mu dalam beribadah.

Terlepas dari dua tafsiran tersebut, yang jelas seorang guru, da’i ataupun murobbi perlu membersihkan hatinya dari noda syirik dan syubhat. Dia juga perlu memperhatikan penampilan luarnya agar menarik hati anak didik serta mad’u-nya (objek dakwahnya).

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah

Iya, karena dosa akan menjadi penghalang diterimanya dakwahmu. Dosa akan melemahkanmu, dosa akan menimbulkan kebencian dihati makhluk-Nya, sehingga mereka membencimu sebelum dakwahmu.

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Iya, bahkan engkau harus merasa belum berbuat apa-apa. Jangan pernah berkata, “Kalau bukan karena saya dia tidak akan sesukses ini. Atau mengatakan, “saya yang menunjukinya jalan hidayah“, padahal Allah berfirman:

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (QS. Al Hujurot: 17).

Teruslah menanam kebaikan, lalu tunggu hingga semua berbuah indah, bila telah siap panen maka bersabarlah, petiklah hasilnya disana. Di surga firdaus yang tinggi.

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Ini semakna dengan firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Iya, karena kesabaran adalah kunci kesuksesanmu di dunia dan akhirat.

Posted from WordPress for Windows Phone

Syarat-syarat Seorang Da’i Dalam Pandangan Syaikh Muhammad Al-Ghazali

1366x768

Ketika Syekh al Ghazali ditanya tentang syarat-syarat seorang bisa menjadi da’i yang diharapkan (da’i disini bukan penceramah-penceramah ulung yang tampil di TV, tapi adalah orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Allah), maka Beliau menjawab dengan perkataan:

“Dakwah ke jalan Allah tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.. Pendakwah Islam di zaman kita sekarang ini haruslah memiliki seperangkat pengetahuan yang luas dan mencukupi tentang Islam dan kemanusiaan. Artinya dia hendaklah orang yang paham dengan al-Qur’an, Sunnah, Fiqh Islamy, dan Peradaban Islam. Dan di saat yang sama dia haruslah orang mengusai sejarah umum kemanusiaan, ilmu alam dan kehidupan, pengetahuan umum modern yang berkaitan dengan berbagai aliran pemikiran dan filsafat.

Seseorang yang menyeru ke jalan Allah hendaklah menyerahkan diri sepenuhnya dalam menyebarkan risalah dakwahnya. Hendaklah dia bergaul dengan masyarakat dengan hati yang terbuka tanpa rasa egois dan dengki, tidak gampang terprovokasi, tidak terkurung dalam pemikirannya sendiri, hingga dia bisa berbicara dengan orang lain dan menerima uzur dari orang-orang yang tersalah, tidak menyerang mereka membabi-buta tapi membimbing mereka dengan kesadaran.

Seorang Pendakwah Islam pada zaman sekarang ini membutuhkan kesadaran yang cukup tentang cara-cara tipu muslihat musuh-musuh Islam dengan berbagai latar belakang mereka, baik dari kalangan ateis yang tidak percaya Tuhan maupun kalangan Ahli Kitab yang mengingkari kebenaran Islam.

Sungguh telah kuperhatikan bahwa di medan dakwah saat ini ada sekelompok manusia yang memperburuk wajah Islam dengan seburuk-buruknya. Diantara mereka ada yang sibuk dengan pengharaman terus menerus, tidak ada yang lain didengar dari mereka kecuali bahwa agama ini menolak ini dan itu tanpa merasa bertanggung-jawab untuk mencari solusi pengganti yang dibutuhkan umat.. Seolah-olah kepentingannya hanyalah menghentikan orang yang sedang berjalan di sebuah jalan hingga diam di tempat, tanpa mengarahkannya ke jalan yang lebih lurus dan benar.

Juga kudapati di medan dakwah para da’i yang seolah-olah mereka hidup di masa lalu yang sangat jauh. Islam seolah-olah agama sejarah, bukan masa sekarang dan masa yang akan datang. Yang sangat aneh, engkau akan mendapati mereka sibuk memerangi dan menghujat pemahaman seperti Mutazilah dan Jahmiyah. Dia benar dalam hal itu, hanya saja dia lupa bahwa permusuhan yang dihadapi umat saat ini telah berubah, ada syubhat dan tema-tema baru yang muncul.

Kelompok lain kutemukan mereka tidak mampu membedakan antara penampilan dan isi (syakl wa maudhu), antara asal dengan cabang (ushl wa far’), atau antara sebahagian dan keseluruhan (juz’ wa kul). Mereka sampai mati-matian dalam mengingkari sebuah penampilan dengan mengerahkan segala kekuatannya untuk memerangi penampilan ini, sedangkan isi dan maksud sebenarnya mereka tidak tahu akan berbuat apa. Akhirnya mereka memerangi arah timur karena mengira disana ada musuh dan meninggalkan musuh yang nyata yang berada di sebelah barat, bahkan mereka memerangi yang bukan musuh.

Mereka-mereka ini hanyalah hambatan kepada dakwah Islam yang harus diperbaiki, sebagaimana harusnya memperbaiki orang-orang yang masuk ke medan dakwah dengan niat bekerja demi kepentingan pribadi. Karena amal untuk menegakkan nilai-nilai Islam bukanlah amal untuk mencapai kepuasan pribadi.

Setelah 40 tahun berjuang di jalan dakwah teranglah bagiku bahwa hambatan yang paling menyusahkan adalah aliran kerohanian yang rusak. Kerohanian yang menyandarkan diri kepada sebuah kekuatan gaib yang memberi ilham untuk berbuat khurafat dan mengada-adakan takhayul, atau dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Agama Islam adalah agama dengan kesadaran logika yang terang, sedangkan mereka menderita kelumpuhan akal bersanad sambung menyambung. Agama adalah hati yang jernih dan sehat, sedangkan hati mereka dikuasai penyakit-penyakit yang aneh.

Pada kenyataannya, kerohanian yang rusak adalah rahasia mengapa berpalingnya mereka yang dulu adalah orang-orang yang mampu berpikir lurus. Karena mereka memandang agama hanya dari sikap dan amalan sebagian pemuka alirannya dan pengaruh mereka kepada kehidupan umum. Yang terjadi adalah kelompok kerohanian ini menjadi musibah bagi agama ini baik dulu maupun sekarang.”

*dari Kitab Syekh al Ghazali Kama ‘Araftuhu, karangan Syekh Yusuf al Qardhawi (oleh Ust. Yahya Ibrahim).

Mencuri di Rumah Mufti

Kaaba_by_muhammadibnabdullah

Akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur itu memang lebih menyentuh daripada untaian kalimat. Nasihat dengan keteladanan lebih mengena daripada ucapan lisan. Itulah yang dipraktikkan oleh seorang ulama Rabbani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Selain menasihati umat dengan lisan dan tulisan, beliau juga membuat hati manusia tunduk dan jiwa-jiwa terketuk dengan keteladanan. Di antara contoh yang sangat mengagumkan dari keteladanan beliau adalah bagaimana beliau memperlakukan seorang pencuri yang tertangkap basah menyatroni rumahnya.

Salah seorang penuntut ilmu menceritakan:

Saat aku beri’tikaf di Masjid al-Haram di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, aku menghadiri majelisnya Syaikh Ibnu Utsaimin yang diadakan setelah shalat subuh usai. Ada seseorang bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan yang menurutnya terdapat kerancuan dan bagaimana pandangan Syaikh Ibnu Baz terhadap kasus tersebut. Syaikh Ibnu Utsaimin pun menanggapi si penanya dan memuji Syaikh Ibnu Baz rahimahumallahu jami’an.

Saat aku sedang hanyut dalam pembahasan pelajaran, tiba-tiba seorang laki-laki di sampingku –mungkin usianya akhir 30-an- sedang berurai air mata. Kemudian isak tangisnya mulai merambat ke telinga para peserta kuliah subuh itu.

Ketika pelajaran usai, kulemparkan pandanganku kepada laki-laki yang menangis tadi. Kulihat ia tengah memegang mush-haf dan tenggelam dalam kesedihannya. Kudekati dia meskipun terlihat ia tampak menghindar. Kuucapkan salam padanya dan kemudian aku bertanya, “Kaifa haaluka yaa akhi? Maa yubkiika?” (Apa kabarmu saudaraku? Apa yang membuatmu menangis?) Ia menjawab dengan suara parau yang tidak jelas. Terdengar hanya jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Aku pun mengulangi pertanyaanku, “Maa yubkiika akhi?” (Apa yang membuatmu menangis?).

Dengan wajah bersunggut-sunggut kesedihan ia menjawab, “Laa laa syai-a, innama tadzakkartu Ibnu Baz, fabakaitu” (Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Ibnu Baz. Kemudian aku pun menangis.).

Aku menangkap logatnya, akau tahu ia adalah seorang yang berasal dari Pakistan walaupun ia mengenakan pakaian Saudi. Akhirnya ia pun bercerita:

Dulu aku mengalami sebuah kejadian bersama beliau. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang satpam di salah satu pabrik di Kota Thaif. Kemudian sepucuk surat dari Pakistan sampai kepaku. Surat ini membawa kabar bahwa ibuku dalam keadaan sekarat/koma. Dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi transplantasi ginjal. Dan biayanya sebesar 7.000 Riyal Saudi. Sedangkan aku hanya memiliki 1.000 Riyal. Tidak kutemui seorang pun yang dapat membantuku demikian juga dari perusahaan.

Jika operasi tidak dilakukan dalam waktu satu pekan, kemungkinan ibuku akan meninggal. Keadaannya benar-benar tinggal menghitung hari. Aku menangisi ibuku. Karena dialah yang mengasuhku. Yang bergadang di malam hari untuk menjagaku. Situasi kepepet ini pun membuatku nekad. Akhirnya aku melompat masuk ke salah satu rumah di dekat pabrik tempatku bekerja. Kumasuki tempat itu pukul dua dini hari.

Setelah aku berhasil meloncati pagar rumah itu, beberapa saat kemudian tanpa kusadari petugas keamanan telah menangkapku. Mereka melemparku ke dalam mobil. Saat itu, betapa gelap dunia ini kurasakan.

Kemudian, menjelang shalat subuh, datanglah seorang polisi. Ia mengembalikanku ke rumah yang kusatroni tadi. Yang hendak kujarah barangnya. Polisi itu menempatkanku di suatu tempat, lalu ia pergi berlalu.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda dengan membawa makanan. Ia berkata, “Kul! Bismillah” (Makanlah dengan menyebut nama Allah).

Aku heran dan bingung. Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Saat adzan fajar berkumandang, orang-orang di rumah itu berkata kepadaku, “Tawadhdha’ lish shalah” (Wudhulah untuk shalat). Rasa khawatir dan takut menggerayangi tubuhku.

Lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah sepuh. Ia dituntun oleh seorang pemuda menuju padaku. Laki-laki tua itu menyalamiku kemudian mengucapkan salam. “Hal akalta?” (Sudah makan?) tanyanya. “Na’am” jawabku. Ia pun meraih tangan kananku lalu menggandengku pergi bersama ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Setelah shalat, kulihat laki-laki tua yang memegang tanganku itu duduk di sebuah kursi di baris depan masjid. Para jamaah dan pelajar pun mendekat, duduk di sekelilingnya. Mulailah Syaikh itu menyampaikan pelajaran.

Seketika itu kuletakkan kedua tanganku di kepala. Aku malu dan aku juga takut. “Ya Allaaah.. apa yang sudah aku lakukan??? Aku mencoba mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz” gumamku. Aku tahu, nama Syaikh Ibnu Baz karena beliau begitu tenar di negaraku Pakistan.

Setelah pelajaran usai, Syaikh kembali membawaku ke rumahnya. Dengan hangat, ia kembali menggapai tanganku dan mengajakku sarapan pagi. Sarapan yang dihadiri banyak orang-orang. Ia dudukkan aku di sampingnya. Sambil menyantap sarapan beliau bertanya, “Masmuka?” (Siapa namamu?) “Murtadha.” Jawabku.

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Beliau menanggapi, “Hasanan.. sanu’thika 9.000 Riyal.” (Baik, akan kami berikan 9.000 Riyal untukmu). “Al-mathlub 7.000 Riyal” (Yang dibutuhkan hanya 7.000 Riyal).

Beliau menanggapi, “Sisanya ambillah untukmu. Tetapi jangan kau ulangi lagi perbuatan mencuri itu wahai anakku”. Aku pun mengambil uang itu. Kuucapkan terima kasih kepadanya. Dan kudoakan kebaikan untuknya.

Setelah itu aku pulang ke Pakistan untuk membiayai operasi ibuku. Alhamdulillah ibuku bisa kembali sembuh.

Lima bulan kemudian, aku kembali ke Saudi. Dan langsung menuju Riyadh. Aku mencari Syaikh dan kukunjungi kediamannya. Aku sudah mengenalnya sekarang. Begitu pula beliau, tidak lupa padaku. Beliau bertanya tentang ibuku. Lalu aku berikan kepada beliau 1500 Riyal. Segera beliau bertanya, “Maa hadza?” (Apa ini?) “Al-Baaqi” (Sisanya) jawabku. Lalu beliau berkata, “Huwa laka” (Uang itu untukmu).

Aku kembali mengajukan permintaan kepada Syaikh, “Syaikh, aku ada permintaan”. “Apa itu wahai anakku?” katanya.

“Aku ingin bekerja padamu. Jadi pembantu atau yang lainnya. Aku mohon Syaikh, jangan tolak permintaanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Pintaku. “Hasanan” (Baiklah) jawabnya.

Lalu aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau rahimahullah wafat.

Salah seorang yang dekat dengan Syaikh mengabarkan kepadaku, “Tahukah engkau, saat kau melompati pagar rumah beliau. Beliau sedang shalat malam dan mendengar suara gaduh di halaman rumahnya. Lalu beliau menekan bel yang biasa ia gunakan untuk membangunkan orang-orang di rumahnya saat-saat shalat wajib saja. Mereka semua terbangun dan merasakan ada suatu kejanggalan. Lalu beliau memberi tahu bahwa ada suara ribut-ribut di halaman. Mereka pun menyampaikannya ke satpam, lalu satpam menelpon polisi. Tanpa menunggu lama mereka pun menangkapmu.

Syaikh pun bertanya apa yang terjadi. Orang-orang di rumahnya mengatakan ada pencuri, dan polisi telah menggelandangnya. Syaikh pun marah, lalu berkata, “Jangan, jangan.. bebaskan dia sekarang dari kantor polisi. Aku yakin dia tidak mencuri kecuali karena sangat terdesak. Kemudian kejadiannya sebagaimana yang sudah engkau ketahui”.

Aku (yang bertanya) berkata kepada sahabatku (yang bercerita), “Sekarang matahari telah terbit (sudah pagi). Seluruh umat ini terasa berat dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.
—–

Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.. Amin..

Sumber: KisahIslam

Teladan dari Lulusan Pesantren Kilat yang Melangit

Saat ini, media sosial banyak dimanfaatkan oleh berbagai kalangan dengan bermacam-macam latar belakang pendidikan untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya. Salah satu pihak yang gencar menyebarkan pemikiran-pemikirannya adalah kalangan yang mengaku Islam tetapi berpikiran liberal. Mereka aktif memposting opini dan pendapat mereka tentang sesuatu, dan tentunya dengan kacamata liberal yang mereka gunakan. Sayangnya, banyak kalangan awam yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang Islam, ikut terjebak dan terhipnotis dengan pendapat-pendapat mereka.

Pengguna sosial media dari kalangan aktivis Islam, sebagai bagian dari aktivitas amar ma’ruf nahi munkar sesekali perlu meng-counter atau menyanggah pendapat-pendapat kalangan Liberal ini. Dari Abu Sa’id Al Khudry ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim). Dalam meng-counter pendapat tersebut diperlukan kesabaran, keilmuan dan juga keikhlasan, bukan untuk popularitas belaka.

Ketika terpojok atau kalah dalam twitwar -perang status di Twitter- kalangan liberalis ini kemudian ada yang melabeli para aktivis Islam, sebagai “lulusan pesantren kilat”. Lulusan pesantren kilat, yang tak pantas mendebat mereka yang notabene jebolan pesantren “asli” dan lulusan universitas-universitas ternama di luar negeri. Lulusan pesantren kilat, yang dicap belum memiliki ilmu dan wawasan ke-Islam-an yang kuat.

Jika memang begitu kenyataannya, strata pendidikan kita tidak setinggi mereka, janganlah kita merasa putus asa dan hilang harapan. Kita jangan berhenti untuk menyuarakan kebenaran dan melawan kebathilan. Kita wajib untuk terus mendakwahi mereka dan korban pemikiran mereka dengan cara yang santun, bahasa yang sopan, argumentasi yang kuat dan akhlak yang baik, seperti teladan lulusan pesantren kilat yang akan diceritakan di bawah ini.

Dia bernama Habib al-Najjar. Dia adalah salah satu lulusan pesantren kilat yang fenomenal, mewangi namanya tercatat indah di surah yang paling sering dibaca oleh Muslim di tanah air, surah Yasin. Adalah Ashabul qaryah (penduduk suatu negeri), ketika diutus kepada mereka dua orang utusan oleh Allah SWT. “Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, ‘Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’” (QS. Yasin: 14). Kaum itu tetap membangkang dan tidak mengindahkan seruan para utusan dan melabeli para utusan sebagai pendusta.

Tetiba datanglah dari ujung kota seorang lelaki. Lelaki itu bukanlah siapa-siapa, dia tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Dia pun tak memiliki kedudukan yang mulia di mata kaumnya. Tapi dia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari itu semua, yaitu aqidah yang hidup dan menyeruak di dalam jiwanya, mendorong dan memotivasinya untuk datang dari ujung kota dengan ilmu yang seadanya untuk menguatkan dakwah para utusan. Lelaki itu ketika mendengarkan dakwah dari para utusan, kemudian langsung meresponnya setelah melihat adanya tanda-tanda kebenaran. Dengan bergegas ia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 20-21).

Imam Fakhrurrazi rahimahullaah dengan sangat indah nan menyentuh memaparkan beberapa hikmah yang agung, yang mengisyaratkan akan ajegnya dakwah tauhid di dalam dada Habib al-Najjar ini, yang demikian jujur dan ikhlas menyeru dan mengajak kaumnya. Dalam firman-Nya disebutkan, “Dengan bergegas”, sebagai gambaran bagi kita, bahwa ia ingin sekali kaumnya bisa sesegera mungkin merasakan dan mereguknya sejuknya hidayah seperti yang telah didapatkannya. Memberi motivasi bagi kita untuk senantiasa menguras segala daya upaya yang kita miliki untuk memberikan seuntai nasihat kepada orang yang kita cintai.

Seruan “Wahai kaumku..”, memiliki rahasia makna yang begitu mendalam, dimana dalam ungkapan tersebut nampak sekali bagaimana dalamnya rasa kasih sayang yang dimilikinya terhadap kaumnya. “Ikutilah utusan-utusan itu...”, merupakan ajakan agar mereka mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada mereka. Dia tidak mengatakan, “Ikutilah aku…”, karena memang dia bukanlah siapa-siapa. Dia mengajak mereka untuk mengikuti para Rasul yang telah menampakkan bukti yang terang benderang kepada mereka.

Kemudian, dalam firman-Nya pula disebutkan, Habib al-Najjar mengatakan, “Ikutilah orang yang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21). Ajakan dan seruan itu memiliki makna yang indah dan tersembunyi. Dia menggunakan metode yang paling indah dalam berdialog, berdebat dan berdiskusi. Dimana dia berusaha agar mereka menerima dengan lapang apa yang diserukan olehnya tanpa ada sedikit pun unsur pemaksaan. Dalam hal ini seolah-olah dia mengatakan, “Bayangkanlah, andaikan mereka itu bukanlah rasul Allah dan bukan pula para Nabi yang memberikan pengajaran menuju jalan yang benar, namun mereka itu orang yang mendapat petunjuk dan mengetahui dengan benar jalan lurus yang akan mengantarkan kepada jalan yang benar, kemudian mereka termasuk orang yang sama sekali tidak mengharapkan imbalan dan upah sepeserpun dari kalian.”

Lelaki itu juga bertanya, “Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku?” (QS. Yasin: 22). Itu adalah sebuah pertanyaan yang bersifat pengingkaran. Di dalamnya ada isyarat bahwasanya setiap orang hendaknya menyembah kepada Allah, Dzat yang sangat jelas eksistensi-Nya. Maka bagi yang tak mau menyembah Allah, hendaklah dia mengedepankan alasan yang barangkali dapat menghalanginya untuk beribadah kepada-Nya. Pada pertanyaan itu pula terdapat sebuah sentuhan makna yang demikian indah, dimana orang itu bertanya dan mengajak bicara dirinya sendiri, sebelum mengajak kaumnya. Dia mengatakan “Yang menciptakanku…”, bukan “Yang menciptakanmu..” Pertanyaan itu dia tutup dengan mengatakan, “Dan hanya kepada-Nya-lah kamu semua akan dikembalikan.” (QS. Yasin: 22).

Dia kembali melontarkan pertanyaan kepada kaumnya, “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya?” (QS. Yasin: 23). Pertanyaan itu benar-benar menggambarkan kesempurnaan tauhid yang telah telah dimilikinya. Pertanyaan itu mengingkari kesyirikan terhadap-Nya dan ketiadaan ibadah kepada selain Dia. Mereka semua termasuk ketiga utusan, Habib al-Najjar dan kaumnya sama-sama sebagai makhluk yang lemah dan tiada daya, yang senantiasa membutuhkan Allah dan menghajatkan-Nya. Dan jika sang lelaki itu tidak mengikuti seruan tauhid dari para utusan maka, “Sesungguhnya aku kalau begitu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 24).

Dia menutup ajakannya kepada kaumnya itu dengan sebuah closing statement yang mengagumkan. Dalam firman-Nya lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (QS. Yasin: 25). Pernyataan itu bukan hanya permintaan kepada kaumnya untuk sekedar mendengarkan pengakuannya saja, tetapi juga merespon ajakan kebenaran dan masuk dalam iman kepada-Nya.

Lelaki itu kemudian dibunuh oleh kaumnya. Dari Ibnu Mas’ud ra dikatakan, “Mereka menginjakkan kaki pada tubuhnya hingga tulang punggungnya keluar.” Sungguh Allah SWT tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah dia lakukan. Allah berfirman, “Masuklah ke surga.” (QS. Yasin: 26). Betapa mulianya ia setelah mendapatkan nikmat surga kemudian dia mengingat kaumnya dengan hati yang tulus penuh dengan keridhaan, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” (QS. Yasin: 26). Alangkah baiknya, jika kaum itu mengetahui apa yang akan mereka dapatkan jika mengikuti para utusan dan beriman kepada Allah SWT. Tapi sayang, mereka mengingkari dan Allah menghinakan mereka dengan, “Satu teriakan suara saja, maka tiba-tiba mereka mati semuanya.” (QS. Yasin: 29).

Bagi para da’i yang menyerukan kebenaran, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, termasuk lulusan pesantren kilat sekalipun hendaknya metodologi yang digunakan lelaki ini ditiru dan dipelajari, adanya kebenaran dalam dakwah yang disampaikan dan keikhlasan arah tujuan, semangat untuk mengantarkan pada hidayah, keberanian yang luar biasa, cara berpikir yang runtut dan penuh dengan kekuatan logika, dan itu semua kembali pada kuatnya iman yang mengakar pada lelaki rabbani tersebut.

Dia berani pasang badan di depan materialisme yang kejam. Dengan penuh kelembutan dia mengajak kaumnya untuk mengikuti kebenaran dan meminta kepada mereka untuk menyambut seruan para utusan. Walaupun dia sendiri melihat akan ada marabahaya yang akan menimpa dan siksaan yang akan melanda, dia tetap beriman dan dengan ikhlas mengumandangkan dengan lantang pengakuan keimanannya dan dia siap menanggung resiko yang bakal menimpanya.

Dan janganlah ketika berdebat atau adu argumentasi dengan pihak yang ingin kita dakwahi dengan tujuan untuk mencari kemenangan, pamor dan popularitas karena itu merupakan akhlak yang tercela. Ilmu yang mungkin tidak seberapa yang kita bisa jadi membantu untuk meraih kemenangan saat berdebat tapi sayang tak akan memberikan manfaat kelak di akhirat. Hasbunallaahu wa ni’mal wakil…

Rujukan:

  • Ali Muhammad Ash-Shalabi. 2013. Fikih Tamkin: Panduan Meraih Kemenangan dan Kejayaan Islam. Jakarta: Pustaka Kautsar
  • Ibnu Qudamah. 2013. Minhajul Qashidin: Jalan Orang-orang yang Mendapatkan Petunjuk. Jakarta: Pustaka Kautsar
  • Ibnu Katsir. 2012. Kisah Para Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam
  • Sayyid Quthb. 2004. Tafsir fi Zhilalil Qur’an Jilid 9. Jakarta: Gema Insani

Renungan – Pembangkit Tenaga Listrik


Dikisahkan suatu ketika Hasan Al Banna memberikan perumpamaan, saat taujih tentang tugas dakwah , beliau pun mengungkapkan : Di setiap kota terdapat pusat pembangkit listrik, para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah dan tempat lain.” Ketika listrik itu dimatikan dari pusat pembangkitnya, seluruh kota akan gelap.

Sebenarnya saat itu tenaga listrik masih ada, tersimpan di pembangkit pusat, tetapi tidak dialirkan, tidak dimanfaatkan.
Di sela taujihnya seketika itu sang murid Hasan Al Banna, Abbas As Siisiy mengungkapkan, “Begitu juga dengan Al-Qur’an,, “ia pusat pembangkit ‘tenaga’ bagi umat Islam, tetapi sumber pembangkit itu kini dicampakkan oleh umat Islam sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan masyarakat menjadi rusak.”

Maka aktifis dakwah memiliki tugas seperti pegawai listrik yang mengalirkan listrik ke rumah-rumah. Aktifis dakwah bertugas mengalirkan kekuatan Al-Qur’an ke hati umat, agar hati mereka selalu bersinar dan menyinari sekelilingnya.

“Kalau Anda tidak bersama dakwah, maka Anda tidak akan bersama dengan selainnya. Sedang dakwah kalaupun tidak dengan Anda, ia akan bersama selain Anda, dan jika Anda berpaling, maka Allah pasti akan menggantikan Anda dengan generasi baru yang tidak seperti Anda,”

(HASAN AL BANNA)

Posted from WordPress for Windows Phone

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah (oleh Ust. Rahmat Abdullah)


Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi… mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan ‘manusiawi’ yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang… Dakwah ini berat… karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan…melalui jalan dakwah ini… mengarungi jalan perjuangan… kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya… Tetaplah disini… dijalan ini…bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh… Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya…tetaplah disini…

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri… karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan…

Jika bersama dakwah saja… kau serapuh itu…Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri…???

Posted from WordPress for Windows Phone

Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak

lantern-bird-candle-shadows-light-book-hd-wallpaper

Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah mapan ilmunya, banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan oleh para salaf.

Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.

Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.

Namun barangkali kita lupa?

Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat bisa kuasai ilmu yang lebih tinggi?

Atau niatan dalam belajar yang sudah berbeda, hanya untuk mendebat orang lain? Continue reading

Benarkah Nabi Nuh Tidak Bersabar Karena Meminta Adzab Untuk Kaumnya?

Sebagian orang ada yang menuduh Rasulullah Nuh ‘alaihissalam bukanlah seorang Rasul yang sabar menghadapi kaumnya, padahal Allah sendiri menggelarinya ulul azmi di antara para rasul. Alasan orang-orang yang menuduh Nabi Nuh tidak sabar karena Nabi Nuh memintakan adzab kepada Allah untuk kaumnya.

Mari pahami alur kisahnya, mengapa Nabi Nuh mengucapkan demikian, sehingga kita tidak berburuk sangka kepada utusan Allah yang mulia.

Kaum Nuh adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya melakukan kekufuran, mereka juga senantiasa menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan adzab sebagai bukti kebenaran dakwahnya itu. Mereka mengatakan,

 

يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32) Continue reading

“Bagi tiap zhalim yang perkasa; Allah selalu hadirkan pejuang gigih”

Auliyanti's Blog

Bagi tiap orang zhalim yang perkasa; Allah selalu hadirkan pejuang gigih. Tapi Dia Maha Kuasa mengakhiri dengan hal kecil & sederhana. #i

Bagi Fir’aun yang merasa kuasa mengalirkan Nil & memperbudak Bani Israil; ada Musa tak putus asa. Tapi airlah yang mengakhiri si raja. #i

Bagi Namrud yang menyatakan mampu menghidupkan & mematikan; ada Ibrahim mendebatnya. Tapi nyamuk saja yang menjadi sebab khatamnya. #i

Bagi gegap gempita kepungan pasukan Ahzab; ada keteguhan Nabi & para sahabat di dalam Khandaq. Tapi anginlah yang menyapu bersihnya. #i

Bagi Abrahah & pasukan gajah yang pongah; ada ‘Abdul Muthalib berserah pada Allah. Lalu batu kecil dari sijjil dilempar burung mungil. #i

Bagi Jalut yang kuatnya membuat takut & kecut; ada Thalut yang diutus bersama tabut. Tapi ketapel kecil bocah Dawud lah pembawa maut. #i

Maka tugas kita atas kezhaliman hanya taat pada Allah & berteguh istiqamah. Lalu bersiaplah tuk kejutan pertolonganNya Yang Maha Jaya…

View original post 200 more words