Jumlah Huruf dalam Al-Qur’an

Al-Imam Syaafi’i dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli ’u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur ’an diurut sesuai dengan banyaknya:

o Alif : 48.740 huruf,

o Lam : 33.922 huruf,

o Mim : 28.922 huruf,

o Ha ’ : 26.925 huruf,

o Ya’ : 25.717 huruf,

o Wawu : 25.506 huruf,

o Nun : 17.000 huruf,

o Lam alif : 14.707 huruf,

o Ba ’ : 11.420 huruf,

o Tsa’ : 10.480 huruf,

o Fa’ : 9.813 huruf,

o ‘Ain : 9.470 huruf,

o Qaf : 8.099 huruf,

o Kaf : 8.022 huruf,

o Dal : 5.998 huruf,

o Sin : 5.799 huruf,

o Dzal : 4.934 huruf,

o Ha : 4.138 huruf,

o Jim : 3.322 huruf,

o Shad : 2.780 huruf,

o Ra ’ : 2.206 huruf,

o Syin : 2.115 huruf,

o Dhadl : 1.822 huruf,

o Zai : 1.680 huruf,

o Kha ’ : 1.503 huruf,

o Ta’ : 1.404 huruf,

o Ghain : 1.229 huruf,

o Tha’ : 1.204 huruf dan terakhir

o Dza’ : 842 huruf.
Jumlah total semua huruf dalam al- Qur’an sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah total ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.

Pahala membaca satu huruf Qur’an adalah 1 kebaikan yang dibalas 10 kebaikan. Jika dikalikan: 1.027.000 × 10 = 10.270.000 pahala kebaikan. Itu baru 1 kali khatam Qur’an. Bagaimana jika sampai dua, tiga, empat, atau lima kali khatam Qur’an. 
Yuk khatamkan Qur’an di Bulan Ramadhan ini..! Bismillah

Sumber: Ust. Fahmi Salim, Lc. MA.

Doa Memohon Petunjuk, Ketakwaan, Keterjagaan dan Kecukupan

Pembaca yang budiman, kali ini pembaca sekalian akan kami perkenalkan dengan sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang ringkas namun padat maknanya. Demikianlah memang, salah satu keutamaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah beliau diberikan jawami’ al kalim, yaitu kemampuan untuk berkata-kata ringkas namun padat dan luas maknanya. Demikian pula dalam keumuman doa-doa beliau.

Berikut ini doanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau biasa berdoa:

/Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa/

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)”

(HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya).

Derajat hadits

Hadits ini shahih tanpa keraguan, semua perawinya tsiqah. Dan hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, yang sudah cukup menjadi indikasi shahihnya hadits tersebut.

Penjelasan hadits

Dalam doa ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk memohon 4 hal, yaitu:

Al Hudaa (petunjuk)At Tuqaa (ketaqwaan)Al ‘Afaaf (keterjagaan)Al Ghina (kekayaan)

Namun para ulama menjabarkan lebih luas makna dari 4 hal yang kita minta di sini. Al Mulla Ali Al Qari menjelaskan makna-makna: “Al Hudaa, artinya hidayah yang sempurna. At Tuqaa, artinya ketaqwaan yang menyeluruh. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah, artinya al kafaaf (kecukupan rezeki). Sebagian ulama mengatakan artinya adalah al iffah (terjaganya diri dari maksiat). Sebagian ulama mengatakan artinya keterjagaan diri dari yang haram. Dalam kamus Ash Shihah, ya’ifu – ‘affan, ‘iffatan, ‘afaafan artinya kaffun(kecukupan). Dan dinukil dari Abul Futuh An Naisaburi bawah ia berkata: ‘Al Afaaf artinya keshalihan jiwa dan hati’. Adapun al ghinaa artinya kekayaan hati, yaitu merasa cukup dari apa yang ada pada manusia” (Mirqatul Mafatih, 5/1721).

Imam An Nawawi juga menjelaskan, “Al ‘Afaaf dan al iffah artinya terhindar dari hal-hal yang tidak halal dan terjaganya diri dari hal tersebut. Adapun al ghinaa di sini adalah kekayaan jiwa, dan merasa cukup dari apa yang ada pada manusia dan apa yang ada di tangan mereka” (Syarah Shahih Muslim 17/41).

Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i menjelaskan, “Al Hudaa, dengan ha di-dhammah dan dal di-fathah, artinya lawan dari kesesatan. At Tuqaa, dengan ta di-dhammah, maknanya taqwa. Yaitu isim mashdar dari ittaqaytullah itqaa-an, artinya adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Al ‘Afaaf, dengan ‘ain di-fathah dan dua huruf fa’, mashdar dari ‘affa, artinya terhindar dari segala maksiat dan keburukan. Al Ghinaa, dengan ghain di-kasrah dan dalam bentuk qashr, artinya tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).

Dengan demikian jika kita ringkas dari penjelasan-penjelasan di atas, 4 hal yang diminta dalam doa ini adalah:

Al Hudaa, yaitu petunjuk yang sempurna dari Allah untuk menjalani jalan yang lurus 

At Tuqaa, yaitu ketaqwaan yang menyeluruh dalam semua hal, dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi yang dilarang dalam agama

Al ‘Afaaf, yaitu keterjagaan dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan hal-hal yang tidak halal, sehingga hati dan jiwa kita menjadi shalih.Al Ghina, yaitu kekayaan hati, sehingga tidak merasa bergantung dan terlalu mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, melainkan bergantung dan berharap pada apa yang ada di tangan Allah

Pembaca yang budiman, mengapa al huda dan at tuqaa lebih didahulukan untuk diminta? Nah, ketahuilah bahwa ternyata urutan dari 4 hal yang diminta tadi pun ada rahasianya. Simak penjelasan Ibnu ‘Allan berikut ini: “Al Huda (petunjuk) didahulukan karena dialah landasan, dan ketaqwaan dibangun di atasnya. Sedangkan digandengkannya al ‘afaaf kepada al huda, ini merupakan penggandengan sesuatu yang khusus kepada sesuatu yang umum, dalam rangka menegaskan hal yang khusus tersebut. Karena nafsu, memiliki kecenderungan untuk mengajak kepada lawan dari al ‘afaaf (yaitu maksiat dan keburukan). Maka seorang hamba hendaknya meminta pertolongan Allah untuk meninggalkannya. Nah, setelah sempurna permintaan-permintaan yang terkait dengan agama, maka selanjutnya permintaan ditujukan untuk sebagian perkara dunia, yaitu al ghinaa, merasa cukup atau tidak ada perasaan merasa butuh kepada makhluk” (Dalilul Falihin, 7/275).

At Thibbiy juga menjelaskan rahasia lainnya, “Dimintanya al huda dan at tuqaa secara mutlak untuk meraih petunjuk yang semestinya diterapkan dalam mendapatkan penghidupan, perbekalan dan akhlak-akhlak mulia. Dan juga petunjuk untuk menghindari apa-apa yang semestinya dijauhi dalam melakukannya, baik baik berupa syirik, maksiat dan akhlak-akhlak tercela. Adapun meminta al ‘afaaf dan al ghina adalah penyebutan yang lebih khusus setelah disebutkan yang lebih umum” (dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 9/324).

Subhaanallah… ternyata doa yang singkat ini adalah doa yang mengumpulkan hal-hal yang bisa meraih banyak kebaikan agama dan kebaikan dunia bagi seseorang. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di juga menjabarkan bagaimana dahsyatnya doa ini, beliau berkata: “Doa ini merupakan diantara doa yang paling padat dan paling bermanfaat. Karena di dalamnya terkandung permintaan kebaikan agama dan kebaikan dunia. Sebab, yang dimaksud al hudaa adalah ilmu yang bermanfaat, at tuqaa adalah amal shalih dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan dua hal ini, terwujudlah kebaikan agama. Karena hakikat agama adalah ilmu yang bermanfaat dan pemahaman yang benar, dan inilah al hudaa, serta menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan inilah at tuqaa.

Sedangkan permintaan al ‘afaaf dan al ghina mengandung ketercukupan diri dari makhluk dan tidak bergantungnya hati kepada mereka. Lalu merasa cukup dengan Allah dan rizki dari Allah, serta qana’ah dengan apa yang diberikan Allah, dan meminta segala kecukupan yang bisa membuat hati seorang hamba tenang. Dengan semua ini, sempurnalah kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Inilah kehidupan yangthayyibah. Barangsiapa yang diberi rizki oleh Allah berupa al hudaa, at tuqaa, al ‘afaaf dan al ghinaa ia telah mendapatkan dua kebahagian dan ia mendapatkan semua yang hal diinginkan serta terhindar dari semua hal yang tidak disukai. Wallahu a’lam” (Bahjah Qulub Al Abrar, 205).

Menariknya di sini As Sa’di menjelaskan bahwa hidayah adalah ilmu dan taqwa adalah amal shalih. Seseorang dikatakan mendapatkan hidayah ketika ia berilmu, dan bertaqwa ketika mengamalkan agama berdasarkan ilmu. Bukan karena ikut-ikutan, hawa nafsu atau berdasarkan opini masing-masing. Oleh karena itu, Thalq Bin Habib Al’Anazi mengatakan:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah” (Siyar A’lamin Nubala, 8/175).

Demikian, mudah-mudahkan kita diberi hidayah oleh Allah untuk dapat mengamalkan doa ini dalam keseharian kita. Terutama dibaca di waktu-waktu yang mustajab seperti ketika sepertiga malam yang akhir, di antara adzan dan iqamah, diwaktu bersujud atau sebelum salam dalam shalat, ketika hujan dan waktu-waktu mustajab lainnya. Semoga kita diantara para hamba yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan kelapangan hati. Wabillahi at taufiq wa sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

7 Ayat Yang Patut Direnungkan Para Juru Dakwah

Sumber: Muslim.or.id

Untuk para da’i (juru dakwah), guru dan murabbi (pendidik), renungkan ketujuh ayat ini:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

Iya.. bangunlah dan bangkitlah, sebab perubahan dan perbaikan tidak akan terwujud dengan hanya bergumul di atas kasur. “Bangunlah…. berarti bergeraklah!“.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

3. Dan Tuhanmu agungkanlah/besarkanlah!

Iya, besarkan dan agungkan nama Rabb-mu, bukan namamu, jamaahmu, apalagi partaimu. Sebagian orang –hadaahumullah– menjadikan cinta dan bencinya, wala dan baro’-nya diatas kepentingan pribadi atau golongannya, “Bila bukan bersama kami, maka berarti musuh kami”. Ini manhaj yang keliru.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

4. Dan pakaianmu bersihkanlah

Ada dua tafsiran ulama berkaitan dengan ayat ini:
1.Bersihkan jiwamu dari noda kesyirikan
2.Bersihkan pakaianmu saat menghadap Rabb-mu dalam beribadah.

Terlepas dari dua tafsiran tersebut, yang jelas seorang guru, da’i ataupun murobbi perlu membersihkan hatinya dari noda syirik dan syubhat. Dia juga perlu memperhatikan penampilan luarnya agar menarik hati anak didik serta mad’u-nya (objek dakwahnya).

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah

Iya, karena dosa akan menjadi penghalang diterimanya dakwahmu. Dosa akan melemahkanmu, dosa akan menimbulkan kebencian dihati makhluk-Nya, sehingga mereka membencimu sebelum dakwahmu.

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Iya, bahkan engkau harus merasa belum berbuat apa-apa. Jangan pernah berkata, “Kalau bukan karena saya dia tidak akan sesukses ini. Atau mengatakan, “saya yang menunjukinya jalan hidayah“, padahal Allah berfirman:

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (QS. Al Hujurot: 17).

Teruslah menanam kebaikan, lalu tunggu hingga semua berbuah indah, bila telah siap panen maka bersabarlah, petiklah hasilnya disana. Di surga firdaus yang tinggi.

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Ini semakna dengan firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Iya, karena kesabaran adalah kunci kesuksesanmu di dunia dan akhirat.

Posted from WordPress for Windows Phone

Syarat-syarat Seorang Da’i Dalam Pandangan Syaikh Muhammad Al-Ghazali

1366x768

Ketika Syekh al Ghazali ditanya tentang syarat-syarat seorang bisa menjadi da’i yang diharapkan (da’i disini bukan penceramah-penceramah ulung yang tampil di TV, tapi adalah orang-orang yang menyeru manusia ke jalan Allah), maka Beliau menjawab dengan perkataan:

“Dakwah ke jalan Allah tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.. Pendakwah Islam di zaman kita sekarang ini haruslah memiliki seperangkat pengetahuan yang luas dan mencukupi tentang Islam dan kemanusiaan. Artinya dia hendaklah orang yang paham dengan al-Qur’an, Sunnah, Fiqh Islamy, dan Peradaban Islam. Dan di saat yang sama dia haruslah orang mengusai sejarah umum kemanusiaan, ilmu alam dan kehidupan, pengetahuan umum modern yang berkaitan dengan berbagai aliran pemikiran dan filsafat.

Seseorang yang menyeru ke jalan Allah hendaklah menyerahkan diri sepenuhnya dalam menyebarkan risalah dakwahnya. Hendaklah dia bergaul dengan masyarakat dengan hati yang terbuka tanpa rasa egois dan dengki, tidak gampang terprovokasi, tidak terkurung dalam pemikirannya sendiri, hingga dia bisa berbicara dengan orang lain dan menerima uzur dari orang-orang yang tersalah, tidak menyerang mereka membabi-buta tapi membimbing mereka dengan kesadaran.

Seorang Pendakwah Islam pada zaman sekarang ini membutuhkan kesadaran yang cukup tentang cara-cara tipu muslihat musuh-musuh Islam dengan berbagai latar belakang mereka, baik dari kalangan ateis yang tidak percaya Tuhan maupun kalangan Ahli Kitab yang mengingkari kebenaran Islam.

Sungguh telah kuperhatikan bahwa di medan dakwah saat ini ada sekelompok manusia yang memperburuk wajah Islam dengan seburuk-buruknya. Diantara mereka ada yang sibuk dengan pengharaman terus menerus, tidak ada yang lain didengar dari mereka kecuali bahwa agama ini menolak ini dan itu tanpa merasa bertanggung-jawab untuk mencari solusi pengganti yang dibutuhkan umat.. Seolah-olah kepentingannya hanyalah menghentikan orang yang sedang berjalan di sebuah jalan hingga diam di tempat, tanpa mengarahkannya ke jalan yang lebih lurus dan benar.

Juga kudapati di medan dakwah para da’i yang seolah-olah mereka hidup di masa lalu yang sangat jauh. Islam seolah-olah agama sejarah, bukan masa sekarang dan masa yang akan datang. Yang sangat aneh, engkau akan mendapati mereka sibuk memerangi dan menghujat pemahaman seperti Mutazilah dan Jahmiyah. Dia benar dalam hal itu, hanya saja dia lupa bahwa permusuhan yang dihadapi umat saat ini telah berubah, ada syubhat dan tema-tema baru yang muncul.

Kelompok lain kutemukan mereka tidak mampu membedakan antara penampilan dan isi (syakl wa maudhu), antara asal dengan cabang (ushl wa far’), atau antara sebahagian dan keseluruhan (juz’ wa kul). Mereka sampai mati-matian dalam mengingkari sebuah penampilan dengan mengerahkan segala kekuatannya untuk memerangi penampilan ini, sedangkan isi dan maksud sebenarnya mereka tidak tahu akan berbuat apa. Akhirnya mereka memerangi arah timur karena mengira disana ada musuh dan meninggalkan musuh yang nyata yang berada di sebelah barat, bahkan mereka memerangi yang bukan musuh.

Mereka-mereka ini hanyalah hambatan kepada dakwah Islam yang harus diperbaiki, sebagaimana harusnya memperbaiki orang-orang yang masuk ke medan dakwah dengan niat bekerja demi kepentingan pribadi. Karena amal untuk menegakkan nilai-nilai Islam bukanlah amal untuk mencapai kepuasan pribadi.

Setelah 40 tahun berjuang di jalan dakwah teranglah bagiku bahwa hambatan yang paling menyusahkan adalah aliran kerohanian yang rusak. Kerohanian yang menyandarkan diri kepada sebuah kekuatan gaib yang memberi ilham untuk berbuat khurafat dan mengada-adakan takhayul, atau dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Agama Islam adalah agama dengan kesadaran logika yang terang, sedangkan mereka menderita kelumpuhan akal bersanad sambung menyambung. Agama adalah hati yang jernih dan sehat, sedangkan hati mereka dikuasai penyakit-penyakit yang aneh.

Pada kenyataannya, kerohanian yang rusak adalah rahasia mengapa berpalingnya mereka yang dulu adalah orang-orang yang mampu berpikir lurus. Karena mereka memandang agama hanya dari sikap dan amalan sebagian pemuka alirannya dan pengaruh mereka kepada kehidupan umum. Yang terjadi adalah kelompok kerohanian ini menjadi musibah bagi agama ini baik dulu maupun sekarang.”

*dari Kitab Syekh al Ghazali Kama ‘Araftuhu, karangan Syekh Yusuf al Qardhawi (oleh Ust. Yahya Ibrahim).

Saifuddin Quthuz di Tengah Bangsa Kalah (Kebangkitan di tengah Keterpurukan)

Oleh: Ust. Budi Ashari Lc

Semua sebab kejatuhan Daulah-Daulah Islamiyyah ada pada kita.

Tetapi, semua sebab kebangkitan perlahan mulai terlihat.

Para ahli sejarah Islam, khususnya DR. Abdul Halim Uwais –rahimahullah– banyak mengkaji kejatuhan berbagai daulah Islam sepanjang sejarahnya. Ada dua poin penting yang bisa disimpulkan:

Pertama, selalu ada sebab-sebab yang sama walau berbeda zaman. Itulah mengapa sejarah berulang sebagai sunnatullah.

Kedua, semua sebab itu ada pada kita hari ini. Itulah mengapa kita jatuh.

Di awal, kita akan membicarakan sebagian dari penyebab itu, bukan untuk sekadar membuka luka tetapi untuk memahaminya agar mendapatkan obat yang tepat.

Rusaknya aqidah dan bermunculannya aliran sesat

Aliran sesat tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Faktornya adalah jauhnya masyarakat dari ilmu dan ketidakpedulian ulama serta negara. Apapun alirannya sesatnya, mereka agama yang satu. Mereka telah membuat negeri Islam kelelahan.

Kelompok Khawarij yang mengkafirkan dan siap membunuh siapa saja telah membuat lelah sepanjang sejarah kekhilafahan Islam.

Syiah telah mencatatkan nama mereka sebagai benalu peradaban. Tak memberi kehidupan justru mematikan pohonnya. Siapapun yang membaca sejarah tahu bagaimana Hulagu panglima Tartar, Mongol itu bisa leluasa masuk dan menghancurkan Baghdad. Berawal dari kepercayaan bodoh pemimpin lemah kepada Muayyadduddin Ibnul Al Qomi, perdana menteri syiah yang mengendalikan seluruh kepemimpinan.

Sekte shufi yang menyebabkan masyarakat Turki Utsmani tak minat lagi berjihad menjadi saksi jatuhnya kekhilafahan terakhir muslimin itu,

“Siapa pun yang mengamati sejarah Turki Utsmani, mengetahui sebab utama kejatuhan mereka adalah jauhnya mereka secara bertahap dari aqidah yang bersih yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dan menggantinya dengan aqidah khurafat.” (Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi, Kaifa Saqathat Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Berlomba menumpuk harta

Hal inilah yang sudah diwanti-wanti oleh Rasul dalam banyak hadits beliau. “Demi Allah bukan kemiskinan yang aku takuti terjadi pada kalian. Tetapi jika dunia dibuka di hadapan kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini pula yang membuat Umar menangis. Saat ia melihat harta dan perhiasan berdatangan ke Madinah hasil dari jihad, “Demi Allah, karena inilah kalian bertikai.

Abdul Halim Uwais, seorang ahli sejarah Islam yang sangat fokus mendalami sebab-sebab kejatuhan negeri-negeri Islam menulis buku At Takatsur Al Madiy Wa Atsaruhu fi Suquthil Andalus (Berbanyak-banyakan harta dan dampaknya bagi kejatuhan Andalus)

Al Wahn dalam bahasa Rasulullah itu, menjalari seluruh sendi para pemimpinnnya. Tidaklah Andalus pecah menjadi lebih dari 20 negara kecil kecuali karena hal tersebut. Efeknya panjang. Mereka rela bekerjasama dengan kekuatan kafir walaupun harus mengorbankan dan membunuh saudara. Semuanya berujung, dijualnya Granada sebagai kota terakhir yang dimiliki muslimin.

Lihatlah pengkhianatan di balik layar yang tak diketahui oleh masyarakat muslim. Tetapi aroma busuk itu tersimpan rapi dalam arsip sejarah. Tiga sekawan penjual Andalus kepada Fernando dan Isabella, salah satunya adalah menteri yang bernama Abul Qosim Al Malih. Dan inilah surat itu,

“Saya bersumpah demi Allah dan demi syariat, bahwa jika saya mampu memikul Granada di pundak saya pasti akan saya bawa ke tuan-tuan yang mulia. Ini keinginan saya. Allah akan membinasakan saya jika saya berdusta. Sebagaimana saya berharap dari Allah agar urusan ini berakhir dengan baik, terbebas dari kaum gila itu. Dan saya berharap anda yakin bahwa saya adalah pembantu mulia yang tulus untuk tuan-tuan terhormat. Tetapi sayangnya pemahaman penduduk kota ini belum matang dan terbuka.”

Ulama yang tak berperan lagi jahat

Andai ada satu atau dua ulama mau bergerak membimbing umat menuju kebangkitan, sangatlah cukup. Tetapi justru mereka yang memberi dalil sebagai dalih atas pengkhianatan itu. Kembali membaca kejatuhan Andalus, Abul Qosim Al Malih, Yusuf bin Kamasyah sesungguhnya bergerak leluasa dengan panduan dalil-dalil yang diberikan oleh Al Faqih Al Baqini. Maka ketiga orang inilah yang bergerak di lapangan untuk menjual sisa Andalus tersebut.

Dikarenakan ahli ilmunya asyik memunguti sampah dunia, maka mereka yang baru belajar ilmu memunculkan berbagai fatwa dan mengawal pergerakan umat. Tentu tanpa ilmu. Dengarlah kalimat ulama hebat Andalus yang mengawal kebangkitan kedua Andalus, Ibnu Hazm –rahimahullah-,

“Cara kita lepas dari fitnah yang menimpa Andalus adalah menahan lisan kecuali dari satu hal: Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Tapi sangat disayangkan banyak penuntut ilmu yang tidak menahan diri dari apapun kecuali dari Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar……kalau setiap orang yang menolak dengan hatinya berkumpul, mereka tak mampu mengalahkan kita.” (Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Dan jihad pun telah digantikan oleh hiburan

“Salah seorang ulama muslimin di abad ini berkata: Tanyakan kepada sejarah, bukankah redupnya bintang peradaban kita tidak terjadi kecuali pada hari bersinarnya bintang para artis.” (DR. Thoriq As Suwaidan, Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar)

1 Shafar 656 H. Tahun yang tak pernah terlupakan oleh Baghdad , bahkan seluruh muslimin. Saat Hulagu mulai mengepung Baghdad, ibukota kekhilafahan Dinasti Bani Abbasiyah dan menghujaninya dengan panah dan senjata paling mutakhir saat itu. Baghdad belum menghadapi tekanan sebesar itu sebelumnya. Tapi bacalah apa yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi muslimin saat itu, apakah dia segera menyatukan muslimin dan mengumumkan jihad?

Ibnu Katsir –rahimahullah– yang menyampaikan ini langsung,

“Tatar mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan panah api, hingga terkenalah seorang wanita yang sedang bermain dan menghibur di hadapan Khalifah. Dan ini salah satu kesalahannya. Wanita itu bernama Arafah. Panah melesat dari salah satu jendela membunuhnya saat ia sedang menari di hadapan khalifah. Khalifah terkejut dan sangat marah. Dia mengambil panah yang menancap, ternyata tertulis padanya: jika Allah ingin menjatuhkan ketentuannya, Dia menghilangkan akal orang-orang berakal. Maka khalifah pun memerintahkan untuk menambahi penghalang hingga banyak sekali penutup di istana khalifah.” (Al Bidayah wa An Nihayah

Roghib As Sirjani mengomentari kalimat di atas,

“Tarian wanita dalam darah telah menjelma menjadi makanan dan minuman. Harus ada walapun sedang dalam keadaan perang. Saya sungguh tidak paham, bagaimana ia rela menyibukkan diri dengan hal tersebut. Padahal negara, rakyat dan dia sendiri sedang dalam keadaan sulit.” (islamstory.com)

Hasilnya, 1.000.000 muslim mati hanya dalam 40 hari! Termasuk pemimpin mereka yang lalai dan lemah itu, mati dengan cara diinjak-injak di dalam istananya dengan tangan kaki terbelenggu. Sangat hina.

Sampailah kita pada zaman ini.

“Dan Yahudi melipat akhir lembaran kita yang bercahaya” (DR. Abdul Halim Uwais, Dirasah Lisuquth Tsalatsin Daulah Islamiyyah)

Dan kita telah mendapatkan banyak pelajaran. Kita bukan keledai yang mudah terjatuh dalam lubang yang sama. Menghindarlah dulu dari semua sebab kejatuhan itu. Untuk shaf muslimin segera menggerakkan bagian dari tubuhnya perlahan. Dan memang inilah zamannya. Kesadaran dan pergerakan untuk bangkit itu mulai kentara terlihat.

Di Tengah Bangsa Kalah

Ada teori terkenal yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun –rahimahullah– dalam Muqaddimah-nya di pasal ke-23 bahwa,

“Yang kalah terkagum selamanya dengan cara mengikuti yang menang; pada semboyannya, pakainnya, cara hidupnya dan seluruh keadaan serta kebiasaannya.”

Walau konsep ini tidak selamanya benar dan dikritik oleh para ulama hari ini, tetapi ada sisi benarnya. Dan itulah yang kita rasakan hari ini. Kita masih saja duduk terpaku di hadapan peradaban Yahudi hari ini dengan terkagum-kagum. Mata terbelalak, mulut terbuka, semua anggota tubuh mati dan mulut berdecak kagum. Yang lebih buruk, hati bertekad untuk mengikutinya.

Karenanya, bagi siapapun yang hendak bangkit di tengah bangsa yang kalah perlu segera bangun dari keterkaguman itu. Dan segera melihat ke sekeliling dampak kerusakan yang sudah menjalar ke seluruh wilayah muslimin.

Tiga poin berikut ini semoga bisa membantu kita untuk bangun,

  • Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Yusuf bin Tasyifin bagi Andalus
  • Antara Musa bin Abi Ghassan dan Saifuddin Quthuz
  • Antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki

Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr adalah nama-nama besar para ulama Andalus. Mereka hadir di masa kehancuran Andalus yang pertama. Andalus besar selama 8 abad, tetapi pada 4 abad pertama Andalus nyaris lenyap. Semua penyebab kejatuhan di atas sudah ada pada muslimin Andalus; rakyat dan pemimpin.

Tapi Allah berkehendak Andalus masih bertahan 4 abad berikutnya. Dan inilah 3 nama besar yang bergerak untuk menyelamatkan Andalus. Tak henti mereka berkeliling menemui para raja-raja kecil rakus dunia untuk menyadarkan bahaya perpecahan di tengah kesigapan Kerajaan Kristen Castille untuk memangsa muslimin dari utara. Tapi para raja kecil itu sudah gelap mata. Dahsyatnya, para ulama itu tidak pernah putus asa dan selalu mencari jalan lain. Hingga mereka memutuskan untuk meminta bantuan pasukan dari daratan Afrika Utara. Maka Yusuf bin Tasyifin dibukakan jalannya untuk masuk daratan Iberia itu. DR. Thoriq As Suwaidan mengatakan,

“Kalau ada yang menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Rasyid kelima, maka kalau boleh saya menggelari Yusuf bin Tasyifin sebagai Khalifah Rasyid keenam.” (ceramah tentang sejarah Andalus di TV Arreesalah )

Untuk para ahli ilmu hari ini, segera sadarlah dan lakukan sesuatu! Jangan pernah berputus asa.

Adapun Musa bin Abi Ghassan adalah nama besar yang nyaris tidak kenal. Tapi tanyakan pada Granada yang menghadapi pengkhinatan pemimpinnya sendiri tentang nama besar ini. Saat bergabung menteri, ulama dan pemimpin tertinggi untuk menjual Andalus, tokoh besar ini sadar dan mendatangi mereka. Nahi mungkar!

Kembali, nasehat membentur kerasnya batu syahwat. Dan inilah kalimat kokoh Musa bin Abi Ghassan yang mengakhiri hidupnya dengan syahid,

“Jangan serahkan Granada! Biarkan kami berjihad fi sabilillah. Biarkan kami berperang fi sabilillah. Jangan menipu diri kalian sendiri. Jangan menyangka kalau Nashoro akan memenuhi janji mereka. Jangan bersandar pada besarnya kerajaan mereka. Kematian hanya sedikit dari ketakutan kita. Di hadapan kita ada penjarahan kota-kota kita dan penghancurannya, pengotoran masjid-masjid kita, perobohan rumah-rumah kita, pemerkosaan istri-istri dan putri-putri kita. Di hadapan kita dosa keji, fanatisme buas, cambuk dan belenggu rantai. Di hadapan kita penjara, siksaan dan pembakaran!” (Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Sedangkan Saifuddin Quthuz, dia pemimpin Mesir di tengah hancurnya mental muslimin pasca penghancuran Baghdad oleh Tatar. Setiap surat panglima Mongol dikirimkan ke sebuah wilayah muslimin agar menyerah, pemimpinnya langsung menyerah. Tak ada kata perlawanan, apalagi jihad. Mereka merasa berhadapan dengan raksasa yang datang dari negeri antah berantah. Tak mungkin, mustahil sekadar bisa melakukan perlawanan apalagi menang. Saifuddin Quthuz pun kebagian surat itu, saat Tatar bergerak ke Palestina. Ia segera membacakannya di hadapan para panglimanya. Dan kembali terulang, sebagian panglima itu menyarankan agar menyerah saja karena perlawanan tidak ada gunanya. Dan inilah kalimat Saifuddin Quthuz,

“Saya langsung yang akan hadapi Tartar wahai para pemimpin muslimin. Sekian lama kalian telah makan dari Baitul Mal, sementara sekarang kalian benci perang.

Saya pasti berangkat. Siapa yang memilih jihad, akan bersama saya. Siapa yang tidak memilih itu, pulanglah ke rumah!! :(DR. Ali M. Ash Shalaby, As Sulthan Saifuddin Quthuz Wa Ma’rokah ‘Ain Jalut)

Untuk mereka yang telah sadar dan mengetahui jalan kebangkitan, pemimpin ataupun tokoh, segera sebarkan semangat itu kepada yang lainnya!

Kini perbandingan antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki. Perhatikan tahunnya dan ambil pelajarannya,

Andalus jatuh pada tahun 897H / 1492 M dan Turki Utsmani berdiri pada tahun 699 H/1299 M.

Saat Andalus jatuh, Daulah Turki Utsmani telah berusia 200 tahun.

Inilah bersambungnya peradaban Islam. Andalus memang sudah tak mungkin dipertahankan dengan keadaan masyarakat dan pemimpinnya yang sudah rusak seperti itu. Maka, hari-hari kebesaran digeser ke timur. Diserahkan kepada yang telah siap.

Untuk melihat sesiap apa, mari kita baca sebagian nasehat pendiri Turki Utsmani yang bernama Utsman bin Ertugrul kepada anaknya. Isinya menunjukkan kebaikan diri penasehatnya sekaligus sebagai haluan bagi pelanjutnya,

“Wahai anakku, jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintah Allah Robbul ‘Alamin. Jika kamu menghadapi masalah dalam hukum, maka bermusyawarahlah dengan ulama.

Anakku, kamu tahu tujuan kita adalah Ridho Allah Robbul ‘Alamin. Dan bahwasanya jihad untuk menebarkan cahaya agama kita ini ke seluruh penjuru hingga datanglah keridhoaan Allah jalla jalaluh.

Anakku, kita bukan bagian orang-orang yang melakukan perang dengan syahwat kekuasaan atau ambisi pribadi. Kita dengan Islam ini hidup dan untuk Islam kita mati.

Anakku, aku wasiatkan kepadamu tentang ulama umat. Teruslah menjaga mereka, perbanyak memuliakan mereka, bermusyawarahlah dengan mereka karena mereka tidak memerintahkan kecuali pada kebaikan. (DR. Ali M. Ash Shalaby, Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Selalu ada harapan sekecil apapun. Yang tak layak akan layu kemudian mati. Yang layak akan bertunas dan segera besar.

Harapan, harapan !!

Ini agama Allah

Tetapi mana para pekerja kerasnya?

(Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durus wa Ibar)

Selanjutnya Apa?

Yang pernah mengantarkan mereka menuju kebangkitan adalah panduan utama orang beriman; Al Quran dan Sunnah Nabi. Dan aplikasi serta buktinya ada dalam sejarah Islam. Teori umum luar biasa, tetapi sayangnya telah memakan banyak korban, yaitu mereka yang merasa telah menjalankan bidangnya berlandaskan dua wahyu itu. Tetapi sesungghnya konsep dan teorinya berasal peradaban Yahudi hari ini. Maka mari lebih kita detailkan sedikit.

Setelah panjang lebar kita bertebaran di sepanjang sejarah Islam, kini apa yang harus kita lakukan?

Mari kita uji diri kita, apakah kita pelaku kebangkitan itu atau sekadar penonton atau komentatornya?

(Pendidikan dan Kesehatan dalam sejarah kebesaran Islam bukan lembaga profit!!!)

Apa yang ada di benak Anda, setelah membaca pernyataan di atas?

Jawabannya adalah merupakan posisi kita dari kebangkitan Islam hari ini.

Perhatikan lebih detail konsep Bymaristan (Rumah Perawatan Pasien) di sejarah kebesaran Islam. Kalau ada pasien datang ke Bymaristan untuk berobat, maka berikut ini prosedurnya,

  • Setiap pasien yang datang akan dicatat namanya
  • Diperiksa oleh kepala dokter detak jantungnya, urinenya dan ditanyakan berbagai gejalanya
  • Jika oleh dokter pemeriksa dinyatakan hanya rawat jalan, maka dibuatkan resep saja
  • Resep dibawa ke bagian apotek untuk mengambil obatnya
  • Jika dokter menyatakan harus dirawat, maka akan langsung diserahkan kepada tim perawatnya (dokter pengawas, perawat dan pelayan kebutuhan pasien)
  • Setiap pagi dilakukan kunjungan dokter ke semua pasien
  • Jika telah sembuh, pasien dipersilakan pulang dengan diberi baju baru dan beberapa keping uang emas (DR. Ahmad Isa, Tarikh Al Bymaristanat fil Islam dan Hassan Syamsi Basya, Hakadza Kanu Yaum Kunna)

Mungkinkah kita ulang kebesaran dunia kesehatan ini?

Allah mengurung kalian dengan kehinaan sampai kalian mau kembali ke agama kalian!

(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

*Disampaikan dalam Seminar Akbar Dewan Syari’ah Kota Surakarta: Dengan Menghidupkan Sunnah Rasul Kita Songsong Kebangkitan Islam 2020? Ahad, 19 Januari 2014

Apakah Allah Mencintaiku?

Islamic_Wallpaper_Allah_014-1366x768

Syeikh Ali Musthafa Thanthawi -rahimahullah- pernah berkata:

“Apakah Allah mencintaiku?”

Pertanyaan ini terus mengusikku!
Aku teringat bahwa kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya hadir karena beberapa sebab dan sifat yang disebutkan didalam al Quran al Karim..

Aku membalikkannya kedalam memoriku, untuk membandingkan apakah diriku sudah seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an itu, agar aku dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku..

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang bertakwa” dan aku tidak berani menganggap diriku bagian dari mereka (yang bertakwa)..!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang sabar” maka aku teringat betapa tipisnya kesabaranku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berjihad” maka aku pun tersadar akan kemalasanku dan rendahnya perjuanganku…!

Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berbuat baik” Betapa jauhnya diriku dari sifat ini….

Saat itulah aku berhenti meneruskan pencaharian dan pengamatanku : Aku takut bila nanti aku tidak menemukan sesuatu pun didalam diriku yang dapat menyebabkan Allah mencintaiku !

Aku periksa semua amal-amalku….
Ternyata di dalamnya banyak yang bercampur dengan kemalasan/kelemahan, kotoran-kotoran dan dosa-dosa. seketika itu terbersitlah dalam ingatanku firman Allah Ta’ala :

( إنّ الله يحب التوابين )

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”

Seakan-akan aku menjadi faham bahwa ayat itu adalah untuk diriku dan orang-orang yang sepertiku, seketika mulutkupun mulai komat-kamit membaca:

أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه
أستغفر الله وأتوب إليه

Astaghfirullah wa Atuubu ilaihi
“Aku memohon ampunan Allah dan aku bertaubat kepada Nya”

Diterjemahkan dari: www.mktaba.org
Oleh: Ustadz ACT El-Gharantaly

Mensucikan Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Images-of-Rain-Wallpapers

Para rasul diutus oleh Allah untuk memberi peringatan (tadzkir), menyampaikan pengajaran (ta’lim) dan mensucikan jiwa (tazkiyah), sebagaimana yang terdapat dalam do’a yang dilantunkan oleh Nabi Ibrahim as untuk anak cucunya:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Baqarah: 129)

Allah SWT-pun mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim as tersebut dan menganugerahkan kepada umat ini karunia yang tiada terkira, firman-Nya:

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada-Mu) Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikanmu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(QS. Al-Baqarah: 151)

Terkhusus mengenai pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang merupakan salah satu tugas utama Rasul juga terekam dalam pernyataan Nabi Musa as kepada Fir’aun dalam al-Qur’an:

Dan katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan ku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”
(QS. An-Nazi’at: 18-19)

Dari ayat-ayat di atas sudah terang benderang bahwasanya tazkiyatun nafs merupakan salah satu tugas utama para rasul, dan juga menjadi tujuan pokok setiap orang yang bertakwa pada-Nya, serta menjadi penentu selamat atau tidaknya seseorang di sisi Allah SWT.

Kata tazkiyah bisa berarti penyucian (at-tathir) atau pertumbuhan (an-numuw). Jadi tazkiyatun nafs adalah mensucikan jiwa (tatahhur) dari segala penyakit dan cacat lalu mengaktualisasikan (tahaqquq) kesucian itu dalam kehidupan sehari-hari dan menghiasi jiwa yang suci itu (takhalluq) dengan sifat-sifat mulia sebagaimana asma’ dan sifat-sifat Tuhan Yang Mulia.

Dengan demikian, tazkiyah pada akhirnya adalah proses tatahhur, tahaqquq dan takhalluq. Ketiga proses itu memiliki sarana, hakikat dan hasilnya tersendiri, yang pengaruhnya akan terlihat jelas pada prilaku seseorang ketika berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama makhluk serta pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan anggota tubuh sesuai perintah-Nya.

Seorang alim yang melek dakwah harus mampu menyampaikan tadzkir, ta’lim dan tazkiyah dalam halaqah serta majelis-majelisnya. Dalam hal ini, titik awal yang menentukan berhasil tidaknya suatu majelis adalah adab yang mengatur hubungan antara murid dan guru atau murabbi dan mutarabbinya. Selagi tak ada adab yang mengikat maka kajian dan majelis yang digagas tidak akan berlanjut. Keberhasilan seorang guru sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mempraktekkan adab-adab dalam ta’lim. Oleh sebab itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam rangka perjalanan menuju Allah dan menegakkan agama-Nya.

Adab dan wazifah lahiriyah bagi para murid atau pencari ilmu antara lain:

  • Memprioritaskan kebersihan hati dari akhlak dan perangai buruk
  • Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia
  • Tidak sombong dan tidak durhaka kepada sang guru
  • Menghindarkan diri dari mendengarkan perdebatan di antara manusia
  • Mengetahui maksud dan tujuan semua ilmu
  • Membuat prioritas, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus
  • Menguasai ilmu satu per satu, secara bertahap
  • Mengetahui mengapa suatu ilmu dianggap mulia, didasarkan pada pertimbangan buah yang didapatkan dari ilmu tersebut, dan kekuatan serta kekokohan dalil yang mendukungnya
  • Menghias dan mempercantik batin dengan tujuan hanya karena Allah
  • Mengetahui posisi ilmu yang dipelajari

Adapun adab dan tugas para guru atau mursyid dan muallim adalah:

  • Berbelas kasih terhadap murid, memposisikan mereka layaknya anak
  • Mengajar lillaahi ta’ala, tidak meminta upah, imbalan ataupun ucapan terima kasih dalam mengajar
  • Selalu memberi nasihat dan peringatan kepada para murid
  • Mencegah murid dari akhlak-akhlak yang tercela
  • Tidak mencela ilmu yang tidak ia tekuni
  • Mencukupkan diri dengan menyampaikan ilmu sekadar yang mampu dipahami oleh murid
  • Menyampaikan keilmuan yang jelas kepada murid yang memiliki keterbatasan dalam pemahaman
  • Melaksanakan ilmu yang ia miliki

Proses tazkiyatun nafs ditempuh dengan melakukan serangkaian amal dan ibadah, yang apabila amal itu dilakukan secara sempurna maka akan melahirkan spirit dan nilai-nilai tertentu dalam hati yang dengannya hati menjadi suci bersih. Efek dari spirit serta nilai-nilai yang tertanam di dalam hati tersebut akan tampak jelas pada anggota badan seperti lisan, mata, telinga dan anggota tubuh yang lain. Hasil paling nyata dari hati yang telah tersucikan itu adalah adab dan muamalah yang baik kepada Allah dan manusia. Kepada Allah dengan menunaikan hak-haknya, termasuk berkorban di jalan-Nya. Sedangkan kepada manusia, seseorang yang telah memiliki hati bersih itu akan berinteraksi sesuai dengan ajaran, posisi dan taklif rabbani yang ada.

Sarana tazkiyatun nafs adalah amal dan ibadah semisal shalat, zakat, puasa, haji, zikir, tafakkur, tilawah al-Qur’an, tadabbur, muhasabah serta zikrul maut. Semua itu bisa menjadi sarana tazkiyatun nafs apabila dilakukan secara sempurna dan penuh penghayatan.

Shalat

Shalat merupakan sarana terbesar sekaligus bukti dan standar dalam tazkiyatun nafs. Shalat adalah sarana dan tujuan tazkiyatun nafs sekaligus. Shalat mempertegas makna-makna ubudiyah, tauhid dan syukur. Shalat adalah zikir, gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk. Shalat adalah berdiri untuk ibadah dengan berbagai posisi gerakan pokok anggota tubuh.

Mendirikan shalat bisa memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangkangan kepada Allah, ujub, sombong, bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 29)

Khusyuk dalam shalat merupakan tanda pertama bagi orang-orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Khusyuk merupakan wujud tertinggi dari sehatnya hati. Hati kan rusak jika khusyuk tidak ada, sebab bila tak ada khusyuk dalam hati maka hal ini mengindikasikan bahwa hati telah didominasi oleh berbagai penyakit berbahaya dan kondisi yang buruk. Hati yang sudah didominasi oleh berbagai penyakit akan kehilangan orientasi akhirat dan tak ada lagi kebaikan yang bisa diberikan kepada umat Islam.

Zakat dan Infaq

Zakat dan infaq merupakan sarana terpenting kedua dalam tazkiyatun nafs, karena tabiat jiwa itu kikir maka harus pula dibersihkan. Infaq merupakan amalan yang membersihkan jiwa dari kekikiran sehingga menjadikannya bersih. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang taqwa dari neraka itu, (yaitu mereka) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan hartanya.” (QS. Al-Lail: 17-18)

Puasa

Puasa dalam tazkiyatun nafs menduduki derajat ketiga setelah shalat dan zakat, karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan syahwat yang ada. Oleh sebab itu, puasa merupakan faktor penting dalam tazkiyatun nafs.

Allah SWT menjadikan puasa sebagai sarana untuk mencapai derajat taqwa ketika berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tingkatan puasa ada tiga, yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus (khas) dan puasa orang super khusus (khawasul khas). Puasanya orang awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat. Puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan puasanya orang super khusus adalah puasanya hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tak berarti; juga menahan hati dari selain Allah secara total. Puasa ini merupakan tingkatan puasa para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.

Haji

Haji adalah pembiasaan jiwa untuk melakukan sejumlah nilai, seperti istislam, taslim, mengerahkan jerih payah dan harta di jalan Allah, ta’awun, ta’aruf dan melaksanakan syiar-syiar ubudiyah kepada Allah. Semua itu memiliki pengaruh dalam tazkiyatun nafs, sebagaimana merupakan bukti telah merealisasikan kesucian jiwa.

Tilawah Al-Qur’an

Dari beberapa segi, tilawah al-Qur’an dapat menghaluskan jiwa. Dengan tilawah, seseorang akan tahu apa kewajiban yang harus ia lakukan. Tilawah al-Qur’an juga dapat membangkitkan berbagai nilai dalam tazkiyatun nafs, menerangi hati, mengingatkannya, menyempurnakan fungsi shalat, zakat, puasa dan haji dalam mencapai maqam ubudiyah kepada Allah.

Untuk mencapai semua itu, tilawah al-Qur’an memerlukan penguasaan yang baik tentang hukum-hukum tajwid dan komitmen harian dengan wirid dari al-Qur’an. Al-Qur’an akan berfungsi dengan baik apabila tilawahnya disertai adab-adab batin dalam perenungan, khusyuk serta tadabbur.

Zikir

Orang yang berharap pada akhirat harus memiliki program wirid pribadi berupa bacaan istighfar, tahlil, shalawat dan zikir-zikir ma’tsur lainnya, sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk terus membaca zikir seperti tasbih, istighfar, tahlil, takbir atau hauqalah untuk ditambahkan dengan berbagai shalat, ibadah dan amalan-amalan lainnya. Kesucian dan ketinggian jiwa seseorang akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan sarana-sarana tazkiyah.

Tafakkur

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Berdasarkan ayat tersebut kita tahu bahwa kesempurnaan akal hanya tercapai dengan zikir dan pikir. Zikir dan pikir dapat memperdalam ma’rifatullah di dalam hati, yang mana ma’rifatullah merupakan titik tolak bagi setiap tazkiyah.

Mengingat Kematian dan Pendek Angan-Angan

Panjang angan-angan dan lupa mati merupakan dua hal yang menyebabkan jiwa tersesat dan mendorongnya pada konflik-konflik yang merugikan dan merupakan syahwat yang tercela. Untuk itu, di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah dengan mengingat mati – yang merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi – dan pendek angan-angan – yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Semakin pendek angan-angan dan semakin banyak kematian maka semakin meningkat pula ketekunan seseorang dalam melaksanakan hak-hak Allah, di samping semakin ikhlas dalam amalnya.

Murabathah

Sesungguhnya jiwa dan hati memerlukan ikatan janji harian, bahkan ikatan janji dari waktu ke waktu. Jika manusia tidak mengikat jiwanya dengan janji harian atau waktu demi waktu maka ia akan mendapatinya menyimpang, sesat dan lalai. Oleh karena itu kita perlu mengambil langkah musyarathah, muraqabah, muhasabah, mujahadah dan mu’atabah sebagai salah satu sarana tazkiyatun nafs.

  • Musyarathah (persyaratan). Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh lalai melakukan muhasabah terhadap jiwanya. Dia harus mendisiplinkan berbagai gerak, diam, lintasan dan langkah-langkah jiwa. Saat waktu shubuh tiba dan telah selesai menunaikan shalat Shubuh maka hendaklah ia meluangkan waktu untuk melakukan musyarathah terhadap jiwanya. Contoh: berkata kepada jiwanya, “Wahai jiwaku janganlah bermalas-malasan ataupun bersantai-santai. Sebab dengan keduanya engkau tak akan meraih derajat ‘illiyyin seperti yang telah diraih oleh orang-orang sebelummu.
  • Muraqabah (diawasi). Ketika seseorang telah mensiasati jiwanya dan menetapkan syarat kepadanya, maka langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah muraqabah (mengawasinya) ketika melakukan berbagai amal perbuatan dan memerhatikannya dengan mata yang tajam, karena jika dibiarkan pasti akan melampaui batas dan rusak. Tentang keutamaan muraqabah, Jibril as pernah bertanya tentang ihsan lalu Rasulullah SAW menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
  • Muhasabah setelah beramal. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini merupakan isyarat perihal muhasabah terhadap amal perbuatan yang telah dikerjakan. Umar ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum engkau ditimbang.
  • Muaqabah (pemberian sanksi). Meski telah menghisab diri, seseorang tetap tidak terbebas sama sekali dari kemaksiatan dan melalaikan hak-hak Allah. Hal semacam ini tak boleh dibiarkan. Sebab bila dibiarkan maka seseorang akan mudah terjatuh dalam maksiat dan jiwa menjadi senang pada kemaksiatan hingga sulit untuk memisahkannya. Padahal inilah penyebab kehancuran diri. Untuk itu, bila terjadi pelanggaran maka harus diberikan sanksi. Harus ada muaqabah. Apabila seseorang memakan satu suap makanan syubhat dengan nafsu syahwat maka harus melakukan muaqabah kepada perut dan menghukumnya dengan rasa lapar.
  • Mujahadah. Seseorang yang ketika melakukan muhasabah menemukan diri melakukan maksiat maka ia harus menghukumnya dengan berbagai hukuman. Jika ia mendapati diri tidak melakukan berbagai amal sunnah dan keutamaan atau tidak membaca wirid karena malas maka ia harus diberi pelajaran dengan memperberat wirid dan mewajibkan beberapa macam tugas demi menutupi dan mengejar ketertinggalannya. Umar bin Khattab ra menghukum dirinya dengan mensedekahkan tanah miliknya yang senilai 200.000 dirham ketika tertinggal shalat Ashar berjamaah. Ibnu Umar ra menghukum dirinya dengan menghidupkan malam hari secara penuh apabila tertinggal dari shalat berjamaah.
  • Muatabah (mencela). Musuh bebuyutan kita adalah jiwa kita itu sendiri. Jiwa diciptakan dengan karakter suka memerintahkan keburukan (ammarah bissu’), cenderung pada kejahatan dan lari dari kebaikan. Terhadapnya engkau diperintahkan agar mensucikannya, meluruskannya dan menuntunnya dengan rantai paksaan untuk beribadah kepada Tuhan dan Penciptanya. Kita dituntut untuk mencegahnya dari berbagai syahwat dan menyapihnya dari berbagai kelezatannya. Jika kita mengabaikannya maka pasti merajalela dan liar setelah itu kita tidak dapat mengendalikannya. Tapi jika kita senantiasa mencela dan menegurnya maka bisa jadi kita akan tunduk dan menjadi nafsu lawwamah (jiwa yang amat menyesali dirinya), yang mana Allah pernah bersumpah atasnya di dalam al-Qur’an. Bahkan ada harapan akan menjadi nafsu muthma’innah (jiwa yang tenang), yang mengajakmu untuk masuk ke dalam rombongan hamba-hamba Allah yang ridha dan diridhai. Allah SWT berfirman, “Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Jihad

Dalam QS. Ali Imran ayat 104, Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada dari kalangan kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” Dan pada QS. Al-Ma’idah ayat 35, Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapatkan keberuntungan.”

Keberuntungan pada ayat-ayat tersebut tergantung pada dakwah, amar ma’ruf, nahi mungkar, taqwa, amal shalih dan jihad. Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan yang tercantum pada tazkiyatun nafs pada ayat, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9), meliputi semua hal tersebut.

Melayani dan Tawadhu

Melayani dan bersikap tawadhu merupakan sarana tazkiyatun nafs. Keduanya telah menjadi bukti bahwa jiwa telah tersucikan. Oleh sebab itu, Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan kedua hal ini. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” Allah SWT juga berfirman, “Dan berendahdirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr: 88)

Memberikan pelayanan ada dua, yaitu pelayanan khusus dan pelayanan umum. Keduanya memiliki pengaruh dalam tazkiyatun nafs. Pelayanan umum memerlukan kesabaran, lapang dada dan kesiapan untuk memenuhi tuntutan pada setiap saat. Sedangkan pelayanan khusus memerlukan tawadhu dan kerendahan hati kepada kaum mukminin. Oleh sebab itu, pelayanan termasuk sarana penting dalam tazkiyah bagi orang yang menunaikannya secara ikhlas dan bersabar.

Mengetahui Pintu Masuk Setan ke Dalam Jiwa & Menutup Jalannya

Setan punya andil dalam mempengaruhi jiwa, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah. Setan datang ke dalam jiwa melalui celah-celah tabiat dan syahwat indrawi dan maknawi manusia. Ia juga sangat mengetahui titik-titik lemah manusia. Oleh sebab itu, di antara sarana untuk membentengi jiwa dan sekaligus sebagai sarana tazkiyatun nafs adalah mengetahui pintu-pintu masuk setan ke dalam diri.

Pintu masuk setan adalah sifat-sifat hamba yang banyak jumlahnya, diantaranya:

  • Marah dan syahwat
  • Dengki dan tamak
  • Perut yang kenyang, sekali pun dengan yang halal
  • Suka bermegah-megah dengan perabotan, pakaian dan rumah
  • Tamak
  • Terburu-buru dan tidak tabayun
  • Uang dan segala harta kekayaan
  • Bakhil dan takut miskin
  • Ta’assub (fanatik) terhadap mazhab, dengki dan melecehkan orang lain
  • Mengajak orang awam untuk berpikir tentang Dzat Allah
  • Berburuk sangka kepada kaum Muslimin

Penutup

Ketika amal dan ibadah tersebut dilakukan secara sempurna maka semua itu akan melahirkan spirit dan nilai-nilai luhur di dalam hati semisal tauhid, ikhlas, sabar, khauf, raja’ serta mahabbatullah. Selain itu, ia juga dapat mengusir nilai-nilai buruk dalam hati, semisal riya, ujub, ghurur dan marah karena dorongan nafsu atau setan.

Dengan nilai-nilai luhur seperti itu maka hati akan suci bersih. Hasilnya akan tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang yang dalam hatinya terpenuhi nilia-nilai luhur tersebut, ia dapat mengendalikan seluruh anggota tubuhnya agar sesuai perintah Allah dalam segala interaksi, baik ketika berinteraksi dengan keluarga, tetangga, masyarakat maupun umat manusia pada umumnya.

Allah SWT berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya…” (QS. Ibrahim: 24-25)

(Disarikan dari buku Tazkiyatun Nafs karya Syaikh Sa’id Hawwa rahimahullah, untuk UTS Take Home mata kuliah Tazkiyatun Nafs, oleh ust. Eko Budi Hartono)

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Permata Hati yang Terlupa

Diterjemahkan oleh: Ust. Fachriy Aboe Syazwiena

Abu Bakr bukanlah orang faqir seperti Abu Dzar, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia di antara mereka itu.

Abu Bakr tak pernah disiksa seperti Khubab, Bilal, Sumayyah, Yasir, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi yang terbaik dan termulia dibanding mereka yang disiksa itu.

Abu Bakr tak terbunuh sebagai syahid seperti Umar, Utsman, Ali, Hamzah, dan lainnya. Tetapi Abu Bakr tetaplah menjadi sosok terbaik dan termulia dibanding mereka para syuhada itu.

Rahasia apakah yang dimiliki Abu Bakr hingga sosoknya mampu mengalahkan mereka yang gemilang dalam prestasi ukhrawi masing-masing?

Kita biarkan seorang tabi’in menyingkap tabir kemuliaan Abu Bakr.

Bakr bin Abdillah al-Muzaniy berkata:

“Abu Bakr menggapai itu semua dan melebihi mereka bukan karena tingginya kuantitas shalat, puasa dan lainnya namun karena sesuatu yang menetap di hatinya yaitu amalan-amalan hati.”

Itulah yang dicapai Abu Bakr yang tak bisa digapai oleh amal-amal lain. Itulah yang menjadikan imannya lebih tinggi dibanding iman penduduk bumi jika memang mesti ditimbang.

Umar berkata:

“Kita telah memahami bahwa iman adalah amalan hati, ungkapan lisan dan peragaan anggota badan. Namun kita begitu mengusahakan rupa dan penampilan amal dan kuantitasnya. Begitu pula dgn ungkapan lisan. Namun sengaja melupakan mutiaranya yaitu ‘amal alqalb (amalan hati).

Setiap ibadah ada tampilan dan permata.

Ruku, sujud dan rukun lainnya dalam shalat ada tampilan namun khusyu adalah permatanya.

Menahan diri dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga maghrib adalah tampilan puasa namun takwa adalah permatanya.

Sa’i, thawaf, wukuf, dan melempar jumrah adalah tampilan haji namun pengagungan terhadap syiar Allah adalah permatanya.

Mengangkat tangan, menghadap kiblat, lafadz munajat dan pinta adalah tampilan doa namun ketundukan dan kepasrahan adalah mutiaranya.

Bertasbih, tahlil, takbir dan lainnya adalah tampilan dzikir namun pemuliaan, kecintaan, khauf dan raja’ adalah permatanya.

Permata di balik permata adalah penekanan amalan hati lebih diutamakan dibanding amalan anggota badan.

Esok akan datang: ((hari dinampakkan segala rahasia)) at-Thariq: 9

Esok pula: ((Dinampakkan apa yang ada dalam dada)) qs. Al-Adiyat: 10

Esok tak akan melesat ke Surga: ((kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang bersih)) qs as-Syuaro: 89

Esok tak melesat pula ke Surga kecuali: ((orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman)) qs al-Qaf: 34.

Posted from WordPress for Windows Phone

Syukuri Apa yang Ada


Oleh: Ust. Aan Chandra Thalib

Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:

Tak seorangpun di dunia ini melainkan pernah bertemu dengan orang yang kondisinya lebih baik dirinya atau lebih buruk dirinya.

Bila engaku miskin, pasti ada yang jauh lebih miskin darimu.
Bila engkau sakit, pasti ada yang sakitnya jauh lebih parah darimu.
Lalu mengapa engkau lebih sering mengarahkan kepalamu ke atas, dan memandang orang-orang yang kondisinya lebih baik darimu, ketimbang mengarahkannya ke bawah agar engkau melihat orang yang kondisinya jauh lebih buruk darimu..?

Bila kau tau bahwa ada orang yang bisa meraih harta dan kedudukan yang mana engkau belum bisa meraihnya. Padahal dari aspek kecerdasan, pengetahuan dan perangai levelnya jauh dibawahmu, mengapa engkau tidak mengingat bahwa ternyata ada orang yang levelnya di diatasmu atau semisal denganmu dalam hal kecerdasan dan pengetahuan namun dia tidak pernah bisa meraih sebagian dari apa yang telah engkau raih…?

Falsafah rizki itu sangat sulit untuk dimengerti

Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupannya) dan segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa menggapainya hingga mereka menyelam ke dasar lautan yang dalam.

Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupannya) berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya sampai mereka terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, sehingga mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.

Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.

Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali dengan mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rizkinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.

Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa mendapatkannya sambil duduk di atas kursi. Bersyukurlah karena Dia tidak menjadikannya berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa ataupun macan.

Beliau juga mengatakan:

Dengan gaji yang sedikit engkau bisa menjadi manusia yang paling bahagia asalkan engkau cerdas mengelola keuanganmu dan ridho terhadap pembagian-Nya.

(Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma’a An-Naas hal: 78-79)

Posted from WordPress for Windows Phone

Mencuri di Rumah Mufti

Kaaba_by_muhammadibnabdullah

Akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur itu memang lebih menyentuh daripada untaian kalimat. Nasihat dengan keteladanan lebih mengena daripada ucapan lisan. Itulah yang dipraktikkan oleh seorang ulama Rabbani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Selain menasihati umat dengan lisan dan tulisan, beliau juga membuat hati manusia tunduk dan jiwa-jiwa terketuk dengan keteladanan. Di antara contoh yang sangat mengagumkan dari keteladanan beliau adalah bagaimana beliau memperlakukan seorang pencuri yang tertangkap basah menyatroni rumahnya.

Salah seorang penuntut ilmu menceritakan:

Saat aku beri’tikaf di Masjid al-Haram di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, aku menghadiri majelisnya Syaikh Ibnu Utsaimin yang diadakan setelah shalat subuh usai. Ada seseorang bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan yang menurutnya terdapat kerancuan dan bagaimana pandangan Syaikh Ibnu Baz terhadap kasus tersebut. Syaikh Ibnu Utsaimin pun menanggapi si penanya dan memuji Syaikh Ibnu Baz rahimahumallahu jami’an.

Saat aku sedang hanyut dalam pembahasan pelajaran, tiba-tiba seorang laki-laki di sampingku –mungkin usianya akhir 30-an- sedang berurai air mata. Kemudian isak tangisnya mulai merambat ke telinga para peserta kuliah subuh itu.

Ketika pelajaran usai, kulemparkan pandanganku kepada laki-laki yang menangis tadi. Kulihat ia tengah memegang mush-haf dan tenggelam dalam kesedihannya. Kudekati dia meskipun terlihat ia tampak menghindar. Kuucapkan salam padanya dan kemudian aku bertanya, “Kaifa haaluka yaa akhi? Maa yubkiika?” (Apa kabarmu saudaraku? Apa yang membuatmu menangis?) Ia menjawab dengan suara parau yang tidak jelas. Terdengar hanya jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Aku pun mengulangi pertanyaanku, “Maa yubkiika akhi?” (Apa yang membuatmu menangis?).

Dengan wajah bersunggut-sunggut kesedihan ia menjawab, “Laa laa syai-a, innama tadzakkartu Ibnu Baz, fabakaitu” (Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Ibnu Baz. Kemudian aku pun menangis.).

Aku menangkap logatnya, akau tahu ia adalah seorang yang berasal dari Pakistan walaupun ia mengenakan pakaian Saudi. Akhirnya ia pun bercerita:

Dulu aku mengalami sebuah kejadian bersama beliau. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang satpam di salah satu pabrik di Kota Thaif. Kemudian sepucuk surat dari Pakistan sampai kepaku. Surat ini membawa kabar bahwa ibuku dalam keadaan sekarat/koma. Dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi transplantasi ginjal. Dan biayanya sebesar 7.000 Riyal Saudi. Sedangkan aku hanya memiliki 1.000 Riyal. Tidak kutemui seorang pun yang dapat membantuku demikian juga dari perusahaan.

Jika operasi tidak dilakukan dalam waktu satu pekan, kemungkinan ibuku akan meninggal. Keadaannya benar-benar tinggal menghitung hari. Aku menangisi ibuku. Karena dialah yang mengasuhku. Yang bergadang di malam hari untuk menjagaku. Situasi kepepet ini pun membuatku nekad. Akhirnya aku melompat masuk ke salah satu rumah di dekat pabrik tempatku bekerja. Kumasuki tempat itu pukul dua dini hari.

Setelah aku berhasil meloncati pagar rumah itu, beberapa saat kemudian tanpa kusadari petugas keamanan telah menangkapku. Mereka melemparku ke dalam mobil. Saat itu, betapa gelap dunia ini kurasakan.

Kemudian, menjelang shalat subuh, datanglah seorang polisi. Ia mengembalikanku ke rumah yang kusatroni tadi. Yang hendak kujarah barangnya. Polisi itu menempatkanku di suatu tempat, lalu ia pergi berlalu.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda dengan membawa makanan. Ia berkata, “Kul! Bismillah” (Makanlah dengan menyebut nama Allah).

Aku heran dan bingung. Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Saat adzan fajar berkumandang, orang-orang di rumah itu berkata kepadaku, “Tawadhdha’ lish shalah” (Wudhulah untuk shalat). Rasa khawatir dan takut menggerayangi tubuhku.

Lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah sepuh. Ia dituntun oleh seorang pemuda menuju padaku. Laki-laki tua itu menyalamiku kemudian mengucapkan salam. “Hal akalta?” (Sudah makan?) tanyanya. “Na’am” jawabku. Ia pun meraih tangan kananku lalu menggandengku pergi bersama ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Setelah shalat, kulihat laki-laki tua yang memegang tanganku itu duduk di sebuah kursi di baris depan masjid. Para jamaah dan pelajar pun mendekat, duduk di sekelilingnya. Mulailah Syaikh itu menyampaikan pelajaran.

Seketika itu kuletakkan kedua tanganku di kepala. Aku malu dan aku juga takut. “Ya Allaaah.. apa yang sudah aku lakukan??? Aku mencoba mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz” gumamku. Aku tahu, nama Syaikh Ibnu Baz karena beliau begitu tenar di negaraku Pakistan.

Setelah pelajaran usai, Syaikh kembali membawaku ke rumahnya. Dengan hangat, ia kembali menggapai tanganku dan mengajakku sarapan pagi. Sarapan yang dihadiri banyak orang-orang. Ia dudukkan aku di sampingnya. Sambil menyantap sarapan beliau bertanya, “Masmuka?” (Siapa namamu?) “Murtadha.” Jawabku.

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Beliau menanggapi, “Hasanan.. sanu’thika 9.000 Riyal.” (Baik, akan kami berikan 9.000 Riyal untukmu). “Al-mathlub 7.000 Riyal” (Yang dibutuhkan hanya 7.000 Riyal).

Beliau menanggapi, “Sisanya ambillah untukmu. Tetapi jangan kau ulangi lagi perbuatan mencuri itu wahai anakku”. Aku pun mengambil uang itu. Kuucapkan terima kasih kepadanya. Dan kudoakan kebaikan untuknya.

Setelah itu aku pulang ke Pakistan untuk membiayai operasi ibuku. Alhamdulillah ibuku bisa kembali sembuh.

Lima bulan kemudian, aku kembali ke Saudi. Dan langsung menuju Riyadh. Aku mencari Syaikh dan kukunjungi kediamannya. Aku sudah mengenalnya sekarang. Begitu pula beliau, tidak lupa padaku. Beliau bertanya tentang ibuku. Lalu aku berikan kepada beliau 1500 Riyal. Segera beliau bertanya, “Maa hadza?” (Apa ini?) “Al-Baaqi” (Sisanya) jawabku. Lalu beliau berkata, “Huwa laka” (Uang itu untukmu).

Aku kembali mengajukan permintaan kepada Syaikh, “Syaikh, aku ada permintaan”. “Apa itu wahai anakku?” katanya.

“Aku ingin bekerja padamu. Jadi pembantu atau yang lainnya. Aku mohon Syaikh, jangan tolak permintaanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Pintaku. “Hasanan” (Baiklah) jawabnya.

Lalu aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau rahimahullah wafat.

Salah seorang yang dekat dengan Syaikh mengabarkan kepadaku, “Tahukah engkau, saat kau melompati pagar rumah beliau. Beliau sedang shalat malam dan mendengar suara gaduh di halaman rumahnya. Lalu beliau menekan bel yang biasa ia gunakan untuk membangunkan orang-orang di rumahnya saat-saat shalat wajib saja. Mereka semua terbangun dan merasakan ada suatu kejanggalan. Lalu beliau memberi tahu bahwa ada suara ribut-ribut di halaman. Mereka pun menyampaikannya ke satpam, lalu satpam menelpon polisi. Tanpa menunggu lama mereka pun menangkapmu.

Syaikh pun bertanya apa yang terjadi. Orang-orang di rumahnya mengatakan ada pencuri, dan polisi telah menggelandangnya. Syaikh pun marah, lalu berkata, “Jangan, jangan.. bebaskan dia sekarang dari kantor polisi. Aku yakin dia tidak mencuri kecuali karena sangat terdesak. Kemudian kejadiannya sebagaimana yang sudah engkau ketahui”.

Aku (yang bertanya) berkata kepada sahabatku (yang bercerita), “Sekarang matahari telah terbit (sudah pagi). Seluruh umat ini terasa berat dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.
—–

Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.. Amin..

Sumber: KisahIslam