Pelesiran (Tanggapan untuk “Warisan” yang Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisan)

Assalamu’alaikum Dek Afi Nihaya Faradisa.. Apa kabarmu? Alhamdulillaah, jika Dek Afi diberikan kesehatan dan kekuatan. Sungguh itu adalah nikmat dan karunia yang Allah SWT hanya berikan pada orang-orang tertentu di dunia, termasuk kita semua.

Dek Afi yang tersayang, di awal tulisanmu ada sesuatu yang membuat saya gundah dibuatnya. Dek Afi mengatakan, bahwa agama itu adalah sesuatu yang kebetulan. Lahir di negeri yang indah ini kebetulan. Pun dilahirkan oleh orangtua Dek Afi saat ini juga disebut kebetulan.

Dek Afi.. Sungguh itu bukanlah kebetulan. Itu semua ada Yang Merancang dan Menentukan. Kita dikaruniakan lahir di negeri yang indah, menyejukkan dan damai adalah anugerah dari Allah SWT. Dengan nikmat itu, kita bisa bersekolah dengan baik, menuntut ilmu, membaca, berinteraksi dengan kawan dan keluarga. Sungguh Dek, tak semua orang mendapatkan nikmat seperti kita.

Dek Afi juga mendapatkan karunia dari Allah SWT, dilahirkan di keluarga dimana saat ini Dek Afi dibesarkan. Mendapatkan cinta dan kasih sayang, tumbuh dan kembang, menjadi pribadi yang matang. Tak jarang kita saksikan, ada saudara kita yg terlahir tanpa sentuhan kasih sayang ibunda dan kehangatan dari ayahanda.

Nah, Dek Afi dari itu semua sayang. Ada nikmat yang luar biasa, melebihi nikmat yang saya ceritakan di atas, melebihi seluruh apa yang ada di semesta raya ini, yakni nikmat iman dan Islam. Dek Afi, sungguh itu adalah nikmat yang tiada duanya. Itu bukan kebetulan Dek Afi. Itu adalah nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT kepada kita semua. Sungguh ini adalah permata yang dititipkan oleh Allah SWT kepada kita, untuk dijaga dan dirawat dengan baik. Ini bukan warisan dek. Bukan warisan…

Dek Afi, negeri kita yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo atau disebut Max Havelaar dalam bukunya, “of de Koffij-veilingen der nederlandsche Handelmaatschappij” sebagai zamrud khatulistiwa. Negeri yang indah dan damai. Negeri yang terdiri atas beragam penganut agama, penutur bahasa dan pemilik budaya.

Namun semua itu berubah Dek Afi. Semua berubah setelah negara api menyerang! Dek Afi pernah nonton Avatar Aang kan? Ketentraman negara-negara Bumi, Air, Udara dan juga Api seketika berubah, ketika negara api memutuskan untuk menyerang. Di negeri kita, Indonesia yang keragamannya mengalahkan keragaman di negeri Avatar seketika juga berubah. Ada serangan yang lebih menyakitkan daripada sekedar lontaran api dan tembakan meriam negara Api. Serangan yang lebih menyakitkan daripada kilatan pedang. Serangan lisan dari seorang yang tak bertanggung jawab.

Dek Afi, dalam budaya kita, dalam keluarga kita, dalam agama kita, apakah diajarkan untuk berkata kasar. Berkata kasar kepada seorang ibu yang mencari kebenaran. Berkata kasar kepada orang yang mencari perlindungan dan tempat tinggal. Berkata kasar kepada penganut agama yang bukan bidangnya sama sekali. Sungguh Dek Afi, itu adalah perilaku yang menyakitkan kita semua.

Dek Afi, tindakan itulah yang seketika mengoyak persatuan yang sudah lama dijaga dan dipertahankan dengan susah payah oleh nenek moyang kita. Situasi negara kita menjadi tidak seperti dulu lagi. Kita saling menyerang padahal dulu kita saling kasih dan sayang. Kita saling menyindir padahal dulu kita suka melempar senyuman di bibir. Kita saling hantam padahal dulu kita sama-sama menyelamatkan kapal nusantara yang hampir karam.

Ya begitulah Dek Afi. Kami yang dengan semangat keimanan membela kalam Ilahi yang suci dianggap anti kebhinekaan, pengkhianat, anti pancasila dan intoleran. Sungguh Dek Afi, itu adalah tuduhan yang menyakitkan. Teriris sembilu rasanya hati ini. Bagaimana mungkin, kami dianggap anti kebhinekaan, padahal di keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja, kami masih hidup dan bergandengan tangan bersama. Bagamaina mungkin kami dianggap pengkhianat, padahal tak pernah sedetikpun kami memanggil pihak asing untuk ikut campur pada urusan negeri ini. Bagaimana mungkin kami dianggap anti pancasila, padahal itu adalah hasil kesepakatan ulama dan pendiri negeri yang kami cintai. Bagaimana mungkin kami dituduh intoleran, sedangkan semua saudara kami yang beragama minoritas, bisa beribadah dengan tenang di tempat ibadahnya masing-masing.

Dek Afi yang tersayang, jika kita benar-bencar mencintai Pancasila, maka ada wilayah tertentu yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain, siapapun itu. Wilayah itu disebut sebagai agama. Di sana tidak boleh ada intervensi sama sekali, termasuk oleh pemimpin negara ini. You got the point, right? Tak boleh siapapun mengintervensi apalagi memaksakan keinginannya, menjelek-jelekkannya di muka publik, karena ini terkait dengan apa yang Dek Afi anggap sebagai warisan, walaupun saya kurang sependapat itu disebut sebagai warisan.

Dek Afi, sekali lagi agama bukan warisan. Islam, agama yang Dek Afi anut dan yakini saat ini adalah anugerah terindah dari Allah SWT yang diberikannya kepada Dek Afi. Dan kebenaran itu sebagaimana yang Dek Afi kutip dari Jalaluddin Rumi, adalah selembar cermin yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Maka menurut saya, kebenaran itu ibarat permata, sebab tak mungkin pemberian dari-Nya rusak, pecah, hancur berkeping-keping. Permata nan berharga itu diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Bijaksana ke muka bumi. Kita mesti mencarinya, mendapatkannya bagaimana pun caranya. Bahkan bila perlu, kita mesti berkeliling dunia, pelesiran kemana-mana seperti yang dilakukan oleh Salman Al-Farisy.

Salman Al-Farisy pelesiran dari tanah Persia, ke Iraq, Turki, Syam hingga tanah yang penuh dengan pohon Kurma, Madinah untuk mencari permata kebenaran yang diturunkan oleh Allah SWT. Pelesiran yang ia lakukan penuh tantangan dan cobaan, namun tak membuatnya patah semangat. Hingga akhirnya ia temukan apa yang membuat jiwanya merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Andai itu warisan sayang, sudah pasti Salman akan menyembah api sebagaimana keluarganya.

Dek Afi… Untuk menemukan permata kebenaran itu. Ada travel guide yang akan membantu kita, dialah Nabi Muhammad SAW. Namun, jiwanya yang suci dan bersih telah dipanggil oleh Allah SWT. Ia dititipkan Sang Pemilik Permata, semacam peta yang akan menunjukkan dimana gerangan permata itu. Jika pun kamu sudah menemukannya, di sana ada pula manual handbook yang telah diajarkannya secara turun-menurun bagaimana menggenggam dan mempertahankan permata hingga akhir hayat.

Dek Afi… Dari hati ke hati kakak mau memberi nasehat. Godaan dunia sudah datang bertubi-tubi. Popularitas, dikagumi orang lain, disayangi banyak orang. Tapi ingat ya Dek Afi, sungguh itu semua semu. Ibarat gula, ketika rasa manisnya telah hilang, maka semut-semut akan menjauh dan pergi. Ibarat bunga, ketika madunya telah habis, maka lebah-lebah akan beterbangan mencari bunga yang lain. Jangan terpengaruh dengan godaan pemikiran-pemikiran aneh bin nyeleneh yang ditawarkan oleh khalayak banyak. Dek Afi dianugerahi Allah SWT akal yang jernih, semoga bisa mempertimbangkan darimana kita mesti menimba ilmu. Tentu kita akan memilih sumur yang airnya bersih, walaupun terlihat tua dan kuno penampakannya. Jangan memilih sumur yang berpoles cantik, namun ternyata airnya kotor dan membius pikiranmu yang bersih.

Pelesiran-lah kemanapun kau suka, namun jangan lupa travel guide dan manual handbook yang kakak ceritakan di atas. You are free to choose. But remember what Uncle Ben said to Peter Parker, “with great power comes great responsibility.”

Salam sayang dari Cimahi.

Syaharuddin Faisal. 20 Mei 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s