Saifuddin Quthuz di Tengah Bangsa Kalah (Kebangkitan di tengah Keterpurukan)

Oleh: Ust. Budi Ashari Lc

Semua sebab kejatuhan Daulah-Daulah Islamiyyah ada pada kita.

Tetapi, semua sebab kebangkitan perlahan mulai terlihat.

Para ahli sejarah Islam, khususnya DR. Abdul Halim Uwais –rahimahullah– banyak mengkaji kejatuhan berbagai daulah Islam sepanjang sejarahnya. Ada dua poin penting yang bisa disimpulkan:

Pertama, selalu ada sebab-sebab yang sama walau berbeda zaman. Itulah mengapa sejarah berulang sebagai sunnatullah.

Kedua, semua sebab itu ada pada kita hari ini. Itulah mengapa kita jatuh.

Di awal, kita akan membicarakan sebagian dari penyebab itu, bukan untuk sekadar membuka luka tetapi untuk memahaminya agar mendapatkan obat yang tepat.

Rusaknya aqidah dan bermunculannya aliran sesat

Aliran sesat tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Faktornya adalah jauhnya masyarakat dari ilmu dan ketidakpedulian ulama serta negara. Apapun alirannya sesatnya, mereka agama yang satu. Mereka telah membuat negeri Islam kelelahan.

Kelompok Khawarij yang mengkafirkan dan siap membunuh siapa saja telah membuat lelah sepanjang sejarah kekhilafahan Islam.

Syiah telah mencatatkan nama mereka sebagai benalu peradaban. Tak memberi kehidupan justru mematikan pohonnya. Siapapun yang membaca sejarah tahu bagaimana Hulagu panglima Tartar, Mongol itu bisa leluasa masuk dan menghancurkan Baghdad. Berawal dari kepercayaan bodoh pemimpin lemah kepada Muayyadduddin Ibnul Al Qomi, perdana menteri syiah yang mengendalikan seluruh kepemimpinan.

Sekte shufi yang menyebabkan masyarakat Turki Utsmani tak minat lagi berjihad menjadi saksi jatuhnya kekhilafahan terakhir muslimin itu,

“Siapa pun yang mengamati sejarah Turki Utsmani, mengetahui sebab utama kejatuhan mereka adalah jauhnya mereka secara bertahap dari aqidah yang bersih yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dan menggantinya dengan aqidah khurafat.” (Sulaiman bin Shalih Al Khurasyi, Kaifa Saqathat Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Berlomba menumpuk harta

Hal inilah yang sudah diwanti-wanti oleh Rasul dalam banyak hadits beliau. “Demi Allah bukan kemiskinan yang aku takuti terjadi pada kalian. Tetapi jika dunia dibuka di hadapan kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini pula yang membuat Umar menangis. Saat ia melihat harta dan perhiasan berdatangan ke Madinah hasil dari jihad, “Demi Allah, karena inilah kalian bertikai.

Abdul Halim Uwais, seorang ahli sejarah Islam yang sangat fokus mendalami sebab-sebab kejatuhan negeri-negeri Islam menulis buku At Takatsur Al Madiy Wa Atsaruhu fi Suquthil Andalus (Berbanyak-banyakan harta dan dampaknya bagi kejatuhan Andalus)

Al Wahn dalam bahasa Rasulullah itu, menjalari seluruh sendi para pemimpinnnya. Tidaklah Andalus pecah menjadi lebih dari 20 negara kecil kecuali karena hal tersebut. Efeknya panjang. Mereka rela bekerjasama dengan kekuatan kafir walaupun harus mengorbankan dan membunuh saudara. Semuanya berujung, dijualnya Granada sebagai kota terakhir yang dimiliki muslimin.

Lihatlah pengkhianatan di balik layar yang tak diketahui oleh masyarakat muslim. Tetapi aroma busuk itu tersimpan rapi dalam arsip sejarah. Tiga sekawan penjual Andalus kepada Fernando dan Isabella, salah satunya adalah menteri yang bernama Abul Qosim Al Malih. Dan inilah surat itu,

“Saya bersumpah demi Allah dan demi syariat, bahwa jika saya mampu memikul Granada di pundak saya pasti akan saya bawa ke tuan-tuan yang mulia. Ini keinginan saya. Allah akan membinasakan saya jika saya berdusta. Sebagaimana saya berharap dari Allah agar urusan ini berakhir dengan baik, terbebas dari kaum gila itu. Dan saya berharap anda yakin bahwa saya adalah pembantu mulia yang tulus untuk tuan-tuan terhormat. Tetapi sayangnya pemahaman penduduk kota ini belum matang dan terbuka.”

Ulama yang tak berperan lagi jahat

Andai ada satu atau dua ulama mau bergerak membimbing umat menuju kebangkitan, sangatlah cukup. Tetapi justru mereka yang memberi dalil sebagai dalih atas pengkhianatan itu. Kembali membaca kejatuhan Andalus, Abul Qosim Al Malih, Yusuf bin Kamasyah sesungguhnya bergerak leluasa dengan panduan dalil-dalil yang diberikan oleh Al Faqih Al Baqini. Maka ketiga orang inilah yang bergerak di lapangan untuk menjual sisa Andalus tersebut.

Dikarenakan ahli ilmunya asyik memunguti sampah dunia, maka mereka yang baru belajar ilmu memunculkan berbagai fatwa dan mengawal pergerakan umat. Tentu tanpa ilmu. Dengarlah kalimat ulama hebat Andalus yang mengawal kebangkitan kedua Andalus, Ibnu Hazm –rahimahullah-,

“Cara kita lepas dari fitnah yang menimpa Andalus adalah menahan lisan kecuali dari satu hal: Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Tapi sangat disayangkan banyak penuntut ilmu yang tidak menahan diri dari apapun kecuali dari Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar……kalau setiap orang yang menolak dengan hatinya berkumpul, mereka tak mampu mengalahkan kita.” (Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Dan jihad pun telah digantikan oleh hiburan

“Salah seorang ulama muslimin di abad ini berkata: Tanyakan kepada sejarah, bukankah redupnya bintang peradaban kita tidak terjadi kecuali pada hari bersinarnya bintang para artis.” (DR. Thoriq As Suwaidan, Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar)

1 Shafar 656 H. Tahun yang tak pernah terlupakan oleh Baghdad , bahkan seluruh muslimin. Saat Hulagu mulai mengepung Baghdad, ibukota kekhilafahan Dinasti Bani Abbasiyah dan menghujaninya dengan panah dan senjata paling mutakhir saat itu. Baghdad belum menghadapi tekanan sebesar itu sebelumnya. Tapi bacalah apa yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi muslimin saat itu, apakah dia segera menyatukan muslimin dan mengumumkan jihad?

Ibnu Katsir –rahimahullah– yang menyampaikan ini langsung,

“Tatar mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan panah api, hingga terkenalah seorang wanita yang sedang bermain dan menghibur di hadapan Khalifah. Dan ini salah satu kesalahannya. Wanita itu bernama Arafah. Panah melesat dari salah satu jendela membunuhnya saat ia sedang menari di hadapan khalifah. Khalifah terkejut dan sangat marah. Dia mengambil panah yang menancap, ternyata tertulis padanya: jika Allah ingin menjatuhkan ketentuannya, Dia menghilangkan akal orang-orang berakal. Maka khalifah pun memerintahkan untuk menambahi penghalang hingga banyak sekali penutup di istana khalifah.” (Al Bidayah wa An Nihayah

Roghib As Sirjani mengomentari kalimat di atas,

“Tarian wanita dalam darah telah menjelma menjadi makanan dan minuman. Harus ada walapun sedang dalam keadaan perang. Saya sungguh tidak paham, bagaimana ia rela menyibukkan diri dengan hal tersebut. Padahal negara, rakyat dan dia sendiri sedang dalam keadaan sulit.” (islamstory.com)

Hasilnya, 1.000.000 muslim mati hanya dalam 40 hari! Termasuk pemimpin mereka yang lalai dan lemah itu, mati dengan cara diinjak-injak di dalam istananya dengan tangan kaki terbelenggu. Sangat hina.

Sampailah kita pada zaman ini.

“Dan Yahudi melipat akhir lembaran kita yang bercahaya” (DR. Abdul Halim Uwais, Dirasah Lisuquth Tsalatsin Daulah Islamiyyah)

Dan kita telah mendapatkan banyak pelajaran. Kita bukan keledai yang mudah terjatuh dalam lubang yang sama. Menghindarlah dulu dari semua sebab kejatuhan itu. Untuk shaf muslimin segera menggerakkan bagian dari tubuhnya perlahan. Dan memang inilah zamannya. Kesadaran dan pergerakan untuk bangkit itu mulai kentara terlihat.

Di Tengah Bangsa Kalah

Ada teori terkenal yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun –rahimahullah– dalam Muqaddimah-nya di pasal ke-23 bahwa,

“Yang kalah terkagum selamanya dengan cara mengikuti yang menang; pada semboyannya, pakainnya, cara hidupnya dan seluruh keadaan serta kebiasaannya.”

Walau konsep ini tidak selamanya benar dan dikritik oleh para ulama hari ini, tetapi ada sisi benarnya. Dan itulah yang kita rasakan hari ini. Kita masih saja duduk terpaku di hadapan peradaban Yahudi hari ini dengan terkagum-kagum. Mata terbelalak, mulut terbuka, semua anggota tubuh mati dan mulut berdecak kagum. Yang lebih buruk, hati bertekad untuk mengikutinya.

Karenanya, bagi siapapun yang hendak bangkit di tengah bangsa yang kalah perlu segera bangun dari keterkaguman itu. Dan segera melihat ke sekeliling dampak kerusakan yang sudah menjalar ke seluruh wilayah muslimin.

Tiga poin berikut ini semoga bisa membantu kita untuk bangun,

  • Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Yusuf bin Tasyifin bagi Andalus
  • Antara Musa bin Abi Ghassan dan Saifuddin Quthuz
  • Antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki

Abul Walid Al Baji, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr adalah nama-nama besar para ulama Andalus. Mereka hadir di masa kehancuran Andalus yang pertama. Andalus besar selama 8 abad, tetapi pada 4 abad pertama Andalus nyaris lenyap. Semua penyebab kejatuhan di atas sudah ada pada muslimin Andalus; rakyat dan pemimpin.

Tapi Allah berkehendak Andalus masih bertahan 4 abad berikutnya. Dan inilah 3 nama besar yang bergerak untuk menyelamatkan Andalus. Tak henti mereka berkeliling menemui para raja-raja kecil rakus dunia untuk menyadarkan bahaya perpecahan di tengah kesigapan Kerajaan Kristen Castille untuk memangsa muslimin dari utara. Tapi para raja kecil itu sudah gelap mata. Dahsyatnya, para ulama itu tidak pernah putus asa dan selalu mencari jalan lain. Hingga mereka memutuskan untuk meminta bantuan pasukan dari daratan Afrika Utara. Maka Yusuf bin Tasyifin dibukakan jalannya untuk masuk daratan Iberia itu. DR. Thoriq As Suwaidan mengatakan,

“Kalau ada yang menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Rasyid kelima, maka kalau boleh saya menggelari Yusuf bin Tasyifin sebagai Khalifah Rasyid keenam.” (ceramah tentang sejarah Andalus di TV Arreesalah )

Untuk para ahli ilmu hari ini, segera sadarlah dan lakukan sesuatu! Jangan pernah berputus asa.

Adapun Musa bin Abi Ghassan adalah nama besar yang nyaris tidak kenal. Tapi tanyakan pada Granada yang menghadapi pengkhinatan pemimpinnya sendiri tentang nama besar ini. Saat bergabung menteri, ulama dan pemimpin tertinggi untuk menjual Andalus, tokoh besar ini sadar dan mendatangi mereka. Nahi mungkar!

Kembali, nasehat membentur kerasnya batu syahwat. Dan inilah kalimat kokoh Musa bin Abi Ghassan yang mengakhiri hidupnya dengan syahid,

“Jangan serahkan Granada! Biarkan kami berjihad fi sabilillah. Biarkan kami berperang fi sabilillah. Jangan menipu diri kalian sendiri. Jangan menyangka kalau Nashoro akan memenuhi janji mereka. Jangan bersandar pada besarnya kerajaan mereka. Kematian hanya sedikit dari ketakutan kita. Di hadapan kita ada penjarahan kota-kota kita dan penghancurannya, pengotoran masjid-masjid kita, perobohan rumah-rumah kita, pemerkosaan istri-istri dan putri-putri kita. Di hadapan kita dosa keji, fanatisme buas, cambuk dan belenggu rantai. Di hadapan kita penjara, siksaan dan pembakaran!” (Suquth Al Andalus Durusun Wa ‘Ibar)

Sedangkan Saifuddin Quthuz, dia pemimpin Mesir di tengah hancurnya mental muslimin pasca penghancuran Baghdad oleh Tatar. Setiap surat panglima Mongol dikirimkan ke sebuah wilayah muslimin agar menyerah, pemimpinnya langsung menyerah. Tak ada kata perlawanan, apalagi jihad. Mereka merasa berhadapan dengan raksasa yang datang dari negeri antah berantah. Tak mungkin, mustahil sekadar bisa melakukan perlawanan apalagi menang. Saifuddin Quthuz pun kebagian surat itu, saat Tatar bergerak ke Palestina. Ia segera membacakannya di hadapan para panglimanya. Dan kembali terulang, sebagian panglima itu menyarankan agar menyerah saja karena perlawanan tidak ada gunanya. Dan inilah kalimat Saifuddin Quthuz,

“Saya langsung yang akan hadapi Tartar wahai para pemimpin muslimin. Sekian lama kalian telah makan dari Baitul Mal, sementara sekarang kalian benci perang.

Saya pasti berangkat. Siapa yang memilih jihad, akan bersama saya. Siapa yang tidak memilih itu, pulanglah ke rumah!! :(DR. Ali M. Ash Shalaby, As Sulthan Saifuddin Quthuz Wa Ma’rokah ‘Ain Jalut)

Untuk mereka yang telah sadar dan mengetahui jalan kebangkitan, pemimpin ataupun tokoh, segera sebarkan semangat itu kepada yang lainnya!

Kini perbandingan antara kejatuhan Andalus dan kebangkitan Turki. Perhatikan tahunnya dan ambil pelajarannya,

Andalus jatuh pada tahun 897H / 1492 M dan Turki Utsmani berdiri pada tahun 699 H/1299 M.

Saat Andalus jatuh, Daulah Turki Utsmani telah berusia 200 tahun.

Inilah bersambungnya peradaban Islam. Andalus memang sudah tak mungkin dipertahankan dengan keadaan masyarakat dan pemimpinnya yang sudah rusak seperti itu. Maka, hari-hari kebesaran digeser ke timur. Diserahkan kepada yang telah siap.

Untuk melihat sesiap apa, mari kita baca sebagian nasehat pendiri Turki Utsmani yang bernama Utsman bin Ertugrul kepada anaknya. Isinya menunjukkan kebaikan diri penasehatnya sekaligus sebagai haluan bagi pelanjutnya,

“Wahai anakku, jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperintah Allah Robbul ‘Alamin. Jika kamu menghadapi masalah dalam hukum, maka bermusyawarahlah dengan ulama.

Anakku, kamu tahu tujuan kita adalah Ridho Allah Robbul ‘Alamin. Dan bahwasanya jihad untuk menebarkan cahaya agama kita ini ke seluruh penjuru hingga datanglah keridhoaan Allah jalla jalaluh.

Anakku, kita bukan bagian orang-orang yang melakukan perang dengan syahwat kekuasaan atau ambisi pribadi. Kita dengan Islam ini hidup dan untuk Islam kita mati.

Anakku, aku wasiatkan kepadamu tentang ulama umat. Teruslah menjaga mereka, perbanyak memuliakan mereka, bermusyawarahlah dengan mereka karena mereka tidak memerintahkan kecuali pada kebaikan. (DR. Ali M. Ash Shalaby, Ad Daulah Al Utsmaniyyah)

Selalu ada harapan sekecil apapun. Yang tak layak akan layu kemudian mati. Yang layak akan bertunas dan segera besar.

Harapan, harapan !!

Ini agama Allah

Tetapi mana para pekerja kerasnya?

(Syekh Nashir bin Sulaiman Al Umar, Suquth Al Andalus Durus wa Ibar)

Selanjutnya Apa?

Yang pernah mengantarkan mereka menuju kebangkitan adalah panduan utama orang beriman; Al Quran dan Sunnah Nabi. Dan aplikasi serta buktinya ada dalam sejarah Islam. Teori umum luar biasa, tetapi sayangnya telah memakan banyak korban, yaitu mereka yang merasa telah menjalankan bidangnya berlandaskan dua wahyu itu. Tetapi sesungghnya konsep dan teorinya berasal peradaban Yahudi hari ini. Maka mari lebih kita detailkan sedikit.

Setelah panjang lebar kita bertebaran di sepanjang sejarah Islam, kini apa yang harus kita lakukan?

Mari kita uji diri kita, apakah kita pelaku kebangkitan itu atau sekadar penonton atau komentatornya?

(Pendidikan dan Kesehatan dalam sejarah kebesaran Islam bukan lembaga profit!!!)

Apa yang ada di benak Anda, setelah membaca pernyataan di atas?

Jawabannya adalah merupakan posisi kita dari kebangkitan Islam hari ini.

Perhatikan lebih detail konsep Bymaristan (Rumah Perawatan Pasien) di sejarah kebesaran Islam. Kalau ada pasien datang ke Bymaristan untuk berobat, maka berikut ini prosedurnya,

  • Setiap pasien yang datang akan dicatat namanya
  • Diperiksa oleh kepala dokter detak jantungnya, urinenya dan ditanyakan berbagai gejalanya
  • Jika oleh dokter pemeriksa dinyatakan hanya rawat jalan, maka dibuatkan resep saja
  • Resep dibawa ke bagian apotek untuk mengambil obatnya
  • Jika dokter menyatakan harus dirawat, maka akan langsung diserahkan kepada tim perawatnya (dokter pengawas, perawat dan pelayan kebutuhan pasien)
  • Setiap pagi dilakukan kunjungan dokter ke semua pasien
  • Jika telah sembuh, pasien dipersilakan pulang dengan diberi baju baru dan beberapa keping uang emas (DR. Ahmad Isa, Tarikh Al Bymaristanat fil Islam dan Hassan Syamsi Basya, Hakadza Kanu Yaum Kunna)

Mungkinkah kita ulang kebesaran dunia kesehatan ini?

Allah mengurung kalian dengan kehinaan sampai kalian mau kembali ke agama kalian!

(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

*Disampaikan dalam Seminar Akbar Dewan Syari’ah Kota Surakarta: Dengan Menghidupkan Sunnah Rasul Kita Songsong Kebangkitan Islam 2020? Ahad, 19 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s