Setelah 30 Tahun Berlalu…

komandan-jihad

Tahun 51 Hijriyah

Pasukan Muslim berhasil memporakporandakan sarang-sarang kekufuran di muka bumi, di belahan Timur dan Barat. Mereka membawa cahaya aqidah yang terang benderang dan mata air keimanan yang menyejukkan bagi segenap umat manusia yang sebelumnya tenggelam dalam gelapnya kejahiliahan. Mereka mengulurkan tangannya untuk kemaslahatan dunia dan akhirat, menyebarkannya hingga ke sudut-sudut dan lorong-lorong bumi yang sebelumnya tertutupi oleh kabut kekufuran, serta membebaskan mereka semua dari belenggu penghambaan kepada sesama makhluk kepada pengabdian total kepada Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya.

Saat itu, sahabat Nabi SAW yang agung, Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi radhiyallaahu ‘anhu, amir di Khurasan, pembuka pintu Sajistan, dan panglima yang handal tengah memimpin pasukan perangnya di jalan Allah, didampingi oleh seorang budaknya yang loyal. Farrukh namanya.

Allah SWT menganugerahkan kemenangan padanya atas Sajistan dan daerah-daerah lainnya. Tidak berhenti di situ saja. Ar-Rabi’ bin Ziyad ingin melengkapi kemenangannya yang gemilang dengan melintas sungai Seyhun – sungai yang saat ini melintasi empat negara: Kyrgistan, Uzbekistan, Tajikistan dan Kazakhstan – untuk mengibarkan panji tauhid di bukit-bukit yang berada di seberang sungai tersebut.

Ar-Rabi’ bin Ziyad pun mempersiapkan pasukan untuk menyongsong perang yang telah direncanaknnya, mengatur strategi dan memberikan pengarahan tentang saat yang tepat untuk menyerang, juga posisi musuh yang hendak diserangnya.

Perang pun pecah. Ar-Rabi’ bin Ziyad beserta pasukannya yang militan bertabur seruan tasbih dan pekikan takbir menunjukkan kebolehannya dalam berperang di jalan Allah SWT. Budaknya, Farrukh juga memperlihatkan kegagahan dan ketangkasannya dalam medan perang, hingga membuat Ar-Rabi’ bin Ziyad semakin kagum terhadap dirinya.

Usailah peperangan yang menentukan itu. Kemenangan jatuh ke tangan kaum Muslimin. Mereka berhasil menggoyahkan kaki-kaki musuh dan mencerai beraikan barisannya. Mereka pun menyeberangi sungai yang selama ini menjadi penghalang tersebarnya dakwah Islam ke Turki dan negeri Cina nun jauh di belahan Timur sana.

Setelah berhasil menyeberangi sungai dan menginjakkan kaki di tepiannya, panglima dan pasukannya ini langsung mengambil air wudhu. Mereka menghadap kiblat, menunaikan shalat dua raka’at sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemenangan kepada mereka.

Ar-Rabi’ bin Ziyad kemudian memberikan hadiah kepada Farrukh atas andilnya yang besar dalam peperangan berupa kemerdakaan untuk dirinya. Farrukh juga mendapatkan ghanimah yang banyak ditambah lagi Ar-Rabi’ bin Ziyad memberikan hadiah khusus yang dikeluarkan dari kantongnya sendiri.

2 tahun kemudian.

Ajal pun datang menjemput Ar-Rabi’ bin Ziyad. Dia kembali kepada Allah SWT dengan penuh kerelaan dan keridhoan.

Adapun Farrukh – sang pemuda perkasa – berniat untuk kembali ke kota Nabi, Madinah. Dia pulang sambil membawa ghanimah dan hadiah, tombak yang digunakan untuk menerjang musuh, sekaligus membawa kemerdekaan dari tuannya, serta memori indah saat bergemul dengan debu-debu jihad di jalan Allah SWT.

Di usianya yang muda. Lincah, gagah dan perkasa, ia bertekad untuk membangun bahtera rumah tangga bersama seorang wanita yang shalihah. Dilamarnya seorang gadis yang sebaya usianya, matang pikirannya dan sempurna agamanya agar menjadi tenang dan sakinah kehidupannya. Dibelinya juga sebuah rumah nan sederhana di kota Madinah. Dia pun hidup berbahagia bersama sang kekasih dengan penuh kebahagiaan dan kenikmatan.

Namun rupanya, rumah yang nyaman, lengkap dengan segala kebutuhannya, belum lagi ada pendamping yang shalihah, dengan akhlak dan wajah yang jelita tak mampu meredam gejolak kerinduannya untuk terjun di medan jihad fii sabilillaah. Setiap kali mendengar berita kemenangan dan kemajuan yang dicapai oleh pasukan Muslim, maka semakin membuncah kerinduannya untuk turut serta, semakin menggebu-gebu hasratnya untuk mati di jalan-Nya.

Hari Jum’at, khatib masjid Nabawi memberikan kabar gembira tentang kemenangan yang berhasil diraih oleh kaum Muslimin di berbagai medan jihad. Tak lupa, khatib juga membakar semangat para jamaah untuk terus berjihad di jalan-Nya dan memberikan kabar gembira tentang keutamaan syahid demi meninggikan agama-Nya. Pulanglah Farrukh ke rumahnya sedang di hatinya telah bulat tekadnya untuk berjuang di bawah panji-panji Islam yang bertebaran di muka bumi.

“Wahai Abu Abdirrahman”, kata sang istri dengan lembut setelah Farrukh menjelaskan tekad dan keinginannya. “Kepada siapakah engkau hendak menitipkan aku beserta janin yang ada di dalam kandunganku ini, sedangkan engkau di sini adalah orang asing yang tak punya sanak famili di kota ini?

Farrukh pun menjawab, “Aku titipkan engkau, kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku juga meninggalkan 30.000 dinar (sekitar 50-an milyar rupiah), hasil yang pernah aku kumpulkan dari pembagian ghanimah di medan perang. Gunakanlah secukupnya untuk keperluanmu dan kebutuhan bayi kita kelak dengan sebaik-baiknya sampai aku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah. Atau Allah SWT memberikan nikmat berupa syahid sebagaimana yang pernah aku dambakan.” Farrukh pun pamit kepada istrinya, sambil membawa segenggam cita-citanya yang mulia tersebut.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s