Kemuliaan Panji Islam

Bendera_tauhid_20140806_223902

Sultan Muhammad, yang bergelar Alib Arselan alias Singa Pemberani memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Saljuk setelah wafatnya Thughril Baek, pamannya. Alib Arselan adalah sosok yang pemberani dan cerdik. Keinginan untuk berjihad di jalan Allah selalu mengalir di setiap pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya. Dia juga sangat antusias menebarkan cahaya Islam, menancapkan dan mengibarkan panji-panjinya di wilayah-wilayah Kristen Byzantium. Sebelum merealisasikan cita-citanya, dia selalu melakukan inspeksi di wilayah kekuasaannya selama tujuh tahun guna mengokohkannya dan membuatnya loyal kepada sang raja.

Strategi yang dia buat bukan main-main. Selain ingin menaklukkan negeri-negeri yang dikuasai para penyembah salib, ia juga berkeinginan menaklukkan Dinasti Syiah Fatimiyyah di Mesir dan menyatukan seluruh dunia Islam di bawah panji Khilafah Abbasiyah. Untuk memuluskan cita-citanya, maka mula-mula dia menyiapkan sejumlah besar pasukan untuk bergerak menuju Armenia. Georgia akhirnya bertekuk lutut di bawah kakinya. Air hujan Islam yang menyejukkan pun akhirnya turun membasahi wilayah-wilayah yang ada di daerah tersebut.

Kemudian, langkah yang dia tempuh setelah membebaskan Georgia dari belenggu kejahilan dan kekufuran adalah melakukan penyerbuan terhadap Syam bagian utara dan mengepung negeri Muradisah, Aleppo. Negeri yang bermazhabkan Syiah sejak tahun 414 H/1023 M itu pun takluk dan kembali mengakui pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Loyalitas mereka kepada Dinasti Fatimiyyah yang berbasis di Mesir pun diputuskan.

Panglima perangnya yang bernama Atansaz bin Auq al-Khawarizmi diperintahkan untuk melakukan penyerbuan ke bagian selatan negeri Syam. Panglima perang pemberani ini tak menyia-nyiakan amanah yang telah dititahkan oleh sang raja kepadanya. Ramalah dan Baitul Maqdis yang selama ini dikuasai Dinasti Fatimiyyah akhirnya berhasil dikembalikan ke pangkuan ahlu sunnah wal jama’ah.

Pada tahun 462 H, seorang utusan dari pemerintahan Mekkah, Muhammad bin Abu Hasyim datang menemui Sultan Alib Arselan. Utusan ini mengabarkan bahwa, nama pemerintahan Dinasti Fatimiyyah akan dihapuskan dan akan digantikan dengan nama Khalifah Abbasiyah setiap khutbah di mimbar-mimbar kota Mekkah. Panggilan adzan dengan tambahan Hayya ‘alal ‘amal juga akan dihentikan. Sultan seketika itu juga memberikan hadiah yang melimpah berupa 30 ribu dinar kepada utusan tersebut. “Jika penguasa Madinah melakukan hal yang sama”, kata Sultan kepada utusan. “Maka akan kami berikan padanya hadiah sebanyak 20 dinar.”

Penaklukan-penaklukan yang dimotori oleh Alib Arselan ini membuat kaisar Romawi, Romanus Diogenes kebakaran jenggot. Dia tak tinggal diam melihat wilayahnya dicaplok satu per satu oleh Alib Arselan. Romanus kemudian berangkat dengan pasukan besar – yang oleh Ibnu Katsir disebutkan – laksana gunung dan persenjataan yang kuat untuk menyerang Alib Arselan. Dalam pasukannya itu, selain terdapat pasukan Romawi, ada juga pasukan dari Kontantinopel sejumlah 15 ribu personil, Perancis 35 ribu personil, serta 35 ribu Bitriq (komandan pasukan Romawi). Di bawah seorang Bitriq ada 100 ribu penunggang kuda. Dalam pasukan perang ini dibawa juga 100 ribu tukang seruling dan penggali lobang, 1000 kuda kerja, 400 gerobak pengangkut sandal dan paku, 1000 gerobak yang berisikan senjata, penerangan, alat perang, pelempar batu, manjaniq. Pasukan dengan jumlah yang menyesakkan dada ini tujuannya hanya satu, menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya!

Pasukan ini mampu menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Irak dan Khurasan. Misi selanjutnya adalah mengambil alih negeri Syam yang indah dari tangan kaum Muslimin. Pasukan ini berhasil dihadang oleh Sultan Alib Arselan yang saat itu memimpin pasukan sekitar 20 ribu orang di sebuah tempat yang bernama Zahwah. Peristiwa yang menyejarah ini terjadi pada tanggal 25 Dzulqa’dah. Kecemasan pun melanda Sultan setelah melihat jumlah pasukan Romawi yang demikian banyaknya. Semoga Allah merahmati seorang faqih yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al-Bukhari yang ketika melihat kecemasan nampak pada sultannya kemudian memberikan nasihat agar waktu perang ditetapkan di hari Jum’at setelah matahari tergelincir, tatkala para khatib naik mimbar mendoakan kemenangan pasukan mujahidin.

Waktu yang menentukan itu pun akhirnya datang juga. Kedua pasukan yang tak seimbang dari segi jumlah dan kekuatan itu pun bertemu di medan perang. Sejenak, Sultan Alib Arselan turun dari kudanya dan bersujud di atas tanah yang dipijaknya kemudian bermunajat kepada Allah SWT agar menganugerahkan kemenangan pada pasukannya.

Allah SWT sungguh tak menyia-nyiakan permohonan hambanya yang shalih. Pasukan Romawi yang jumlahnya maha dahsyat itu pun kocar kacir bak pasukan kafir Quraisy saat dikalahkan pasukan muslimin di perang Badar berabad-abad sebelumnya. Kemenangan berhasil diraih oleh Sultan Alib Arselan dan pasukannya. Bahkan, sang kaisar Romawi yang congkak itu berhasil ditawan dan dihadapkan kepada sultan.

Setelah dipukul dengan tiga pukulan tangan, kaisar Romawi yang ditinggal lari oleh pasukannya itu kemudian ditanya oleh sultan. “Jika aku yang menjadi tawananmu, apa gerangan yang akan kau lakukan padaku?”

“Aku pasti melakukan keburukan padamu!”, jawab Romanus. Sultan kembali menanyakan, “Lalu menurutmu, apa yang akan aku lakukan padamu?”.

Romanus pun menjawab, “Mungkin kau akan membunuhku dan kau giring aku ke negerimu. Atau kau mengampuniku dan mengambil tebusan dariku dan mengembalikan aku ke negeriku!”

Sultan Alib Arselan pun memaafkannya dan menghendakinya untuk membayar sejumlah tebusan. Romanus menebus dirinya dengan uang sejumlah 150 ribu dinar. Setelah itu dia berdiri di depan sultan dan memberikan minum padanya sambil mencium tanah di depan sultan. Romanus juga mencium tanah menghadap ke arah tempat khilafah Abbasiyah berada.

Sultan yang murah hati itu, sebelum melepaskan kaisar Romawi, memberikan 1000 dinar sebagai perbekalan di perjalanan pulang dan mengirim beberapa panglima pasukan untuk menjaganya dengan selamat sampai ke negerinya. Sultan sendiri mengantarnya hingga jarak empat mil. Tentara yang menjaganya ini dengan gagah berani sambil membawa panji-panji yang bertuliskan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlah Muhammad Rasulullah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s