Sejenak Mengenang Peradaban Andalusia

semenanjung Andalusia berduka
tanpa ada yang peduli mengucap belasungkawa menghiburnya
Islam tertimpa bencana
sehingga harus kehilangan banyak wilayahnya
tanyakan pada Valencia, apa kabarnya Murcia?
dimana Syatibah? dimana Jean?
dimana Cordova yang dahulu menjadi gudangnya ilmu?
berapa banyak ulama besar yang hidup di sana?
dimana Homsh berikut tamannya yang asri
dan sungainya yang airnya mengalir deras yang terasa segar?

Bait di atas merupakan kasidah dari Abul Baqa’ ar-Randi tentang ratapannya terhadap peradaban Islam di Andalusia yang telah runtuh dan dikuasai oleh kerajaan Kristen Spanyol. Kota Granada, benteng terakhir umat Islam diserahkan oleh raja terakhir Andalusia, Abu Abdillah Muhammad ash-Shagir kepada Ferdinand V dan ratu Isabella, setelah beratus tahun sebelumnya kota-kota Islam lainnya seperti Sevilla, Cordova, Toledo, Madrid, Valencia dan Zaragoza berhasil dikuasai oleh kerajaan Kristen Spanyol. Lambang Salib Kristen menjulang tinggi dipajang di atas masjid-masjid dan istana-istana kaum Muslimin, gugusan bintang pemerintahan Islam lenyap tertutup awan hitam kekuasaan kerajaan Kristen yang penuh dengan kekufuran.

Andalusia, negeri yang indah nan eksotis berada di bawah kekuasaaan kaum Muslimin selama kurang lebih 800 tahun lamanya. Dari tahun 92 H/711 M saat pertama kali berhasil ditaklukkan oleh sang panglima agung, Thariq bin Ziyad hingga runtuh pada tahun 797 H/1492 M. Penaklukan Andalusia sudah lama diidam-idamkan oleh kaum Muslimin, Khalifah Utsman bin Affan ra pernah mengatakan, “Jika kalian dapat menaklukkan Andalusia, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka yang menaklukkan Konstantinopel di akhir zaman.”

Pijakan-pijakan menuju penaklukan dan pembebasan Andalusia pertama kali dirintis oleh seorang tabi’in, panglima yang takwa dan juga wara’, Musa bin Nushair rahimahullaah. Yang pertama kali dilakukannya adalah meneguhkan terlebih dahulu pilar-pilar Islam di Afrika (Maghribi). Selain itu juga, dia membangun beberapa pelabuhan, menyiapkan armada laut yang kuat dan menaklukkan wilayah-wilayah vital untuk memudahkan pembebasan Andalusia. Setelah itu dia mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan. Thaqiz bin Ziyad merupakan panglima yang menggabungkan rasa takut kepada Allah dan sikap wara’, serta kemampuan militer, kecintaan pada jihad dan keinginan untuk syahid di jalan Allah.

Setelah dilakukan misi intelijen di Andalusia, pada bulan Sya’ban 92 H (Juni 711 M), bergeraklah pasukan yang terdiri dari 7.000 prajurit Islam di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dengan menggunakan kapal. Pasukan Islam kemudian bergerak cepat dan menyeberangi selat yang memisahkan antara dataran Afrika dan Andalusia yang kelak dikenal dengan nama Selat Jabal Thariq (Gibraltar).

Toledo, yang menjadi ibukota Andalusia saat itu gempar setelah mengetahui pasukan mereka yang berjaga-jaga berhasil dikalahkan oleh pasukan Islam. Sebuah surat dikirimkan kepada raja Roderic, penguasa Andalusia yang isinya, “Segera bantu kami Roderic! Kami menghadapi sepasukan yang kami tidak tahu apakah mereka itu berasal dari bumi ataukah dari langit. Mereka telah menginjakkan kakinya di negeri kita dan aku telah berjumpa dengan mereka, segeralah pimpin pasukan untuk menghadapi mereka!”

Keberadaan kaum muslimin memang benar-benar sesuatu yang asing bagi mereka. Sepasukan ini sebelum memutuskan untuk berperang saat menaklukkan suatu wilayah, memberikan penawaran terlebih dahulu untuk masuk ke dalam agama mereka dan jika menerima, mereka akan dibiarkan dan harta benda mereka tidaka akan diambil sepeserpun. Jika pun menolak mengikuti agama tersebut, mereka hanya diwajibkan membayar jizyah (pajak) dan harta benda mereka juga dijamin tidak akan direbut dengan paksa. Hal aneh ini belum pernah terdengar oleh telinga mereka, belum pernah terlihat oleh mata mereka dan belum pernah terpikirkan oleh benak mereka sama sekali.

Kaum muslimin dalam pandangan mereka, sangat mahir dalam berperang dan bertempur. Tetapi ketika malam tiba, menjelma menjadi rahib-rahib yang begitu khusyuk beribadah kepada Tuhannya. Komandan pasukan yang mengirim surat itu menunjukkan rasa takjub yang sangat besar kepada pasukan muslim ini sampai-sampai mempertanyakan apakah mereka ini penduduk berasal dari bumi ataukah penduduk langit!

Kabar kekalahan yang tersiar dari pasukannya yang berjaga-jaga di garda terdepan Andalusia membuat sang raja marah, berita itu bak tamparan yang keras bagi kerajaannya. Dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. dikumpulkannya 100.000 prajurit berkuda. Ia pimpin sendiri pasukan tersebut untuk menghadang 7.000 pasukan Islam yang mayoritasnya hanyalah pasukan infanteri pejalan kaki dengan sejumlah kecil prajurit berkuda. Melihat pasukan Andalusia yang begitu banyak, Thariq bin Ziyad meminta tambahan bantuan kepada Musa bin Nushair. Musa bin Nushair akhirnya mengirimkan Tharif bin Malik dengan membawa 5.000 prajurit infanteri yang dibawa menggunakan kapal-kapal.

Setelah pasukan tambahan bergabung, menjadi 12.000 prajurit. Thariq bin Ziyad mencari lokasi yang tepat untuk melakukan pertempuran dan dipilihlah sebuah lokasi bernama Lembah Barbate. Lembah Barbate ini sangat strategis tersebab sisi belakang dan kanannya berdiri gunung yang tinggi, yang bisa melindungi pasukan Islam dari belakang. Sementara sisi kirinya adalah berupa danau, sehingga tempat tersebut benar-benar menjadi lokasi yang aman dan strategis untuk menghadang pasukan Andalusia.

Dari kejauhan datanglah Roderic dengan segala pakaian kebesarannya, dengan menggunakan mahkota emas dan pakaian yang dipintal dengan emas, sambil duduk angkuh d atas singgasananya yang juga terbuat dari emas. Bahkan saat berperang pun, ia tak bisa melepaskan diri dari kehidupan dunianya yang megah nan melimpah ruah. Tak lupa juga, ia membawa tali temali yang akan digunakan untuk mengikat kaki dan tangan kaum muslimin. Dia percaya, bahwa seratusan ribu pasukannya pasti mampu mengalahkan pasukan Islam yang jumlahnya hanya sekitar sepersembilan dari jumlah pasukan yang ia pimpin.

Tepat pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M), di lembah Barbate pertempuran sengit dan menyejarah itu pun terjadi. Dari segi kuantitas, begitu jauh perbedaan jumlah antara pasukan Andalusia dan pasukan Islam. Tapi, selain perbedaan dari segi jumlah adalagi perbedaan-perbedaan lainnya yang kelak akan menjadi faktor kemenangan bagi pasukan Islam. Pasukan Islam walau sedikit, tetapi mereka adalah pasukan yang berangkat dengan dorongan ketaatan kepada Tuhannya dan penuh dengan keikhlasan tanpa adanya paksaan dan tekanan. Pasukan Islam walau sedikit, tetapi mereka semua siap untuk mati syahid, memandang remeh dunia, meninggalkan dan menanggalkan semua ikatan dunia yang mencoba menjeratnya, dan mereka berdiri bersama dalam barisan yang rapi, tanpa membedakan status sosial, usia, pendidikan dan pekerjaan di antara mereka.

Ditambah lagi, pasukan ini dipimpin oleh seorang panglima yang memiliki karakter yang Rabbani, memadukan antara ketakwaan dan kapabilitas, antara kasih sayang dan ketegasan, antara kemuliaan dan kerendahan hati. Sementara itu pasukan Kristen dipimpin oleh seorang pria angkuh dan sombong, hidup nyaman di atas penderitaan rakyatnya.

Setelah delapan hari berturut-turut, roda pertempuran itu berputar. Gelombang pasukan Kristen terus mengalir berdatangan menghantam pasukan Islam, dan pasukan Islam tetap tegar bersabar menghadapinya seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 23 berikut: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).”

Pada tanggal 5 Syawal, berakhirlah pertarungan tersebut. Kaum musyrikin berhasil dipatahkan dan dikalahkan. Kaum muslim mendapatkan anugerah kemenangan karena ada sesuatu yang bersemayam dalam hati mereka dan menguatkan jiwa-jiwa mereka, yakni iman. Dan akhirnya Andalusia menutup lembaran-lembaran kegelapan, kebodohan dan kehancuran. Dimulailah sebuah lembaran baru, lembaran dengan kemajuan dan kebangkitannya. Kaum muslim mendapatkan rezeki harta rampasan perang yang melimpah dan 3.000 orang menjadi syuhada, darah mereka mewangi membasahi tanah Andalusia.

Bersambung..

[Disarikan dari buku Bangkit dan Runtuhnya Andalusia karya Syaikh Dr. Raghib as-Sirjani]

 

 

Advertisements

One thought on “Sejenak Mengenang Peradaban Andalusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s