Sebuah Tulisan untuk Kader IKMI TEDC 2010

ikmi2010

Esok pagi akan diwisuda angkatan 2010 mahasiswa DIV Politeknik TEDC Bandung. Dengan beberapa mahasiswa angkatan 2010 ini, begitu banyak kenangan yang terukir dan terpatri indah dalam sanubari, dan insya Allah tak akan pernah terlupa hingga nanti ruh ini terpisah dengan jasadnya. ‪#‎Uhukuhuk‬

Dengan mereka, saya terpaut tiga tahun jauhnya dengan mereka. Saat saya sedang asyik berkutat, berjuang, membanting tulang mengerjakan tugas akhir di detik-detik terakhir kehidupan saya di kampus, mereka baru masuk kuliah di Politeknik TEDC sebagai anak baru yang masih lugu. Maka mau tidak mau harus berperan sebagai kakak tingkat yang harus menunjukkan kewibawaan dan juga kedewasaan ketika bertemu dengan mereka, ya walaupun terkadang gagal dalam beberapa kesempatan.
Adalah waktu itu, ketika diadakan rekrutmen untuk anggota baru LDK IKMI (Ikatan Komunikasi Mahasiswa Islam) diadakan di sebuah tempat nun jauh di sana, Cikole – Lembang. Beberapa hari sebelum acara tersebut dilaksanakan, seorang sahabat angkatan 2010 ini mengajak saya. Dengan ajakan yang menarik dan penuh intrik, memprovokasi saya untuk ikut. Hasrat saya untuk turut serta semakin bertambah-tambah dan membuncah, ketika sahabat seangkatan saya – sesama angkatan 2007 – juga mengajak saya dengan menggunakan kata kunci: “training”, “outbond”, “jalan-jalan” dan “Lembang”. Seperti yang mungkin anda duga, saya pun terpengaruh dan tersugesti untuk mengatakan, “ya.. saya ikut..”, padahal waktu itu saya tidak tahu, jikalau bahwasanya semua peserta yang bakal hadir, angkatan 2010 semuanya. Dan “parahnya”, saya juga tidak diberitahu bahwa acara tsb untuk melakukan rekrutmen terhadap anggota baru organisasi kampus tsb. ‪#‎Alamak‬

Singkat cerita, berangkatlah kami semua ke sana. Dan benar saja, saya-lah peserta yang paling tua di antara mereka yang masih muda-muda, malu rasanya. Untung saya bisa menyesuaikan diri, karena sejatinya saya masih berjiwa muda seperti mereka (tolong acuhkan pernyataan yang satu ini). Saat games-games dilaksanakan di beberapa pos yang ada di sana, yang menjadi penanggungjawab masing-masing pos yang dalam hal ini senior IKMI adalah mereka yang seangkatan dengan saya. “Tega-teganya kepada teman sendiri melakukan ini…” Mereka aktif mengerjai kami, eh maksud saya melatih kami untuk menjadi pribadi yang tangguh dan disiplin. Jasadiyah ditempa, fikriyah dibina, ruhiyah dikuatkan, ukhuwwah direkatkan. Adegan yang melelahkan dan menyenangkan banyak dilakukan, sebut saja push-up karna tak kunjung hapal surah, merayap-rayap di tanah, mendaki gunung menyusuri lembah, menginjak gelas (ini yang paling menakutkan), oles-oles tepung di wajah de el el. Pada akhirnya saya mulai akrab dengan mereka, menghapal nama-nama mereka, mengingat kharakteristik dan sifat mereka.

Ada seorang kakak pembina – yang tidak mau saya sebut namanya – kurang lebih mengatakan, “mengapa tidak dari awal saja kamu direkrut masuk IKMI..” Ya begitulah, memang sejak awal saya tidak tertarik untuk bergabung di organisasi keislaman kampus tersebut. Rumput di organisasi BEM sepertinya lebih hijau, sehingga saya lebih memilih mengabdi dan bergabung di organisasi eksekutif mahasiswa, ketimbang masuk IKMI. Tapi pastinya tak ada kata terlambat dalam mengikuti kebaikan. Sudah digariskan dan tercatat dalam mega server Allah SWT – Lauhul Mahfudz – bahwa saya akan bergabung dengan IKMI di akhir-akhir masa perkuliahan, saat wisuda sudah di penghujung mata.

Dengan sahabat-sahabat angkatan 2010 ini, alhamdulillaah wa syukurillaah ikatan ukhuwwah semakin kuat. Dengan mereka telah banyak hal yang dilakukan, pengajian bersama, membuat kepanitiaan mentoring bersama, hiking bersama, makan bersama dan hal-hal positif lainnya. Banyak potongan-potongan episode yang mengharukan, membahagiakan, sampai menyedihkan yang sudah dialami bersama. Salah satunya adalah saat kita menjadi panitia mentoring 2011 yang diselenggarakan di Pondok Hijau, UPI – Bandung.

Mudah-mudahan kalian masih ingat apa yang terjadi di sana? Disemprot pihak keamanan karna tak ada surat izin, adegan bergantung di pipa warga hingga pipanya rusak, gorengan “asin” yang habis dilahap karna laparnya, korlap yang sibuk bolak-balik membimbing peserta, dan adegan-adegan melelahkan lainnya. Banyak pengorbanan dilakukan semata-mata ditujukan untuk mengajak dan membimbing adik-adik mahasiswa agar bangga dengan keislaman mereka, agar generasi muda Islam ini menjadi pribadi yang sesuai dengan 10 muwashaffat yang diajarkan oleh Imam Hasan al-Banna rahimahullaah, walaupun kita sendiri masih bersusah payah untuk bisa mencapainya, agar mereka bahagia mengikuti pembinaan Islam yang diberikan kepada mereka.

Tapi, ada hal yang perlu kita ingat, serpihan perjuangan yang kita lakukan saat itu sebenarnya tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan Rasul beserta sahabat-Nya, tak ada seujung kukunya jika dibandingkan dengan perjuangan mujahid, ulama-ulama dan pahlawan Islam di masa lampau. Dan mudah-mudahan semuanya dilakukan dilandaskan pada kemurnian niat hanya untuk Allah SWT.
Pengalaman lain yang sering membuat saya tersenyum sejenak adalah pengalaman pertama ikut dauroh. Sungguh spesial saat itu, kami dijemput naik mobil, diberi makan snack dan makan besar saat acara. Dan akhir acara dauroh, kami dibentuk kelompok halaqoh. Ada murabbi penanggung jawab kelompok kami, ditentukan waktu dan tempat untuk halaqoh, dan dalam kelompok tsb lagi-lagi saya yang paling senior di antara mereka para angkatan 2010. Halaqoh ini sudah berlangsung hingga kini, walaupun pesertanya jatuh bangun, dan tinggal beberapa orang saja. ‪#‎hicks‬

Ah, sepertinya terlalu melankolis diri ini jika mencoba-coba mengingat-ingat kenangan masa lampau tersebut, dan tak terasa mata berkaca-kaca dibuatnya.

Setelah diwisuda nanti, dunia yang sebenarnya dengan segala kemolekannya sebentar lagi akan dihadapkan kepada kalian. Kesibukan-kesibukan dunia sebentar lagi akan menyita waktu-waktu kalian. Godaan harta, tahta dan wanita akan mulai merayap mencoba menerjang kalian. Maka sesekali cobalah tuk mengingat komitmen-komitmen kebaikan yang pernah kita ucapkan.

Dimanapun nanti kalian mengabdi setelah kelulusan, bulan purnama kita tetap sama kan? Maka tetap jaga iman dan islam kalian. Tetap doakan sahabat-sahabat perjuangan kalian. Berharap bisa berjumpa dan bertemu lagi di kesempatan lain, barangkali di saat tangan kalian sudah memegang pasangan sah dengan penuh kemesraan dan kelembutan atau mungkin… saat kalian sudah menggendong anak, calon pejuang Islam di masa depan. Ataupun jika ternyata takdir berkata lain, saya berharap di jannah-Nya nanti Allah mempertemukan kita dan mengizinkan kita bercengkrama dan bernostalgia di dipan-dipan dengan penuh kehangatan. Aamiin ya Allah, aamiin ya rabbal ‘alamiin…

Selamat atas diwisudanya kalian nanti… Semoga diberikan kelancaran dan keberkahan… juga keistiqomahan dalam kebaikan…

Dari akhukum fillaah… Faisal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s