Indahnya Makna Do’a Iftitah dan al-Fatihah dalam Ibadah Shalat


Berikut ini ada sesuatu yang menakjubkan bagi orang yang hatinya memahami esensi dan substansi al-Qur’an dari keajaiban nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT serta merasakan secara langsung keelokan iman, yaitu dia memandang bahwa setiap nama dan sifat Allah SWT memiliki tempat dalam shalatnya. Ketika dia berdiri tegak di hadapan Allah SWT, hatinya menyaksikan sifat Allah SWT al-Qayyum (Maha Mengurus makhluk-makhluk-Nya secara terus menerus).

Ketika mengucapkan: Allaahu Akbar “Allah Maha Besar”, hatinya menyaksikan kebesaran Allah SWT. Ketika mengucapkan doa’ iftitah: Subhanakallaahumma wa bihamdika, watabarakasmuka, wa ta’alaa jadduka, wa la ilaaha ghairuka “Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi kebesaran-Mu dan tak ada tuhan yang patut disembah selain-Mu”, hatinya menyaksikan Tuhan yang tersucikan dari segala bentuk cacat, terhindari dari segala bentuk kekurangan dan berhak menyandang segala pujian.

Do’a iftitah yang dimaksud adalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)

Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara marfu’, yaitu dari ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  Radhiallahu’anhum. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :

أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك

Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)” (HR. Muslim no.399) [editor, sumber: Muslim.or.id]

Pujian kepada Allah SWT berarti mensifatinya dengan seluruh bentuk kesempurnaan. Hal tersebut berkonsekuensinya tersucikannya Allah SWT dari segala bentuk kekurangan. Mahasuci nama-Nya. Tidak disebutkan pada sesuatu yang sedikit melainkan pasti menjadikannya banyak. Tidak disebutkan pada kebaikan melainkan pasti menumbuhkembangkan dan memberkatinya. Tidak disebutkan pada suatu musibah melainkan pasti akan mengusirnya dalam keadaan celaka dan putus asa.

Kesempurnaan nama menunjukkan kesempurnaan subyek pemiliknya. Apabila nama-Nya saja menyebabkan tidak adanya sesuatu apa pun di bumi dan langit yang dapat menimbulkan mudharat, tentunya Sang Pemilik nama lebih besar dan lebih tinggi. Mahatinggi kebesaran-Nya, artinya Mahatinggi keagungan-Nya, mengalahkan segala keagungan, memiliki otoritas di atas segala otoritas, memiliki kekuasaan di atas segala kekuasaan. Mahatinggi kebesaran-Nya dari memiliki mitra dalam kerajaan, ke-rububiyah-an, ke-uluhiyah-an, tindakan atau sifat-sifat-Nya, sebagaimana dikatakan oleh bangsa jin yang mukmin, “Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) memiliki anak.” (QS. al-Jun [72]: 3)

Dari kata-kata ini, betapa banyak manifestasi realitas nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT di hati orang yang mengenal-Nya dan tidak mendiskreditkan hakikat-Nya.


Ketika dia mengucapkan ta’awudz, A’udzubillaahi minas-syaithaanir-rajiim “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, berarti dia telah bernaung di sudut Allah SWT yang terkuat dan berlindung dengan segala daya dan kekuatan-Nya dari musuh-Nya yang ingin memutuskan hubungannya dan menjauhkannya dari Tuhannya agar keadaannya menjadi lebih buruk.

Ketika dia mengucapkan: Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam”, dia berhenti sejenak untuk menunggu jawaban Tuhannya: “Hamba-Ku memuji-Ku”. Ketika dia mengucapkan: Ar-rahmaanir-rahiim “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, dia menunggu jawaban Tuhannya “Hamba-Ku menyanjung-Ku”. Ketika dia mengucapkan: Maliki yaumid-diin “Yang Menguasai hari pembalasan”, dia menunggu jawaban Tuhannya: “Hamba-Ku memuja-Ku.”

Betapa besar kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, betapa sejuk matanya dan betapa besar kegembiraannya mendengar firman Tuhannya yang menyebutnya sebagai “Hamba-Ku” tiga kali berturut-turut. Demi Allah, kalau bukan karena kabut syahwat dan mendung hawa nafsu, tentu hatinya akan terbang karena sukacita mendengar firman Tuhannya, Penciptanya dan Sesembahannya, “Hamba-Ku memuji-Ku, hamba-Ku menyanjung-Ku, hamba-Ku memuja-Ku”.


Ketika dia mengucapkan: Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”, dia menunggu jawaban Tuhannya: “Ini antara aku dengan hamba-Ku, untuk hamba-Ku apa pun yang dia minta”.

Di sini terletak misteri penciptaan dan perintah: dunia dan akhirat. Kata-kata ini menginterprestasikan tujuan termulia dan sarana terbaik. Tujuan mulia adalah ibadah dan sarana terbaik adalah pertolongan Allah SWT dalam ibadah tersebut. Tidak ada sesembahan yang patut disembah, selain Allah SWT. Tidak ada yang mampu memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya, selain Dia. Maka, ibadah adalah puncak tujuan dan pertolongan untuk ibadah adalah sarana terbaik.

Ketika dia mengucapkan: Ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Shiraatathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhalliin “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)”, dia menunggu jawaban Tuhannya: “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa pun yang dia minta”.


Sang hamba yang sedang berdo’a menyadari kebutuhannya yang mendesak pada permohonan ini – yang memang merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Sang hamba membutuhkan Allah SWT di setiap tarikan nafas dan kedipan mata. Permohonan yang diminta dalam do’a ini tidak akan lengkap tanpa hidayah dan bimbingan yang menunjukkan jalan kepada Allah SWT. Yaitu hidayah yang bersifat detail, menciptakan kemampuan untuk bertindak, berkehendak, membentuk dan menyusun agar tepat dan sesuai dengan keridhaan Allah SWT yang dicintainya, serta menjaganya dari segala kerusakan ketika dan setelah melakukan ibadah tersebut.

Karena seorang hamba benar-benar membutuhkan hidayah ini dalam setiap keadaan dan seluruh aktivitas kesehariannya, maka Allah SWT mewajibkan seorang hamba untuk memohon hidayah ini di waktu-waktu terbaik dan dalam kondisi terbaik, juga dalam hitungan tertentu dalam sehari dan semalam.

Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah ini adalah mereka yang secara eksklusif mendapatkan kenikmatan dari-Nya. Bukan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang mengetahui kebenaran, tetapi enggan untuk mengikutinya (seperti orang Yahudi, ed). Juga bukan orang-orang yang sesat, yaitu mereka yang beribadah kepada Allah SWT tanpa pengetahuan (seperti orang Nasrani, ed). Kedua golongan terakhir ini sama ketika berbicara tentang tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’ wash-shifat, tetapi tanpa didasari oleh pengetahuan yang benar. Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan berbeda dengan jalan para pelaku kebathilan tersebut seluruhnya, baik pengetahuan maupun tindakan.

Setelah selesai dari pujian, do’a dan mentauhidkan Allah, disyariatkan untuk menutupnya dengan stempel Aamiin. Menjadi semacam segel dan disetujui oleh para malaikat langit. Ucapan Aamiin termasuk salah satu aksesoris shalat seperti halnya mengangkat kedua tangan, mengikuti Sunnah, mengagungkan perintah Allah SWT, ibadah fisik kedua tangan dan sinyal transisi dari satu rukun ke rukun lainnya.

Sumber: Khusyuk dalam Shalat karya Syaikh Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s