“Cucilah Tangan Ibumu…!”

Tangan ibu

Seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter meminang seorang gadis. Namun ketika gadis itu tahu bahwa ibu pemuda itu hanya seorang pembantu ia memberikan syarat supaya di hari resepsi pernikahannya nanti ibunya tidak dihadirkan. Itu sebagai syarat ia mau dipersunting.

Dokter muda itu menjadi serba salah. Tidak ada yang bisa membantunya menyelesaikan permasalahan itu kecuali salah seorang dari orang tua temannya yang sangat ia hormati. Beliau adalah seorang profesor di sebuah universitas. Dia ingin meminta pendapat dan saran darinya.

Ketika ia bertanya kepadanya, profesor itu mengajukan pertanyaan: “Kenapa harus ini yang dijadikan syarat?”

Dokter muda itu menjawab dengan malu-malu:

“Ayahku meninggal ketika aku masih berumur satu tahun. Ibu ku bekerja sebagai tukang cuci di rumah orang kaya untuk membiayai hidup dan pendidikan ku. Tapi ini adalah masa lalu yang membuatku minder, dan sekarang aku akan memulai kehidupan baru…”

Profesor itu berkata: “Aku punya permintaan sederhana kepadamu….Sekarang pulanglah ke rumahmu, dan cucilah tangan ibumu. Kemudian, besok datanglah menemuiku. Saat itu aku akan memberikan pertimbangan dalam masalah mu ini”.

Betul saja, ia langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ia meminta ibunya supaya mengizinkannya untuk mencuci tangannya.

Dia mulai mencuci tangan ibunya dengan perlahan dan lembut. Baru saja ia menyentuh tangan ibunya, air matanya berkucuran melihat kondisi kedua telapak tangan ibunya itu.

Hal pertama sekali yang terbayang di dalam fikirannya; betapa ibunya menanggungkan sakit dan pedih ketika tangannya pecah-pecah akibat terlalu banyak kena air.

Setelah selesai mencuci kedua tangan ibunya ia tidak sanggup menunggu hari esok. Dia langsung menghubungi orang tua temannya melalui telepon:

“Aku sangat berterima kasih sekali atas bimbingan bapak….. Aku sudah mengambil keputusan untuk masalah ini. Aku tidak akan mengorbankan ibuku demi hari bahagiaku. Beliau sudah mengorbankan seluruh hidupnya demi masa depanku”.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun….” (Luqman: 14)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah….(Al Ahqaf: 15)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s