Attitude and Knowledge | Sebuah Catatan untuk Milad IKMI yang ke-8

Di sebuah negeri antah berantah, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama Rumah 1000 cermin, karena banyaknya cermin yang tertempel di dinding-dinding rumah tersebut. Seorang anak datang sambil menapaki tangga dan kemudian masuk ke dalam rumah tersebut dengan riang gembira. Di depan cermin, dia selalu menyunggingkan senyum indah lagi manis. Anak tersebut merasa surprise luar biasa, tersebab setiap kali dia mengukirkan senyuman di bibirnya yang mungil, dia kemudian langsung disambut oleh ribuan senyuman, yang sebenarnya adalah senyumannya sendiri. “Tempat ini sungguh luar biasa!”, kata anak tersebut dengan gembira. “Aku akan berkunjung lagi suatu saat nanti.

Di kesempatan lain, datang seorang anak, air mukanya sedih, galau dan muram durjana. Dia seperti tak memiliki semangat hidup. Langkahnya layu dan loyo. Di depan cermin terdekat dengan pintu, dia tersenyum sinis, dengan raut muka cemberut lagi masam. Dia menatap cermin tersebut dengan penuh pesimis, dan langsung dia disambut oleh ribuan wajah pesimis dan cemberut, yang lagi-lagi sebenarnya itu adalah wajahnya sendiri. “Tempat ini mengerikan!”, ucap anak tersebut sambil berlari pergi. “Aku tak akan kembali lagi ke sini.
Amit-amit..”

Kita sering menemukan banyak wajah di lingkungan keluarga, kerja, kampus ataupun organisasi. Akan kita dapati wajah-wajah pesimis, sedih ataupun marah dan geram. Ada juga kita temukan wajah-wajah teduh dengan senyum yang indah.Wajah-wajah tersebut ibarat Rumah 1000 cermin, yang merupakan hasil cerminan dari wajah dan sikap kita sendiri. Bila kita tersenyum, maka ribuan wajah lain akan tersenyum balik kepada kita. Namun, bila wajah yang kita tampilkan terkesan memancing permusuhan maka ribuan wajah lain akan ikut memusuhi kita.

Sebagai aktivis dakwah yang hadir di tengah mahasiswa dan masyarakat dengan ribuan wajah yang ada, kita harus bermodalkan akhlak yang baik dan mulia. Akhlak merupakan cerminan hidup bagi seorang Muslim. Rasulullaah SAW, panutan hidup kita bersabda: “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR.Tirmidzi). Dan senyum yang tulus dan dakwah yang santun merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang bisa kita aplikasikan setiap saat.

Suasana masyarakat di sekitar kita (dan juga mahasiswa di kampus) terkadang begitu gelap oleh kemaksiatan, kebodohan dan permusuhan. Dan jika kita memasuki ‘Rumah 1000 cermin’ masyarakat tersebut dengan sikap apatis, pesimis dan acuh tak acuh, maka kita juga akan melihat wajah penuh permusuhan dari mereka untuk kita. Adanya kegelapan tersebut tidakkah kita berpikir dengan jernih, jangan-jangan Allah SWT “menurunkan” kita kepada mereka untuk menjadi cahaya penerang, menjadi cahaya yang memberikan kemuliaan hidup bagi mereka, menjadi cahaya yang menuntun masyarakat ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Teringat sebuah pepatah, “Lebih baik menyalakan sebatang lilin, daripada mengutuki kegelapan.” Dan kita mulai menyalakan sebatang lilin tersebut, dengan menghadirkan akhlak (attitude) yang mulia dan dakwah yang santun kepada mereka.

Untuk berdakwah selain harus dengan attitude yang baik, kita juga harus memiliki knowledge (pengetahuan) agar memiliki landasan yang kuat. Kita harus tahu, mau kita ajak kemana para objek dakwah kita. Bagaimana kita mau mengajak/mendakwahkan seseorang, padahal kita sendiri belum tahu mau kemana mereka akan kita ajak? Sebagai seorang da’i kita tidak boleh bermodalkan nekat saja, kita harus rajin untuk menuntut ilmu dengan belajar, membaca buku, mengikuti majelis ta’lim/tatsqif/tahsin, rajin mendatangi halaqoh dan lain-lain. Jika kita merasa malas untuk menuntut ilmu dan merasa cukup dengan yang sudah ada, maka kita akan cenderung merasa bahwa pendapat kitalah yang paling benar, dan bisa menyesatkan objek dakwah kita. Na’udzubillaahi min dzaalik…

Mari kita tengok sejenak, bagaimana semangat para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Ja’far bin Durustuwaih berkata, “kami harus mengambil tempat duduk di sebuah majelis sejak ashar untuk mengikuti kajian esok hari, karena saking padatnya pengajian Ali bin Al Madini. Kami menempatinya sepanjang malam karena khawatir esoknya tidak mendapatkan tempat untuk mendengarkan kajiannya karena saking penuh sesaknya manusia. Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut buang air kecil di jubahnya karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk buang air.”

Imam Syafi’i rahimahullaah ditanya oleh seseorang, “bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?”. Beliau menjawab, “seperti rakusnya orang penimbun harta, yang mencapai kepuasan dengan hartanya“. Ditanya lagi, “bagaimana anda mencarinya?“. Beliau menjawab, “sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak lain selain dia.”

Begitu semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu, sampai tak mau beranjak dari tempat duduknya di majelis ilmu tersebab khawatir akan ada yang mengkudeta tempat duduknya tersebut. Begitu cintanya Imam Syafi’i mencintai ilmu, seperti seorang penimbun harta yang begitu mencintai hartanya. Bahkan beliau akan mencarinya, seperti seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya, kemudian mencarinya dengan setengah mati.

Sahabat-sahabat IKMI yang saya cintai karena Allah, mudah-mudahan Allah SWT memberikan keistiqomahan dan kekuatan kepada kita agar tetap tegar di jalan dakwah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi aktivis dakwah yang memiliki akhlak yang mulia, seperti akhlaknya Rasulullaah SAW. Mudah-mudahan kita diberikan anugerah oleh Allah kecintaan kepada majelis ilmu. Walau banyak halangan dan rintangan yang menghadang, saya yakin kita akan bisa melewatinya jika terus bersama dan menyertakan Allah SWT dalam setiap aktivitas kita. “Jangan tanyakan apa yang bisa IKMI berikan kepada saya.. Tapi tanyakan, apa yang bisa saya berikan kepada IKMI.”

Saya tutup catatan yang banyak kekurangan ini dengan kutipan syair dari Maidany yang berjudul “Akulah Satu di antaranya”. Perkataan ini (dengan redaksi yang mirip) juga pernah dikumandangkan dengan gagah oleh akh Zein, Otomasi 2010 pada saat memberikan semangat kepada aktivis IKMI dalam suatu kegiatan.

Bila ada 1000 mujahid, akulah satu di antaranya…

Bila ada 100 mujahid, akulah satu di antaranya…

Bila ada 10 mujahid, akulah satu di antaranya…

Bila ada seorang mujahid, akulah yang menggenggamnya…

 

Selamat milad yang ke-8 untuk IKMI dan kita semua.. Aku mencintai kalian karena Allah…

 

Di sore hari yang indah, kosan al-Fajri | 16:52, 30/03/2014

____________________________________________________________________

Note: Tulisan ini terinspirasi dari buku Inspiring One karya Muhaimin Iqbal, internet dan juga tema yang diusung pada saat milad IKMI tadi pagi, “Dengan Attitude dan Knowledge kita Wujudkan Pemuda yang Berakhlak”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s