Kemenangan

SavedPicture-20149283733.jpg

Disaat Bani Israil bersama Nabi Musa terdesak, tak tahu harus lari kemana. Didepan laut, dibelakang Fir’aun dan tentaranya. Sempat mereka putus asa. Tapi Allah perintahkan Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya, hingga lautanpun terbagi dua.

Disaat Maryam baru saja melahirkan. Dalam kondisi begitu lemah dan sendirian tanpa teman. Sempat berpikir mati dan melupakan semua kejadian. Lantas begitu lemas dan tak ada makanan. Namun Allah perintahkan untuk menggoncang pohon korma yang kokoh dan tak tergoyangkan. Dengan izin Allah satu persatu jatuh ke daratan.

Disaat Hajar dan Nabi Ismail ditinggal Nabi Ibrahim di tanah tandus tanpa kehidupan. Tanpa bekal air dan makanan. Sempat pasrah dan menyerah. Namun tak membuat Hajar berhenti berlari mencari air kesana kemari. Dengan kasihNya, melalui hentakan kaki bayinya, air itu muncrat tanpa henti.

Mungkin kita pernah berpikir. Mereka semua adalah orang-orang luar biasa, yang memiliki posisi khusus dihadapan Rabbnya. Kenapa tidak langsung saja Allah belahkan laut buat nabi Musa, tanpa harus diawali kecemasan bahwa Fir’aun akan berhasil mengejar mereka? Dan kenapa Allah tak langsung saja belahkan laut? Tanpa Nabi Musa harus melempar tongkatnya terlebih dahulu. Toh hal itu sangat mudah bagi Allah.

Kenapa Allah tak langsung saja jatuhkan buah kurma dari pohonnya, tatkala Maryam hampir sekarat? Toh sangat enteng bagi Allah untuk melakukan itu semua, tanpa harus meminta Maryam untuk menggoncang pohon kurma, yang lelaki perkasapun belum tentu bisa membuat pohon itu bergerak walau semili.

Kenapa Allah tak langsung saja mengeluarkan air tatkala Nabi Ismail kehausan? Karena sangat sepele bagi Allah untuk mengeluarkannya, tanpa harus menunggu Hajar berlari kesana kemari?

Ya, dunia ini adalah hukum sebab akibat. Sebesar apapun anugrah yang Allah berikan, tetap harus ada kontribusi setiap hambanya untuk mencapainya. Yang bahkan hal itu terkadang tak tembus oleh logika. Walau hanya dengan melempar tongkat, mengggoyang pohon dan berlari kesana kemari.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan Allah persiapkan, yang perlu kita lakukan adalah untuk selalu bekerja, semoga kerja-kerja yang kita lakukan, menyamai rencana yang telah Allah tetapkan.

Kemenangan itu tetap membutuhkan kerja-kerja besar, walau hanya selintas do’a dibalik gelapnya malam.

Mu’adz Abdul Hafizh | Mahasiswa al-Azhar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s