[RESENSI BUKU] The Forbidden Country, Negeri Terlarang untuk para Pecundang

The Forbidden Country, Negeri Terlarang untuk para PecundangThe Forbidden Country, Negeri Terlarang untuk para Pecundang by Dr. Saiful Bahri, M.A.
My rating: 5 of 5 stars

The Forbidden Country, Negeri Terlarang untuk para Pecundang karya Ketua ASPAC for Palestine Indonesia, Dr. Saiful Bahri, M.A. ini merupakan kumpulan 25 tulisan/esai yang pernah diposting di website ASPAC. Tulisan-tulisan tersebut berisikan tulisan kontemplatif mengenai Masjid al-Aqsa dan Palestina.

Buku ini dimulai dengan tulisan mengenai hubungan erat antara Indonesia dan Palestina, hubungan darah, Ideologis dan kemanusiaan yang begitu erat. Adanya walisongo yang menyebarkan dakwah Islam di Pulau Jawa beberapa di antaranya merupakan ulama dari Palestina, hal tersebut disebutkan dalam sebuah manuskrip kuno yang kini berada di Museum Istana Turki, Istanbul dan Museum Leiden. Yang banyak tidak disadari oleh rakyat Indonesia, termasuk yang tinggal di Kudus sendiri adalah bahwasanya Masjid Menara Kudus yang dibangun Syeikh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) memiliki nama lain Masjid al-Aqsa. Dan tidakkah kita menyadari bahwa nama Kudus itu sendiri berasal dari nama kota al-Quds, dimana Masjid al-Aqsa berdiri?

Hubungan/simpul yang kuat lainnya antar Indonesia dengan Palestina adalah selain Mesir, Palestina merupakan entitas pertama yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia, padahal saat itu Palestina masih terjajah dan sampai sekarang, di abad modern ini Palestina belum juga merdeka.

Jika kita mengaku sebagai umat Islam, maka ikatan kita dengan bangsa Palestina tersebut lebih kuat dan dekat dari sekedar ikatan darah. Situs-situs peninggalan Islam yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad terancam dihancurkan oleh Zionis Israel. Masjid al-Aqsa, yang pernah menjadi kiblat umat Islam terancam diruntuhkan untuk diganti dengan kuil rekayasa fiktif bernama kuil Solomon.

Dalam buku ini juga dituliskan kisah-kisah heroik para pembebas Palestina, Umar bin Khattab ra, sultan Nuruddin Zanki dan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Mereka para pemimpin bersama rakyatnya sangat mencintai Palestina, mengorbankan jiwa, harta dan waktu untuk membebaskannya. Saat itu Palestina berhasil ditaklukkan tanpa adanya banjir darah, pembantaian besar-besaran dan penghancuran seperti yang pernah dilakukan oleh pasukan Salib.

Yang paling menarik perhatian saya adalah kisah yang tertulis pada akhir bab buku ini, yaitu mengenai sultan terakhir dari Dinansti Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II rahimahullaah. Walaupun digoda dengan emas dan harta, plus lobi-lobi dari bangsa Barat untuk menggadaikan tanah Palestina, beliau tetap menolak dan dengah penuh ketegasan dan kewibawaan, beliau berkata: “Sesungguhnys saya takkan pernah bisa membiarkan sejengkal tanah pun dari Palestina, karena itu bukan milikku. Itu milik rakyatku, bangsaku. Mereka berjuang terus menerus demi tanah tersebut serta menjaganya dengan darah mereka.

Palestina kini masih terjajah. Kezaliman tiap saat, tiap detik terjadi di sana. Mengutip kata dari pejuang kemanusiaan, Nelson Mandela, tak ada kata pensiun untuk melawan kezaliman. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini tak ada lagi kata-kata “ngapain repot-repot peduli Palestina” tak lagi terlontar dari pikiran, hati dan perkataan kita.

View all my reviews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s