Berkaca pada Ibrahim alaihissalam

Untuk bisa kokoh dan tegar, tak merasa lemah dan tak pernah menyerah di jalan dakwah, kita patut mencontoh suri tauladan kita, bapak kita, Nabi Ibrahim as. Totalitas beliau dalam berjuang di jalan Allah dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Ibrahim alaihissalam tidak berputus asa di masa-masa pencarian terhadap Rabb yang sebenarnya, ia terus mencari dan refleksi diri sampai Allah memberikan cahaya hidayah kepadanya.

Ibrahim alaihissalam tidak galau manakalah sang ayah  dan umatnya menolak mentah-mentah dakwah tauhidnya, ia tetap mendoakan ayahnya walaunpun nyata-nyata sang ayah mengusirnya dan lebih memilih patung tak bernyawa daripada anaknya yang bijaksana.

Ibrahim alaihissalam tidak gentar saat penguasa kejam nan zalim, raja Namrudz menentang dakwahnya dan mencoba membakarnya dengan api raksasa. Ibrahim yang mulia diselamatkan Allah dengan menjadikan api yang sejuk untuknya, sedangkan Namrudz yang lalim mati menggenaskan karena seekor lalat saja.

Ibrahim alaihissalam tidak bersedih hati di kala diperintahkan Allah untuk meninggalkan sang istri dan sang anak yang masih merah-merahnya di padang pasir Bakkah yang tandus nan panas. Sang Istri pun yakin bahwa Allah takkan menyia-nyiakan dan membiarkan mereka.

Ibrahim alaihissalam tidak bersikap lemah di saat Allah mewahyukan padanya lewat mimpi untuk menyembelih anaknya yang baru saja ditemuinya setelah lama ditinggalkannya. Bahkan sang anak, Ismail alaihissalam dengan sabar menerima apa telah diperintahkan oleh Rabb-nya.

Kisah Nabi Ibrahim alaihissalam memberikan hikmah kepada kita sebagai aktivis dakwah bahwasanya jalan dakwah ini terjal mendaki, penuh rintangan dan cobaan. Hanya orang-orang tangguh dan beriman yang bisa melewatinya. Di jalan dakwah ini dibutuhkan kesabaran, keteguhan dan totalitas. Di jalan dakwah ini, harta, waktu, keluarga bahkan nyawa-pun dikorbankan.

Mudah-mudahan dengan bantuan Allah Yang Maha Rahman bisa membantu kita menghilangkan sifat cengeng, galau, melow, sedih yang berlebihan, sayu, muram durjana dan mudah menyerah.

Fais al-Fatih | Cimahi, 4 Januari 2014

Referensi:

Abu Muhammad Hisan. Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan! Majalah Al-Intima Edisi No. 033, Dzulqa’dah 1433 H/Oktober 2013

Ibnu Katsir. Kisah Para Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam. 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s