“Bijak Mensikapi Perbedaan”

“Bijak Mensikapi Perbedaan” | kultwit @salimafillah
Rabu, 25 Desember 2013

1) Ada Shalih(in+at) yang bertanya; dalam Diin, dibenarkankah bersikap & beramal yang berbeda dari ilmu yang difahami & fikih yang diyakini?

2) Atau bagaimanakah kita; jika harus berbeda dengan orang-orang yang kita hormati & cintai dalam perkara penting? Izinkan kami bercerita.

3) “Musibah! Musibah! Inna liLlah wa inna ilaiHi raji’un!”, begitu seru sahabat mulia ‘Abdullah ibn Mas’ud di ‘Arafah pada suatu musim haji.

4) “Aku bersama Nabi, beliau mengqashar. Aku bersama Abu Bakr, dia mengqashar. Aku bersama ‘Umar, dia mengqashar. Dan kini, ‘Utsman tidak!”

5) Kelak, kita tahu; Sayyidina ‘Utsman RadhiyaLlahu ‘Anh punya penjelasan atas sikap beliau yang tak mengqashar shalat dalam haji tersebut.

6) Di waktu shalat berikutnya, tampak Ibn Mas’ud bermakmum di belakang ‘Utsman. Maka beliau ditanya, “Apakah engkau rujuk dari pendapatmu?”

7) “Tidak, demi Allah”, ujar Ibn Mas’ud. “Tetapi perpecahan itu buruk.” Fahaman benar, tepat, & indah. Semoga Allah ridha pada mereka semua.

Kisah lain; Imam Ahmad ibn Hanbal dalam suatu pendapat menyatakan bahwa orang yang keluar darah mengalir, maka wudhu’nya dihukumi batal.

9) Lalu ada yang bertanya pada beliau RhmhLlh, “Apa kau mau bermakmum di belakang Imam yang mimisan (keluar darah dari hidung) saat shalat?

10) Maka beliau menjawab, “SubhanaLlah; bagaimana mungkin aku tidak mau shalat di belakang Imam Malik, Sufyan Ats Tsaury, Imam Al Auza’i?

11) Beliau menyebutkan nama-nama para ‘Alim nan mulia itu; yang mana mereka berpendapat bahwa keluar darah tidaklah membatalkan shalatnya.

12) ‘Abdullah ibn ‘Abbas & Zaid ibn Tsabit, RadhiyaLlahu ‘Anhuma, juga berbeda pendapat dalam banyak hal; salah satunya soal waris/faraidh.

13) Menurut Ibn ‘Abbas; bagian kakek sama dengan ayah kala tiada. Tak demikian menurut Zaid. Ibn ‘Abbas sampai berkata, “Ana sa-ubahiluh..”

14) “Aku akan bermubahalah dengan dia! Bagaimana mungkin dia bedakan bagian kakek dengan ayah tapi tetap samakan bagian anak dengan cucu!”

15) Tapi ketika ada kerabat Ibn ‘Abbas mengalami persoalan itu; beliau justru undang Zaid ibn Tsabit, dimintai fatwa untuk menyelesaikannya.

16) Saat Zaid ibn Tsabit pulang, Ibn ‘Abbas menuntun keledai Zaid & bermaksud mengantar beliau hingga ke rumahnya. Zaidpun merasa tak enak.

17) “Tak usah begitu duhai putra Paman RasuluLlah, tak perlu engkau menuntun keledaiku!” Mendengar hal tersebut, Ibn ‘Abbas pun tersenyum.

18) “Beginilah kami diperintahkan”, ujar Ibn ‘Abbas, “Untuk memuliakan ‘ulama kami.” Zaid ibn Tsabit menukas, “Perlihatkanlah tanganmu.”

19) “..duhai sepupu RasuluLlah!” Maka Ibn ‘Abbas pun menunjukkan tangannya & segeralah Zaid mencium serta mengecupnya dengan penuh ta’zhim.

20) Ibn ‘Abbas amat terkejut dan menegur Zaid, “Apa ini wahai sahabat RasuluLlah? Apa ini wahai penulis Al Quran dan faqihnya kaum Anshar?”

21) Maka Zaid tersenyum, “Demikianlah kami diperintahkan, tuk memuliakan keluarga & ahli bait RasuluLlah ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam.”

22) Moga Allah ridhai mereka semua; yang luas ilmunya, dalam fikihnya, lapang dadanya, jelita akhlaqnya. Moga kita dimampukan meneladaninya.

23) WaLlahu A’lam bish shawab. إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت و ما توفيقي إلا بالله عليه توكلت و إليه أنيب

*https://twitter.com/salimafillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s